Family And Enemy

Family And Enemy
Pelukan Alex


__ADS_3

Alex mengitari jalanan kawasan pinggir hutan. Itu memang sangat jauh dari perkotaan tapi dia merasa akan menemukan Bela di sekitar hutan. Alex terus menyusuri kawasan hutan. Saat dia melewati sebuah mansion mini, dia berhenti sebentar dan memperhatikan dari jauh.


"Baru tahu ada mansion disini, perasaan hutan ini lebat banget. Tapi siapa yang membangun mansion disini?" Alex bertanya-tanya.


"Ck. Hari sudah mulai gelap, mana Bela belum juga ada kabar lagi." Alex berdecak. Dia sangat mengkhawatirkan Bela.


Alex melanjutkan perjalanannya. Matanya tak henti-hentinya memperhatikan kanan dan kiri. Hari mulai gelap, Alex tak kunjung menemukan Bela. Dia berhenti di pinggir jalan. Disekitarnya banyak pepohonan nan rindang dan hijau mungkin jika siang hari pemandangannya akan sangat indah beda halnya dengan sekarang, suasanannya menjadi mengerikan. Tidak ada mobil yang berlalu lalang. Gelap gulita, bahkan sinar rembulan tidak bisa menembus lebatnya hutan ini. Suara jangkrik serta sepoi-sepoi angin menambah kesan seram. Alex bergidik.


Kenapa jadi begini, apa aku salah jalan? Apakah aku masuk ke dimensi lain?


Oh ayolah Alex, sejak kapan kau mempercayai hal-hal yang belum pasti kebenarannya.


Alex kembali melajukan mobilnya, menyusuri hutan yang terkesan seram baginya.


 


Bela terus mencoba melepaskan ikatannya hingga akhirnya dia pun bisa berhasil lepas. Dia langsung berlari membuka paksa pintu ruangan itu. Bela beberapa kali mendobrak pintu kayu itu. Untung saja pintunya sudah lama dan mungkin sudah termakan waktu sehingga lapuk dan mudah sekali didobrak.


Bela berhasil keluar dari ruangan lebih tepatnya bangunan di tengah hutan. Dia menganati sekitarnya, hanya ada pepohonan yang tinggi.


"Kalau aku bisa sampai disini, berarti ada jalan masuk kesini. Saat orang-orang tadi pergi, aku mendengar suara mobil. Itu berarti mereka kesini dengan menaiki mobil." Bela menunduk mencari jejak ban mobil.


"Ck. Semuanya tertutupi dedaunan kering bagaimana bisa terlihat jejak bannya." Bela berdecak.


Bela menyerah, dia hanya berjalan menuruti kata hatinya. Hari sudah mulai gelap, Bela terus berjalan menyusuri hutan berharap menemukan jalan pulang.


"Hah. Apa aku tersesat? Aku sudah lelah. Aku juga lapar." Bela memegang perutnya.


Bela terus berjalan meski kakinya kelelahan.


Bagaimana nasib mobilku semalam?


Di keadaan seperti ini, Bela masih sempat memikirkan mobilnya.


"Hihhi hhihi" Terdengar suara wanita tertawa.

__ADS_1


Bela menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara itu tapi dia tidak menemukan siapa-siapa.


"Kenapa kau berada disini wahai gadis cantik?" Bela mendongak melihat ke atas.


Tepat diatas Bela ada seorang wanita yang duduk di ranting pohon sembari menyisir rambutnya yang panjang.


"Saya diculik oleh seseorang lalu ditinggalkan disini sendirian. Apakah anda tahu jalan menuju kota?"


"Lurus saja, nanti ada jalan besar disana. Hhiii hhiiihhii." Wanita itu menunjukkan arahnya pada Bela dengan tawa yang menyeramkan.


"Terimakasih." Bela membungkuk. Entah kenapa Bela tidak takut melihat wanita menyisir rambut di atas ranting pohon serta memakai gaun putih. Ditambah lagi dengan tawa yang menyeramkan. Sungguh Menyeramkan.


