Fallen Angel [Malaikat Jatuh]

Fallen Angel [Malaikat Jatuh]
Chp.41 : Kota samore II


__ADS_3

"Inikah kota samore, lumayan besar juga dibandingkan ingatan orang bertopeng emas itu" Clark tersenyum sebentar, murid nya hanya memandang kapal para nelayan yang berkeliaran di mana-mana.


Kota samore lumayan ramai dikunjungi dikarenakan salah satu kota besar yang berada di wilayah Aquari. Dari atas terdapat burung-butung berterbangan, di dermaga nya terdapat para nelayan yang menjuali hasil tangkapan nya baru-baru ini.


"Woah, ramai sekali master. Aku baru pertama kali ke kota, ternyata seramai ini!" Elena bersemangat. Ia sudah tidak sabar untuk singgah dan menikmati lingkungan yang baru.


"Kau terlalu bersemangat Elena" kata Clara acuh tak acuh mengomentari teman nya.


"Masih ada kota yang lebih besar dan ramai dibandingkan ini" Ucap Clark.


"Benarkah master, aku jadi penasaran" Elena berteriak, ia terlalu bersemangat sembari mengangkat tangan kanan nya ke atas.


"Suara mu terlalu keras Elena" tegur Clark terhadap murid nya.


"Hehe, maaf master" balas nya sembari menggaruk kepalanya walaupun tidak gatal.


"Selanjutnya aku pasti akan membawa kalian ketempat yang lebih ramai dan indah dibandingkan kota ini" Clark mengelus Elena.


"Yei, master yang terbaik" Elena menikmati usapan master nya, hal itu membuat Clara atau teman nya memandang iri.


"Master, Clara juga mau elusan" Clara sudah terlebih dahulu menyodorkan kepala nya, rambut nya sudah mengambang dan mengibas.


"Baiklah-baiklah" Clark mau tidak mau menerima permintaan murid pertama nya, ia langsung saja mengusap kepala Clara.


"Mereka beneran berbeda jika dibandingkan saat mereka berdua melawan orang bertubuh api itu. Saat itu mereka seperti iblis pembunuh, tapi sekarang ... mereka malah terlihat sangat manja" Batin Flera heran.


"Flera, kemarilah" Clark sekilas melihat Flera dan langsung menyuruh nya untuk mendekat.


"Baik, tuan" jawab nya langsung menuju ke tuannya.


"Ada apa tuan?"


"Tidak usah tegang, santai saja" lanjut Clark mengelus Flera sembari menunjukkan ekspresi senang.


"Emm, ya tuan" Flera mulai mengerti kenapa murid-murid nya suka diperlukan seperti ini. Bagi Flera tangan Clark itu hangat dan lembut , sepertinya ia mulai tertarik.

__ADS_1


"Kekeke, bagus. Kau sudah semakin jinak Flera, teruslah-teruslah ... berada di dekat ku, kau akan merasakan nyaman, kau akan mulai menuruti ku. hanya perlu waktu sebentar lagi kau akan menjadi pion ku selanjutnya" dibalik senyuman ramah Clark terdapat senyuman yang amat licik.


Memerlukan waktu sekitar 20 menit Clark berhasil menemukan tempat singgah kapal nya, jangkar nya juga sudah diturunkan guna untuk menahan kapal agar tidak terombang-ambing terbawa arus.


"Tuan perlukah saya masuk kedalam sabit?" Flera bertanya, ia tidak nyaman mengganggu waktu guru dan murid tersebut.


"Kakak Flera ingin memasuki sabit itu lagi" jawab Clara disamping nya.


"Apakah kakak Flera sudah pernah ke kota ini sehingga kakak sudah bosan dan ingin memasuki sabit itu lagi?" Elena mengira.


"Bukan begitu, aku tidak ... "


"Sudah. Ikut saja Flera, apa beda nya di dalam sabit sama terkurung di reruntuhan itu jika kau tidak melihat dunia luar secara langsung" Clark memotong pembicaraan Flera.


"Tapi tuan ... biarpun saya berada didalam sabit, tapi saya masih bisa melihat dunia luar"


"Walaupun begitu, bukankah itu tidak langsung. Aku ingin kau melihat dunia luar dengan mata kepala mu sendiri, lagian murid ku tidak bakal keberatan"


"Hmm-hmm" jawab mereka berdua serentak, bahkan anggukan kepala mereka juga sama cepatnya.


