Fallen Angel [Malaikat Jatuh]

Fallen Angel [Malaikat Jatuh]
Chp. 83 : Cerita


__ADS_3

Kursi arena paling atas, Clark dan murid-muridnya tengah menonton pertarungan Akademi kembang merak melawan Akademi kecil dari wilayah yang sama, yaitu wilayah Mystic.


"Membosankan" Clara menyimak pertarungan mereka sambil mengunyah makanan.


Waktu pertandingan mereka selesai tadi, Clark menyempatkan diri untuk membawa murid-muridnya ke kedai dekat area kompetisi dan membeli beberapa makanan agar muridnya tidak kebosanan saat menonton pertarungan.


"Master, bakpao ini enak" Elena menunjukkan se keresek bakpao berisi 5. Clara disebelah pojok kanan Clark mengangguk setuju, kalau bakpao berisi kacang hijau itu benar-benar enak.


"Begitu, syukurlah jika kau menyukainya"


"Master mau coba?, ini ada banyak loh" Elena menawari bakpao kepada masternya.


"Tidak perlu, kau makan saja sama Clara"


"Ehh, padahal ada banyak, gimana kalau segigit saja?, siapa tau master suka" Elena bersikeras menawari makanannya, matanya berbinar-binar membuat Clark hanya bisa terpaksa mengambil 1 bakpao.


"Master cobalah" angguk Clara lagi.


"Baiklah" balas Clark sudah mengambil 1 bakpao kemudian memakannya.


"Rasanya lumayan" Clark hanya memakan sedikit, ia menaruh sisa bakpao tadi ke kresek.


"Hehe yakan" jawab Elena, pikirannya sudah kemana-kemana, ia memiliki niat lain terhadap sisa bakpao tadi.


Ternyata benar, pas sudah dipastikan kalau guru dan temannya fokus melihat pertandingan, Elena mengambil kesempatan itu untuk mengambil sisa bakpao yang dimakan Clark barusan.


" ♡ Kyaaa bekas gigitan master, ini ciuman tidak langsung kan hehe ... ♡ " tangan Elena gemetaran, bibirnya berkedut-kedut.


" ♡ Hehe tidak apa-apa kan kalau ditempelkan, lagian master tidak melihatnya ♡ " pemikirannya sudah amat liar, perlahan mulai mendekatkan bekas gigitan Clark, ke bibir mungilnya.


"Elena, pelan-pelan makannya, nanti tersedak" sahutan tiba-tiba dari gurunya membuat Elena tersentak kaget.


"Khekk, uhmmm ... " akibat terlalu fokus sama bekas gigitan, Elena secara reflek meneguk bulat-bulat sisa bakpao tadi sampai membuatnya tersedak.


"Uhuk ... uhuk ... " karena batuk, Elena lekas meminum air yang dibeli dari kedai, untungnya mereka tadi juga membeli minuman.


"Hikss huhu, ciuman master ... " Elena tampak sangat sedih dan menyesal.


***

__ADS_1


Penginapan kota Olisfield, kedua wanita dewasa sama sekali tidak keluar kamar, mereka masih berbaring ria di kamar pesanan tuannya.


"Flera, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Tentang apa?" sepertinya Flera memperbolehkan Vivi bertanya, padahal ia sedang sibuk membaca buku.


"Bagaimana pertemuan mu sama tuan dulu?"


"Huh ... waktu dulu, aku hanya terkurung ditempat gelap, cahayanya hanya tipis, tidak tau sudah berapa tahun aku disana, tapi aku selalu sendirian, sama sekali tidak ada teman, saking kesepiannya, bahkan aku sampai berbicara sama tumpukan batu"


"Mengapa kau bisa terkurung disana?"


"Itu ... " wajah Flera masam saat Vivi mempertanyakan kisah kelam yang diterimanya dulu.


"Tidak apa jika kau tidak ingin menjawabnya, lalu ... mengapa tuan bisa bertemu dengan mu?" karena merasa tidak enakan, Vivi memutuskan untuk tidak membahas alasan mengapa Flera bisa terkurung.


"Aku tidak terlalu ingat detailnya, tapi pas aku sudah sangat ingin menyerah untuk keluar dari situ, waktu itulah tuan datang membuka gerbang batu disana. Mulanya aku mengira kalau tuan adalah orang jahat ... "


" ... apalagi senyumannya itu terlihat sangat mengerikan, jadi aku menyerangnya tanpa pikir panjang"


Karena tidak dapat menahan rasa penasarannya, Vivi memotong pembicaraan Flera dengan pertanyaan "Jadi ... gimana?, apakah kau berhasil melukai tuan meskipun hanya sedikit?"


