![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
Penginapan, ruangan Clark. Flera dan Vivi sedang asyik-asyiknya mengobrol berdua. Tiba-tiba, obrolan itu terhenti setelah tuannya mengirimkan suara lewat telepati.
"Berwaspadalah, kuharap kalian bisa menjaga diri masing-masing" ungkapan itu penuh makna, mereka berdua saling bertatapan dahulu, kemudian saling menggangguk bersama.
***
Diwaktu yang masih sama, tepatnya dibangunan kompetisi diselenggarakan, tidak nyangka kalau Hal-hal buruk bisa terjadi disana, apalagi itu ada sangkut pautnya sama penguasa.
Karena sudah menyelesaikan tugasnya, Tuan Yin menyatukan tinjunya, memberi hormat dengan patuh "Tuan, saya telah menyelesaikan apa yang telah anda minta"
"Bagus, kau menjalankan tugas mu dengan baik. Seperti janji waktu itu, kami akan memberikan mu hadiah setelah berurusan sama mereka"
Sekali lagi Tuan Yin memberikan hormat, tubuhnya sedikit membungkuk, tanda kalau dia masih patuh dan bersabar "Baik, saya mengerti"
Salah satu sesepuh paling kuat, merentangkan tangannya dalam keadaan terbang di udara, nadanya berat dan membuat para pendengar merinding ketakutan "Kalian mau tunduk atau mati disini!, pilihlah lalu tentukan hidup dan mati nyawa kalian ... " pandangnya kebawah, menatap remeh orang seakan sudah tidak ada lawan yang setara sama dirinya.
Reaksi orang bermacam-macam, tapi kebanyakan berteriak keras lalu mencoba kabur. Namanya manusia, ya pasti sayang sama satu-satunya nyawa, jadi wajar kalau melarikan diri, apalagi masalahnya jauh dari kata sepele dan dapat mengancam hidup mereka.
Tidak ada salahnya mencoba melarikan diri, tapi sayangnya, tindakan itu menjadi percuma, apalagi sesepuh itu sudah memasang sebuah pelindung besar yang membundari bangunan, membuat manusia disana terhalang dan tidak dapat keluar.
Mereka mencoba mendorong, memukul, menendang, dan bahkan ada juga yang menembakkan sihir demi bisa keluar dari pelindung.
Kata pepatah, usaha memang tidak menghianati hasil, tapi kali ini, usaha justru menghianati. Tidak ada satupun yang dapat keluar dari sana, paling-paling hanya dapat menggores pelindung, tidak sampai meretakkannya apalagi memecahkannya.
Merasa sudah diatas angin, sesepuh terkuat akhirnya mengungkapkan rencananya "Percuma, biarpun kalian bisa kabur tapi pasukan telah kami kerahkan untuk menyerang ibukota. Tinggal tunggu waktunya dan sebentar lagi dunia ini akan menjadi milikku!, hahaha" ketawanya seolah-olah sedang menunjukkan kekuasaannya.
Tidak ingin rencana sesepuh semulus itu, guru Hokori melayang dengan bantuan sihir angin tingkat kedua dengan membawa sebilah pedang ditangan kirinya.
Perasaan khawatir bercampur tegang, muridnya memanggil "Guru!" teriak para murid ber firasat kalau Hokori tidak sekuat 5 sesepuh.
"Urus dia!" perkataannya pelan, namun terasa tegas. Sesepuh lain mengerti kalau pemimpin dari kelima sesepuh meminta dirinya untuk turun tangan.
Wushh ...
__ADS_1
Sayapnya dikepakkan secara cepat, melaju menghadapi guru Hokori.
"Jangan sombong" jawab Hokori merasa kalau pemimpin sesepuh terlalu sombong, ia kemudian mengeluarkan teknik yang sering ia pakai "Pedang angin, tusukan ribuan jarum" gerakannya tergolong lincah dan juga cepat, pedangnya seolah-olah seperti jarum, menusuk ribuan kali dalam kurun waktu singkat.
Ting ... ting ... ting ... ting ...
Sesepuh tidak selemah itu, tentunya ia dapat menahan serangan yang mengandalkan kecepatan dan ketepatan. Sebelum menghadang Hokori, sesepuh lebih dulu memasang sebuah teknik pertahanan tubuh, agar kebal dari serangan.
Efek teknik itu dapat dilihat secara langsung, rupanya seperti cahaya keemasan berbentuk cangkang kura-kura.
Ting ... ting ... ting ... ting ...
"Ck, keras sekali, aku akan menambah kecepatan ku" merasa kalau serangannya tidak memberikan dampak besar, Hokori berpikir kalau kecepatannya bertambah, maka daya serangannya akan lebih menguat.
