
Hari ini Bela tidak pergi ke kampus. Dia berada di rumah Erland. Sudah lama dia tidak bertemu Maya. Bela sangat merindukan Maya. Bagi Bela, Maya adalah ibunya. Bela dapat merasakan kasih sayang seorang ibu melalui Maya.
"Apa yang kau katakan?" Erland terlihat tidak percaya semua cerita Bela.
"Sungguh. Kemarin ku kira orang yang membuntutiku itu orang suruhan Om Erland. Tapu aku salah. Orang itu hanya mengantarkan hadiah dan bunga. Tadi pagi juga begitu, saat aku jogging ada orang yang mengantarkan hadiah lagi. Aku sungguh penasaran. Siapa dan kenapa dia memberiku hadiah." Bela frustasi.
"Tenanglah mungkin itu teman kecilmu dulu Bel." Rio menenangkan Bela.
"Aku tidak tahu kalau rumah itu berpenghuni dulu. Yang kuingat itu rumah kosong."
"Sayang, makan dulu kuenya. Tante membuatnya penuh cinta." Maya membawa sepiring kue jahe buatannya. Diletakkannya di atas meja.
Baru saja piring itu mendarat langsung ada yang mengambilnya.
Maya menyuapi Bela. Senyuman manis tidak luntur dari bibirnya.
"Tante, Bela bisa makan sendiri. Bela bukan anak kecil lagi." Bela mengampil kue jahe yang ada ditangan Maya.
"Bagiku kau masih anak kecil." Maya tetap menyuapi Bela.
"Kemana om Erland mengirim kak Elli dan kak Sena?" Bela marah. Pasalnya dia tidak menemukan Elli dan Sena di mansion milik mereka. Bela juga tidak bisa menghubungi mereka.
"Mereka sedang menjalankan misi dariku. Anggap saja itu sebagai hukuman mereka karena telah membohongiku." Erland santai menanggapi pertanyaan dari Bela.
"Oh ayolah, Om. Itu karena Bela ingin memberi kalian kejutan. Yah meskipun gagal. Jadi itu salah Bela bukan salah mereka." Bela tetap tidak bisa menerima perlakuan Erland terhadap Elli dan Sena.
"Mereka akan kembali 3 hari lagi. Nanti malam kau datang ke pesta Aurel atau tidak?" Erland bertanya pada Bela.
"Bela harus datang, Om. Katanya mama juga mengundang penghuni rumah baru itu. Bela penasaran jadi Bela harus datang."
"Bagus kalau begitu kita ke butik cari gaun untukmu." Maya berinisiatif membelikan gaun untuk Bela.
"Boleh juga, Tan. Ayo!"
Maya dan Bela meninggalkan meja makan. Mereka melupakan Erland dan Rio yang masih berada disana.
__ADS_1
"Pa, kita dianggap patung ya?" Rio bertanya tanpa ekspresi.
"Ya begitulah." Erland menghela nafas.
Dasar wanita.
-----------------------------------
Bela duduk didepan meja riasnya. Dia ingin bersiap-siap tapi entah kenapa dia bimbang. Dilihatnya kotak besar di atas ranjang lalu dia mengambilnya dan keluar kamar mencari keberadaan Aurel.
"Selamat ulang tahun. Ini hadiah dariku." Bela meletakkan kadonya di depan Aurel. Kebetulan Aurel sedang duduk di meja makan.
"Terimakasih. Apakah ini artinya kau tidak datang ke pestaku makanya kau memberiku hadiah dirumah?" Aurel menatap sedih Bela.
"Entahlah, Mayleen dia pergi ke luar kota. Aku jadi tidak semangat kalau tidak ada dia." Bela malas jika harus berinteraksi dengan orang banyak.
"Kau harus datang, Bel. Oh iya tadi pagi kau dapat hadiah dari siapa?"
"Aku tidak tahu. Kemarin aku juga dapat hadiah dan bunga. Pengirimnya merahasiakan identitasnya." Bela tetap dingin. Dia berbicara dengan nada datar.
"Aku usahakan datang, Untuk melihat pertunanganmu." Bela tersenyum pada Aurel. Sejenak kemudian dia meninggalkan Aurel dan pergi ke kamarnya.
Aurel menyadari senyuman Bela yang manis tapi mengerikan.
