Fallen Angel [Malaikat Jatuh]

Fallen Angel [Malaikat Jatuh]
Chp. 81 : Clara vs murid Akademi baja kebal


__ADS_3

"Baik master" jawab Elena nurut, Clara memasang wajah datar, tidak berubah sedikit pun, kecuali perasaan hatinya yang sudah amat kecewa.


"Hmm ... padahal Clara mau bertarung" nadanya halus.


"Bersemangatlah Clara, nanti juga ada saatnya" sahut Elena ingin mengurangi rasa kecewanya dengan menghibur.


"Benar kata Elena, bersabarlah, tidak perlu terburu-buru" sahut Clark ikut menghiburnya.


"Baik master, Clara akan mencoba lebih bersabar" padahal Clara sangat ingin bertanding dan menunjukkan kemampuannya. Namun, mau bagaimana lagi, lawan memilih untuk menyerah daripada harus bertarung.


2 jam kemudian.


Mereka masih menunggu namanya dipanggil sekalian melihat peforma Akademi yang akan menjadi lawan mereka selanjutnya hingga tak terasa penantian Clara akhirnya terkabulkan.


Nama Akademi hitam jatuh dipanggil, lawan mereka kali ini lagi-lagi berasal dari wilayah Mystic, Akademi peringkat 3, Akademi baja kebal.


"Bukankah itu Akademi peringkat 3 baru?, yang kutahu mereka adalah tipe penyerang jarak dekat" para warga kembali bicara.


"Benar, mereka juga terkenal akan pelindung baja nya yang susah di tembus"


"Yang kutahu kalau pelindung baja bisa digunakan saat mereka saling bekerjasama, kalau lawannya satu-satu ... kupikir mereka bakalan tidak bisa menggunakannya"


Akademi baja kebal pada awalnya berada di posisi ke 4, tapi setelah pembantaian yang dilakukan oleh Akademi cahaya perak, secara otomatis Akademi baja kebal masuk ke dalam 3 peringkat besar.


"Hek, guru ... lawan kita ternyata anak kecil" lelaki dari Akademi baja kebal melihat tinggi badan Elena.


"Halah, tinggi mu kurang lebih sama dengan anak itu" lelaki seumuran menyindir kalau tinggi badan nya lebih rendah dibandingkan dengan dirinya.


"Hey, kau diam saja Kohei, aku tidak pendek" ia sangat tidak menerima sindiran dari kenalan lamanya.


"Ayolah, jangan marah, kita kan teman masa kecil, dasar Chibi ... "


"Sialan!, kau ngajak berantem hah!, jangan memanggilku Chibi ... " dengan tekukan lengan, lelaki itu menjepit leher teman masa kecilnya.


"khekk ... hei Chibi lepaskan aku" temannya mulai kesulitan bernafas.


"Hah, kau sendiri yang mulai"


"Kalian ini terlalu santai, lawan kita tidak semudah kelihatannya" guru Akademi baja kebal memperhatikan gerak-gerik dari senyuman mencurigakan yang ditunjukkan oleh Clark.


"Benarkah?, kurasa mereka biasa-biasa saja"


"Huh ... kalian tidak memperhatikan pertarungan muridnya?, ya lagian kalian berdua ketiduran akibat kelelahan berlatih malam tadi, padahal sudah ku suruh istirahat" gurunya sedikit mengeluh.

__ADS_1


"Hahaha, kami terlalu bersemangat, yakan Kohei?"


"Haha ya" Kohei tersenyum canggung sambil menggaruki pipinya.


"Ya ... intinya kalian harus berwaspada, terutama sama kemampuan anak yang kau remehkan tadi.


"???" keduanya bingung.


"Junior mu yang lain pasti mengerti mengapa aku menyuruh kalian untuk berwaspada ... "


"Kedua Akademi, harap kirim 1 murid untuk bertarung" wasit lebih dulu bicara.


"Nanti kau akan tau, cepat kau majulah dulu" guru mendorong anak yang digelar 'Chibi' oleh teman masa kecilnya.


"O-oh, baiklah" anak itu berjalan ketengah arena. Sepasang pedang terpasang rapi dipinggangnya.


Dilawan sisi, Clara juga sudah mulai berinisiatif berjalan ketengah sambil membawa sabit besarnya. Karena tinggi badan dan langkahan kakinya lebar, Clara lebih dulu sampai ketengah arena.


"Ternyata anak tinggi ini yang menjadi lawan ku, dengan tubuh ramping seperti itu menggunakan senjata sabit besar?, bodoh sekali, tingkat kemenangan ku sepertinya lebih tinggi" gumamnya diiringi langkahan kaki.


