Family And Enemy

Family And Enemy
Ledakan


__ADS_3

Bela merebahkan tubuhnya di ranjang hotel yang sudah dia pesan sebelumnya. Matanya sembab karena terus menangis. Hatinya sungguh rapuh dan seakan tidak kuat menerima kepergian Mayleen. Banyak hal yang belum dia lakukan bersamanya. Mayleen adalah sahabatnya setelah Elli dan Sena.


"Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus kuat agar bisa membalas perbuatan mereka." Bella bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dia menatap pantulan dirinya dicermin kamar mandi. Air menetes dari rambutnya yang masih basah.


"Lakukan hal gila untuk mereka yang telah membuat orang terdekatmu pergi jauh darimu!!"


"Hal gila apa?" dia bertanya pada dirinya yang lain.


"Sesuatu yang sangat sederhana tapi sangat menyiksa mereka."


"Hm, baiklah aku akan mencobanya." Terbit senyum licik di bibir merah muda Bela.


Bela keluar kamar mandi dengan handuk yang melingkar di lehernya. Dia duduk di depan meja rias. Bela mengoleskan pelembab bibir agar tidak terlihat terlalu pucat.


Ting tong


Pelayan hotel memencet bel kamar Bela. Rupanya Bela memesan beberapa camilan untuk mengisi perutnya yang kosong. Dan pelayan itu mengantarkan pesanan Bela.


Mendengar bel kamarnya ditekan, Bela langsung membukakan pintu untuk mengambil pesanannya. Bela berjanji pada dirinya sendiri untuk menikmati kelamnya malam ini.


Cindy, Elli serta Sena tinggal di kamar hotel yang sama. Awalnya Cindy akan menyambangi cabang cafe didaerah setempat tapi dia urungkan. Ada yang mengganggu pikirannya. Sekarang mereka berbincang dibalcon kamar hotel.


"Ada apa? kau terlihat sangat khawatir." Ujar Elli.


Cindy menghela napas. Sulit sekali untuk mengatakan bahwa dia khawatir dengan kesehatan mentalnya Bela.


"Ayolah, jangan membuat kami semakin penasaran." Desak Sena.


"Sebenarnya aku khawatir dengan Bela." Akhirnya dia mengatakannya.


"Khawatir? oh yang benar saja." Sena tertawa.


"Untuk apa kau menghawatirkannya? Banyak orang yang melindunginya. Om Erland, Theo, Alex dan Dareen Hasiel. Mereka menyayangi dan melindungi Bela."


"El, baru baru ini Dareen Hasiel memutuskan semua kerjasamanya di kota kita bahkan dinegara kita. Aku curiga dia akan pergi dan tidak mau ikit campur urusan kita. Dia seperti sudah lepas tangan dan belakangan iki Bela tidak pernah menyinggung soal dia dan putranya." Penjelasan Cindy membuat Elli dan Sena sedikit linglung.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Sejahat dan selicik apapun Dyra, dia tetap wanita yang melahirkan Gian. Mungkin Gian tidak mau ayahnya melukai ibunya. Oleh karena itu, Dareen ingin pindah ke luar negeri dan memulai hidup baru dengan putranya."


"Apa itu artinya dia tidak peduli dengan Bela?"


"Bukan itu, tapi Dareen tidak ingin ikut campur dengan urusan Bela demi masa depan Gian." Akhirnya pikiran Elli sampai ke situ.


"Ah, dunia membuatku pusing. Lalu apa Bela tahu tentang itu?" Sena meraba keningnya.


"Kurasa dia sudah tahu. Bela memiliki pikiran yang jauh lebih luas dibanding kita. Hatinya juga selapang lapangan sepak bola. Dia mampu melihat jauh ke depan. Dia tidak agresif seperti kita."


"Dan satu lagi, aku menemukan hal yang menarik tentang masalalu Alex." Imbuh Cindy.


"Kau ini cenayang atau peramal? semua hal kau tahu." Elli menjadi sewot.


"Percayalah, aku menemukan hal ini secara tidak sengaja."


"Sudahlah lupakan, sekarang yang perlu kita khawatirkan adalah kesehatan mentalnya Bela. Mungkin dia terguncang dengan ini semua." Sena menggigit bibir bawahnya. Dia membayangkan jika dirinya yang berada diposisi Bela.


"Aku takut sisi lain dirinya akan bangun lagi setelah 3 tahun." Elli masih ingat bagaimana Bela berubah menjadi iblis saat 3 yang lalu.


