![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
Setelah selesai meratakan markas assasin, mereka pun kembali ke penginapan ibukota wilayah Mystic, kota Olisfield. Menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya yaitu menggunakan pintu ruang.
Didalam kamar pesanan Clark, mereka baru keluar dari robekan ruang.
"Tuan, saya mau nanya" Flera yang berada didalam sabit keluar seketika itu juga, ingin menanyakan tentang sesuatu.
"Apa yang ingin kau tanyakan Flera?"
"Bukankah kata tuan sebelumnya ingin 'membebaskan seseorang' dimana orang itu?, apakah mereka sudah pergi?"
"Ya aku sudah mengantarkan mereka kesuatu tempat" balas Clark mengubah kenyataan.
"Begitu ... " karena sudah paham dan tau alasan mereka tidak terlihat, Flera pun terdiam, tidak ingin menanyakan lebih lanjut.
"Yah, aku sudah mengantarkannya kedalam tubuhku" Lanjut batin Clark kemudian menyuruh mereka untuk istirahat dan tidur "Kalian kembalilah kekamar masing-masing, kalian perlu istirahat dan tidur, terutama Clara dan Elena, esok kompetisinya dimulai"
"Ehh ... benar, kalau begitu ayo kita kekamar Clara" jawab Elena tergesa-gesa lalu menarik tangan temannya.
"Ma-master ... " Clara memanggil master nya ketika tangannya ditarik secara paksa oleh Elena.
"Jangan lupa ganti bajunya" Melihat mereka semakin akrab, Clark tersenyum sembari melambaikan tangannya. Mereka baru saja pergi, yang tersisa hanyalah kedua wanita dewasa sedang berdiri disekitar situ.
"Tuan hehe. Aku tadi sudah menyelesaikan tugas ku dengan baik, jadi ... " karena anak di bawah umur sudah pergi, Vivi tanpa malu-malu langsung menempel kedada Tuannya.
"Vivi!, apa yang ingin kau lakukan" melihat sifat agresif Vivi, Flera dengan wajah kemerahan langsung memisahkannya.
"Eh ayolah, padahal hanya begitu" nada bicaranya di lembutkan.
"Aku tau pikiran mu, pasti kau ingin berbuat hal yang tidak senonoh" Flera sudah menduga akan hal itu, karena sudah beberapa minggu ini ia selalu bersama Vivi, jadi ia tau bagaimana sifat aslinya.
"Hal yang tidak senonoh?, heh ... bukankah kau sudah sering melakukannya, kau pikir aku tidak tau?" godanya menekan pipi Flera, menggunakan jari telunjuk.
Kepalanya berpaling kebelakang, tangannya menutup separuh wajahnya "Ka-kau me-mesum" balas Flera mengerti apa yang dimaksud.
"Haha, lihat!. Kau bahkan tidak mengelaknya, waktu itu aku mendengar erangan mu terlihat sangat menikmatinya"
__ADS_1
"Di-diam!, a-aku tidak begitu, kau dasar pengintip"
"Sudah-sudah kalian jangan ribut!" ucap Clark.
"Tuan kau belum memberiku hadiah ... " lanjut Vivi berwajah masam lalu sempat-sempatnya tersenyum genit.
"Heh, kau memang nakal" balas Clark sudah mendekatkan Vivi kedalam pelukannya. Tangannya lagi menjelajahi bagian menonjol dibelakang Vivi, sehingga suara erangan lembut mulai terdengar.
"Hahm~"
"Ehhh ... Tu-tuan, Vivi, kalian ... " Flera langsung mengintip dari lubang jari yang sengaja ia buka ketika mendengar suara nakal dari Vivi.
"Ahhh ... Flera, kau harus ikut. Hah ... aku tidak sanggup memonopoli tuan sendirian, emyah~" ucap Vivi masih mengeluarkan erangan lembut namun lebih cepat karena Clark memainkan tubuhnya dengan lihai.
"Hah!, ma-mana mungkin aku mau" balasnya melipatkan tangannya kehadapan, arah pandangnya dialihkan kesamping.
Bukannya tidak mau, Flera hanya terlalu malu untuk bermain bersama.
"Ahhh, tuan disitu sangat nikmat, teruskan lagi" terdengar lagi suara kenikmatan dari mulut Vivi sehingga membuatnya penasaran lalu melihat Clark yang sedang bermain tangan diseluruh area sensitif Vivi.
"Lakukan sendiri" balas Clark singkat.
