
Theo duduk santai di sofa ruang kerjanya sambil menikmati kopi favoritnya. Dia merasa sangat puas setelah melakukan apa yang dia inginkan.
Bela datang dengan penuh amarah. Ben menyadari bahwa akan terjadi perang dunia jika dia membiarkan Bela masuk kedalam dan menghabisi majikannya.
"Maaf Nona, anda tidak boleh masuk." Ben menghadang Bela di depan pintu.
"Biarkan aku masuk," amarahnya sudah memuncak.
"Tidak bisa Nona, Tuan ingin menikmati waktu santainya." Ben tetap menghalangi.
Cindy memberi isyarat untuk minggir tapi Ben mengabaikannya. Cindy tahu benar jika Bela sedang marah.
Terserah padamu, aku tidak tanggungjawab kalau kau terkena pukulan maut dari Bela. Cindy memutar bola matanya.
"Ku bilang menyingkirlah," tangan kanan Bela menggenggam dan siap memukul.
"Maaf Nona tapi saya tidak," belum selesai Ben bicara tapi Bela sudah lebih dulu memukul perutnya hingga dia kesakitan. Kesempatan itu digunakan Bela untuk masuk ke ruangan Theo.
Setelah Bela masuk, Cindy langsung menutup pintunya.
"Hei, kenapa kau menutup pintunya?" tanyanya sambil meringis kesakitan.
"Aku tidak mau ambil resiko seperti dirimu. Aku sudah memperingatkanmu tadi." Ketus Cindy.
"Gila, wajah dan tubuhnya seperti boneka barbie tapi tenaganya seperti hulk." Ben masih meratapi nasibnya yang selalu kena pukul.
"Kalau berani bicara langsung didepannya. Aku pastikan kau langsung dihabisi saat itu juga." Cindy tertawa meremehkan.
Theo sudah tahu jika Bela pasti akan menemuinya. Dan dia juga tidak kaget tapi dia menyambut kedatangan Bela layaknya tamu terhormat.
Theo bangkit dari duduknya dan merentangkan tangan untuk menyambut Bela. Tapi dia mendapatkan satu pukulan diperutnya.
"Sudah nasibku mempunyai saudara bodoh sepertimu." Amarah Bela sedikit mereda setelah berhasil memukul Theo.
__ADS_1
"Aku sudah berusaha untuk memberinya pelajaran tapi kau malah membebaskannya dari penjara."
"Tenanglah adikku, apa yang kulakukan akan menguntungkan kita nantinya." Theo memeluk Bela.
"Menguntungkan apanya?" Bela melepas paksa pelukan Theo.
"Berkatnya aku bisa membeli tanah di pulau Poem." Theo menjatuhkan dirinya disofa.
"Pulau Poem? apa istimewanya pulau itu?"
"Itu yang kau tidak tahu. Pulau Poem adalah tempat menyegarkan untuk menanam berbagai sayuran bahkan buah-buahan. Dan mereka gunakan untuk menanam tanaman yang dilarang oleh negara kita. Hanya 60 persen lahan yang digunakan untuk perkebunan karet serta sayur. Dan aku akan membeli itu. Berarti tinggal 10 persen saja yang terlihat lainnya mereka menyembunyikannya. Terimakasih untuk kekacauannya itu sangat menguntungkan." Theo tersenyum hangat.
"Hm, lalu bisnis ilegal apalagi yang Mama miliki?" tanya Bela yamg penasaran.
"Perdagangan manusia,"
"Apa?" Bela tidak percaya bahwa ibu sambungnya itu lebih buruk dari yang dia kira.
"Perdagangan gadis dibawah umur di Orchid Club. Serta bisnis minuman keras yang belum disahkan. Tapi itu bukan dia saja ada tiga orang yang ambil peran dalam hal bisnis ilegal itu. Pertama Victoria Ghy, wanita rubah itu sangat pandai. Kedua Grace Harwell dan yang ketiga Thomas Alfred. Semua bukti yang kuat ada di tangan Alberto Edison. Entahlah dia berperan menjadi mata-mata atau apa aku tidak tahu." Bahkan Bela juga bingung dengan Albert.
"Baiklah, aku juga percaya padanya." Theo memikirkan langkah selanjutnya untuk kembali menjatuhkan Dyra setelah dia memiliki tanah di Pulau Poem.
Dyra memandang lukisan Pulau Poem yang sangat berharga baginya. Dia tidak tega jika harus menjualnya. Tapi mau bagaimana dia harus menjualnya demi pembangunan ulang Royal Village serta mengganti kerugian perusahaan. Itu pun belum cukup, dia juga harus menjual beberapa sahamnya yang ada di perusahaan lain.