⚡⚡⚡


"Kemana Bela pergi?" tanya Theo pada salah satu informannya.


"Nona berada di pusat kota G tepatnya di hotel Kings."


"Kenapa dia ada disana?" Theo bertanya lagi.


"Nona barusaja menghadiri pemakaman temannya."


"Teman temannya yang mana? bukannya temannya telah tiada kemarin lusa?"


"Tuan anda mudah sekali tertipu. Nona Mayleen baru meninggal siang tadi." Informannya terkekeh.


"Wah, aku tidak bisa meremehkan permainannya. Aku akui mereka semua hebat dalam mempermainkan musuhnya."


"Satu lagi Tuan, disana mereka bersama dengan pewaris Andreas Corp." Informannya mengeluarkan beberapa lembar foto.


"Baiklah, terimakasih informasinya." Theo menyodorkan amplop berisi uang. Informan itu menerimanya dan segera keluar ruangan Theo.

__ADS_1


"Hm, adikku ternyata lebih licik dariku." Theo menengguk wine kesukaannya.


Sedangkan ditempat lain,


Albert menggendong Elvan agar cepat tertidur. Kemarin dia menjemputnya dan Elvan akan tinggal bersamanya selamanya. Tapi Elvan hanya mencari Bela. Dia merindukannya. Dua hari ini Elvan terus menangis meminta mencari Bela. Albert sampai kewalahan membujuknya. Entah dimana Bela.


Setelah Elvan benar-benar tertidur, Albert menidurkannya diranjang miliknya.


"Huh, aku harus cepat mendapatkannya demi putraku. Tapi dia wanita yang sedikit sulit digapai." Gumamnya sebelum terlelap di samping putranya.


Pukul 03.00 dini hari, Royal Village.


Dua orang laki-laki sedang merapikan sebuah koper yang pastinya isinya hanya pakaian. Laki-laki yang satunya hanya membawa tas kecil berisi barang pribadinya.


Royal Village adalah perumahan mewah yang dibangun oleh Dyra beserta rekan-rekannya. Tidak ada yang tahu kecuali mereka saja. Bahkan Aurel saja tidak tahu jika perumahan mewah itu Mamanya yang mendirikan.


Biasanya para investor asing yang kerap keluar masuk daerah itu. Mayoritas penetapnya adalah orang-orang yang benar-benar memiliki harta yang tidak sedikit. Lokasinya juga strategis selain itu udara di Royal Village masih segar. Sangat cocok untuk tempat menenangkan diri.


"Semuanya sudah selesai tinggal satu tombol saja." Laki-laki itu memakai penutup kepala serta memakai masker.


Mereka menyeret kopernya menuju pipa air kamar mandi. Entah sengaja atau tidak mereka malah menyalakan kompor listrik padahal rumahnya akan mereka tinggalkan.


"Sudah, kita bisa pergi dari sini."


Mereka memanjat pagar pembatas antar wilayah Royal Village dan hutan belantara. Tangga yang mereka gunakan juga harus mereka bawa. Kemudian mereka berlari menelusuri hutan dan sampailah mereka pada pesisir pantai.


Siapa sangka isi kopernya adalah bom yang sudah siap meledak? Ditambah lagi kompor listriknya masih menyala. Mereka sudah merencakan semua ini. Entah siapa yang menyuruh mereka. Mungkin orang yang menyuruh mereka memiliki dendam pribadi pada orang yang diuntungkan dengan adanya Royal Village ini.


DUARR


Waktu habis dan bomnya telah meledak. Api yang langsung melahap tiga rumah mewah yang berdekatan sekaligus. Benar-benar parah, semua penghuni rumah terbangun dari tidurnya dan keluar melihat sumber suara. Dan jadilah kekacauan yang amat besar. Lima rumah hancur sekaligus. Rupanya para pria yang tadi sudah memasang peledak lainnya di rumah orang lain.


Para penghuni Royal Village berteriak histeris. Salah satu dari mereka menelpon pihak berwajib untuk segera mencari tahu penyebabnya.


DUUARRR


Satu rumah meledak lagi. Untung saja rumah-rumah yang meledak itu tidak ada penghuninya. Jadi tidak memakan korban.


Suara ledakan kembali terdengar disusul dengan jeritan orang-orang yang melihatnya secara langsung.

__ADS_1


__ADS_2