
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Bela juga sudah mulai lelah tapi dia masih harus merawat Elvan. Dia sangat tidak tega melihat anak kecil kesakitan.
Bela dan Tyra baru keluar rumah sakit. Elvan sudah mulai membaik dan tidak perlu dirawat di rumahsakit.
"Mommy, Elvan ingin bersama Mommy." Elvan bergumam pelan namun tetap terdengar jelas di telinga Bela.
"Ini bukan masalah serius, tapi alangkah baiknya Elvan mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Itu akan sangat membantu dalam penyembuhan mentalnya. Jika keadaan mentalnya semakin memburuk akan sangat berbahaya juga bagi tubuhnya. Dan jika itu terjadi, mungkin Elvan akan kehilangan masa kecilnya yang menyenangkan." Bela mengingat kembali perkataan dokter.
"Nyonya Tyra, bolehkah saya membawa Elvan?" Bela bertanya dengan hati-hati.
"Tentu saja boleh, itu akan membantu penyembuhan mentalnya. Tapi Elvan tidak bisa lama-lama besok harus ke panti lagi."
"Baiklah hanya satu malam lalu saya akan mengantarkannya ke panti besok. Saya juga akan rutin mengunjunginya." Bela kembali menggendong Elvan.
"Saya akan pesankan taxi."
"Tidak perlu, saya sudah dijemput sopir. Anda bisa pulang menggunakan taxi yang tadi. Saya juga sudah membayarnya sesuai pesanan saya tadi."
"Maaf merepotkanmu Nona Bela. Saya pulang dulu." Tyra merasa tidak enak hati telah merepotkan Bela.
"Tidak masalah. Hati-hati dijalan." Bela melambaikan tangan. Tyra sudah masuk ke dalam taxi dan membalasnya dengan senyuman saja. Sesaat kemudian taxi mulai melaju.
"Mommy, Elvan ikut Mommy." Elvan masih sedikit lemas.
"Iya kita akan pulang, Sayang." Bela mengusap punggung Elvan.
"Bolehkan Elvan memanggilmu Mommy terus?"
"Tentu saja." Bela tersenyum.
"Mommy, Elvan sayang Mommy." Elvan mulai tertidur.
Bela menggendong Elvan sampai ke mobil.
Anak sekecil ini sudah mengalami hal yang harusnya belum dialami oleh anak seumurannya. Kenapa tuhan tega sekali? hati anak-anak mudah rapuh dan belum sekuat hati orang dewasa. Aku akan berusaha menyembuhkan keadaan mentalnya sebisaku. Bela membatin.
⚡⚡⚡
"Mah, apa Bela sungguh tidak pulang?" tanya Aurel yang barusaja pulang.
"Kau tidak dengar tadi dia bilang apa?" Dyra masih fokus dengan majalahnya.
__ADS_1
"Tapi dia tidur dimana?" Aurel duduk disamping mamanya.
"Hotel diluar sana banyak. Terserah dia mau tidur dimana. Toh itu bukan urusan kita. Ingat kita tidak punya ikatan apapun denganya." Dyra menutup majalahnya dan berdiri hendak istirahat dikamarnya.
Aurel berpikir sejenak. Kenapa dia mengkhawatirkan Bela yang jelas-jelas telah menghinanya tadi pagi.
Barang bekas? menampung barang bekasmu? kalau bukan karena Kak Arron aku tidak akan bersikap baik padamu. Asal kau tahu, aku sangat membencimu dan aku benci melihatmu bahagia. Aku bisa melakukan apasaja untuk menghancurkan kebahagiaanmu. Kak Arron sudah tiada, kini aku akan perlihatkan sisi diriku yang lain. Aurel tersenyum miring.
⚡⚡⚡
Di mansion, Elli sedang mencemaskan Bela. Dia tidak berhenti mondar-mandir di ruangtamu. Sena bahkan sudah meyakinkannya bahwa Bela akan pulang sebentar lagi tapi Elli tetap mengkhawatirkan Bela.
"Sudahlah, Bela pasti pulang. Dia juga sudah besar bisa menjaga dirinya sendiri." Sena memakan biskuitnya.
"Diam, kau sudah bilang itu sebanyak 6 kali. Jika Bela pulang nanti aku akan melarangnya pergi keluar besok." Elli berkacak pinggang.
"Kenapa kau overprotektif? Bela punya dunianya sendiri jadi biarkan dia menikmati hidupnya."
"Hei, aku lebih tua darimu. Jadi jangan menasehatiku." Elli mulai emosi.
"Ini bukan soal lebih tua atau lebih muda. Ini soal sikap kedewasaan. El, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kalau sadar kau tua, kenapa tidak menikah saja? kau mau jadi perawan tua?" Sena bangkit dari duduknya dan memancing masalah dengan Elli.
"Tidak, aku hanya bertanya. Apa salahnya bertanya?"
"Tapi pertanyaanmu itu mengganggu otakku." Elli maju selangkah mendekati Sena.
