![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
Sesampainya ditempat pendaftaran, Clark dan kedua muridnya sempat mengantri lama, menunggu peserta lain mendaftarkan diri ke kompetisi sihir.
Tak lama kemudian, antrian panjang tadi sudah selesai, sekarang giliran mereka pun tiba.
"Kalian tidak mengenakan pakaian akademi?" tanya staff pendaftaran sedang memegang alat tulis.
"Apakah itu penting?" balas Clark membalikkan pertanyaan.
"Tidak juga sih, jarang saja ada orang yang tidak mengenakan pakaian akademi ketika mendaftar.
"Oh begitu. Daftarkan mereka berdua" habis selesai bertanya, Clark langsung memberikan 2 token kepada staff pendaftaran.
"Berdua?... hah!, apakah kalian yakin?" orang itu dibuat sangat terkejut, biasanya tidak ada orang yang sepercaya diri ini, bahkan akademi teratas biasanya mendaftarkan 6 sampai 10 murid.
Karena suara Staff pendaftaran cukup nyaring, sepalih Akademi lain sempat mendengar bahwasanya orang didepan mereka ingin mendaftarkan 2 muridnya saja, terlebih lagi mereka hanya seorang gadis muda.
Kali ini, Akademi lain sedang membicarakan pasal pemuda yang mendaftarkan kedua murid nya saja, Clark tak mengherankan nya, ia kembali berbicara kepada staff pendaftaran.
"Daftarkan saja, menang atau kalah itu urusan mereka" katanya seraya menepuk-nepuk pundak muridnya.
"Huh ... peluang menang kalian sangat kecil loh" Staff pendaftaran menarik nafasnya dengan dalam.
"Tidak apa"
"Baiklah, jika kalian sepercaya diri itu ... tapi, jika kalian kalah diawal, jangan salahkan aku" ia sudah menyelipkan sebuah kertas dan alat tulis.
"Baiklah" ucap Clark sembari tersenyum percaya diri lalu mengambil kertas dan alat tulis tersebut. Ia pun mulai menuliskan dari nama muridnya dulu, Clara, Elena.
Setelah 2 menit terlewati, data-data pendaftaran sudah diisi semua, termasuk juga data dari akademi mana mereka berasal.
"Hmm ... Akademi hitam jatuh, nama yang unik, aku tidak pernah mendengar nama Akademi hitam jatuh" Staff berpikir sembari meletakkan ujung jarinya ke dagu.
"Mari ke penginapan" sahut Clark acuh, ia langsung pergi menarik kedua tangan muridnya.
"Eh, master" kata muridnya serempak, Akademi lain kembali memperhatikan mereka sebab kedua gadis yang sedang ditariknya itu memanggilnya dengan sebutan 'Master'
Pada awalnya mereka mengira kalau Clark adalah seorang murid yang mengantarkan juniornya untuk ikut ke kompetensi sihir, ternyata ia adalah seorang guru yang masih muda.
Masih di ibukota wilayah mystic, kota Olisfield. Clark bersama Elena dan Clara berjalan melintasi jalan ibukota, melihat ke sekelilingnya kalau kota Olisfield semakin ramai dikunjungi, mungkin itu karena keesokan harinya, kompetisi sihir akan segera dimulai.
"Master ... "
"Hmm ... "
"Ta-tangan mu ... "
__ADS_1
Mendengar perkataan Elena, Clark melihat kedua tangannya masih memegang tangan murid-muridnya termasuk juga Clara.
"Apakah kalian tidak suka?"
Tidak ada suara keluar dari keduannya, mereka hanya menunduk, sibuk sama pemikiran nya sendiri.
" ♡ Master menyentuh tanganku sangat lama. Kyahh ... tangannya besar, hangat, putih, jantung ku tidak berhenti berdegup kencang. Bagaimana ya perasaan master saat menyentuh tangan ku, apakah dia juga sama seperti ku, atau ... hehe, gawat aku tidak bisa berhenti memikirkan master ♡ " kata hati kecil Elena.
" ♡ Master keren, master manis, master lembut, master berani, master baik, master selalu sempurna disetiap saat ♡ " Sama halnya dengan Elena, Clara selalu memikirkan tentang masternya. Mereka berdua sangat terobsesi.
Meskipun ucapan mereka itu hanya ada diisi kepalanya, namun Clark tetap dapat merasakan perasaan yang sangat tidak nyaman jika terlalu dekat dengan kedua muridnya.
