Fallen Angel [Malaikat Jatuh]

Fallen Angel [Malaikat Jatuh]
Chp. 74 : ketempat kompetisi


__ADS_3

Dipagi harinya, kedua murid Clark sedang bersiap-siap. Tidak lupa Clara membawa sabit besarnya.


Pakaian mereka serba hitam meskipun modelnya tidak sama, Elena mengenakan gaun hitam bergaris ungu. Clara mengenakan baju hitam bergaris ungu panjang diatas lutut dengan celana pendek hitam. Clark menggunakan baju hitam bergaris ungu yang dilapisi jubah hitam dibelakangnya, ia juga sedang mengenakan kacamata berantai.


Mereka saat ini sedang berkumpul dilantai 2 penginapan, dekat sama anak tangga.


"Bagaimana tidur kalian?, apakah nyenyak" Clark melihat kalau muridnya sedang mengusap matanya.


"Clara tidur nyenyak" jawab murid pertama lalu disusuli Elena.


"Aku juga"


"Bagus, kalau begitu ... kita berangkat"


Clark memutuskan untuk turun tangga terlebih dulu, kedua muridnya mengikuti dari belakang.


"Kakak Flera sama kakak Vivi tidak ikut?" Elena bingung karena bawahan gurunya sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.


"Sepertinya mereka kelelahan, biarkan mereka istirahat" balas Clark sambil tersenyum penuh makna sambil berbicara dikepalanya "aku tidak bisa bilang, kalau mereka sedang kesulitan berjalan"


"Eh ... mereka kelelahan?, bukankah malam tadi Kakak terlihat baik-baik saja, apakah ada sesuatu yang terjadi?" sahut Elena menduga kalau bawahan gurunya sedang tertimpa masalah.


"Bagaimana kalau kita mengecek keadaan mereka lebih dulu sekaligus berpamitan" usul Clara datar.


"Tidak usah, mereka kan perlu istirahat, jika kita mengeceknya itu akan mengganggu waktu istirahat mereka" jawab mantan malaikat.


Setelah keluar dari penginapan, mereka melihat kalau ibukota benar-benar sangat ramai. Pejalan kaki dan orang yang menggunakan kereta kuda, menuju kesatu arah yang sama.


"Banyak sekali orangnya, hari kemarin tidak seramai ini" Elena berpikir kalau hari ini, jauh lebih ramai dari hari kemarin-kemarin.


"Clara tidak tau kau bodoh atau apa?, sudah wajar akan seramai ini karena orang akan menonton pertandingan" Elena yang berniat ingin mencairkan suasana malah dirusak oleh temannya, Clara.


"Hah!, kau mengatai ku bodoh?" merasa sedikit tersinggung dan geram, keningnya mengernyit.


"Kau merasa dirimu bodoh?, padahal Clara cuman bilang 'tidak tau kau bodoh atau apa' terima kasih sudah jujur" balasnya malah membuat Elena berekspresi masam.


"Baru pagi gini, kalian malah bertengkar lagi, apakah perlu ku gantung diatas pohon satu-satu"

__ADS_1


Mendengar perkataan masternya, kedua gadis mulai membayangkan kalau mereka sedang digantung diatas pohon selama beberapa hari.


"Tidak" kata mereka bersamaan sambil menggelengkan kepalanya secara cepat.


***


Sesampainya didepan tempat kompetisi sihir diselenggarakan, Elena yang melihatnya semakin dibuat takjub karena tempatnya lebih besar dari apa yang sudah dipikirkannya selama ini.


Bangunan itu terlihat seperti membundar, tingginya setara sama penginapan berlantai 6, begitu lebar dan besar.


"Besarnya, bagaimana menurut mu Clara" Elena menoleh kearah temannya meskipun sudah bakalan tertebak ekspresinya bakalan gimana.


Benar saja, wajahnya masih tenang, sama sekali tidak menaikkan bibirnya ataupun membukakan matanya dengan lebar, ia hanya diam memandangi bangunan membundar tersebut.


"Ayolah, kau harusnya sesekali menunjukkan ekspresi mu, padahal bangunan dihadapan mu ini sangat besar loh" Elena mencubit pipi Clara.


"Ayo masuk" tanpa mempedulikan muridnya, Clark kemudian mulai memasuki tempat itu.


"Eh, master tunggu" Elena berlarian mendatangi gurunya, Clara juga melakukan hal yang sama biarpun ia hanya diam.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah berhasil masuk kedalam.


