![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
Ketika sudah keluar dari penginapan, salah satu murid dari akademi gelombang bencana pun bertanya kepada gurunya "Mengapa kita harus berpindah penginapan guru, padahal kita sudah lelah beberapa harian ini terus dikapal"
"Ya, benar" yang lainnya juga ikut berucap.
"Kalian tidak lihat mereka berdua itu?" seru sang guru melangkahkan kakinya, mengingat informasi letak penginapan yang baru saja diberitahu oleh istri penginapan tadi.
"Memangnya kenapa?"
"Kita bukan tandingan nya"
"Mengapa guru bisa menyimpulkan seperti itu?"
"Huh ... apakah kalian tidak memperhatikan saat mereka mengeluarkan sihir tadi?"
"Oh, sihir aneh yang seperti tanaman tadi?"
"Ya sihir seperti itu mana ada didunia ini. Bukan hanya itu saja, dia dan pria itu bisa menggunakan sihir tanpa rapalan"
"Sihir tanpa rapalan?, berarti mereka setara sama akademi teratas?"
"Tidak, kurasa dia melebihi itu"
"Apa!!!, mustahil" alangkah terkejutnya mereka semua ketika mendengar bahwa orang tadi kuatnya bukan main.
"Tidak ada yang mustahil, kalian lihat kan benda yang awalan nya hanya cangkir biasa bisa dia rubah sesukanya menjadi pisau"
"Ah, kami melihat nya guru, apakah itu sulit?"
"Yah, itu sangat sulit, kalian memerlukan pengendalian yang amat rumit untuk merubah benda, sedikit kesalahan saja bisa membuat benda itu tidak sesuai kemauan kita. Umumnya melatih teknik seperti itu memerlukan latihan 40 tahun ke atas, tidak, mungkin 60 tahun keatas"
"Hebat, tapi kulihat dari penampilan nya masih muda saja"
"Ya, itulah alasan mengapa aku tidak ingin ikut campur. Dia masih muda tapi sudah bisa melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan anak seumuran nya. Sebaiknya kita tidak menyinggung nya"
"Baik guru, kami akan mengingat perkataan mu" jawab mereka serempak.
***
"Be-berikan tokennya kepada mereka" Seru Edward lebih memilih untuk memberikan tokennya.
"Tapi guru ... "
__ADS_1
"Cepat, berikan saja"
Merekapun tidak menunda waktu lebih lama lagi, 2 token mereka sudah dikeluarkan dari saku.
"Lemparkan kebawah" tatap Clark sinis.
" ... "
"Ikuti kemauan nya" ketika melihat muridnya kebingungan, Edward segera memerintahkan murid-murid nya untuk segera mengikuti perkataan Clark.
Langsung saja 2 token terlempar hingga mengenai ujung betis pemuda tersebut.
"Bagus, kalian menuruti ku" Seru Clark mengambil sebuah token yang berada tidak jauh dari betisnya.
"Sekarang ... lepaskan junior Ardian dan guru" kata salah satu murid wanita yang bernama Camila dengan nada agak tinggi.
"Aku tau" jawab Clark sambil tersenyum "Vivi tinggalkan aku disini, kau beritahukan yang lain untuk segera berkumpul dikamar ku dan bersiap meninggalkan penginapan, biar aku yang mengurus semuanya" Clark mengirimkan telepati kepada bawahannya.
Mendengar perintah tuannya, tanpa menolak Vivi pun segera mengangguk paham lalu pergi ke lantai atas. Ardian yang terikat tadi sudah bebas dari lilitan tanaman berduri, dibibir nya keluar tetesan darah.
Merasa dirinya sudah bisa bergerak bebas, Ardian yang merasa dendam dan kesal pun mulai menyerang balik Clark yang sedang terlihat fokus memperhatikan Edward.
Pergelangan tangannya sudah diselimuti oleh api, ia ingin mengucapkan beberapa rapalan tapi Clark sudah terlebih dahulu bergerak cepat untuk menangkap lehernya.
"Ckkk, eggghh"
Apinya sudah menyusut, Ardian dibuat sulit bernapas, ia hanya memegang lengan Clark yang sedang mencekik lehernya.
"Ardian!" Teriak wanita yang menyukai Ardian.
"Heh, kalian sungguh menghawatirkan anak ini" Seru Clark memperkuat cengkraman nya.
"Akhh, egkkkkhh" Tubuh Ardian memberontak, kakinya bergerak kesana kemari, hirupan nafasnya semakin sedikit.
