Fallen Angel [Malaikat Jatuh]

Fallen Angel [Malaikat Jatuh]
Chp. 56 : Akademi laut biru & Akademi gelombang bencana II


__ADS_3

"Apakah kau bersenang-senang diluaran sana?" tanya Clark kepada Vivi yang telah duduk disamping nya.


"Tentu tuan, tidak seperti sebelumnya, kota ini sudah banyak berubah"


"Begitukah, baguslah jika kau menikmati nya" Clark lanjut meminum teh hangat yang sedang dipegangnya.


"Moh ... Tuan tidak menatap ku" Vivi menggodanya, ia sengaja menenggelamkan tangan Clark ke belahan buah persik miliknya.


"Kau terlalu agresif dibandingkan sebelumnya Vivi, orang-orang akademi sedang menatap kita ... " Seru Clark menyeruput teh hangat nya, di benaknya sedang menganalisa pihak akademi.


"Biarlah, siapa yang peduli" Jawabannya lebih memilih untuk tidak mempedulikan tatapan mereka.


Para lelaki muda yang memasuki akademi hanya bisa memandang iri, separuh dari mereka juga ada yang tak suka dengan adegan yang mereka lihat.


"Aku tidak menyangka orang yang hanya mengenakan pakaian sederhana adalah tuan dari wanita cantik itu, kupikir dia hanyalah warga biasa" seru pria tua yang berumur 40 tahun dari akademi laut abadi, ia secara terang-terangan berkata seperti itu.


"Walaupun kita musuh tapi perkataan yang kau katakan itu aku menyetujui nya" balas guru dari akademi gelombang bencana.


"Ketertarikan, rasa penasaran, keterkejutan, semuanya dapat dilihat dari reaksi kalian. Sebentar lagi salah satu dari pihak akademi akan menghampiri ku" batin Clark sudah menebak.


Ternyata tebakan Clark benar-benar tepat, nampak Ardian sedang mengepalkan tangannya dengan kuat hingga tak lama itupun Ardian mulai melangkahkan kakinya mendekati Clark.


"Hooh, ada apa anak muda seperti mu mendekati kami" Seru Clark melirik sebentar.


"Apa yang kau lakukan kepada gadis cantik disebelah mu sehingga dia rela melakukan hal tidak senonoh di hadapan banyak orang, apakah kau mengancamnya!" Ardian pikir Clark sedang mengancam wanita itu, karena wanita cantik sekelas Vivi bersuka rela menempelkan buah persik ke orang yang hanya memakai pakaian biasa.


Sebelumnya Clark sengaja mengenakan pakaian biasa ketika bersantai dilantai bawah penginapan, pikirnya lebih mudah dan leluasa jika hanya menggunakan pakaian sederhana, lagian pakaian yang biasa ia kenakan masih kebesaran.


"Apakah itu urusan mu?" Lirikan Clark membuat Ardian semakin terbawa arus permainan Clark.

__ADS_1


"Kau ... cepat lepaskan wanita itu" Serunya menunjuk kemudian menghentakkan kakinya layaknya sedang mengancam.


"Itu kemauannya sendiri, aku tidak bisa menuruti perkataan mu"


"Itu tidak mungkin kan, kau sudah jelas mengancam nya!" jawabnya tetap keras kepala.


"Menyingkirlah dari Tuan, kau merusak kesenangan nya" Akhirnya Vivi mulai berbicara, dari sorot matanya sudah jelas bahwa ia sedang tidak senang jika waktu menggoda Tuannya diganggu.


"Emangnya kau senang diancam oleh pria hin ... " belum sempat ingin mengatakan 'Hina' terlebih dahulu Vivi mengeluarkan sihir uniknya.


"Ardian! ... " Teriak kedua wanita khawatir karena melihat sebuah lilitan tanaman berbunga sedang mengunci pergerakan nya.


" ... aghhh, apa ini?" Sambung pria itu karena seluruh tubuhnya sedang dililit oleh tanaman merambat.


"Sekali lagi jika aku mendengar kau ingin menghina tuan, aku bakalan meremukkan seluruh tulang mu"


Posisinya kini terbalik, Vivi lah yang sekarang sedang mengancam Ardian. Tak ada kata ragu didalam dirinya.


"Tuan dan nona, masalah ini bisa diselesaikan dengan baik, murid saya telah melakukan kesalahan" Datang guru dari akademi laut biru ingin membawa berdamai.


"Heh ... bagaimana cara menyelesaikan nya?, kau tau kan istilahnya 'ada harga maka hasilnya juga akan memuaskan' kau mengertikan maksud ku" Clark tersenyum licik, ia sedikit mengguncangi minumannya.


