![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
"Eh sudah hampir sampai?" Elena seketika melupakan soalan tadi yang sempat membuatnya penasaran.
"Coba kau lihat kesana" Clark menunjukkan arah nya.
Kali ini Elena berpaling cukup mudah, ia tertegun melihat pagar dengan tinggi sekitar 5 meter menutupi bangunan bertingkat di padang gurun.
"Ehh ternyata memang ada kota" mau tidak mau Elena harus mempercayai apa yang ada didepan matanya, ia terlihat bersemangat sekaligus penasaran seberapa bagus kota dibalik pagar tersebut karena memang tidak kelihatan jelas jika dari jauh.
"Setelah kalian sampai dikota, pemberat nya akan kulepas" kata Clark memang sudah berniat untuk menyudahi latihan berat muridnya.
Elena langsung membukakan matanya secara lebar dan berkata "Kalau begitu tunggu apalagi?, mari kita kesana master!, aku ingin mengakhiri latihan"
Flera dan Vivi sejenak memandang bangunan pembatas lalu melihat Clark dan Elena secara bergantian diakhiri dengan hembusan nafas karena tuannya bisa begitu mudah menghindari topik.
Sesampainya disana, keempat perempuan dibuat terdiam, suasana dikota tidak seperti yang dibayangkan oleh keempat dari mereka.
Tempatnya begitu sunyi, tidak ada tanda-tanda kehidupan, hanya ada rumah dan hamburan perkakas berserakan di pasir.
Hampir semua kaca rumah dan kaca toko pecah, berhamburan di mana-mana. Sungguh seperti kota yang sudah ditinggalkan dan tidak terawat lagi.
"Clara, kata mu kota ini ramai, tapi ... kenapa seperti kota terlantar?" Flera memutuskan untuk mengubah suasana sunyi, topik ini terpikirkan hanya sesaat.
Sebelum mereka melakukan perjalanan, Clara bilang kalau kota yang dimaksud bakalan ramai, jadi ia memutuskan untuk bertanya.
"Apakah dia bercanda?" begitulah yang ada dibenak kedua wanita dewasa setelah melihat kota tersebut.
Vivi ikut membicarakan topik yang sama "Ya Clara, benarkah kau pernah tinggal dikota ini?"
"Iya kak, Clara masih sangat ingat sama keramaian kota ini" Clara termenung setelah mengingat kenangan masa lalunya, hingga tidak lama kemudian sebuah tepukan lembut terasa dikepala nya.
Clara hafal sama rasa dari tepukan, ia mendongak keatas lalu menyuarakan "Master?"
"Jangan terlalu dipikirkan, memang susah melupakan masa lalu. Namun, perlu kau ketahui, tidak ada gunanya jika kau terus memikirkan nya, cobalah lupakan dan lihat sekeliling mu. Maksud ku, kau sekarang ada kami" Clark berkata dengan senyum tulus.
Begitu yang lainnya mendengar, mereka hanya bisa tersenyum dan menunjukkan anggukan setuju.
Clara merasa tersentuh, ia sangat bersyukur telah bertemu 4 orang baik seperti mereka, terutama masternya, Clark. Sangat nyaman selalu berada disisinya, masternya selalu memanjakan dirinya serta memperlakukan nya dengan sangat baik.
Sebagai tanggapan, Clara mengangguk dan bersenandung seperti kucing penurut "Mm"
__ADS_1
"Imut" gumam ketiga perempuan setelah melihat reaksi Clara.
Sejujurnya setelah mentransfer ingatan ketua sesepuh, Clark tau alasan mengapa kota itu menjadi terlantar dan terlihat tidak terurus seperti kota normal lainnya. Namun, ia memilih untuk tetap tutup mulut karena penjelasannya akan sedikit merepotkan.
Sesudah menyakinkan Clara agar tidak memikirkan masa lalu, Clark melepaskan beban berat kedua muridnya dan memilih untuk melanjutkan langkahnya.
***
Disebuah dunia yang berbeda dan orang menyebutnya sebagai dunia Prashir.
Dunia Prashir dikenal memiliki 2 kubu kekuatan berbeda yaitu penyihir dan praktisi. Meskipun mereka hidup dalam satu dunia yang sama, mereka jelas memiliki perbedaan.
Contohnya mereka menggunakan energi yang berbeda, penyihir menggunakan 'mana' sedangkan praktisi menggunakan suatu energi yang disebut 'qi'
Masing-masing 2 kubu tersebut memiliki benua nya sendiri, wilayah mereka telah dibagi merata sejak jutaan tahun yang lalu, jelas awalnya para penyihir dan praktisi saling bertentangan. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka akhirnya sepakat untuk membagi beberapa wilayah secara merata.