Brak
Victoria membuka pintu kamar Dyra. Dengan penuh amarah dia mendorong Dyra ke didinding dan mencekik lehernya.
"Lepaskan," Dyra meronta. Lehernya sungguh terasa sakit hingga dia tidak bisa bernapas.
"Aku membangun bisnis kita yang sangat menguntungkan tapi kau malah menghancurkannya. Apa kau tidak melihat bagaimana kerja kerasku dan Grace demi berlangsungnya bisnis ilegal kita." Victoria melepaskan tangannya dari leher Dyra.
"Lalu aku harus apa? ledakan di Royal Village bukan kemauanku. Bocornya data penggelapan dana perusahaan juga bukan kemauanku. Kembalinya Jake juga bukan kemauanku. Aku harus apa? katakan aku harus apa!!" Dyra sangat frustasi. Tubuhnya luruh ke lantai.
__ADS_1
"Itu salahmu, kalau kau tidak gegabah semua tidak akan terjadi secara bertubi-tubi begini. Sekarang akan ku alihkan Orchid Club atas namaku. Aku tidak mau ambil resiko jika nanti kau gegabah seperti ini lagi." Victoria pergi tanpa pamit dan menyisakan kebencian di hati Dyra.
"Ambillah, jika semua sudah selesai aku akan mengambilnya lagi dan melenyapkanmu." Gumamnya disertai dengan senyuman yang mengerikan.
Itu yang dia benci dari Victoria. Dia tidak suka jika Victoria lebih unggul darinya. Jika dia melenyapkannya tidak ada yang menyainginya lagi dan dia juga mendapat bonus. Victoria sangat royal bahkan melebihi Dyra. Karena dia selalu bekerja keras untuk bisnis legal maupun ilegal yang dia jalankan. Itulah kenapa Dyra mengincar Victoria dari awal. Dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk melenyapkan Victoria.
Malam ini Bela sudah ada janji untuk makan malam bersama Albert. Jangan salah paham dulu itu dilakukannya untuk menggali informasi lebih dalam lagi.
Tempat yang aman hanya restoran miliknya. Diruang pribadi yang banyak orang tidak mengetahuinya. Yang orang tahu hanyalah ruang vip biasa.
"Apa anda sudah lama?" tanyanya karena Bela datang lebih awal daripada dirinya.
"Belum, langsung saja saya tidak suka bertele-tele." Dingin tak tersentuh sudah menjadi ciri khas Bela. Terlebih lagi pada orang asing.
"Saya tahu Theo membebaskan Dyra tadi siang. Kami juga sudah bersepakat untuk kerjasama. Lalu apa yang ingin anda ketahui lagi?"
"Pulau Poem, ada apa di pulau Poem hingga membuat Mama sulit melepasnya?" penasarannya tentang pulau itu belum hilang.
"Pulau Poem adalah tempat mereka menanam tanaman yang dilarang oleh negara. Ada juga penambangan emas ilegal disana. Pulau itu menjadi destinasi wisatawan karena pantainya dan juga perkebunan karet didalamnya. Keuntungan yang mereka dapat lebih dari 8 Milyar dalam sebulan. Itu hasil utama penjualan ganja serta tanaman terlarang lainnya. Itulah mengapa sulit sekali melepas satu petak tanah di pulau itu." Albert menjelaskan secara rinci.
"Dan sekarang separuh wilayah pulau itu akan menjadi milik kakakku, maksud saya milik Theo. Lalu apa langkah kita selanjutnya?"
"Kita biarkan masalah ini mereda dulu baru kita kumpulkan bukti-bukti untuk menyeretnya ke penjara. Ku dengar Victoria Ghy mengubah Orchid Club menjadi miliknya. Mungkin dia tidak mau bisnis berharganya itu hancur karena Dyra."
"Dan satu lagi, bisnis minuman keras itu sudah terendus oleh polisi. Dan sekarang tempat produksinya ditutup paksa. Thomas Alfred menjadi target polisi berikutnya." Sambung Albert.
"Dan anda?" Bela menaikkan ujung alisnya.
"Percayalah saya tidak terlibat semua itu." Albert tertawa hambar.
"Bisakah anda saya percaya?" Bela mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
"Tentu saja," dengan senang hati Albert berjabat tangan dengan Bela.
__ADS_1
Apa yang kulakukan itu demi dirimu dan Elvan. Serta agar bisa membalaskan kematian Stella.
Akhir dari para orang-orang tamak seperti kalian. Albert berbicara dalam hatinya.