![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
Diluar markas, tepatnya dihadapan, Clara dan Elena sedang bekerjasama untuk mengalahkan pemimpin assasin.
Elena menggunakan pedang air dan serangan elemen-elemen airnya sedangkan Clara menggunakan sabit besarnya, mereka memberikan serangan berturut-turut tanpa sedikit pun jeda kepada pemimpin assasin tersebut.
Trang ...
Wushh ...
Tingg ...
Karena saking seringnya adu ketangkasan, pemimpin assasin dibuat sedikit kewalahan.
"Kekuatan fisiknya tidak wajar, bahkan sabit nya dapat menahan pedang api ku" batin pemimpin assasin menggangap kalau kekuatan fisik Clara sudah diluar batas wajar.
"Kau memang menarik, aku takjub sama kekuatan fisikmu" ucap pemimpin assasin bersiap untuk membalas.
"Apa yang kau oceh kan daritadi?" Elena tiba-tiba berada disamping pemimpin assasin, dikepalan tangannya terdapat pusaran air.
Postur tubuh Elena seakan ingin memukulinya, beruntungnya pemimpin assasin masih berwaspada sehingga ia pun memilih untuk menghindar sekaligus mundur.
"Kau masih terlalu muda untuk mengalahkan ku. Kalian habisi mereka! ... " teriaknya menyuruh bawahannya untuk menyerang kedua gadis bertopeng.
Secara serentak setengah bawahannya menggunakan elemen api lalu dihembuskan menggunakan sihir angin dari belakang oleh assasin yang tidak bisa menggunakan elemen api.
Api itu seketika menjalar dan berubah menjadi sangat besar akibat hembusan angin. Karena tidak sempat menghindar lagi, api itu malah mengenai kedua murid Clark.
"Meskipun kalian berhasil membuatku takjub, tapi pengalaman bertarung kalian masih kurang" oceh pemimpin assasin lalu tak lama itu, terdengar suara gadis dari letak tempat api itu membakar.
"Sudah kubilang, apa yang kau oceh kan daritadi?, berisik sekali"
"Clara juga merasakan hal yang sama, mereka berisik"
Mendengar suara gadis bertopeng, para assasin dan pemimpin nya membukakan matanya dengan lebar.
"Bagaimana mungkin!, kalian lakukan sekali lagi!" pemimpin assasin berteriak, bawahannya langsung menuruti apa kemauannya.
"Jangan harap" sahut Clara sudah menghentakkan kakinya ketanah, ia melesat cepat sembari membawa senjatanya.
Sesudah masuk kedalam jangkauan serangannya, sabit besarnya pun bergerak lincah menebas leher sekelompok assasin.
Elena yang masih berdiam diri, menggunakan sihir airnya untuk meninggikan posisi tubuhnya, lingkaran sihir dibawah alas kakinya mendorong penggunaannya ke atas.
__ADS_1
Saat sudah sampai ketinggian puluhan meter dari tanah, ia sedang melihat Clara beradu serangan sama para assasin termasuk pemimpinnya.
"Mungkin sekarang master sudah menyelamatkan orang yang dimaksudkan nya itu, sepertinya aku bisa menguji sihir ini kembali, jika ini berhasil aku akan dipuji olehnya" batin Elena sedang berada diudara.
Tangan kiri Elena sedang menyentuh pinggang, sedangkan tangan satunya dinaikkan keatas sampai batas yang bisa dilakukan tubuhnya.
Lingkaran sihir yang sangat besar muncul dilangit malam-malam, bahkan terdapat cahaya silau yang berasal dari lingkaran tersebut, tanda lahir airnya sedikit bercahaya meskipun cahaya itu agak redup.
Perhatian para assasin teralihkan, mereka yang saat ini sedang bertarung sesekali menoleh keatas, ingin melihat darimana sumber cahaya silau itu.
Clara yang hanya diam, melanjutkan penyerangannya. Sabit besarnya berayun kesana kemari, terkadang ada serangan kegelapan dari sabit miliknya. Itu semua membuat bawahan assasin terpenggal dalam beberapa detik saja.
"Clara menyingkirlah!" teriak Elena memberitahukan.
Merasa mengerti, Clara pun menyingkir dari sana, ia sesegera mungkin kabur dari tempat itu.
Flera sebagai roh bulan sabitnya, membantu pemiliknya untuk lari dari sana. Sihir kegelapan membantu memperkuat fisiknya, belum lagi dibantu dorongan kuat yang sudah dialirkan ke kaki Clara sehingga langkah kakinya lebih cepat.