Peradapan didunia itu tidak terlalu maju atau terlalu mundur, mereka tepat berada di tengah-tengah lebih tepatnya kurang lebih sama seperti dunia magic.
Benua praktisi, disuatu wilayah.
Seorang pria tampak berusia akhir 40 an sedang mondar-mandir tidak jelas didalam kamarnya dengan mata berputar-putar, sedang memikirkan sesuatu yang cukup mengganggu pikirannya "Kenapa kabar kelima orang tua itu tidak ada?, ini sudah lebih dari 3 hari, apakah sesuatu terjadi?"
Tuk! tuk!
Pintu terbuka, suruhan pria itu segera menyatukan tinjunya, memberikan rasa hormat.
"Bagaimana?"
"Lapor ketua, tidak ada kabar"
Pria yang disebut ketua itu menurunkan alisnya lalu berdecak dengan rasa kesal "Ck, kalau begitu tetap awasi pintu masuknya, perbanyak penjaganya dan jangan sampai membiarkan siapapun menerobos masuk, entah itu tikus atau hewan kecil lainnya, bunuh saja!, mengerti?!"
"Baik ketua, saya mengerti" balasnya tegas.
"Lalu ... bagaimana para budak-budak itu?, apakah mereka melakukan pekerjaan dengan benar?"
"Jawab ketua!. Beberapa dari mereka sudah menurut setelah kena cambuk puluhan kali"
"Ohh, mereka mulai menurut. Kerja bagus"
__ADS_1
"Terimakasih ketua" jawabnya menundukkan kepala sekali lagi, ia senang mendapatkan pujian dari ketua.
"Tidak ada lagi pertanyaan yang ingin ku tanyakan, kalau begitu kau boleh keluar"
"Baik, permisi"
Pintu kembali tertutup, sekarang pria berumur akhir 40 tinggal sendirian.
"Huh, aku akan menunggu saja, mungkin mereka masih dalam masa penyerangan, mereka tidak akan mengecewakan Klan Wen ku" pria itu mencoba berpikir positif.
***
Dunia magic, wilayah Valcke.
Tidak ada gangguan selama perjalanan, mereka dengan mulus melewati kota tanpa penghuni, meskipun pemandangan dikota begitu buruk, mereka tidak terlalu memikirkan nya dan memilih untuk bersikap normal.
Mereka mengobrolkan banyak hal agar tidak terlalu kebosanan. Hingga pada suatu ketika, mereka telah sampai.
Didepan mereka terdapat puluhan pohon kelapa berbuah dengan genangan air seperti kolam berukuran sedang didekatnya.
Mereka terheran-heran, bagaimana mungkin ada pohon kelapa ditempat seperti ini dan lagi, terdapat kolam air yang begitu jernih. Sungguh aneh!
"Tuan, ini benar-benar aneh" Vivi mengutarakan pendapatnya, begitu juga dengan Flera, ia kurang lebih menanyakan pertanyaan yang sama.
Clark sama sekali tidak membuka mulutnya ataupun menjawab satu-persatu, ia hanya menyeringai kecil lalu mendekati dirinya kedekat genangan air kemudian berjongkok untuk melihat pantulan wajahnya yang terlukis diatas air.
Mereka sama-sama menunjukkan reaksi bingung diwajahnya, tidak tau apa yang akan dilakukan Master atau Tuan mereka?
Segera ekspresi bingung tergantikan menjadi rasa penasaran setelah melihat sebuah benda kecil berbentuk segitiga berwarna merah dengan ukiran bintang ditengahnya.
Clark meletakkannya diatas air, benda itu mengapung dan memberikan reaksi menarik. Genangan air tidak setenang tadi, itu terguncang dan membuat pusaran arus.
Satu demi satu sinar kecil ungu terang bersinar, pusaran air itu semakin mempercepat perputaranya.
"Akhirnya bekerja juga"
Air tersebut naik keatas, berkumpul dan melengkung, menciptakan portal yang begitu indah dengan tema air ditambah penerangan sinar berwarna ungu. Benda segitiga tadi mengikuti arah air dan berhenti bergerak setelah mendapat posisi pas.
"Hah?!" Keempat perempuan memiliki reaksi yang sama, yaitu 'terkejut'
__ADS_1
......................
Arc pertama sudah selesai 👌