Fallen Angel [Malaikat Jatuh]

Fallen Angel [Malaikat Jatuh]
Chp. 92 : Tertawa lepas


__ADS_3

Kawasan hutan, pertarungan sengit masih berlangsung lama. Penutup mulut Clara sepertinya telah terlepas sedari tadi, identitasnya sudah pasti bocor dan diketahui pihak lawan.


Elena terlihat hanya diam dan sama sekali tidak membantu maupun menolongnya, ia hanya diam sekaligus menonton.


Mula nya sebelum mereka memulai pertarungan, Clara meminta agar temannya tidak membantu. Melihat tekad kuat yang terpancar dimatanya, Elena mau tidak mau hanya bisa mengangguk setuju dan menyimak pertarungan mereka.


"Clara!, tidak kusangka kau bisa sekuat ini!. Apakah bocah itu yang melatih fisik mu?" Tuan Yin memasang aba-aba dengan tongkat ditangan.


"Bukan urusan mu, pembunuh!" usai menjawab dengan nada dingin yang diselimuti kemarahan, Clara bergegas mengayunkan sabit kearah leher lawan.


Trangg ...


Sabit besar tertepis sama tongkat, Jika saja tidak ada benda yang menghalangi, maka leher Tuan Yin akan tertebas.


"Hehh ... kau masih teringat sama mendiang ayah lemah mu itu?. Aku tidak tau mengapa kau bisa menuduh ku atas kematian ayah mu, tapi tebakan mu tidak salah!, akulah yang membunuh ayah mu!"


Clara menggerakkan gigi setelah mendengar kata 'mendiang' dari mulut Tuan Yin. Ia pun membalas "Pembunuh!" Clara bergegas mengayunkan sabit besarnya secara beruntun.


Trang! ... trang! ... trang! ...


Suara tepisan menggema, sayangnya serangan Clara tidak sepenuhnya berhasil mengenai Tuan Yin.


"Sayang sekali, kuakui kekuatan fisik mu melesat jauh. Tapi, modal fisik saja tidak akan mampu menghentikan ku!" sesudah mengatakan itu, aura langsung menyelimuti tongkat Tuan Yin. Ia secara lihai memainkan tongkat nya dan berbalik menyerang Clara terus menerus.


Trangg! ... tranggg! ... tranggg! ...


Keadaan kini berbalik, Clara menangkis sambil mundur, Tuan Yin tetap memainkan tongkat nya sambil memasang wajah puas.


"Hahaha, mana kepercayaan diri mu tadi?, bukannya niat mu ingin membalaskan dendam ayah mu?!" Tuan Yin masih tidak mengendurkan serangan nya, ia terus-terusan memojokkan Clara dengan serangan beruntun.


" ... " Gadis itu tetap diam, hanya ada kemarahan yang tertahan didalam benaknya.


"Clara! kau sungguh bodoh karena telah meminta teman mu untuk tidak ikut campur kedalam pertarungan kita" merasa sudah diatas angin, Tuan Yin tetap memfokuskan permainan tongkat nya agar Clara kalah.


Semakin Clara kesusahan menahan perputaran tongkat, Tuan Yin merasa kalau tinggal beberapa waktu lagi, Clara akan kalah olehnya. Ia sudah tidak terlalu peduli lagi tentang pertahanan nya, ia begitu fokus sama kelancaran ayunan tongkat.


Dampak pertarungan mereka merobohkan pepohonan rindang disana, angin menghembus sekitarnya. Bagian lengan Clara perlahan mulai tergores oleh aura tajam yang menyelimuti tongkat.


Berkat tubuh regenerasi, luka yang diperoleh Clara sembuh dan seketika menghilang tak berbekas.


Tuan Yin teringat kalau gadis didepan nya ini mempunyai tubuh unik, ia pun mulai mempercepat serangan nya sembari membuka mulut lalu mengucapkan "Sigh ... Kekuatan regenerasi mu sangat merepotkan!, tapi tak apalah, mari kita lihat kekuatan regenerasi mu yang cepat! atau permainan tongkat ku?!"

__ADS_1


Tidak main-main, kecepatan Tuan Yin jauh meningkat. Kemudian ia mencoba mengakhiri dengan serangan yang lebih berbahaya, dan tentunya masih menggunakan tongkat.


Anehnya sebelum sempat menggerakkan tongkat keatas. Pergerakan tangan, kaki, dan tubuhnya yang lain kecuali bagian kepala, terhenti tanpa sebab yang jelas.


"Mengapa tubuh ku tidak bisa ku gerakkan ... "


Clara mengambil kesempatan emas itu untuk memenggal kepala Tuan Yin. Meskipun Clara sempat bingung sama penyebab orang itu yang tiba-tiba berhenti memainkan tongkat, tapi Clara tidak terlalu peduli lalu melancarkan tebasannya sekuat yang ia mampu.