"Perempuan bercadar itu menggunakan sabit besar?, kuharap tubuh rampingnya dapat menyeimbangkan berat dan ayunan sabit nya. Bagaimana pendapat kalian?" Ains menyindir secara halus.


"Ya kuharap juga gitu, akan lebih menarik jika mereka beradu senjata" Tuan Yin sependapat sama penguasa wilayah Mystic.


"Haha, memang sih. Pedang dan sabit ... kepikir itu pertunjukan yang menarik" sambung raja tertawa.


Meskipun jaraknya antara Clark lumayan berjauhan, Anehnya pemuda itu dapat menyadari seseorang yang sedang menatap nya secara diam-diam, bahkan dirinya menyempatkan kedipan mata dan senyuman penuh makna mengarah pada wanita tersebut.


"Uh ... dia menyadarinya" gerutu Ratu lautan langsung memalingkan wajah.


Setelah murid dikirim dan sudah dipastikan sampai ketengah arena, wasit memberikan perintah "Berikan salam ... " Chibi menyatukan tinjunya.


Track ...


Bunyi itu berasal dari bunyi keretakan pada permukaan arena.


"Glek ... " Chibi menelan ludahnya saat melihat kalau bagian bawah tongkat sabit Clara, menancap ke lantai arena, bahkan sampai menyebabkan sedikit keretakan pada tempat pijakannya.


"Kekuatan fisiknya kuat, apakah aku tidak salah lawan?" gumam Chibi.


Clara tidak mempedulikan reaksi lawannya, ia hanya ikut menyatukan tinju.


"Ka-kalian sudahi salamnya, me-menjauhlah dulu" wasit sedikit tergagap.

__ADS_1


Tidak saling bicara, kedua lawan menuruti kemauan wasit. Sebelum menjauh, Clara mencabut sabitnya.


"Bersiap ... " setelah wasit memberikan aba-aba, keduanya memasang ancang-ancang untuk menyerang, pedang bersarung Chibi sudah ia lepaskan.


"MULAI!!!" teriakan akhir wasit membuat Chibi mengambil inisiatif untuk lebih dulu maju, sedangkan Clara hanya diam ditempat.


"Mengapa dia hanya diam ditempat?, dia tidak ketakutan kan?, ya siapa peduli, aku akan mengambil kesempatan ini untuk melancarkan serangan ku"


Bersamaan sama langkahan kaki, Chibi tanpa rapalan sihir sudah menyelimuti pedangnya sama kekuatan tornado, tingkat kedua dari sihir angin.


"Ancaman tornado"


Wushhh ...


Sihir angin berkecepatan tinggi berputar dan melaju.


Begitu Chibi sudah mengeluarkan sihirnya, Clara membawa sabitnya untuk melesat. Isi kepalanya hanya ada tentang elusan masternya "Cepatlah kalah, Clara ingin mendapatkan elusan master"


Wosh ...


Ting ... whuk ... whuk ... track


Ia muncul disamping Chibi, ujung sabitnya bertepisan sama pedang hingga membuat pedang itu lepas dari genggaman eratnya, bahkan lebih parahnya, pedang Chibi sampai tertancap kedinding, membuat hampir semua penonton tercengang.


"Glek ... " Chibi tersentak kaget saat kurang dari beberapa centi lagi, ujung sabit besar Clara akan menancap ke lehernya.


"Kau kalah, cepatlah mengaku" perkataan Clara pelan namun dapat didengar murid dari Akademi baja kebal.


Keringat dingin membasahi keningnya "A-aku ... me-menyerah" ucapannya bisa didengar wasit.


"A-akademi hitam jatuh ... memenangkan pertarungan pertama" tingkah wasit agak kaku.


"Di-dia menang?" salah satu warga ibukota saling menatap, dibalas sama anggukan para penonton lain.


Tidak lama itu, kehebohan para warga dan penonton asing mulai terjadi kembali, sama seperti waktu Elena beraksi.


"Wuuhhhhhhhhhhhhh!!!, dia menang!!!"


"Cepat banget!"


"Gila, aku tidak bisa mengikuti gerakan mereka!"


"Apa-apaan pertandingannya, itu bukan seperti pertandingan murid, dia terlalu cepat"

__ADS_1


"Iya, coba lihat pedang itu, sampai menancap"


"Aku tidak menyangka kalau anak itu dapat menang dengan mudah, aktifitas sihir yang dilakukan anak itu juga tidak dapat dilihat. Pantas saja orang itu masih dapat tersenyum" ucap ratu dihatinya.


__ADS_2