"Master, di paling atas sana tidak ada orang" kata Elena menunjuk keatas lalu berlari ringan bersama Clara.


"Pelan-pelan naiknya, nanti tersandung tangga" Clark menasehati Elena yang terkesan terburu-buru.


"Baik master" balasnya singkat sambil menarik tangan temannya.


Setelah murid-muridnya sudah berlarian menuju ketempat duduk yang diinginkannya. Clark yang masih berjalan santai, kebetulan berpapasan sama akademi gelombang bencana yang sebelumnya pernah bertemu di penginapan kota samore.


"Yo, sudah lumayan lama ya" lambai Clark kepada mereka.


"Kau ... orang itu ... " pria berkumis panjang masih sangat mengingat wajah orang yang menurutnya sudah sangat ahli meskipun penampilan Clark sudah berubah banyak yang sebelumnya mengenakan pakaian sederhana menjadi pakaian seperti bangsawan kelas atas.


"Ah, kau masih mengingat ku, orang berpengalaman memang hebat" puji Clark melihat kesepuluh murid yang dibawa olehnya.


Kesepuluh murid yang berada dibelakang gurunya masih bingung sama orang yang sedang berbicara santai sama gurunya.

__ADS_1


Mereka masih tidak menyadari kalau orang yang mereka heranin adalah orang yang tidak boleh disinggung. Perkataan itu dibilang oleh guru mereka sendiri beberapa hari yang lalu, waktu keluar dari penginapan kota samore.


"Sudah kuduga orang ini bukan orang sembarangan, apa tujuan dia kemari?, apakah hanya melihat? atau sesuatu hal yang lain?" batin guru dari akademi gelombang bencana melihat jubah yang dikenakan oleh Clark sangat berkualitas.


"Jika dibandingkan dengan tuan muda, saya tidak berpengalaman seperti itu" sahutnya sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Apa!, guru menundukkan kepalanya" batin mereka terkejut.


"Lebih baik aku bersikap hormat kepadanya, akan jadi masalah besar jika menyinggung pemuda seperti dia" batin pak tua berkumis.


"Kalian berikan salam kepada tuan muda" toleh Elder menatap kesemua murid yang dibawanya.


"Baik guru" biarpun masih dalam keadaan bingung, muridnya hanya menjawab setuju secara bersamaan lalu mulai memberikan hormat sekaligus menundukkan kepalanya.


"Murid mu benar-benar patuh, kau memang guru yang hebat" puji Clark sekali lagi.


"Saya tidak sehebat itu" balasnya sambil menyentuh ujung kumisnya.


"Kalau begitu, kalian lanjutkan lah apa yang ingin kalian lakukan, aku ada urusan" sahut Clark kemudian meninggalkan mereka.


"Baik" sahut mereka serentak, pergi kebawah.


Beberapa menit setelah mereka pergi, Clark yang berjalan santai tadi baru saja sampai ketempat duduk yang berada disamping kedua muridnya yang sedari tadi sudah duduk sambil melihat arena kompetisi dari atas.


"Kenapa master lama?" Elena menyadari kalau gurunya baru saja duduk.


"Tadi ada beberapa halangan"


"Halangan" sorot mata kedua muridnya langsung sinis begitu mendengar ada kata 'halangan' dari mulut masternya.


"Siapa serangga yang menghalangi master, apakah perlu menemuinya, enaknya diapain, apakah ditusuk?, dibakar?, dikuliti?" kata hati iblis Elena sudah tidak dapat dikontrol namun tak lama itu sebuah telapak tangan yang memainkan rambutnya dengan lembut membuatnya melupakan pemikiran jahat.


"Tidak separah itu, jangan dipikirkan" orang yang melakukan itu adalah masternya sendiri. Tangannya mengacak-acak rambut Elena.


" ♡ Baik master, aku sudah tidak memikirkannya ♡ " kata Elena sudah kembali jinak seperti sedia kala.


"Clara juga mau ... " murid pertamanya sudah menyodorkan kepalanya, ia sudah sangat menginginkannya seperti kucing yang ingin diberikan kasih sayang lebih dari pemiliknya.

__ADS_1


"Huh ... iya-iya" tangan Clark barusan mendarat dikepala Clara, secara perlahan dan lembut.


"Hwahh, tangan master nikmat" sahutnya merasakan usapan lembut.


__ADS_2