Family And Enemy

Family And Enemy
Saudara yang lain


__ADS_3

Bela dan Alex sudah sampai di tujuan mereka. Seperti yang dikatakan wanita tadi rumah nomer 57 di pemukiman Greet tapi tidak mengatakan bahwa rumah ini panti asuhan. Banyak anak-anak yang bermain di halaman depan. Bela teringat saat dia masih tinggal di panti. Meskipun sudah lama tapi memori otaknya masih menyimpan semua kenangan yang indah baginya.


"Kenapa setan tadi tidak bilang kalau disini panti asuhan? tahu gitukan beli banyak makanan tadi." Bela menggerutu.


"Mungkin dia lupa."


"Setan mana mungkin bisa lupa."


"Bisalah kan setan juga mahluk ciptaan tuhan."


"Terserah." Bela berjalan meninggalkan Alex.


"Semua yang kukatakan dan kulakulan selalu salah." Alex bergumam. Kemudian dia menyusul Bela.


Bela tersenyum melihat anak-anak yang bermain sambil tertawa.


"Kakak cari siapa?" tanya salah satu anak laki-laki yang memegang pistol mainan.


"Kakak mencari pemilik panti." Bela berjongkok menyejajarkan tingginya dengan anak itu.


"Oh, sebentar akan saya panggilkan. Silahkan duduk dulu." Anak itu masuk ke dalam.


Bela dan Alex duduk di kursi yang sudah disediakan. Perhatian Bela terfokus pada anak laki-laki yang duduk diam menatapnya dengan penuh kerinduan. Bela tidak mengerti dia hanya tersenyum manis pada anak itu.


"Ada perlu apa mencari saya?" muncul wanita yang berumur sekitar 30-an.


"Saya ingin menanyakan sesuatu. Apakah Bibi Nessi tinggal disini juga?" Bela berdiri dan menyampaikan niatnya.


"Masuklah kedalam!!" wanita itu membukakan pintunya untuk Bela dan Alex.


"Silahkan duduk. Saya akan mengambil air dulu." Wanita itu pergi kedapur.


"Sepertinya ada yang aneh dengannya." Alex berbisik. Bela menyipitkan matanya.


Wanita itu membawa dua gelas air mineral dan diletakkannya diatas meja.


"Tidak perlu repot-repot." Alex tersenyum canggung.


"Ini tidak repot hanya air mineral saja. Hmm, sebenarnya kak Nessi sudah meninggal 3 tahun yang lalu." Wanita itu tampak sedih.


Bela langsung lemas seketika. Dia tidak percaya bahwa orang yang sudah merawatnya kini telah tiada. Matanya berkaca-kaca hendak menangis namun dia menahannya.

__ADS_1


"Selama 5 tahun dia sakit-sakitan. Aku sudah membawanya ke rumahsakit tapi dia menolak melakukan tindakan medis. Semakin hari tubuhnya semakin kurus. Dan pada akhirnya dia tidak kuat lagi dan pergi untuk selamanya." Wanita itu bercerita sambil menangis hingga membuat Bela ikut menangis juga.


"Oh iya, apa yang ingin kalian tanyakan? maaf membuatmu ikut menangis." Wanita itu menghapus air matanya dan menatap Bela.


"Awalnya aku ingin bertanya pada Bibi Nessi siapa ibuku. Tapi sekarang dia telah tiada dan tidak bisa menjawab pertanyaanku." Bela menghapus airmatanya.


"Meskipun dia telah tiada, tapi semua berkas identitas anak panti masih lengkap. Ikut saya, akan saya carikan berkas tahunannya." Wanita itu bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya. Bela dan Alex mengikutinya dari belakang.


Didalam kamar itu tidak ada rak buku atau semacamnya hanya ada lemari pakaian dan meja kecil disamping tempat tidur. Bela bertanya-tanya di benaknya, dimana disimpannya berkas tahunan itu jelas-jelas tidak ada rak buku.


Wanita itu membuka lemari pakaian dan masuk kedalam. Bela sempat kaget tapi dia buru-buru masuk mengikutinya begitupun dengan Alex. Ternyata didalam lemari pakaian itu ada pintu rahasia. Setelah semua masuk, Bela dibuat terpana dengan banyaknya buku-buku yang berjajar rapi bagaikan diperpustakaan.


"Ini ruangan rahasia. Kak Nessi menyuruh saya membuat ruangan ini agar bisa menyimpan banyak berkas rahasia. Saya pun tidak tahu berkas apa yang dirahasiakannya." Wanita itu berjalan menyusuri begitu banyaknya rak buku yang ada. Bela dan Alex masih ternganga melihat banyaknya buku.


"Katakan kau lahir tahun berapa? biar saya mencari berkasnya." Wanita itu mengambil tangga untuk bisa mencapai rak paling atas.


"Hm, tahun ini umur saya genap 20 tahun. Berarti saya lahir ditahun 2001. Yang aku ingat, Bibi Nessie menemukan saya saat saya masih bayi." Jelas Bela.


"Berkas tahun 2001 sepertinya ada diatas. Aku akan memanjat agar bisa menemukan berkas itu." Wanita itu mencoba memanjat tangga namun Bela menghentikannya.


"Tidak perlu, anda pasti belum pernah melihat kambing memanjat tangga. Alex panjat!!"


