![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
Clark dan muridnya baru saja sampai ke kursi mereka sebelumnya. Baru duduk, mereka sudah disamperin sekawanan Akademi cahaya perak.
"Selamat atas kemenangan nya, kami sangat terhibur sama kemampuan murid anda ... tuan guru ... " guru Gaskar menunjukkan keramahannya.
"Kukira siapa?, ternyata guru dari akademi berperingkat atas" sahut Clark seramah mungkin.
"Hoho, ternyata aku dikenal oleh mu" Gaskar tertawa.
"Tentu, lagian guru Gaskar sangat terkenal dikalangan anak muda dan lanjut usia. Saya mana mungkin tidak mengenali anda"
"Hohoho" gaskar tertawa lagi, tapi seketika terdiam sebentar setelah mendengar apa yang dikatakan pemuda itu selanjutnya.
"Langsung ke intinya, guru se terkenal anda pasti ada maksud lain sampai repot-repot memberikan saya selamat meskipun anda tidak mengenali saya"
" ... "
"Gu-guru muda ternyata sangat pintar, pantas murid nya jenius. Jadi ... kedatangan ku kemari ada maksud mengundang murid anda untuk masuk kedalam Akademi cahaya perak kami, tenang saja ... kami akan mendidiknya dengan sebaik-baiknya"
"Akhirnya kau menunjukkan sifat aslimu" batin Clark tidak berucap lagi karena menunggu muridnya untuk menjawab.
"Tidak" hanya kata itulah yang dikeluarkan dari mulut Elena, menolak secara langsung.
"Ughh!" mereka tertegun, Gaskar mencoba sekali lagi untuk membuatnya berpaling.
"Aku bisa menjamin kalau kau akan mencapai tingkat 7 puncak di umurmu ke 25 tahunan" Gaskar tidak tau kalau Elena sudah setara sama tingkat 7 puncak, bahkan bisa lebih dari itu berkat tanda lahir airnya.
"Lalu? ... " Elena masih tidak tertarik, nadanya sangat acuh.
"Jika murid ku menolak maka aku tidak bisa menyerahkan nya terutama kepada Akademi iblis yang mengambil kesempatan untuk membantai Akademi dari wilayah yang sama" balas Clark penuh maksud hingga membuat Gaskar sejenak terdiam.
"Apa maksud guru muda? ... " Gaskar berusaha menutupi kekesalannya dengan senyuman paksaan.
"Maksud saya ... Akademi anda kuat dan licik" lanjut Clark sengaja memancing amarahnya.
"Ohh begitu, tuan guru tidak bermaksud memusuhi Akademi kami kan?! ... " urat keningnya sudah terlihat.
"Buat apa memusuhi Akademi cahaya perak?, itu tidak ada manfaatnya" Clark membalas sambil mengangkat salah satu kaki, gerak geriknya sangat santai.
"Lalu ... mengapa guru muda mengungkit masalah kami? ... " amarahnya hampir tidak bisa ditahan.
"Saya bukan mengungkit, hanya mengatakan kebenarannya"
__ADS_1
Kesabarannya sudah diujung batas lalu berikutnya guru Gaskar memasang ancang-ancang untuk melancarkan serangan.
"Aku sudah berbicara seramah mungkin kepadamu, tapi omongan mu sudah sangat keterlaluan ... "
" ... Terimalah hukuman mu" lanjut guru Gaskar kemudian memunculkan sebuah tongkat penyihir dari tangannya.
"Berhenti" rombongan Hokori tiba-tiba datang kesitu, Gaskar yang mendengarnya mau tidak mau harus menahan.
"Ckkk, mengganggu saja" gerutu Gaskar, kesal.
"Apa yang ingin kau lakukan guru Gaskar?, apakah kau tidak melihat ada banyak orang disini, nama baik mu akan tercemar jika kau sembarangan menggunakan sihir seenaknya" guru Hokori mengatakannya secara serius.
Murid paling senior mendekati telinga gurunya lalu berbicara sepelan mungkin "Guru ... kita bisa mengambil kesempatan untuk membuatnya berpaling saat berhadapan dipertandingan nanti"
Gaskar mengangguk lalu berpura-pura meminta maaf "Huhhh ... maaf, aku terlalu berlebihan guru muda"
"Haha tidak apa, santai saja" balas Clark tertawa.
"Hooh ... silahkan tampilkan permainan yang kau suka" gumam Clark menyeringai, samar-samar bayangan tangan sedang menggenggam guru Gaskar kedalam permainannya.