"Kau ingin apa?, apakah koin perak atau koin emas?" tatapnya mengerti bahwa pemuda dihadapan nya ini sedang menginginkan sesuatu.


"Koin ku sudah banyak, mengapa juga aku memerlukan nya"


"Lalu ... kau ingin apa, jangan memperbesar masalah" Serunya sedang mengerutkan keningnya, pria tua itu bakalan tidak segan-segan jika masalah ini tidak dapat diselesaikan.


"Hooh, memperbesar masalah. Bukankah murid mu yang terlebih dahulu membuat masalah, apakah kau pikir hati murni ku ini bisa memaafkan nya dengan mudah" Kata Clark sembari memasang wajah cemberut, ia juga sedang mengelus dadanya secara halus.

__ADS_1


"Orang ini ... seperti sedang menuntunku kesuasana baru, masalah nya akan lebih runyam jika aku membalas ucapannya, lebih baik menuruti kemauannya" batin nya.


"Apa yang ingin kau minta?, jangan harap bisa mendapatkan informasi tentang akademi kami" Serunya sedang menebak apakah pemuda dihadapan nya sedang mengincar informasi tentang akademi laut biru.


"Wah seram-seram, wajah mu terlalu seram, tidak perlu mencurigai ku seperti itu, Aku hanya ingin kau menyerahkan 2 benda yang seperti ini" serunya tersenyum manis kemudian menunjukkan sebuah token kayu yang asalnya dari saku milik Ardian.


Sontak mata mereka terbuka dengan lebar, ternyata yang diinginkan Clark adalah sebuah token untuk kompetisi sihir yang akan segera dimulai beberapa minggu kedepan.


"Apakah kau gila, setiap akademi hanya mendapatkan 10 token, bagaimana mungkin akademi kecil seperti kami ingin memberikan benda berharga seperti itu kepada mu, itu akan membuat peluang menang kami semakin menipis"


"Kau pikir aku peduli pak tua?, maka ... kau benar-benar tidak menyayangi murid jenius kecil mu. Aduhh sayang sekali jika tulangnya remuk, bagaimana ini, apakah kalian nanti akan membawanya ke tabib"


"To-tolong guru! ... eumm ... emmuum" Ardian pada awalnya ingin berteriak, tapi seketika itu juga tanaman merambat menutupi mulutnya, bahkan membuat bibirnya berdarah karena tercucuk duri yang baru saja tumbuh di tanaman tersebut.


"Kau diam saja, Tuan belum menyelesaikan urusannya" perbuatan itu, Vivi lah yang melakukan nya. Sebab ia pikir, teriakan Ardian sungguh mengganggu.


"Sialan kau, berani-berani nya mempermainkan ku!" Guru dari akademi laut biru ingin membacakan sebuah rapalan, namun tiba-tiba pergerakan tubuhnya terhalangi oleh sesuatu, sebab Clark sudah menguncinya dengan sihir angin.


"Sate ... bagaimana ini?, perbuatan yang kau lakukan bisa membuat mu terbunuh, kau sudah skakmat dari awal mulai" Clark merubah cangkir teh hangatnya menjadi sebuah pisau, sisa teh nya terjatuh kepermukaan lantai, entah teknik apa yang bisa membuat nya merubah dari cangkir menjadi sebuah pisau.


Murid-murid nya tidak tinggal diam, mereka ingin menyelamatkan Ardian beserta gurunya. Ada yang sudah merapalkan sebuah sihir ada juga yang ingin melangkahkan kakinya.


Clark tidak berhenti memperlihatkan senyuman liciknya, ujung pisau nya sudah sedikit menancap ke leher Edward "Siapapun yang mendekat dan menyerang, kalian akan kehilangan sosok yang kalian sebut guru"


"Ka-kalian jangan bertindak sembarangan"


Mendengar perkataan gurunya, merekapun berhenti merapalkan sihir, orang yang ingin melangkahkan kakinya nya pun juga tak jadi mendekat.


"Kalian yang memakai baju kemerahan, apakah kalian tidak ingin membantu nya?" Clark bertanya, darah dileher Edward mulai menetes.

__ADS_1


"Tidak, itu urusan kalian, aku tidak ingin terlibat. Mari kita pergi saja ke penginapan lain" Ucap pria berkumis panjang tidak ingin ikut campur.


"Baik guru" sahut murid dari akademi gelombang bencana serentak kemudian meninggalkan penginapan.


__ADS_2