"Terima kasih tuan"


Kedua murid nya menyusul, Clara masih datar seperti biasanya sambil memandang kayu yang dipijak nya, ia merasa bahwa kayu ini begitu kokoh. Elena tidak mempedulikan hal seperti itu, ia hanya berjalan sembari melompat-lompat seperti anak kecil.


Padahal umur Elena lebih tua 2 tahun dibandingkan Clara, tapi sudah terlihat jelas bahwa kepribadian Clara jauh lebih dewasa dibandingkan Elena yang masih terlihat seperti anak-anak.


Biarpun umur Elena lebih tua tapi tinggi tubuh nya lebih kecil dibandingkan teman nya yang baru berumur 13 tahun, entah itu karena pengaruh gen atau apa tapi tinggi clara melebihi anak 16 tahun.


"Dibandingkan waktu itu, tuan sekarang memperlakukan ku sama seperti murid nya" batin Flera masih diatas kapal, ia tersenyum manis memandang punggung Clark.


"Flera mau sampai kapan kau berada di kapal, cepat turun" merasa ada yang memandangi nya lanjut Clark menoleh kebelakang lalu menyuruh Flera untuk segera mengikuti nya.


"Ah, baik master" Flera mulai turun, ia pun perlahan dengan anggun berjalan sampai berada tidak jauh dari belakang Clark.


***

__ADS_1


4 kapal uap ditenagai batu sihir melaju cukup kencang, tuan Puteri wilayah Aquari sedang berada diluaran kapal bagian depan. Tuan Puteri sedang memandang lautan dan menikmati angin laut yang begitu sejuk.


"Sudah lama tidak keluar dari istana" gerutu nya berpegangan dipagar besi, angin laut menghembusi gaun dan rambut nya sampai-sampai membuat penampilan nya sedikit berantakan.


"Tuan Puteri, tolong jangan disini nanti anda masuk angin" kata pelayan wanita khawatir, ia tidak ingin tuan Puteri sakit.


"Tenang saja Eri, aku hanya ingin menikmati angin sejuk ini" Balas nya menggunakan nama pelayan itu, seperti nya mereka sudah mengenal lebih dekat.


"Sudah lama ya tuan Puteri. Terakhir kali anda keluar istana pas menginjak umur 5 tahun. Waktu itu ... anda selalu didekat ratu" pelayan yang bernama Eri mendekat, ia juga memandang lautan biru itu.


"Pas itu kamu juga telah mengurusku Eri, aku senang bahwa kamu adalah pelayan pribadi ku saat ini" tuan Puteri masih memegang pagar besi, ia masih tenang melihat betapa indahnya lautan.


"Saya senang mendengar pujian anda tuan Puteri, baguslah jika tuan Puteri senang ketika saya menjadi pelayan pribadi anda"


"Sudah kubilang berapa kali, panggil aku Vania jika kita hanya berdua saja"


"Haha, maaf tuan Puteri saya tidak terbiasa" pelayan tersebut meminta maaf. Ia sebentar tertawa, lalu menutup mulut nya dengan tangan kanan.


"Biasakan saja"


"baiklah tuan put ... ups, Vania" Ucap nya masih tidak terbiasa.


"Huh" Mendengarnya tuan Puteri sedikit menghela kan nafas nya, ia menatap langit-langit biru.


"Langit nya indah ya tuan Puteri" Pelayan pribadi nya mencoba untuk mencairkan suasana.


"Ya langit itu selalu indah, aku suka memandang nya" suara nya terdengar begitu lembut dan manis, ia melirik sebentar kearah pelayan bernama Eri lalu kembali menatap langit-langit.


"Tuan Puteri juga tidak kalah indah jika disandingkan sama langit" puji nya tulus.


"Begitukah?"


"Ya, tuan Puteri" Eri menunjukkan senyuman tulus nya. Hal itu membuat Tuan Puteri tersenyum lalu membalas "Malah dipanggil tuan Puteri lagi"


"Eh!, hahaha ... maaf saya lupa"

__ADS_1


......................


Santai-santai dulu alur nya, maaf kalau misal ada typo saya kurang fokus malam ini


__ADS_2