Slashhh ...


"Ah, apa yang terjadi?" kepala lepas yang terdapat sisa kesadaran bergumam tanpa tau apa yang terjadi ditengah pertarungan nya.


Brukkk ...


Badan tanpa kepala ambruk ke tanah, darah mencucur deras di lehernya, sedangkan kepalanya menggelinding dengan mata terbuka lebar dan mulut ternganga.


Tengg ...


Sabit besar dilepaskan begitu saja.


Clara menghela nafasnya kemudian mendongakkan kepala kearah langit lalu menggumamkan sesuatu "Ayah, kau bisa sedikit lebih tenang sekarang" mata nya berkaca-kaca dan terlihat hendak meneteskan air mata.


Disaat ia melihat keatas, Elena yang berjarak cukup jauh bergegas berlari mendatangi Clara "Clara kau berhasil, kau hebat!" ia melontarkan pujian tulus terhadap temannya.


Clara segera mengusap mata nya lalu berbalik melihat temannya kemudian menimpali pujian nya dengan balutan senyum penuh makna "Emm, terima kasih"


"Eh lihat! senyum mu begitu manis"


"Benarkah?"


"Tentu saja, kau kelihatan lebih bahagia"


"Begitu ... "


"Ayo, jangan berdiam diri lagi, mari kita datangin master" Elena langsung meraih tangan Clara.


"Eh, memangnya kau tau master ada dimana? " Clara berkata seraya melepaskan pegangan tangan temannya, dan memungut sabit miliknya.


"Tidak tau sih, tapi coba aja datangin tempat kompetisi, kalau tidak ada mungkin master di ibukota" Elena kembali meraih tangannya lalu menariknya secara paksa.


" ... " pasrah disaat tangannya sedang ditarik, Clara hanya diam sekaligus menggelengkan kepalanya dalam diam.

__ADS_1


Tidak terasa beberapa menit telah terlewati, kini kedua murid Clark datang ketempat tujuan awalnya, mereka berdua tercengang setelah melihat kawah yang begitu besar terpampang dihadapan mereka.


"Lubang nya besar sekali!"


"Iya, padahal sebelumnya ada bangunan" Clara berjongkok sambil mengamati lubang besar, Elena juga mengikuti tindakan yang dilakukan oleh temannya tersebut.


"Sepertinya kalian telah berhasil menjalankan perintah ku" terdapat seorang pemuda melayang diudara.


Kedua gadis langsung mengenali pemilik suara, mereka bersamaan berdiri lalu mendongakkan kepalanya keatas kemudian mengatakan "Master" secara bersamaan.


"Kerja bagus murid ku"


Usai memastikan gurunya telah mendarat keatas permukaan tanah, Elena menerjang kepelukan Clark "Master, kau tidak apa-apa kan!?, apakah ada yang terluka!?" nadanya begitu cemas dan khawatir karena mengingat pertarungan antar Clark dan kelima sesepuh tadi.


"Elena, tubuh ku masih berkeringat, menjauhlah sedikit"


"Hmph, kenapa?. Padahal aku tidak terlalu mempersalahkan nya, lagian bau master sangat harum" seusai mengatakan hal yang cukup memalukan, Elena mengendus-ngendus bau masternya berulang kali.


"Ah, nih anak sudah tidak tertolong" gurunya mengatakan itu sambil menghela nafas berat "Huhhh ... " jari manisnya ditahan oleh jempol membentuk huruf 'O' lalu memasang ancang-ancang untuk segera menyentil.


Tukk!


Pelukan segera terlepas. Tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung terduduk ke tanah seraya mengatakan keluhannya "Itahhh, huhuhu sakit~" anak itu cengengesan menahan sakit dibagian kening nya.


"Clara, bagaimana kerja sama mu dengan anak kecil merengek ini?, dia tidak merepotkan mu 'kan?" nada Clark terkesan bercanda, sepertinya ia menginginkan perubahan suasana.


"Jahat! aku bukan anak kecil, dan juga aku tidak merepotkan Clara, lagian aku diminta untuk tidak membantu nya" Elena menggembungkan pipi imutnya, ia tau kalau ucapan master nya hanya sekedar candaan.


"Clara apakah kau mendengar ocehan bocah 9 tahun?, suaranya tidak terlalu jelas"


Jlebbbb


Meskipun gurunya hanya sekedar bercanda, tapi entah mengapa perkataannya itu menusuk hati kecil Elena.


"Ugh, master perkataan mu sangat menyakitkan"


"Pfttt" awal-awal Clara menutupi bibirnya tapi setelah sekian lama, akhirnya tawa lepas yang ditahannya keluar, baru kali ini Clara bisa tertawa selepas itu.


......................


Kalau ada typo bilang aja, ini agak terburu-buru membuatnya.

__ADS_1


__ADS_2