![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
"Apakah kau mengintip kami?, itu tindakan yang tidak bisa diampuni" sahut Clark memperhatikan gerak-gerik Vivi.
"Hehe, aku tidak sengaja Tuan" balas Vivi seraya tertawa ringan, tangannya kali ini lebih berani, menuju ke tongkat sakti milik tuannya.
"Hooh, kau agresif sekali, jika kau sudah sengaja menggodaku aku bakalan tidak menolaknya"
"Akhmm ... Tu-tuan, ta-tanganmu ... " erangan lembut mulai terdengar karena tangan Clark secara tiba-tiba menyentuh ujung buah persik nya.
"Dilihat dari sifat agresif nya ini, mungkin dia tipe iblis penggoda" batin Clark menebak.
"Kau sengaja tidak mengenakannya, kau sangat mesum" ia menjelajahi buah persik dengan bergantian, menyentuh kesana-kemari.
"Hah ... Tuan, jangan kasar" biarpun Vivi menyuruh agar tuannya tidak kasar, tapi dari ekspresi wajahnya terlihat bahwa ia sangat menikmati nya.
"Kita berpindah tempat dulu"
Clarkpun membawa Vivi keatas ranjangnya, dirinya dengan kasar melemparkan nya secara langsung.
"Apakah kau pernah melakukannya sebelumnya?"
"Ma-mana mungkin, ini kali pertama ku"
"Begitu ... " ia menjawab sambil memasang wajah masam.
"Kenapa?, apakah tuan tidak percaya?" karena melihat tuannya memasang wajah masam, Vivi menduga kalau tuannya tidak percaya bahwa dirinya masih dalam keadaan suci.
" ... "
Clark tidak menjawab, mata keunguan Clark menatap bibir indah Vivi yang sedikit terbuka kemudian menatap mata merah Vivi lagi.
"Apakah itu karena aku iblis?, jadi tuan tidak mempercayai nya ... "
Clark langsung menempelkan bibirnya ke bibir Vivi, begitu pelan dan lembut.
Vivi sebenarnya agak kaget karena sebelum ia menyelesaikan penjelasannya secara tiba-tiba bibir tuannya menempel tepat dibibirnya.
Meskipun agak kaget, tapi Vivi sama sekali tidak menolaknya, keduannya begitu menikmati ciuman lembut mereka.
"Aku mempercayai mu Vivi, tidak usah menjelaskannya, lagian semuanya akan terungkap jelas saat aku memasukkan nya" ketika ciuman nya sudah lepas, barulah Clark bicara.
__ADS_1
"Hehe lakukanlah" Vivi tersenyum lagi, ia terlihat sangat senang.
Sekitaran 5 ronde sudah berlangsung, Vivi merasa sudah tidak sanggup lagi, ia sekarang sedang terbaring lemes dengan nafas terengah-engah, tidak kuat menahan dorongan kuat dari tuannya.
"Lumayan juga Vivi, biarpun itu pengalaman pertama mu tapi kau sanggup bertahan selama ini" Clark memujinya.
"Aku tidak sanggup lagi Tuan, huh ... siapa sangka punya anda sebesar itu, aku hampir pingsan, mungkin aku tidak bisa jalan besok" katanya masih terengah-engah.
Melihat Vivi yang terlihat sangat manis, Clark hanya memeluk tubuh telanjang wanita itu.
"Maafkan aku, sepertinya aku tadi terlalu kasar" ucap Clark sambil mengusap lembut rambut Vivi dan mulai mengacak-acak rambutnya secara cepat.
Merasakan perlakuan lembut tuannya, Vivi merasa sangat bahagia.
"Tidak apa tuan, lebih banyak nikmatnya dari pada sakitnya, lagian aku senang karena orang yang melakukan nya adalah Tuan"
"Hmm ... begitu, tidurlah ini sudah tengah malam" ucapnya sambil mengecup kening Vivi.
"Tidur disini ya" Vivi kemudian mendekatkan dirinya kedekat Clark.
"Iya, tidur saja"
Saat sudah dipastikan Vivi memejamkan matanya, Clark pun membatin.