Karena tidak tahan melihat kemesraan keduannya, Dengan keberanian tipis, Flera kemudian berlarian lalu mencuri ciuman duluan.
"Eumm~"
Ciuman singkat pun selesai, saat ini wajah Flera sudah merah "Bu-bukannya aku ingin, aku hanya tidak tahan melihat sifat mesum mu" Flera tepat menunjuk dibagian kening Vivi.
"Heh, kau sebenarnya menginginkannya kan?. Aku tau kok, kau hanya tidak ingin mengakuinya, bahkan ciuman mu tadi terlalu kuat" sahut Vivi.
"Tidak, tadi itu, tadi, t-tadi ... Ahhh tuan, jangan disitu" pada awalnya Flera bingung mau menjawab apa, tapi setelah bagian buah persik nya disentuh, ia langsung membunyikan sesuatu yang amat nakal dari mulutnya.
"Kau susah jujur" sahut Vivi sembari ikut memainkan tubuh Flera meskipun ia tidak terlalu berpengalaman dalam hal begitu, ia hanya mengikuti apa yang dilakukan tuannya.
Malam itu hari penuh kesenangan, erangan lembut dan nikmat terdengar selama beberapa jam sampai subuh pun tiba, kedua bawahan Clark sedang terbaring lemah diatas ranjang.
__ADS_1
Tubuh telanjang mereka hanya ditutupi oleh selimut tebal.
Terlihat kalau mereka sekarang sudah tertidur lelap meskipun pinggang mereka sama sekali tidak aman.
Pada malam tadi, mereka terlalu lama melakukan beraktivitas malam, lagian Clark sama sekali tidak memberikan mereka istirahat dan permainannya terlalu liar untuk mereka yang masih tidak terlalu berpengalaman.
Saat ini, mantan malaikat sedang berada diatas atap penginapan. Ia melihat langit-langit malam yang mulai membiru kecerahan, menandakan kalau hari tidak akan lama lagi berganti menjadi pagi.
Tidak ada rasa kantuk yang ia rasakan, dirinya hanya diam sembari membatin "Ini masih sangat jauh dari setengah kekuatan ku, tapi setidaknya kekuatan ku sedikit pulih" ia melihat telapak tangannya sendiri.
"Baiklah. Mari kita lihat hari ini, apakah akan ada sesuatu yang menarik, aku sangat menantikannya ... para akademi peringkat teratas"
2 jam kemudian, pagi pun sudah tiba, suara burung berkicauan terdengar diudara, matahari sudah sedikit menampakkan dirinya.
Beberapa orang dari Akademi sudah mempersiapkan dirinya untuk segera mengikuti kompetisi sihir yang dimulai hari ini.
Jalanan amat ramai sama para bangsawan dan juga murid-murid Akademi lainnya. Para pedagang sudah dari subuh tadi melampar barang dagangannya untuk dijual, mereka mengambil kesempatan ini untuk menjual habis barang dagangannya karena kompetisi sihir ini akan sangat ramai dikunjungi.
Ini bisa menjadi kesempatan besar untuk para pedagang yang menjual dagangannya, karena orang dari wilayah lain juga akan kemari.
"Menurut kalian ... Akademi apa yang akan memenangkan kompetisinya?" tanya salah satu warga kota kepada teman-temannya.
"Sudah pasti akademi cahaya perak, mereka kan peringkat 1, murid-murid mereka banyak yang jenius, lulusan dari sana semuannya orang-orang hebat" jawab salah satu temannya percaya diri sama pemikirannya.
"Akademi kembang merak juga hebat, mereka menduduki peringkat 2" balas pria berumur 27 tahun.
"Ohh ... Akademi yang isinya cuman wanita itu kan?" katanya mengingat.
"Iya, meskipun mereka wanita, tapi konon katanya mereka bisa menguasai sihir yang susah dipelajari" ia menjelaskannya.
"Hebat dong. Gimana sama parasnya?, pasti semuanya cantik-cantik"
"Tentu saja, tidak ada yang bisa menyaingi kecantikan mereka" balasnya mengacungkan jempol.
Hari itu, banyak para pemuda pemudi sedang memprediksi siapa yang akan memenangkan kompetisi sihir. Tidak mempedulikan tentang peringkat, mereka juga ada memprediksi pemenang dari peringkat 3 kebawah karena mau sehebat apapun pasti akan ada namanya keberuntungan ataupun perubahan.
__ADS_1