![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
"Dengarkan aku baik-baik. Kau sekarang sudah tidak berharga, kau tidak diperlukan lagi. Aku ingin membuang pion sampah seperti mu. Apakah kau tidak Terima Flera?" Clark masih tersenyum tapi lebih manis walaupun perkataan nya bisa disimpulkan kejam.
"Apakah menurut mu aku hanyalah alat sementara mu saja, apakah aku tidak se berharga itu dibandingkan murid-murid mu ... mengapa kau mengatakan hal keji seperti itu kepada ku" entah mengapa suara Flera terasa sedih.
"Manusia, iblis, mahluk hidup lainnya, serta dewa sekalipun ... Aku akan menggunakan nya sebagai alat jika itu bisa dilakukan. Mahluk hidup saling membutuhkan dan memanfaatkan, tidak ada yang namanya teman ataupun keluarga. Termasuk juga kau yang telah selesai ku gunakan dan akan segera kubuang"
"Orang macam apa kau sebenarnya. Apa warna darah mu?, otak mu isi nya apa?, kau sangat kejam, kau sama halnya dengan iblis ... "
"Terserah kau ingin mengatai aku apapun, begitulah cara ku bertahan hidup didunia seperti ini. Jika kau tidak bergerak terlebih dahulu kau akan dimangsa oleh yang lainnya"
"Kalau begitu, mengapa kau ingin membuang ku sekarang?!. Aku sudah lama hidup, aku lebih berpengalaman dibandingkan mereka!, aku masih bisa berguna!" Flera tidak terima.
"Sudahlah jangan banyak bicara" mata Clark berubah keemasan, ia sedikit menyentil sabit besar milik nya.
Cling ...
begitu sentilan nya menyentuh sabit besar, terdapat sesosok wanita bergaun hitam pekat keluar dari sabit besar milik Clara. Wanita itu adalah Flera si roh bulan sabit tadi.
Ilustrasi Flera si roh bulan sabit. Ilustrasi by pinterest.
Penampilan nya begitu simple sehingga nyaman untuk dilihat, diujung rambut nya berwarna ungu sedangkan di tengah nya berwarna coklat muda, kedua buah persik yang ada didada nya begitu besar sehingga menambah kesan nya lebih dewasa.
Perempuan itu terlihat seperti berumur 20 tahunan lebih, bulu mata nya panjang, pupil mata nya berwarna hitam dan ungu, tingginya kurang lebih sama seperti Clark.
"Kau sekarang sudah bebas, silahkan jika ingin pergi menjelajahi dunia" Clark mempersilahkan.
Tatapan Flera begitu kosong, ia menundukkan kepala nya kebawah sembari mengepalkan tangan nya sekuat-kuatnya.
__ADS_1
"Baik jika itu keinginan mu, terimakasih telah membawa ku keluar dari tempat itu dan membebaskan ku. Aku akan mengingat serta membalas budi suatu hari nanti"
"Tidak usah membalas budi ataupun berterimakasih, kau sudah menjalankan tugas mu Flera ... tidak ada lagi hubungan nya sama ku dan murid-murid ku" kata Clark sengaja, ia masih mempertahankan senyuman manisnya.
Flera nampak kesal, ia berjalan menunduk lalu melewati Clark yang masih tersenyum.
"Oh iya, kau bisa terbang kan?, akan jadi masalah jika kau tidak bisa terbang"
"Ya ... " jawab nya sinis, kepala nya masih menunduk, ia tidak ingin melihat wajah Clark.
"Kalau begitu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semoga kau selamat sampai tujuan" kata Clark memejamkan mata nya, tangan nya seolah-olah menyuruh nya pergi.
Mendengarkan perkataan Clark, langkahan kaki Flera tiba-tiba berhenti.
Ia seperti memikirkan sesuatu, terdapat juga titisan air entah darimana jatuh ke lantai.
"Mengapa kau tidak segera pergi?, apakah perlu ku antarkan sampai depan?" kata Clark berinisiatif untuk mendatangi nya. Namun, Flera yang tadi tiba-tiba berhenti, malah berbalik badan dan langsung mendorong Clark ke kasur.
