Family And Enemy

Family And Enemy
Hilangnya Bela 2


__ADS_3

Alex sedang mengunyah roti berselai anggur miliknya di meja makan. Ponselnya tiba-tiba berdering di samping piring.


Drrt drrt


Tanpa membaca nama yang tertera di layar ponsel, Alex langsung mengangkat telpon.


"LEX, BELA LO BAWA KEMANA?" Suaranya sangat kencang. Alex sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Nggak usah teriak-teriak gue nggk tuli."


"Lex, lo bawa Bela kan?"


"Nggak. Emang Bela barang bisa dibawa-bawa?"


"Lex, jangan bercanda elah. Ini serius Bela belum pulang dari semalam. Ada sama lo kan?"


"Yo, gue emang buaya tapi gue nggak nyulik anak gadis orang."


"Terus Bela kemana dong? "


"Kok lo nanya gue, kan lo yang terakhir sama Bela."


"Arrrgh, pusing gue."


"Coba gue cari info dulu. Kalau sudah dapat, baru gue nelpon lo."


"Terserah lo, Lex." Sambungan telpon terputus.


Alex berfikir sejenak.


Kemana Bela pergi? Apa dia main petak umpet? Mayleen ke luar kota, dia main sama siapa?


Sejak kapan gue jadi ngaco gni?


Alex memukul kepalanya sendiri untuk mengembalikan kesadarannya.


 ----------------------------------


"Ma, apa yang mama lakukan pada Bela?" Aurel masuk ke kamar Dyra.


"Bukan mama, Sayang." Dyra masih fokus memakai make up.


"Ingat ma, Bela itu kunci dari warisan kita. Jangan lupakan itu, ma. Kita sudah keterlaluan, ma. Kasihan Bela. Lagipula Bela menyayangiku dan menyayangi mama juga." Aurel memutar kursi rias yang diduduki mamanya.


"Sungguh bukan mama, Sayang. Awalnya sih mama sudah menyiapkan rencana tapi sayangnya Bela hilang duluan. Jadi gagal deh." Dyra cemberut.

__ADS_1


"Ma, cukup! Aurel sudah tidak bisa lagi menyakiti Bela."


"Kenapa? Apa kau sudah mulai kasian padanya? Suatu saat kamu akan mengerti. Sesungguhnya Bela itu penghalang bagi kebahagiaan kita."


"Terserah." Aurel sudah tidak bisa lagi membujuk mamanya untuk menghentikan segala rencana jahatnya.


Aurel meninggalkan mamanya, dia beralih ke ruang tamu. Diruang tamu dia melihat Arron yang sedang mondar-mandir.


"Kak, Bela pasti baik-baik aja." Aurel mencoba menenangkan Arron namun tidak dihiraukannya. Arron mengabaikannya. Dia langsung menyambar kunci mobil yang ada di atas meja dan pergi keluar.


Aurel hanya menatap punggung Arron yang mulai menjauh. Aurel sedikit sakit hati. Dia menganggap Arron sebagai kakak kandungnya tapi faktanya berbeda sebenarnya dia orang asing yang masuk di keluarga itu.


Apa mama benar? Bela penghalang kebahagiaan aku? Kenapa semua orang lebih menyayangi Bela daripada aku?


 


Sedangkan ditempat lain, Bela diikat dikursi. Separuh kesadarannya belum kembali. Dia sangat lemas mungkin efek terbentur atau efek obat. Dia melihat sekelilingnya, ada banyak pria yang memakai topeng diwajah. Bela bingung dimana dia sekarang. Bela mencoba melepas ikatan ditanganya namun tubuhnya tidak mampu bergerak. Semakin dia mencoba bergerak, semakin lemas dan pusing rasanya. Bela hanya bisa pasrah.


Ada seorang pria yang masuk membawa air mineral dan juga sebuah kotak. Dia mendekati Bela. Bela tidak bisa melihat jelas. Pria itu semakin mendekat. Dia berjongkok di depan Bela. Tiba-tiba pria itu menyentuh pipi Bela dan mengusapnya lembut.


"Sayang, apa kamu lapar atau haus? Mau makan atau minum?" Pria itu menyodorkan sebotol air mineral tapi Bela menolaknya.


"Tidak. Aku tidak mau."


"Kalau begitu aku akan mengobati dahimu. Bagaimana kamu bisa terluka? Anak buahku memang tidak bisa diandalkan. Padahal aku sudah memerintahkan mereka untuk membawamu padaku dengan sangat hati-hati. Tapi apa yang dilakukan mereka, kamu terluka. Aku sudah menghukum mereka, jadi kamu bisa tenang." Pria bertopeng itu mengobati luka Bela dengan telaten. Bela tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya diam.