"Jadilah gundukan tanah" ucap Elena sembari mengepalkan tangannya.
WOSHHH!
Tidak lama kemudian, keluar satu pedang air berukuran raksasa dari lingkaran sihir. Semakin kebawah dorongan anginnya semakin kuat.
Aura khusus yang terdapat di pedang air super besar itu menekan sekumpulan assasin hingga dibuat bertekuk lutut dan mencium tanah.
Bangunan besar atau bisa disebut markas tempat berkumpulnya assasin, runtuh, sebelum pedang air super besar itu menyentuh tanah.
Akibat dari runtuhnya markas assasin tidak lain dan bukan karena Aura penekanan itulah yang membuat bangunan itu roboh.
"Uhuk ... " pemimpin assasin memuntahkan darahnya, ia tidak lagi berposisi kan berlutut melainkan bertiarap. Dadanya kebawah dan mukanya menelungkup.
Keadaan tubuh bawahannya sudah tidak tersisa selain cairan merah berbau amis yaitu darah. Penyebab mereka semua mati itu karena tidak bisa menahan aura penekanan lebih dari tubuh yang biasa mereka tahan.
"Musnah" kata Elena singkat kemudian mempercepat proses jatuhnya hingga pemimpin assasin tidak dapat menahan lebih lagi.
Bumm!
Tubuhnya meledak seketika itu juga, darahnya muncrat ke sekitar lalu tidak lama itu, terjadi sebuah tubrukan hebat.
BUURRR!!!
__ADS_1
Pedang air sudah sampai kepermukaan tanah, markas assasin hancur lebur, air yang ada di pedang super besar itu memisah kemudian membanjiri tempat tersebut.
Gelombangnya amat besar, pepohonan banyak yang roboh, gundukan bangunan markas assasin tenggelam. Amukan airnya tidak berhenti sampai situ saja, air menyebar keseluruh kawasan persembunyian assasin.
Dalam waktu semenit, tempat berdataran rendah atau lebih tepatnya kawasan markas assasin biasanya bersembunyi, menjadi sebuah danau.
Pepohonan yang telah tercabut dari akarnya mengambang. Sekarang Elena berjalan diatas permukaan air, ia melihat ke sekelilingnya.
"Dimana mereka, apakah aku tidak berlebihan?" dirinya pelanga-pelongo melihat kesana kemari, padahal orang yang dimaksudkan Elena sedang berada di udara, melayang menggunakan cara masing-masing.
"Elena, kau bodoh atau apa?, padahal master sudah memberitahukan, kalau tidak boleh menggunakan sihir yang berskala besar" tanpa berbasa-basi, Clara mengata-ngatai temannya.
Karena mendengar suara temannya diatas, Elenapun segera memalingkan kepalanya ketempat suara tersebut berasal.
"Heh, aku baru ingat" balasnya beralasan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Padahal master ingin mengasah pengalaman bertarung kita tanpa menggunakan sihir berdampak besar, tapi kau malah mengacaukan nya, Elena"
Terlihat kalau Clara melayang itu karena dibantu sama Flera yang berada didalam sabit besarnya. Ia duduk sambil berpegangan dibagian tongkat sabitnya.
"Geh ... yah mau gimana lagi, aku kan lupa"
"Anak kecil sedang beralasan"
"Apa kau kata!"
"Tidak, lupakan. Anak kecil tidak akan mengerti"
"Hei, aku bukan anak kecil, umurku 2 tahun lebih tua daripada dirimu"
Tidak jauh dari mereka, ada Vivi sedang duduk santai dibunga melayang.
"Elena, kau tidak merasakan sensasi aneh seperti pusing atau lemes?, apakah tubuh mu baik-baik saja setelah mengeluarkan sihir itu" dirinya ikut berbicara ketika melihat kedua murid tuannya sedang beradu mulut.
"Aku tidak merasakan apapun kak" balasnya.
"Elena, kau memang sedang mengacaukannya yah"
Datang seorang pria baru saja keluar dari robekan ruang, posisinya tengah berada dibelakang Elena. Saat itu juga ia menepuk pundak Elena.
"Hihh ... ma-master, aku tiba-tiba lupa" jawabnya, merinding.
__ADS_1
"Oh tiba-tiba lupa ya, kau memang murid yang sangat pintar mencari alasan, sepertinya kau harus dibimbing lebih keras lagi"
"Hah ... TI-TIDAK! ... "