Sihir Hokori memang bisa ditahan, tapi kalau lama kelamaan terus begini, cangkang kura-kura tersebut bakalan retak.
Dugaan tidak meleset, setelah menerima beberapa tukaran serangan, pertahanan itu mulai retak.
"Lumayan, serangan mu bisa melukai teknik pertahanan kura-kura ku" sesepuh melihat kalau ada keretakan pada pertahanan cangkang kura-kuranya, ia berniat untuk melawan balik.
Track ...
Apa! pedang ku ... hancur dalam sekali pukul!" Hokori tersentak kaget karena gerakan pedangnya dapat dengan mudah terbaca oleh lawan, apalagi lawannya bisa menghancurkan pedangnya dalam sekali pukul. Bisa dilihat perbandingannya, kalau Hokori jauh lebih lemah.
"Begitu saja sudah terkejut, bagaimana jika kau merasakan ini"
Bammm ...
Tinju mengenai perut Hokori "Uhuk, ba-bagaimana mungkin" Hokori terpelanting kebawah.
Bum ... bumm ... bummm ...
Hokori terpental ke kursi duduk, sampai-sampai area disana hancur dan berantakan. Murid-muridnya langsung berteriak khawatir "Guru!" mereka bergegas menghampiri guru Hokori yang sedang tergeletak disana.
__ADS_1
"Kau lelaki tua!, berani-beraninya membuat guru seperti ini. Yui!" Yue sebagai murid Hokori, merasa sangat marah.
"Aku mengerti" Yue dan Yui berkerjasama demi membalas perbuatan sesepuh, mereka tidak tahan kalau gurunya sampai dilukai.
Melihat Yue dan Yui membalas dendam, Hokori malah merasa khawatir jika kedua murid kembar itu melawan sesepuh, apalagi kekuatan mereka tidak sekuat dirinya "Ja-jangan melawannya" Hokori dibantu duduk sama muridnya yang lain, suaranya terbata-bata karena menahan rasa sakit pada tubuh.
Bukannya menuruti perkataan Hokori, murid kembar malah masih menuruti ego nya sendiri. Tidak peduli seberbahaya apapun, asalkan rasa sakit gurunya terbalaskan, keduanya siap menanggung resiko.
Yue dan Yui menggunakan atribut yang terbilang jarang. Yue berelemen cahaya, dan adiknya, Yui berelemen kegelapan.
"Heh, kau tidak dilajari sopan santun oleh gurumu" sesepuh tadi mengingat kalau si kembar itu sempat mengata-ngatainnya, sesepuh itu paling tidak suka kalau ada orang yang menyindir tentang usianya.
Yue dan Yui melayang sekaligus memasang kuda-kuda, Cahaya menyelimuti pergelangan Yue dan Kegelapan menyelimuti pergelangan Yui. Mereka sama-sama menggunakan sihir andalan.
"Aku akan memberikan kalian pelajaran karena telah menyebutku tua. Telapak ganda, cangkang keras" kedua telapak tangannya terbuka, dari sana nampak kalau ada dua cangkang kura-kura berwarna keemasan.
"Cahaya kegelapan, gabungan yin dan yang, telapak pembenaran" sahut murid kembar pernah menggunakannya dulu.
Bomm! WUSH!
Aura disana saling bertubrukan.
Biasanya kalau sudah saling bergabung, efek kerusakannya semakin meningkat, tapi kekuatan itu tidak berlaku jika melawan sesepuh "Heh, lemah!" Ia dengan mudahnya menekan balik.
"Uwahhh" Kedua murid kembar sama-sama terpelanting jauh.
Hokori bergegas menghampiri murid kembar "Yue! ... Yui! ... " teriaknya masih dapat berlari, padahal kondisinya dalam keadaan terluka. Pas itu ia memaksakan tubuhnya untuk bergerak, bisa dilihat kalau langkahan kakinya tertatih-tatih.
"Guru, kondisi mu masih terluka" panggil murid perempuan lain mengingatkan, tapi malah tidak dipedulikan. Mereka hanya bisa pasrah lalu berbarengan menyusul Hokori.
Dipinggiran arena, sesosok pemuda berkacamata rantai sedang membatin sembari menyimak kekacauan disana.
"Sepertinya lebih baik aku tetap diam dan tetap mengamati. Hmm, Hokori apa rencanamu selanjutnya?, dan Akademi cahaya perak sepertinya kalian akan memberikan kejutan terhadap semua orang"
__ADS_1
......................
Sorry baru bisa up sekarang ╥﹏╥