Family And Enemy

Family And Enemy
Terserah anda, Nona.


__ADS_3

Pagi ini Bela sedikit kaget dengan kehadiran Elvan ditempat tidurnya. Dia tidak terbiasa melihat orang lain berada di tempat tidur yang sama dengannya.


"Good Morning, Mom." Sapa Elvan.


"Morning, Sayang." Bela mengecup dahi Elvan dan kembali memejamkan matanya.


"Mom, kenapa tidur lagi? hari ini Mommy ada jadwal." Elvan duduk dan menggoyang-goyangkan lengan Bela.


Mendengar itu Bela langsung membuka matanya.


"Darimana kamu tahu Mommy ada jadwal?"


"Ini dari hp Mommy. Tadi alarmnya berbunyi takut Mommy terbangun makanya Elvan mematikannya dan tidak sengaja Elvan membaca jadwal Mommy." Elvan memperlihatkan telpon milik Bela.


Bela mencubit pipi Elvan karena dia sangat gemas.


"Elvan sudah bisa membaca ya?"


"Sudah, malahan Elvan juga sudah lancar menulis."


"Elvan pandai sekali." Bela mengacak-acak rambut Elvan.


Sepertinya dia sudah mulai terbuka padaku. Katanya dia tidak pernah bicara. Anak umur 4 tahun sudah lancar menulis dan membaca? sepertinya aku dulu seumurannya hanya bisa membaca belum lancar menulis. Bela membatin.


"Ayo Mommy akan memandikanmu!" Bela turun dari tempat tidur.


"Tidak perlu, Elvan bisa mandi sendiri." Elvan terang-terangan menolak.


"Baiklah, disana kamar mandinya dan Mommy akan mengambilkan pakaian untukmu." Bela menunjuk ke arah kamar mandi. Elvan mengangguk pelan kemudian masuk ke kamar mandi.


Bela tidak menyangka jika selain pandai Elvan juga mandiri. Dia jadi teringat masa kecilnya.


Bela turun ke bawah untuk mengambil baju pesanan miliknya.


"Nona, ini ada kiriman untuk anda." Salah satu maid memberikan paperbag berisi baju.


"Oh, sudah diantar rupanya. Terimakasih ya." Bela tersenyum manis dan menerima paperbag dari maid. Setelah itu Bela kembali ke kamarnya dengan senyuman yang merekah.


Saat masuk ke kamarnya Bela mendengar suara gemercik air dari kamar mandi. Itu berarti Elvan benar-benar bisa mandi sendiri. Diletakkannya paperbag yang tadi diatas tempat tidur. Bela beralih memilih baju yang akan dipakainya nanti di ruang gantinya. Bela adalah tipe orang yang tidak mau ribet. Maka dari itu semua baju dan sepatu yang dia miliki tidak terlalu heboh.


"Nona ingin sarapan sekarang atau menunggu yang lain?" tanya salah satu maid pada Elli yang baru duduk di meja makan.


"Nanti saja. Apakah Bela belum turun?"


"Tadi sudah turun mengambil kiriman dari Nona Cindy tapi kemudian Nona Bela kembali ke kamar."


"Morning perawan tua." Sapa Sena.


"Dih kalau ngomong suka nggak ngaca." Ketus Elli.

__ADS_1


"Apa kalian ingin bertengkar lagi." Bela datang dengan menggandeng tangan Elvan.


Elli dan Sena menoleh ke sumber suara.


"Semalam hanya air dingin saja tapi jika kalian bertengkar lagi, aku bisa mengguyur kalian dengan air comberan." Bela mendudukkan Elvan di kursi.


"Tidak, kami tidak akan mengulanginya." ucap Elli dan Sena bersamaan. Air comberan? yang benar saja? membayangkannya saja Elli dan Sena sudah merasa jijik.


"Bagus." Bela mangut-mangut.


"Tapi itu anak siapa?" Sena menunjuk Elvan.


"Kau menculik anak orang?" Elli mengangkat sebelah alisnya.


"Mom, mereka siapa?" Elvan bertanya dengan polosnya.


"Mom?" ucap Elli dan Sena bersamaan. Mereka saling tatap dan sesaat kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.


"Aku tidak ingat kalau kau pernah hamil duluan." Elli mengusap airmata.


"Tapi siapa yang mau menghamilimu?" Sena memegangi perutnya.


"Elvan, makan rotimu dan minum susumu. Jangan pedulikan kedua orang gila itu." Bela menyajikan sarapan Elvan tanpa ekspresi.


"Baik, Mommy." Elvan mulai mengunyah roti isi selai miliknya.


"Sepertinya kalian benar-benar gila." Bela menghela napas.


"Sebenarnya yang gila itu kau. Pulang ke mansion membawa anak." Elli kembali terbahak-bahak. Bahkan sesekali memukul meja.


"Elvan, ini susumu. Cepat minum! setelah itu kita pergi dari sini. Mommy takut Elvan terkontaminasi." Bela memberikan segelas susu pada Elvan.


Elvan meminum susunya hingga tetes terakhir. Bela segera membawa Elvan keluar dari mansion.