"Flera ... "
"Jangan panggil aku Flera!, aku tidak butuh nama pemberian mu!, hiks ... kau saja ingin membuang ku, mengapa juga aku harus menggunakan nama itu ... " Flera cengengesan, tangannya meremas selimut.
Clark tidak tersenyum ataupun berbicara, kedua nya saling menatap satu sama lain.
"Kenapa kau diam saja, hiks ... bicaralah, selalu saja seperti ini, aku selalu sendiri, dari dulu sampai terkurung di reruntuhan itu ... bahkan sekarang ... kau ingin membuang ku dan meninggalkan ku sendirian juga"
"Flera ... " sekali lagi Clark menyebutkan nama pemberian nya.
"Sudah kubilang jangan memanggilku dengan nama pemberianmu!, aku tidak membutuhkan nya. Hiks ... aku sudah muak, aku lelah sendiri, aku tidak ingin sendirian lagi"
__ADS_1
Tetesan air mata nya terus menitis hingga mengenai wajah Clark yang masih memandangi nya "Bangunlah" kata Clark singkat.
"Kau masih ingin membuangku ... " Perubahan wajah Flera begitu jelas, suara nya bergetar seakan tangis nya mau pecah.
Clark yang menyadari perubahan wajah Flera seketika memeluk pinggang wanita itu.
"Maafkan aku, kau pasti sudah menderita selama ini" ucap Clark sambil mengusap lembut rambut Flera, dan mulai mengacak-acak rambut nya.
"Jangan memeluk ku, hiks ... kau orang jahat!" Flera mencoba memberontak.
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Cuman ... perjalanan kami akan lebih berbahaya kedepan nya, aku tidak ingin wanita baik seperti mu terlibat sama kami" ia masih saja mencoba memperlakukan nya sebaik mungkin.
"Aku tidak peduli, aku akan selalu berada disisi mu. Tidak apa-apa kau ingin memperlakukan ku seperti alat. Hiks, jangan tinggalkan aku ... aku tidak ingin sendirian lagi ... " air mata nya masih menetes, namun Clark mencoba untuk menenangkan nya dengan usapan kepala serta pelukan.
"Aku tidak akan memperlakukan mu seperti itu, tadi hanya sandiwara ku saja. Apakah kau yakin ingin berada di sisi ku walaupun kedepan nya bisa saja membahayakan nyawa" Clark tersenyum lembut sembari membantu menghapuskan air mata Flera.
"Emm, tentu saja aku mau. aku bahkan tidak keberatan jika memasuki sabit besar itu lagi" kata nya membiarkan Clark mengusap kantung matanya.
"Master, kenapa kau lama sekali ... " Suasana nyaman pecah seketika itu juga ketika Clara dan Elena memasuki ruangan.
" ... eh?" Mereka terdiam cukup lama karena agak syok bahwa ada seorang wanita dewasa cantik berdada besar menindih master nya.
"He-hehe ... aku telah menunggu lama daritadi, ternyata master bermain sama wanita lain" walaupun baru pulih, Elena mengeluarkan sebuah pedang dari tangan kanan nya. ia tersenyum mencurigakan, dirinya juga menjilati pedang air nya.
"Master ... " Clara menatap sinis Flera.
Sesaat kemudian, setelah Clark sedikit mengarang dan menjelaskan semua nya, barulah kedua murid nya kembali normal sedia kala. Senyuman mengerikan Elena berubah menjadi lebih lembut dan tatapan sinis Clara berubah menjadi datar.
"Salam kenal ya Kak Flera, maafkan aku yang tidak tau bagaimana situasi nya" wajah Elena kembali ceria.
__ADS_1
"Clara tadi sempat salah paham, maaf" Clara seperti menikmati sesuatu, karena Clark mengelus rambut kedua murid nya secara bersamaan. Elena juga daritadi masih tidak berhenti menunjukkan ekspresi ceria nya.
"Tidak apa, aku yang salah" Balas Flera merasa bahagia.