"Siapa kau?" Bela bertanya dengan nada yang pelan.


"Siapa aku? Lupakan tentang aku. Hmm. Apakah tante Dyra menyakitimu?" Pria itu membalut kepala Bela dengan perban.


"Mama tidak pernah menyakitiku."


"Mama? Tidak pernah menyakitimu?"


"Pfftt. Hhhahahaahah." Pria itu tertawa nyaring.


"Bela, kamu ini masih sangat polos. Bedakan mana yang menjadi keluargamu dan mana yang menjadi musuhmu! Dan berhenti memanggilnya mama, dia bukan ibumu." Pria itu berdiri membelakangi Bela.


"LEPASKAN AKU!" Bela berteriak dengan sekuat tenaganya.


"Untuk apa aku melepaskanmu kalau kau bisa melepaskan dirimu sendiri. Waktuku sudah habis, Sayang. Cepatlah bebas karena Om Erland dan yang lain pasti sedang cemas memikirkanmu. Sampaikan maafku kepada mereka dan jagalah dirimu baik-baik. Jika kau dalam bahaya aku pasti akan menolongmu. Karena aku menyayangimu." Pria itu bicara tanpa menoleh ke Bela. Para anak buahnya keluar ruangan satu persatu.


"SEBENARNYA SIAPA KAU?" Bela kembali berteriak.


"Kau memang mirip sekali dengan Mommy." Pria itu meninggalkan Bela diruangan sendirian.

__ADS_1


"HEI" Bela merasa kesal. Dia mencoba melepaskan ikatanya ditangannya dengan tenaga yang tersisa.


 


Dikediaman Erland semua orang cemas. Mereka sedang melacak dimana keberadaan Bela sekarang.


"Maaf tuan, kami hanya menemukan mobil dan juga ponsel nona Bela." Orang suruhan Erland itu menyodorkan kunci mobil dan juga ponsel milik Bela. Semua orang langsung mendekat. Erland memegang ponsel Bela dan mencoba menyalakannya namun tetap tidak bisa mungkin baterainya habis.


"Pa, dimana Bela?" Maya menangis. Hati seorang ibu mana yang tidak cemas jika putrinya tidak ada kabar dan menghilang tanpa jejak.


"Om Tante, maaf Alex harus pergi." Alex berpamitan pada Erland. Alex ingin mencari Bela sendiri.


"Iya nggak apa-apa. Makasih udah membantu tadi. Sampaikan salam pada ayahmu."


"Baik om, permisi." Alex keluar rumah itu.


Rio dan Arron hanya duduk di sofa. Arron memegang kepalanya yang berdenyut.


"Kemana Bela sebenarnya?" Erland memukul meja kaca didepannya.


"Pa, coba telpon Elli!" Maya mengusap air matanya.


"Iya." Erland mencari nama Elli di kontaknya lalu menelponnya. Dia juga menyalakan speaker.


"Halo, Ada apa Om?"


"Bela hilang."


"Om bercanda?"


"Kapan Om suka bercanda?"


"Serius?" Kemudian terdengar gelak tawa dari dua orang yang berada di seberang sana.


"Kenapa kalian tertawa?" Erland, Maya , Rio maupun Arron merasa bingung. Apa yang membuat mereka tertawa disituasi seperti ini?


"Bela beneran hilang? Jangan risau, jangan khawatir. Tenang, Bela pasti balik sendiri tanpa kalian cari."


"Sena, apa maksudmu?"


"Sena benar tante, mendingan kalian semua nggak usah ribet-ribet cari dia. Dia pasti bisa menemukan jalan pulang, percaya deh sama Elli." Sambungan telpon terputus.


"Kalau mereka ngomong gitu, berarti Bela baik-baik aja." Rio menyimpulkan perkataan Elli dan Sena.


"Tapi siapa Elli dan Sena?" Arron menanyakan soal mereka berdua. Memang Arron tidak mengenal mereka, bahkan ini pertama kalinya dia mendengar nama mereka.

__ADS_1


"Sekarang kita nggak usah panik. Percaya aja sama mereka berdua. Pasti mereka sudah sangat mengenal Bela." Erland menyakinkan mereka untuk tidak panik.


Tetapi tetap saja Maya merasa cemas. Dia takut kalau Bela kenapa-kenapa.


__ADS_2