Family And Enemy

Family And Enemy
Bodoh


__ADS_3

"Nona Aurel makan ya nanti sakit kalau nggak mau makan." Pelayan membujuk Aurel untuk makan sesuap nasi. Dari tadi pagi dia belum memakan apapun jangankan makan minum saja dia tidak mau. Kesehatannya semakin memburuk belakangan ini.


"Mama mana? kenapa Mama belum balik juga?" Aurel menempis tangan pelayan yang hendak menyuapinya.


"Nanti Nyonya besar juga pulang. Katanya ada pekerjaan yang sangat penting." Pelayan itu bingung harus bicara apa.


"Pokoknya aku nggak mau makan sebelum Mama atau Bela kembali ke rumah." Aurel tetap keras kepala dan tak mau makan. Beberapa pelayan sudah berusaha untuk membujuk Aurel untuk makan namaun hasilnya tetap sama.


Dilantai bawah, Bela barusaja kembali bersama Alex. Semua yang mereka alami membuat mereka lebih dekat lagi. Bahkan sekarang Alex sudah jujur dengan Bela tentang perasaannya. Mereka berpacaran sungguhan dan bukan lagi berpura-pura.


"Nona, tolong bujuk Nona Aurel makan! Dia belum makan dari pagi bahkan dari kemarin." Pelayan pribadi Aurel memohon sampai bersimpuh di kaki Bela.


"Siapkan makanan untuk kita bertiga dan tolong bawa dia keluar dari kamar!"


"Baik Nona," beberapa pelayan langsung menyiapkan apa yang Gia perintahkan.


Bela dan Alex menunggu dimeja makan.


"Bela, Mama belum pulang dari pagi." Aurel datang dan merengek bagaikan anak kecil.


Alex ingin tertawa tapi dia tahan takut Aurel semakin gila. Bela menatap pelayan pribadi Aurel dalam diam. Mungkin pelayannya belum memberi tahu tentang Mamanya yang ditahan oleh polisi.


"Nona bisa kita bicara berdua?" ucap pelayan dalam ketakutan. Bela mengangguk dan pergi untuk memdengarkan penjelasan pelayan itu. Sebenarnya Bela tahu semuanya, ya semuanya.


Sementara itu, Alex menikmati makanan yang disajikan. Dia tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi.


Aurel memandangi Alex, dia merasa Alex lebih tampan dari dugaannya.


Alex tampan sekali kalau dilihat begini. Andai dari dulu aku mendekatinya pasti sekarang aku bahagia. Lagipula Alex juga kaya malah dia pewaris utama. Tapi aku malah mendekati Bryan karena aku tidak ingin Bela bersamanya. Dan sekarang Bryan yang meninggalkan aku. Selingkuh diluar sana pula. Aku harus memutuskan Bryan dan mendekati Alex. Dan aku harus bangkit kembali. Aku tidak akan membiarkan Myleen menghantui pikiranku.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Aurel langsung menyuapkan makanan ke mulutnya. Tekadnya sangat bulat untuk merenggut kebahagiaan orang lain.


Astaga, katanya dia tidak mau makan. Tapi lihatlah betapa rakusnya orang didepanmu ini. Alex menyudahi makannya.


Bela kembali setelah selesai bicara dengan pelayan tadi. Betapa terkejutnya dia melihat Aurel makan dengan rakusnya.


Bela duduk disamping Alex. Matanya masih memandang Aurel dan otaknya sibuk bertanya-tanya.


"Bel, apa dia baru saja kerasukan hantu kelaparan?" bisik Alex tepat di telinga Bela membuat Bela sedikit terperanjat kaget.


"Entahlah, kau yang disini kenapa malah bertanya padaku?" Bela juga berbisik.


"Aku pun juga tidak tahu."


"Maaf Nona Aurel, Nyonya besar sudah kembali bersama Tuan Theo." Salah satu pelayan datang dan mengejutkan mereka.


"Ah benarkah?" tanpa basa-basi Aurel langsung berlari keluar rumah menyambut Mamanya.


Bela teringat kata-kata pelayan pribadi Aurel yang merupakan orang kepercayaannya. Pada awalnya dia tidak percaya apa yang dikatakannya. Tapi sekarang dia percaya Theo membebaskan Dyra. Dia tidak menyangka bahwa Theo akan sebodoh itu membebaskan musuhnya.


"Terimakasih anda telah membantu saya. Saya akan memberikan tanah dipulau Poem sebagai gantinya. Saya juga akan menjual tanah disana untuk ganti rugi Royal Village." Tanpa tenaga Dyra mengatakan itu. Jiwanya masih sedikit terguncang akibat pertama kalinya dia masuk jeruji besi.


"Terimakasih banyak, saya juga ingin membeli tanah dipulau Poem untuk membangun mansion pribadi disana. Melihat pemandangannya yang indah, saya berniat tinggal disana."


"Besok bisa kalau anda ingin melihat lokasinya. Tapi maaf saya tidak bisa menemani anda. Karena masih harus mengurus insiden pagi tadi."


"Tidak apa-apa Nyonya Dyra, saya mengerti. Saya harus pergi ke kantor. Permisi," Theo memakai kacamata hitamnya.


"Silahkan,"

__ADS_1


Theo masuk ke mobilnya dan segera kembali ke kantornya.


"Mama," Aurel memeluk Mamanya. Dia merasa sedikit tenang saat melihat Mamanya pulang.


"Lepaskan, Mama lelah!" Dyra melepas paksa pelukan Aurel. Kepalanya terasa pusing dan ingin pecah. Aurel tercemberut. Tidak biasanya Mamanya bersikap seperti ini. Biasanya dia akan dimanja bagaikan anak kecil oleh Mamanya. Dan sekarang dia merasa telah dikasari.


"Pergilah berbelanja sana! Mama ingin istirahat kepala Mama pusing." Dyra masuk ke rumah.


"Ide yang bagus," gumam Aurel.


Didalam Dyra melihat Bela dan Alex makan siang bersama. Mereka sampai suap-suapan. Bela sengaja melakukan itu agar mendalami dramanya.


"Bisa-bisanya mereka bermesraan disituasi begini. Tapi Bela tidak tahu apa menimpa padaku. Masa bodoh dengan gadis sialan itu. Setelah aku mendapat warisan akan ku tendang kau dari rumah ini." Gumamnya pelan sebelum naik tangga ke lantai dua.


"Jangan terlalu ikut campur masalah mereka." Ucap Alex disela-sela makannya.


"Aku yang membuat kekacauan pastilah aku turun tangan." Dengan santainya Bela jujur pada Alex.


"Apa maksudmu?"


"Cerna ucapanku barusan,"


"Hm, bagaimana kabar Adik laki-lakimu itu?" Alex mengganti topik pembicaraan. Dia menyadari dimana dia berada sekarang. Mungkin saja ada yang mengawasi mereka saat ini.


"Dia pindah dan sekarang dia tinggal di Canada. Aku berharap semoga dia dan ayahnya menjalani kehidupan normal." Bela meminum jus jeruk yang ada dimeja.


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Mungkin akan segera normal," setelah aku membalaskan dendam keluargaku. Tangannya menggenggam erat sendok.

__ADS_1


Entahlah Bel, aku merasa tidak pantas untukmu. Hatiku telah bercabang. Disatu sisi aku masih mencintai Vanya. Disisi lain aku nyaman disampingmu. Maafkan aku bila nanti aku tidak bisa memilih diantara kalian. Alex menatap Bela sendu.


__ADS_2