Elli dan Sena berhenti tertawa. Mereka memasang muka serius. Jujur saja mereka curiga dengan keberadaan Evan disisi Bela. Tapi apa yang bisa dilakukan anak sekecil itu?


"Apa perlu aku carikan info tentang anak itu?" Sena mengunyah roti miliknya.


"Tidak perlu, aku sudah mencari info tentang anak itu. Tapi aku tidak mendapat apapun. Sepertinya anak itu sama seperti Bela."


"Tapi kapan kau tahu Bela akan membawa anak itu pulang?"


"Tadi malam sebelum Bela pulang, Cindy melihat anak itu tidur di gendongan Bela. Dia langsung mengabariku. Dan saat itu juga aku mulai merasa cemas. Aku takut anak itu hanya alat untuk menghancurkan Bela. Tapi setelah aku melihatnya, aku merasa anak itu yang akan melindungi Bela dari musuh-musuhnya." Elli melihat jauh kedepan.


"Maksudmu perisai? tapi apa yang bisa anak kecil itu lakukan untuk melindungi Bela?" Sena mengubah posisi duduknya menghadap Elli.


"Biarkan waktu yang menjawabnya. Kita hanya perlu menonton saja." Elli tersenyum.


Sena merasa jengah. Dia tidak pernah bisa memahami kata-kata Elli. Semua yang Elli katakan itu sama saja seperti teka-teki baginya.

__ADS_1


"Besok hari ulang tahun Bela, Apa yang akan kita siapkan?" Elli menyudahi sarapannya.


"Siapkan hadiah saja. Dia tidak suka ada pesta. Pesta kecil atau besar itu sama saja." Sena meminum air putih.


"Kadang aku tidak mengerti jalan pikirannya. Sulit untuk memahaminya." Elli menghela napas.


Setelah selesai sarapan mereka pergi bekerja sesuai profesi yang mereka jalani.


Sedangkan Bela sudah sampai di kantor Arron. Bela baru sampai setelah mengantar Elvan ke panti. Cukup sulit meyakinkan Elvan untuk kembali ke panti lagi. Bela butuh waktu lama untuk membujuk Elvan. Dia berjanji padanya bahwa dia akan menjemputnya lagi nanti sore dan cara itu ternyata mampu membuat Elvan melepaskan Bela untuk sejenak.


Setelah memarkirkan mobilnya sendiri Bela masuk ke dalam kantor. Hal yang pertama dia ingat adalah Arron. Bela mencoba untuk merelakan kepergiannya walaupun Bela sama sekali tidak ingin.


Cindy dan beberapa karyawan menyambut didepan pintu masuk.


"Terima kasih untuk sambutannya." Bela menunduk untuk menghormati beberapa karyawan yang meluangkan waktu mereka untuk menyambut kedatangannya.


"Anda sudah sangat terlambat, Nona. Tapi saya sudah memberi tahu presdir baru alasan keterlambatan anda." Cindy mengikuti Bela dari belakang.


"Cindy, terimakasih untuk kerja kerasmu pagi ini. Bulan ini gajimu naik 2 kali lipat dari biasanya."


"Tidak perlu berterimakasih itu sudah menjadi pekerjaan saya. Kalau masalah gaji saya tidak terlalu memikirkannya."


Bela dan Cindy memasuki lift khusus untuk para petinggi perusahaan.


"Hmm, sepertinya usiamu sudah matang untuk berumahtangga. Kau bisa berhenti bekerja denganku. Mulailah usahamu sendiri dengan pasangan hidupmu." Bela berpikir untuk melepaskan Cindy agar dia bisa hidup bahagia bersama pasangan hidupnya.


"SUDAH SAYA BILANG, SAYA MASIH 26 TAHUN BELUM TERLALU TUA. DAN SAYA BELUM INGIN MENIKAH." Cindy merasa emosi saat Bela mengungkit usianya.


Ting


Pintu lift terbuka. Sesegera mungkin Cindy mengubah gaya bicaranya selayaknya bawahan pada atasannya.


"26 tahun itu sudah sangat matang untuk berumahtangga jadi apa salahnya?" Bela keluar dari lift sambil terkekeh.


"Salahnya itu saya belum ingin menikah, Nona." Cindy menahan emosinya.


"Nah itu tahu, jadi yang salah itu kau sendiri." Bela terus menggoda Cindy. Ternyata Bela usil juga.


"Terserah anda, pokoknya saya masih ingin menikmati hidup." Cindy menyerah, jika dia terus meladeni Bela bisa-bisa dia malah lebih terpojok.


"Aku sungguh-sungguh ingin melepaskanmu. Jika nanti kau sudah menemukan pasangan yang tepat, kau akan berhenti bekerja denganku dan memulai hidupmu yang baru." Bela tersenyum.


"Terserah anda, Nona." Cindy memutar bola matanya jengah. Pasalnya sudah berkali-kali Bela menyinggung soal usiannya dan juga berumahtangga.


Bela dan Cindy terus berjalan hingga mencapai ruangan yang menjadi tujuan mereka. Tak jarang pula ada karyawan yang menyapa mereka.


Kritik dan sarannya Author tunggu.


Jangan lupa like!!

__ADS_1


__ADS_2