Kemudian Bela berjalan mengikuti arah yang wanita tadi tunjukkan. Cukup lama dia berjalan, hingga sampailah dia pada jalan besar yang beraspal.


Bela duduk dipinggir jalan sembari meluruskan kakinya.


"Uh rasanya kakiku mau patah." Keluhnya sambil memijat betisnya.


"Nggak ada mobil yang lewat." Bela menoleh kanan dan kiri. Bela sudah lelah, dia tidak sanggup jika harus berjalan lagi.


Terlihat dari jauh ada mobil yang sedang melaju dengan kecepatan normal. Bela berdiri ditengah jalan untuk meminta tumpangan. Dan mobil itu berhenti tepat didepan Bela.


"Bela?" Pintu mobil terbuka, keluarlah Alex dari dalam mobil tersebut. Alex berlari memeluk Bela. Tentu saja Bela kaget, dia hanya diam. Berpelukan dengan laki-laki di bawah guyuran hujan. Ini pertama kalinya bagi Bela.


Kenapa rasanya hangat? Kenapa jantungku berdetak kencang?


"Kau kemana saja? Semua orang mengkhawatirkanmu." Alex melepaskan pelukannya. Dia memegang kedua tangan Bela dan menatap matanya.


"Panjang ceritanya." Bela lemas, dia tidak sanggup berdiri. Alex menggendongnya masuk ke mobil. Di dalam mobil Alex memberikan Bela sebotol air mineral. Tentu saja Bela tidak menolaknya, dia tidak makan dan minum dari semalam. Bisa dibayangkan betapa lemasnya.


Di perjalanan pulang, Bela sudah merasa lebih baik. Dia menceritakan semua yang dia alami semalam.


"Lex, kenapa kau sampai di hutan?"


"Itu yang mau kutanyakan padamu. Bagaimana kau bisa ada dihutan." Alex masih fokus menyetir. Didengar dari nada bicaranya, dia sedikit marah dan dicampur dengan rasa khawatir.

__ADS_1


"Bagaimana aku menjelaskannya?" Bela bingung.


"Apa kau punya musuh atau sejenisnya?"


"Tidak. Aku tidak pernah bermusuhan dengan siapapun." Bela memang tidak mempunyai musuh atau dia tidak tahu jika dia mempunyai musuh.


"Lalu siapa yang membawamu ke tengah hutan begitu?"


"Aku tidak tahu, Lex. Dia memanggilku dengan sebutan 'Sayang' dan dia tahu tentang keluargaku juga. Tapi cara dia memperlakukan aku rasanya seperti dia orang terdekat. Dia bahkan juga mengobati luka di dahiku." Bela menunjuk luka di dahinya.


"Kalau dia orang terdekat yang menyayangimu, kenapa dia meninggalkanmu ditengah hutan sendirian?"


"Itu yang tidak aku mengerti. Lupakan! Aku akan menanyakan perihal semua ini ke Om Erland." Bela sungguh tidak mengerti motif dari penculikannya.


"Bel, apa kau tidak kedinginan?" Alex melihat seluruh badan Bela yang basah kuyup.


"Tidak, kau juga basah apa tidak dingin?" Bela kembali bertanya.


Alex hanya menggeleng. Bela menyadari bahwa mereka sudah melewati mansion miliknya. Keasikan mengobrol membuat Bela tidak memperhatikan jalan.


"Berhenti, Lex!"


"Apa?" Alex langsung menghentikan mobilnya.


"Putar balik!"


"Hah? Sebenarnya kau mau kemana?" Alex menatap Bela.


"Aku ingin ke mansion yang tadi."


"Maksudmu mansion dipinggir hutan tadi? Apa itu mansionmu?"


"Iya, aku ingin ke kamar mandi. Jika kita pulang ke rumah akan membutuhkan waktu setengah jam sedangkan aku sudah tidak tahan lagi."


"Hmm baiklah." Alex menuruti Bela. Dia juga ingin membersihkan diri. Dia sangat tidak nyaman dalam keadaan basah. Selain itu Alex juga mudah sekali terserang flu.

__ADS_1


__ADS_2