"Malah sebaliknya. Jangankan terluka, aku saja sudah dibuat tidak bergerak lebih dulu, padahal tuan hanya mengeluarkan auranya saja, tidak tau bakalan gimana kalau tuan menggunakan kekuatan penuhnya"


"Berarti sebelum melayani tuan, Vivi pernah bertarung melawan tuan?"


"Pernah, tapi aku kalah telak. Biarpun menggunakan kekuatan penuh ya pasti sangat mustahil menang melawan tuan"


"Pftt, aku tau perasaan mu" Flera menahan ketawanya.


"Hei, kau ingin ketawa kan!"


"Haha, maaf-maaf aku hanya senang karena ada seseorang yang senasib dengan ku" karena melihat perubahan ekspresi Vivi, ia tidak dapat menahan ketawanya.


"Fiuhh ... terserah kau saja. Omong-omong ternyata ketawa mu manis banget ya, aku baru menyadarinya"


"Ughh ... be-berisik, ketawa ku tidak manis" Flera memang tidak terbiasa dipuji, bahkan ia sampai menentangnya dan menutupi bagian pipi kemerahan dengan kedua tangan.


"Hahaha, dasar tsundere. Tidak perlu malu seperti itu"

__ADS_1


"Hah!, mana ada, aku tidak sedang malu!" ucapannya sih memang agak kasar, tapi dilubuk hatinya yang terdalam terasa sangat malu.


"Iya-iya, aku tau. Jadi gimana kelanjutan cerita tadi? ... " tidak ingin menggodanya lebih lanjut, Vivi mengungkit kembali cerita yang sempat tertunda olehnya sendiri.


"Ah, pas itu ... tuan memberikan ku pilihan, mau bebas atau tetap disini"


"Lalu kau memilih bebas"


"Iya, tapi ada syaratnya ... "


"Apa syaratnya?"


" ... Syarat nya aku harus menjadi roh di senjata sabit Clara, melindunginya sampai dia menjadi kuat" sambung Flera tidak menutupi kebenarannya.


"Berarti kalau Clara sudah kuat, kau akan pergi dari sisi tuan?"


"Tidak, aku tidak akan melakukan itu sampai kapanpun, aku sudah mengabdi padanya"


Mendengar kalau Flera sudah mengabdi pada Clark, Vivi pelan-pelan menunjukkan senyuman senangnya "Berarti kita sama, senang rasanya berbicara padamu"


"Aku juga"


***


Seiring berjalannya waktu, perlawanan antar Akademi sesama wilayah Mystic akhirnya telah selesai, Akademi kembang merak berhasil meraih kemenangan dalam kurun waktu cukup singkat.


Pertandingan dilanjutkan sama Akademi dari wilayah Aquari, yaitu Akademi gelombang bencana, mereka lagi-lagi dapat menang tipis melawan Akademi kecil.


Tak merasa, Akademi hitam jatuh dipanggil lagi, lawan mereka kali ini berasal dari wilayah Aquari, yaitu Akademi laut biru.


Penonton merasa aneh karena Akademi hitam jatuh dan Akademi laut biru saling berhadapan, padahal nomer giliran mereka berjarak cukup jauh, seperti ada yang mengaturnya untuk saling berlawanan.


Raja yang sedang duduk di kursi khusus hanya tersenyum licik "Dengan begini saingan akan berkurang, lagian Akademi yang dikirim wanita itu sangat sedikit" batinnya.


"Hmm ... orang ini sudah memulai tindakan liciknya" gumam ratu lalu berkata "Bukankah jarak antar Akademi hitam jatuh dan Akademi laut biru cukup berbeda, seharusnya giliran mereka saling berlawanan masih jauh"


"Entahlah, mungkin ada perubahan penataan, lagian itu urusan penanggung jawab bukan urusan pengawas seperti kita" balas Raja berpura-pura tidak tau, bahunya diangkat.


Dibawah, Clark hanya menyeringai tipis bersama kedua murid perempuannya.

__ADS_1


Dilihat kalau mereka sudah berada di pinggiran arena, begitu juga Akademi laut biru yang akan menjadi lawannya.


"Permainan yang sangat baik, penguasa. Beginikah caramu menyingkirkan penghalang mu? cara mu terlalu biasa bagiku, sama seperti cara tua-tua bangka diluaran sana" jari manis Clark ia letakkan ke kening.


__ADS_2