----------------------------------
BELA POV
Hari ini sungguh berat bagiku. Antara rasa penasaranku dan luka dihatiku. Antara aku dan Aurel ada rasa saling menyayangi satu sama lain. Entahlah itu hanya pura-pura atau sekedar cari muka saja. Setelah kami bertengkar, kami akan bersikap biasa saja seperi tidak ada yang terjadi. Aku menyayanginya? Tentu. Bahkan rasa sayangku lebih besar dari kebencianku padanya. Pertama kali dia datang, aku menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Kita bermain bersama sepanjang hari. Hingga aku sadari semua yng dulu ada padaku kini ada padanya. Aku tidak membencinya hanya saja aku merasa kesal saat semua orang memihaknya. Apa karna dia cantik?
Malam ini kau harus berdandan Bela! Tunjukkan pada Ayah bahwa kau telah tumbuh menjadi gadis yang cantik.
Ku rias ringan wajahku, ku gelung rambut sebahuku terlihat leher jenjangku. Aku teringat kalung pemberian Ayah. Saat aku pergi ke Australia aku lupa membawanya. Ternyata masih tersimpan rapi di dalam laci meja riasku. Ku pakai kalung berliontin mawar putih itu. Aku juga sudah berganti pakaian dengan gaun yang ku beli bersama Tante Maya tadi. Tadi Tante Maya juga memberiku anting yang senada dengan warna gaunku. Aku sungguh tidak percaya pantulan dicermin itu diriku. Aku tampak berbeda ini bukan diriku. Ini sudah pukul 19.00 aku sudah terlambat. Perjalanan ke hotel Rose memakan waktu kurang lebih Setengah jam perjalanan.
Saat aku keluar kamar, aku ingin mengajak Gian juga tapi seketika aku teringat bahwa mama menyembunyikan Gian dari dunia luar. Aku bergegas keluar rumah. Mobil milikku terparkir rapi di halaman rumah. Tidak berpikir panjang aku langsung masuk mobil dan menuju hotel Rose.
__ADS_1
Sampai di hotel Rose aku sadar jika mama juga mengundang para awak media. Om Erland pernah berkata padaku jangan sampai media meliputku kapanpun dan dimanapun itu. Aku tahu semua yang Om Erland katakan itu ada sebabnya itu juga untuk kebaikanku jadi aku harus menurutinya. Aku keluar dari mobil menuju pintu lain. Ada 2 jenis pintu di hotel ini bagian VIP dan pintu biasa. Aku masuk melalui pintu biasa. Segera aku naik lift menuju lantai atas.
Betapa terkejutnya aku melihat Alex juga berada di lift yang sama denganku hanya kita berdua. Apa dia juga menghindari media?
" Apa kau juga menghindari media juga?" Alex menoleh ke arahku dan bertanya.
"Menurutmu."
"Kenapa? Bukankah kau juga bagian dari keluarga Aurel." Entah kenapa Alex kepo sekali.
"Aku hanya anak pungut. Aku berbeda dengan Aurel."
Ting
Pintu lift terbuka, aku bergegas keluar.
"Gabela Zoffany." Merasa namaku terpanggil kakiku berhenti berjalan.
"Apa lagi?" ku balikkan badanku menghadapnya.
"Mm. Ini pertama kalinya aku meminta pertemanan dari seseorang. Jadi bisakah Nona Gabela menjadi temanku?" Tidak kusangka laki-laki yang terkenal kejam dan dingin memintaku menjadi temannya. Raut wajahnya juga terlihat sangat serius.
"Beri aku satu alasan untuk menjadi temanmu!" Aku ingin sedikit bercanda dengannya.
"Aku bisa melindungimu saat di kampus." Dia salah tingkah. Entah apa yang membuatnya salah tingkah. Tetapi saat dia salah tingkah, ekspresinya sangat lucu.
"Pfftt. Hha hahahah." Aku tidak bisa menahannya.
"Apa yang lucu, Bel?"
"Tidak ada. Kita berteman." Aku mengulurkan tanganku padanya. Dia juga langsung menjabat tanganku.
"Teman. Kita sudah terlambat. Ayo masuk."
Aku mengikutinya masuk ke aula pesta. Ini juga pertama kalinya aku berteman dengan laki-laki selain Bryan. Semoga aku bisa bertahan disini. Melihat ada orang yang mau berteman denganku, aku ingin tetap disini. Merasakan apa yang dulu belum sempat aku rasakan.
__ADS_1