"Dia sudah percaya kepadaku, tidak sia-sia menjaga sikap kepadanya, selama di penginapan dan diperjalanan aku selalu memperlakukan nya dengan baik, jika ada kesempatan aku akan memujinya, mengelus nya, membuatnya nyaman, mempengaruhi nya, merubah nya"
"Perasaan mu mulai tumbuh kepadaku, perlahan-lahan akan semakin menguat, dihatimu hanya ada aku, bahkan jika aku tidak menempati janjiku, dia akan memafkan dan melupakan nya demi diriku ini" Clark kemudian mengelus kepala wanita itu.
"Hmm ... " karena masih belum tertidur lelap, Vivi menyadari usapan tuannya, ia hanya tersenyum kecil seraya merasakan elusan tuannya.
"Kau memang iblis baik Vivi, saking baiknya sampai ku masukkan kedalam papan permainan ku, tinggal waktu yang tepat untuk menggunakan mu, tenang saja, aku akan menjaga mu dengan baik sebelum peran mu dimulai"
Clark tersenyum lembut, namun dibalik senyum lembut nya samar-samar senyuman jahat terlintas diwajahnya.
***
1 hari sebelum kompetisi sihir dimulai.
Pagi harinya, Kota Olisfield sudah sangat ramai. Jalan semakin sempit, kereta kuda berada di mana-mana, ahli sihir berkeliaran memandu murid-muridnya yang hendak mengikuti kompetisi sihir.
__ADS_1
Berbagai akademi kecil serta akademi peringkat tinggi juga berada di ibukota wilayah Mystic, bahkan akademi dari wilayah lain seperti wilayah Aquari juga ada, mereka saat ini sedang berada ditempat pendaftaran.
"Bagaimana ini, kami kehilangan 2 token ketika diperjalanan kami, apakah tidak bisa mendaftarkan 10 murid kami?" Guru dari akademi Laut biru sedang bertanya.
(Jika masih ingat, token mereka sebelumnya telah diambil oleh Clark yang hendak mengikutkan kedua muridnya)
"Itu masalah mu, kami hanya mengikuti peraturan yang ada, jika kalian hanya memiliki 8 token maka hanya ada 8 orang saja yang boleh ikut" sahut staff pendaftaran.
"Tapi peluang kami lebih kecil jika hanya 8 orang saja"
"Itukan salah kalian yang terlalu ceroboh menghilangkan token, cepatlah mendaftar, yang lain sudah menunggu dibelakang kalian"
Karena sudah terlalu lama menunggu, pihak akademi lain pun mulai protes karena telah mengantri lama.
"Kalian cepatlah!, dari tadi kami mengantri lama hanya untuk menunggu kalian selesai"
"Benar, kami juga ingin mendaftar, begitu saja lama, daftarkan saja 8 orang"
"Tau tuh, siapa suruh ceroboh"
"Ck" guru dari akademi laut biru menahan kesal.
Murid serta gurunya hanya pasrah mengikutkan kedelapan orang saja, mereka sekarang mulai menuliskan nama akademi, nama peserta, umur peserta, serta hal lainnya yang perlu diisikan.
Saat mereka sudah meninggalkan tempat pendaftaran, mereka ber pas-pasan sama kelompok akademi gelombang bencana.
"Ternyata kalian masih bisa dapat selamat, apakah mereka mengampuni kalian?" kata guru berkumis panjang dari akademi gelombang bencana.
"Apa maksudmu Elder!" tatap guru akademi laut biru yang mengenal kelompok tersebut.
"Tidak, lupakan saja Edward" sahutnya kemudian melanjutkan apa yang hendak dilakukan nya.
"Murid-murid ku pasti akan mengalahkan murid-muridmu" kata guru akademi laut biru percaya diri meskipun hanya 8 muridnya yang terdaftar di kompetisi sihir.
Sama sekali tak menjawab, Elder beserta para murid-muridnya hanya melambaikan tangannya saja, pergi meninggalkan mereka.
"Ada apa dengannya, tidak seperti biasanya" begitulah isi pikiran Edward, ia heran sekaligus bingung karena biasanya Elder akan membalas perkataannya jika itu mengenai pertarungan.
Para akademi laut birupun juga melanjutkan jalan kakinya dengan wajah agak kurang bersemangat, namun tak lama itu juga mereka ber pas-pasan sama Clark yang sedang membawa kedua murid wanitanya.
__ADS_1
Ketika saling melewati, Clark sedikit dibuat mengangkatkan bibirnya keatas, ia terlihat sedang tersenyum licik melihat sekawanan akademi laut biru yang sedang dalam keadaan murung.