"Panjat dan cari berkasnya!!"


"Kau tidak perlu mengataiku kambing juga." Alex merasa kesal tapi dia tetap memanjat untuk mencari berkasnya.


"Ck, kau ini mudah sekali tersinggung."


"kau ini lucu sekali." Wanita itu terkekeh melihat tingkah Bela.


Alex sudah menemukan berkasnya. Dia bergegas turun agar tidak membuat dia semakin penasaran.


Berkas itu Alex serahkan kepada wanita yang tadi hanya dia yang dapat mengerti isi berkas itu.


"Atas nama siapa?" wanita itu bertanya.


"Gabela Zoffany."


Wanita itu terus membolak-balikkan lembaran kertas berharap dapat menemukan informasi terkait Bela. Namun nihil, tidak ada satupun yang dia dapatkan. Dia menutup berkasnya dan berpikir kira-kira dimana Nessi menulis tentang Bela.


"Kenapa tidak ada?" Bela memelas.

__ADS_1


"Apa kak Nessi memanggilmu Fanny?" wanita itu bertanya lagi. Bela mengangguk memang Nessi sering memanggilnya dengan nama belakangnya.


Tiba-tiba wanita itu memanjat rak nomer 2 dari atas dan mencari sebuah buku. Dan dia mendapatkannya. Buku berwarna silver dengan tulisan china. Tidak ada yang mengira bahwa itu adalah buku catatan.


Wanita itu membuka satu persatu lembar catatan itu. Matanya berbinar ketika sudah menemukam apa yang dia cari.


"Dapat. Disini tertulis bahwa kau ditemukan di teras rumah dan tidak ada siapa-siapa. Hanya ada kertas yang tertulis namamu dan tanggal lahirmu." Kemudian wanita itu membalik kertasnya dan membaca kelanjutannya.


"Lahir tanggal 26 Februari 2001. Berat badan 2,5 kg. Lahir dalam keadaan sehat. Disini juga tertulis ada anak laki-laki yang sangat mirip denganmu usianya 5 tahun lebih tua darimu. Dan bagian paling pentingnya hilang seperti sengaja dirobek." Wanita itu memperlihatkan kondisi bukunya.


Bela menghela napas. Dia pikir akan mendapatkan informasi tentang ibunya tapi secara tidak terduga malah dapat informasi yang lain.


"Siapa yang tega merobeknya?" Alex berpikir jauh.


"Maafkan saya, tapi 5 hari yang lalu kami telah kemalingan. Tapi anehnya tidak ada barang berharga yang hilang. Saya baru sadar jika yang diambil bagian paling penting dari buku ini." Wanita itu baru sadar apa yang maling itu ambil dari mereka.


"Kalau sengaja disobek berarti halaman yang hilang ini dapat menjawab semua pertanyaanku. Tapi dimana aku harus mencari?" Bela menggigit bibir bawahnya.


"Tapi jika ada anak yang mirip dengannya pasti itu saudaranya kan?" Alex mencoba menerka.


"Itu mungkin saja. Tunggu biar saya lihat lagi." Wanita itu membaca lembaran seterusnya.


"Disini tertulis jika kau dan anak ini saudara kandung. Itu terbukti setelah tuan Satya melakukan uji tes DNA pada kalian. Disini tidak tertulis siapa nama anak itu dan dia diadopsi oleh siapa. Hanya tertulis anak itu tinggal di Rusia bersama orangtua angkatnya. Lalu sebulan kemudian kau dibawa oleh tuan Satya."


"Kenapa aku seperti anak yang dirahasiakan identitasnya. Bahkan aku tidak tahu siapa ibuku. Aku tahu aku anak kandung ayah tapi aku tidak tahu kalau aku juga memiliki saudara. Yang aku tahu hanya kak Arron. Dimana aku harus mencari saudaraku yang lain?" Bela mengusap wajahnya kasar.


"Kalau mencarinya dirusia pun juga percuma. Aku juga tidak tahu namannya. Aku bahkan tidak tahu wajahnya. Bukan lupa tapi tidak ingat. Kenapa aku pikun sekali." Bela menepuk jidatnya sendiri.


"Sudahlah sudah cukup untuk hari ini. Kau perlu istirahat. Ayo kita pulang!." Alex menennagkan Bela.


"Iya, lebih baik kau istirahat. Takdir sudah tertulis tidak ada yang bisa mengubahnya. Rencana tuhan pasti lebih indah." Wanita itu menepuk pelan pundak Bela.


Keadaan Bela sudah seperti orang gila. Banyak beban yang ada di kepalanya maupun di batinnya. Berharap mendapat setitik informasi tentang ibunya. Tapi dia tidak mendapatkan itu tapi malah mendapatkan sesuatu yang tak kalah pentingnya yang bisa membuat dia hilang akal.


Sementara itu.....


"Berusahalah mencari informasi tentang ibu hingga kau lelah. Karena aku yang telah mengambil bagian yang terpenting dari buku itu." Pria yang tidak diketahui wajahnya itu memegang selembar kertas bagian dari buku tadi dan membakarnya. Kini kertas itu telah menjadi abu. Tidak ada informasi lebih yang akan Bela dapatkan.


Tunggu kelanjutannya......


Jangan lupa komen agar Author lebih semangat berhalusinasiā¤

__ADS_1


__ADS_2