"Kau anak berengsek" cemooh Guru akademi laut biru kepada Clark.
"Junior Ardian! ... to-tolong jangan melakukan itu, ak-aku akan melakukan apapun untuk mu. Asal ... asal ... kau melepaskan nya" Camila rela melakukan apapun untuk bisa membiarkan Ardian tetap hidup.
"Aku juga, tolong jangan bunuh Ardian, aku ... aku ... ingin dia tetap hidup" Ciel juga sama, ia tidak mau jika kehilangan seseorang yang dicintai nya.
"Hooh, aku tidak berharap ada 2 wanita cantik menyukai pria seperti ini, sayangnya aku tidak tertarik dengan kalian. Pengembalian situasi ... " sahutnya kemudian melemparkan tubuh Ardian ke lantai.
__ADS_1
Pas sudah menyelesaikan kalimat akhir, sebuah cahaya keemasan dari Clark menyebar ke orang akademi laut biru dan istri pemilik penginapan, mereka yang terkena itu langsung tertidur pulas.
Hanya Clark yang tidak tertidur ataupun terkena efek cahaya itu. melihat mereka yang sudah tak sadarkan diri ataupun tertidur, Clark langsung merobek ruang kemudian memasuki nya.
Robekan ruang tersebut mengantarkan dirinya ke sebuah kamar dilantai atas penginapan. 4 orang wanita sedang menunggu kedatangan dirinya.
Elena dan Clara terlihat mengantuk, sepertinya mereka berdua habis bangun dari tidur, kalau Flera hanya sedikit lelah saja karena habis melatih kontrol sihir kegelapan.
"Bagus kalian sudah berkumpul" Seru Clark tersenyum kemudian merobek ruang lagi.
"Ma-master, kita mau kemana?" Elena sedang mengucek matanya.
"Nanti ku beritahu, kalian masuklah terlebih dahulu" Clark memilih untuk tidak menjelaskan sekarang.
Keempat wanita hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan, satu persatu dari mereka mulai memasuki robekan ruang, Clara tidak lupa untuk membawa sabit besarnya.
Disaat tinggal dirinya seorang, Clark mengeluarkan 10 koin emas dari cincinnya, koin tersebut ia lemparkan kepermukaan kasur.
Merasa sudah tidak ada hal penting lagi, barulah Clark menyusul para bawahan dan muridnya.
Sesaat kemudian, robekan tersebut membawa mereka semua ke ruangan kapal yang sebelumnya mereka pakai, ruangan tersebut dilengkapi sebuah kasur beserta selimut yang masih dalam keadaan berantakan.
"Master, aku seperti mengenal tempat ini" tanya Elena yang merasa tempat ini sangat Familiar.
"Ini tidak kelihatan asing" Clara juga merasakan hal yang sama, dirinya menyentuh selimut di ruangan itu.
"Tempat ini adalah ruangan kapal yang kita gunakan sebelumnya" Seru Clark meninggalkan keempat wanita, niatnya ingin menarik jangkar kapal.
"Pantasan saja seperti tidak asing, ternyata ini kapal yang sebelumnya" Elena menaiki kasur.
"Apakah ini kasur yang digunakan tuan?" entah mengapa Vivi malah penasaran tentang sesuatu yang agak aneh, bahkan senyuman nya sungguh mencurigakan.
"Iya kak, master sering menggunakan kasur ini" Jawab Elena menikmati waktu berbaring nya.
"Hei!, kau tidak bakalan melakukan sesuatu yang aneh kan seperti waktu itu?" saat senyuman genit Vivi tidak dapat ditahan, Flera mulai mencurigai nya dengan menyinggung perbuatan Vivi pada beberapa hari lalu.
Vivi mendekati telinga bawahan pertama tuannya "Fufufu, aku hanya menempelkan aroma ku dikasur tuan saja, apakah salah?" bisiknya sedikit menjahili Flera.
"Ka-k ... ka-kau ... me-mesum" jawab Flera tergagap-gagap. Tak lupa dirinya juga menutupi mulut wanita yang sedang menjahili nya.
"Apa yang sedang kakak Vivi dan kakak Flera bicarakan?" Clara memiringkan kepalanya kesamping.
__ADS_1
"Entahlah, biarkan saja" balas Elena lebih memilih untuk terus berbaring.
Tak beberapa lama, jangkar pun telah diangkat, kapal mulai berlayar.