"Itu salah otakmu kenapa bisa terganggu dengan pertanyaanku yang sepele."
"Salah otakku katamu?" Elli sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Ah maaf kau kan nggak punya otak. Hari itu kau tidak datang saat pembagian otak." Sena tertawa ringan.
"Jangan bercanda!!" Elli menjambak rambut Sena.
"Aww... Lepaskan ini sakit!!" Sena menahan sakit akibat rambutnya yang ditarik.
Elli tak kunjung melepaskan rambut Sena. Sena pun juga tidak mau kalah, dia juga menjambak rambut Elli. Para maid yang melihat secara langsung hanya bisa menahan tawa dan tidak berani memisahkan mereka. Bisa-bisa mereka juga ikut dalam peperangan itu. Mereka tidak mau ambil resiko.
Tanpa disadari, Bela sudah pulang. Dia menyelonong diantara kekacauan yang tengah terjadi. Dan anehnya lagi Elli dan Sena tidak sadar akan keberadaan Bela. Mereka justru semakin ganas dan saling mencakar satu sama lain. Bela hanya bisa menghela napas.
Bela naik kelantai dua membawa Elvan ke kamarnya. Dengan hati-hati Bela menidurkannya di tempat tidur. Dia mengelus pipi Elvan dan mengecupnya penuh kasing sayang. Bela juga menyelimuti Elvan agar tidak kedinginan.
__ADS_1
Saatnya menghentikan perang dunia.
Bela kembali ke ruangtamu. Baru ditinggal sebentar tapi keadaan di ruangtamu sunggu sangat memprihatinkan. Biskuit yang berserakan dan perabot sudah tidak pada tempatnya. Jika dibiarkan terus seperti ini maka mungkin saja mereka akan merobohkan mansion ini juga.
"Pisahkan mereka!!" titahnya pada 4 orang maid yang berdiri melihat kekacauan.
Para maid sudah berhasil memisahkan mereka tapi sedetik kemudian mereka beradu jambak lagi. Para maid kembali memisahkan mereka tapi terus saja begitu.
Bela sudah sangat geram. Dia pulang mansion untuk beristirahat dan mendapat ketenangan tapi yang dia dapat justru pertengkaran dua orang yang sangat kekanak-kanakan.
Bela sudah tidak tahan lagi. Dia pergi ke kamarnya dan mengambil tambang. Dengan kekesalan Bela, dia mengikat Elli dan Sena dengan dibantu oleh para maidnya. Kemudian Bela menyeret mereka ke gudang dan memasukkan mereka ke dalam serta menguncinya
"BERTENGKAR SAJA DISANA." Teriak Bela dari luar gudang.
"Bel, kami minta maaf. Tolong keluarkan kami dari sini." Pinta Elli.
"Iya, disini sangat gelap. Tolong buka pintunya." Sena menggedor-gedor pintu.
"Baiklah, ku harap kalian tidak mengulanginya lagi." Bela membukakan pintu. Elli dan Sena langsung keluar dari gudang.
Bela bersama maidnya meninggalkan mereka. Tapi Elli dan Sena masih enggan untuk berbaikan. Ada kilatan permusuhan diantara mata mereka. Dan seketika mereka kembali beradu jambak di depan dapur.
Emosi Bela sudah mencapai puncaknya. Baru juga dia ingin istirahat tapi mereka berdua masih saja membuat kekacauan.
"Ambilkan seember air dingin." Titahnya pada salah satu maidnya.
Tanpa lama-lama maid itu membawa seember air dingin sesuai dengan perintah Nona mudanya. Bela mengambil alih seember air dingin itu dan menyiram mereka berdua.
Byurr
Seketika itu juga mereka berhenti beradu jambak. Para maid hanya melongo melihat apa yang dilakukan Bela.
Elli dan Sena basah. Mereka menggigil kedinginan sambil melihat kearah Bela. seolah mereka tidak percaya Bela akan tega mengguyur mereka dengan air dingin.
"Baru saja ku peringatkan kalian. Baru sedetik yang lalu. Tapi masuk ke telinga kanan keluar ke telinga kiri. Kalian sudah sangat dewasa seharusnya kalian bisa bertengkar dengan cara yang sedikit lebih keren. Saling tusuk menggunakan pisau misalnya. Satu lagi, aku pulang kesini supaya mendapat ketenangan agar aku bisa istirahat." Bela membanting ember yang dia pegang hingga membuat Elli dan Sena melonjak kaget. Bela pergi ke kamarnya dengan segala kekesalannya. Elli dan Sena mematung menyesali apa yang telah mereka perbuat.
Di dalam kamar Bela mencoba menormalkan emosinya dengan mandi. Setelah itu dia berbaring di samping Elvan dan memejamkan matanya menuju alam mimpi.
...🍁Kritik dan sarannya Author tunggu🍁...
...Jangan lupa tinggalkan jejak😊...
__ADS_1