"Kau jangan salah paham, aku tidak berniat menolong mu, aku hanya tidak ingin kalau gadis polos ini dimanfaatkan" Hokori menunjuk seraya menjelaskan kalau ia sama sekali tidak mempedulikan master dari Clara, padahal Clark sendiri sedang sibuk sama pemikirannya, jadi ia tidak membalas.
"Ah, maaf ... terimakasih sudah menolong murid ku"
"Cih ... ya" ucapnya dingin lalu pergi sama gerombolan murid Akademi kembang merak.
"Wanita yang sangat membenci pria kah?, mulutnya blak-blakan, menusuk, wanita itu adalah tipe pria yang sangat suka tantangan dalam hal percintaan, entah sudah berapa pria ditolaknya, tapi dia masih tidak berguna" gumam Clark sudah mengamati dan menilai guru Hokori.
***
Kompetisi masih berlanjut, kali ini giliran Akademi laut biru melawan Akademi dari wilayah Mystic, beruntungnya mereka berhasil menang tipis karena kehebatan Ardian dalam menggunakan 3 atribut sihir.
Beberapa dari penonton ada yang kenal sama Ardian lalu dengan gembiranya membanggakan murid dari Akademi wilayah Aquari.
Setiap ada murid hebat ataupun unik, pasti penonton dari wilayah lain ataupun wilayah Mystic mendukungnya secara penuh, tidak peduli dia darimana asalkan ada pertunjukan menarik yang menanti mereka.
Prok ... prok ...
"Menggunakan 3 Atribut?, itu sesuatu hal yang langka, Ratu lautan ... kau mendapatkan murid jenius lagi" Raja Mystic bertepuk tangan.
Prok ... prok ...
__ADS_1
"Itu sesuatu hal yang membanggakan, Ratu lautan" Tuan Yin ikut bertepuk tangan, menyanjung penguasa wilayah Aquari.
Mendengar sanjungan dari keduanya, Ratu lautan membalas "Meskipun kenyataan nya begitu, tapi dia masih belum bisa menguasai sepenuhnya"
"Dia masih dalam masa perkembangan, pastinya dia nanti akan berkembang" lanjut Ains Richenle lalu bergumam "Ini tidak bisa dibiarkan"
"Biarpun tidak sehebat wanita tadi, tapi pria itu lumayan juga karena memiliki 3 atribut, air, api, dan tanah" ucap Tuan Yin dihatinya.
(Maksud dari Tuan Yin 'wanita' adalah Elena)
"Entah ini hanya perasaan ku atau apa, tapi kupikir kalau pria itu tidak menarik jika dibandingkan sama murid dari Akademi hitam jatuh, terutama pemuda yang menjadi gurunya" batin Ratu.
***
Waktu terus berjalan hingga tidak terasa sampai babak berikutnya dimulai, Akademi hitam jatuh kembali dipanggil. Lawan mereka kali ini adalah Akademi kecil dari wilayah Mystic
Kedua pihak seperti guru dan murid sudah berdiri tegak memandang satu sama lain dari kejauhan, keduanya telah memasuki arena kompetisi.
Wasit masih menggunakan benda pengeras suaranya, dilihat ia sedang menjelaskan peraturan yang sama.
"Peraturan nya masih sama, tidak berubah sedikitpun, silahkan kirim 1 murid untuk bertanding"
"Anu ... bisakah kami menyerah?" guru Akademi mengangkatkan tangannya keatas, muridnya hanya menunduk dengan wajah memelas, merasa sudah tidak ada harapan untuk menang.
Para penonton yang awalnya bersemangat langsung lemas karena kebosanan, padahal mereka sedang menantikan serpak terjal dari murid Clark.
"Huuuuuu!, buat malu wilayah Mystic saja, masa belum dimulai langsung nyerah!"
"Benar, dimana harga diri kalian?!"
"Murid banyak apa gunanya?, gitu saja sudah nyerah, memalukan!"
"Cuih, akademi sampah"
Beberapa cemoohan dilempar, Akademi kecil itu mendapatkan omongan yang tidak pantas untuk didengar. Mereka memilih untuk menyerah dan tetap diam, sama sekali tidak membalas cemoohan para penonton.
"Yah sudah kuduga bakalan begini, apalagi nih bocah sudah menunjukkan pertarungan ... eh tidak, lebih tepatnya penindasan pada Akademi daun wangi" Clark melihat wajah polos Elena.
"Hmm ... master?"
"Huh ... sudahlah, mari kembali" Clark mengeluarkan nafas berat kemudian memegang pundak Elena dan Clara.
__ADS_1