Tepat 30 menit berjalan kaki, tidak terasa mereka sudah sampai di penginapan ibukota, kali ini Clark sedang berada di dalam kamarnya, ia ditemani oleh murid dan bawahannya.
"Tuan, mengapa Anda menyuruh kami berkumpul, apakah ada sesuatu yang harus kami lakukan?" ucap Flera sedang menduga.
"Tentu, kalian ikutlah dengan ku malam nanti" balasnya menunjuk kearah Flera lalu menunjukan kearah Vivi.
"Kalau kami?" Elena penasaran, apakah mereka juga akan ikut.
"Kalian juga harus ikut, karena ini ... mungkin, bisa menjadi pengalaman bertarung kalian" balas Clark.
***
Posisi mereka saat ini sedang berada di dataran tinggi, pakaian mereka serba hitam, menggunakan topeng yang menutupi separuh wajahnya.
Clara tidak lupa membawa sabit besarnya, Flera saat ini sedang masuk kedalam sabit, untuk bisa lebih membantu Clara dalam hal bertarung.
"Kalian ikuti aku" ucap Clark, mengarah ke utara.
"Baik tuan/master" balas mereka kemudian mengikuti Clark dari belakang.
Dengan pakaian serba hitam sekaligus topeng yang menutupi setengah wajahnya, mereka nampak seperti seorang ahli membunuh yang mengandalkan kecepatannya.
Setelah beberapa menit berlarian, mereka telah sampai ketempat yang sudah direncanakan. Clark mengumpat disemak-semak yang berada disekitaran situ, ia melihat ada markas besar, bekas dari assasin yang telah dibunuh oleh muridnya.
"Penjaganya lumayan banyak tuan" kata Vivi juga ikut bersembunyi, kedua muridnya ikutan.
"Seperti yang direncanakan, Vivi urus penjaganya, Clara dan Elena melawan pemimpinnya" ucap Clark sembari menatap bawahannya.
"Bagaimana dengan tuan?"
"Aku? ... " ketika Vivi menanyakan tentang tuannya, Clark seketika menyeringai "Aku akan membebaskan seseorang" lanjutnya.
Melihat tuannya sedang menyeringai, entah mengapa ada perasaan merinding kalau menatap nya terlalu lama, berbeda sama perasaan Elena dan Clara yang menganggapnya sangat keren.
__ADS_1
" ♡ Master berekspresi jahat sangat keren, cocok sama penampilannya yang sangat sempurna ♡ " batin mereka berdua entah mengapa bisa sama.
Operasipun dimulai, Vivi melesat cepat.
"Siapa dia!" penjaga markas dibuat bingung.
"Di-dia ... MUSUH!!!"
Ketika Vivi sudah mendekat, salah satu penjaga berteriak keras, yang lain seketika itu juga dibuat kaget kemudian menuju ketempat musuh itu berasal.
"Terimalah pedangku ini" maju 3 orang pria berbaju selayaknya assasin.
"Naif"
Pedang itu dililit oleh tanaman merambat bahkan tanaman tersebut bisa mengendalikan ketiga pedang yang barusan diarahkan ke Vivi.
Jlebb ...
Jlebb ...
Jlebb ...
Ketiga orang itu tertusuk oleh pedangnya sendiri, sebab pedang tersebut sedang dikendalikan oleh sihir milik Vivi.
"Si-sihir a-apa i-ini ... " sempat-sempatnya assasin yang hendak mati berucap, keadaan perutnya penuh dengan darah, sebagian darah juga ia muntah kan dari mulutnya.
3 orang telah tumbang, datang lagi assasin lain menyerang Vivi namun hasilnya malah nihil.
Jlebbb ...
Jlebb ...
Jleb ...
Jlebb ...
orang itu lagi-lagi malah mati dalam keadaan tertusuk pedang yang sudah dikendalikan olehnya.
"Kalian kemarilah!!!, musuh menyerang!!!" Assasin berteriak lagi, ingin meminta bantuan kepada rekan yang lain sehingga jumlah assasin semakin meningkat seiring berjalannya waktu.
"Hanya segitu?" Vivi mengangkat tinggi kedua tangannya.
Dari atas, terlihat kalau Vivi sedang menciptakan lingkaran sihir yang tidak biasanya orang dapat pakai.
Lingkaran sihir itu mengeluarkan tanaman besar seperti batang pohon yang telah berusia ratusan tahun kemudian mulai jatuh menghantam ke permukaan tanah beserta para assasin nya.
__ADS_1