
Tengah malam seperti ini Elvan masih belum tidur. Dia duduk di depan komputer yang masih menyala. Tangan kirinya menggenggam pen dan memainkannya. Sedangkan tangan kanannya sibuk menggeser mouse mencari film horror kesukaannya.
Angin malam menggerakkan tirai jendela kamar tidur Elvan. Bisikan-bisikan mulai terdengar ditelinga Elvan. Tapi Elvan dalam keadaan sadar, dia mengabaikan itu. Dia mematikan komputernya dan naik keranjang.
"Mommy, aku merindukanmu." Elvan berharap memimpikan Bela. Kemudian dia terlelap dengan sejuta kerinduannya pada Mommynya.
..........
Pagi hari yang cerah lebih cerah dari hari sebelumnya. Masih pagi sudah membuat kacau seisi kota dengan berita hilangnya uang dan berlian di Red Bank. Sirine mobil polisi bergema diseluruh penjuru kota.
Cindy mendengarkan berita pagi ini sambil mengemudikan mobilnya. Rencananya dia akan menemui Elvan untuk sedikit memantau perkembangan mentalnya.
"Huh, beritanya terlalu dibuat-buat. mereka sangat bodoh. Padahal tidak perlu berkoar-koar cukup mencari pencurinya secara diam-diam. Untuk apa membuat seluruh kota panik?" Cindy melepas kacamata hitamnya.
Dia sudah sampai dikediaman Albert. Rumah yang tidak banyak berubah setelah Bela pergi.
"Kenapa kau pagi-pagi kesini?" Albert membukakan pintu untuknya.
"Saya ingin menemui Elvan."
"Masuklah, Elvan masih belum bangun." Albert mempersilahkan Cindy untuk masuk.
"Maaf kalau begitu, saya akan kembali nanti setelah Elvan bangun."
"Tante Cindy?" Elvan turun dari tangga. Dia sudah rapi dengan pakaian casual yang biasa dia kenakan saat weekend.
"Masuklah, dia sudah bangun sekarang." Albert kembali mempersilahkan Cindy untuk masuk.
Cindy masuk dengan sedikit kewaspadaan.
"Bagaimana keadaanmu?" Cindy mulai bertanya.
"Elvan lebih baik dari sebelumnya. Tante, Nayla tidak ikut kesini?"
__ADS_1
"Tante baru akan menjemputnya di bandara. Apa kau mau ikut?"
"Ayah, bolehkan Elvan ikut Tante Cindy?" Elvan menoleh pada Albert dan bertanya.
"Pergilah, tapi jangan nakal." Elvan senang sekali saat Ayahnya mengijinkannya. Akhirnya dia bisa keluar rumah selain sekolah.
Cindy berbohong, sebenarnya Ben dan Nayla akan sampai 3 jam lagi.
"Tante berbohongkan?" Elvan memecah keheningan diantara mereka.
"Maaf Elvan, Tante hanya ingin bicara denganmu tanpa ada yang mengawasi."
"Aku tahu Ayah yang membunuh Mommy."
Cindy menepi dan menghentikan mobilnya. Wajahnya menjadi pucat. Jantungnya berdetak begitu cepat.
"Tante tidak perlu khawatir padaku. Aku sudah tahu. Mommy masih hidupkan?" Air mata Elvan jatuh membasahi pipinya.
Cindy bingung harus bicara apa pada Elvan. Dia diam tak berkutik. Jika dia bilang Bela masih hidup mungkin saja rencana Bela akan hancur. Jika tidak mengatakannya dia tidak sanggup melihat Elvan menderita. Cindy dalam keadaan yang sulit.
"Elvan, Tante dalam keadaan yang sulit. Maaf tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Seperti yang kau tahu, Mommy sudah tiada. Jangan terlalu banyak berharap. Fokuslah pada kesehatanmu."
..........
Oliv dan Sheila mengantarkan bahan makanan ke seluruh panti asuhan. Tidak lupa juga mereka mengembalikan hak mereka atas nama bantuan.
Diperjalanan pulang, dia mendapat telpon dari Cindy.
"Kak, aku juga sangat merindukannya tapi keadaannya sangat tidak memungkinkan."
"...."
"Mentalku belum siap untuk menjelaskan padanya. Mungkin lain kali aku akan menemuinya sendiri."
__ADS_1
Oliv memutus sambungan telponnya dan melempar ponselnya ke bangku belakang.
"Kakak, lebih baik temui saja. Kasihan Elvan jika harus satu rumah dengan para pembunuh." Sheila mengutarakan pendapatnya.
"Aku hanya takut dia tidak bisa mengendalikan emosinya saat mendengarkan kebohongan keluarganya. Aku takut dia berbuat yang tidak-tidak. Kondisinya masih sangat jauh dari kata normal. Sisi lain didalam tubuhnya akan bangun ketika dia marah ataupun sedih. Itu yang aku khawatirkan." Oliv mengusap air matanya.
...........
Elvan diam memikirkan tentang Bela. Dimana dia harus mencari? Rasa rindu yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Napasnya mulai tersegal-segal hingga dia merasa sesak. Saat itulah tubuhnya dikendalikan oleh kepribadian lain yang ada dalam tubuhnya.
"Aku akan menyelamatkan Mommy dari Ayah."
Elvan mengambil garbu dan menggenggam erat ditangannya. Dia berjalan menuju kamar Ayahnya. Namun tidak ada orang didalam. Kemana Albert pergi?
Syukurlah dia tidak ada dirumah. Elvan semakin marah. Hanya ada Aurel yang berada dirumah. Dia duduk disofa ruang tamu sambil bermain ponselnya.
"Elvan, kenapa kamu membawa garbu?"
Elvan berjalan kearahnya. Aurel tidak menyadari bahwa bahaya sedang berjalan kearahnya.
Kebetulan sekali Oliv sedang berkunjung untuk membahas tentang penyewaan mansion. Melihat pintunya terbuka dia langsung masuk saja.
Elvan mencoba menusuk Aurel dengan garbu ditangannya tapi Aurel dengan cepat menghindar.
"ELVAN, APA YANG KAU LAKUKANN!!!" Aurel berteriak. Dia mencoba menjauh sejauh mungkin dari Elvan. Tapi kakinya malah tersandung kaki meja. Dia jatuh dan tak bisa lari.
Elvan semakin mendekat. Dia bersiap-siap untuk menusuk lagi. Elvan mengangkat tangannya diudara. Aurel sudah pasrah. Dia menutup matanya.
Oliv melihat kejadian itu langsung berlari kearah mereka berdua. Oliv memegang tangan Elvan yang menggenggam garbu.
"Tenangkan dirimu, Mommy tidak akan meninggalkanmu lagi." Bisiknya tepat di telinga kanan Elvan. Pelan, sangat pelan hingga angin pun tidak dapat membawanya.
Tangan Elvan melemas. Dia menjatuhkan garbunya ke lantai. Suara yang sangat dia rindukan kini kembali terdengar ditelinganya. Sejuk, itulah yang Elvan rasakan saat ini. Belum sempat dia menoleh kebelakang tapi kegelapan sudah merenggut kesadarannya. Dia pingsan di pelukan Oliv.
__ADS_1
"Ada apa dengannya? Hei nak, bangun. Buka matamu!!" Oliv menepuk pelan pipi Elvan.
"Terimakasih, kau sudah menenangkannya. Kita bawa dia kekamarnya saja." Aurel bangun dengan susah payah. Kakinya terluka dia tidak bisa berjalan dengan normal.