Family And Enemy

Family And Enemy
Hadiah dan Bunga


__ADS_3

Hari ini Bela ada kelas pagi. Dia langsung berangkat ke kampus tanpa sarapan. Setelah kelas selesai perut bela berbunyi. Mayleen menyadari kalau Bela lapar.


"Bel, mau makan di kantin atau diluar?"


"Keluar aja yuk. Mall atau restoran ya?" Bela bingung sendiri.


"Mall aja gimana sekalian cari gaun unutuk pestanya Aurel." Mayleen memberi saran.


"Hmmm ide bagus. Naik mobilku ya. Nanti kuantar kau sampai rumah. Suruh sopirmu balik."


"Oke. Nyonya bos." Mayleen bercanda. Dia memberi hormat selayaknya bawahan yang menyambut atasannya.


Mayleen gadis yang ceria dan murah senyum. Dia juga sangat ramah pada temannya. Hanya saja dia tidak dianggap itupun karena ayahnya pernah korupsi di kantor ia bekerja. Semua anak dikampus ini merendahkannya. Mereka tidak mau berteman dengannya.


"Eh si anak pungut nggk tau diri."


"Si korupsi temenan sama anak pungut tu."


"Wah satu server."


"Gembel temenan dengan sesama gembel."


"Pasti mereka berdua juga jadi simpanan om om kaya." Salah satu gadis yang memakai pakaian minim mengatai Bela dan Mayleen.


Telinga Bela memanah. Bela menarik kerah baju orang yang mengatai mereka.


"Barusan ngomong apa lo tadi? ulangi!"


"Emang gue ngomong apa?" Gadis itu tidak berani menatap mata Bela.


"Oh perlu gue putusin urat leher lo?" Bela mencekik leher gadis itu.


"Pasti kalian simpanan om om kan?" Tangannya mencoba melepaskan cengkraman tangan Bela di lehernya.


"AH BUKANNYA LO YANG SETIAP MALAM MASUK KAMAR HOTEL YANG BERBEDA?"


Orang-orang yang melihat kejadian itu melongo. Tak terkecuali gadis yang telah Bela cekik saat ini.


"Bagaimana kau bisa tau?" suara gadis itu melemah dan hanya Bela yang mendengarnya.


"Makanya kalo ngomong itu mikir dulu." Bela melepaskan lehernya. Mendekatinya dan berbisik di telinganya. Bela menyeringai.


"Ayo May kita pergi!" Bela dan Mayleen meninggalkan orang-orang tidak penting.


 


Aurel dan Bryan sedang jalan-jalan di Mall terbesar di kota ini. Aurel menggandeng tangan Bryan. Rencananya mereka akan membeli gaun dan cincin untuk pertunangan besok malam.


"Bray cari cincin dulu ya. Baru setelah itu kita makan. Cari gaunnya nggk usah deh, aku bisa beli sendiri di butik."


"Yaudah terserah. Asal kamu bahagia aja." Bryan hanya pasrah, dia belum cukup memahami sifat wanita.


Mereka masuk toko cincin yang terkenal dengan harganya yang fantastis.


"Cari apa tuan?" Sambut karyawan.


"Perlihatkan kami, semua cincin yang kalian punya."

__ADS_1


"Baik tuan tunggu sebentar."


Para karyawan mengeluarkan semua model cincin terbaru dan terbagus yang mereka punya.


Aurel mencoba satu persatu dari semua cincin yang ada. Sampai hatinya mantap melimilih cincin dengan motif berlian.


"Aku mau yang ini."


"Baiklah aku akan membayarnya. Kami ambil yang ini." Bryan membayar cincinnya, mahal pastinya.


"Terimakasih tuan dan nona. Silahkan datang lagi." Para karyawan memberi bow.


Aurel dan Bryan meninggalkan toko itu. Mereka melanjutkan menyusuri Mall.


Dari banyak orang yang berlalu lalang Bela cukup mencolok dimata Aurel dan Bryan. Mereka segera menghampiri Bela dan Mayleen.


"Kalian disini juga? Sedang apa?" Aurel menyapa.


"Apa urusan anda?" Tanya Bela memasukkan kedua tangannya ke kantong celana. Sorot mata yang tajam seolah mampu membunuh tanpa melukai.


" Bisakah kau sopan sedikit Bel? Aurel cuma bertanya. Apa salahnya?" Bryan tidak terima kata-kata tidak sopan Bela.


"Dimana letak tidak sopanku? Kau mau menamparku lagi? silahkan!" perkataan Bela membuat Bryan mengepalkan tangannya.


"Bela sudahlah jangan mencari masalah." Mayleen menarik lengan Bela.


"Maaf mengganggu waktu kencan kalian." Mayleen meminta maaf pada Aurel dan Bryan. Dia juga menarik Bela untuk pergi dari sana.


Oh yang benar saja.


"Oh yang benar saja. Mengganggu waktu mereka? Yang ada mereka yang mengganggu kita May. Ah sekarang aku semakin lapar." Bela memegang perutnya.


"Ah kita keluar saja. Aku sudah tidak selera makan disini."


Mayleen langsung menghentikan langkahnya.


"Kalau begitu ayo!" Mayleen kembali menarik Bela keluar mall.


Sekarang mereka menuju Restoran Diamond. Diperjalanan Mayleen menceritakan kisah-kisah yang diluar nalar.


Dia seperti kak Sena. Jangan sampai mereka bertemu. Bisa kenyang aku makan kisah-kisah aneh mereka. Bela menghela nafas.


"Bel?"


"Ah iya. Apa?"


"Kita mau kemana?"


"Kita akan ke restoran Diamond."


Mendengar kata 'Diamond' Mayleen membelalakkan mata.


"Mau apa kita kesana. Disana mahal Bel." Mayleen panik.


"Tenang saja."


Bela kembali fokus menyetir. Berkali-kali dia melihat spion. Menaikkan kecepatan mobilnya.

__ADS_1


Kenapa mobil hitam itu terus mengikutiku? Dari kampus sampai ke Mall sekarang masih mengikutiku.


Setelah sampai di restoran Diamond Bela memilih masuk dan memarkirkan mobilnya di dalam. Hanya tamu yang memiliki kartu akses khusus yang bisa masuk dan memarkirkan mobilnya di dalam. Selain itu hanya bisa parkir di luar restoran.


"Bel Ada apa?" Mayleen kaget saat Bela berbelok tanpa menurunkan kecepatan mobilnya.


"Masuklah dulu nanti aku ceritakan di dalam."


Bela dan Mayleen masuk. Banyak karyawan restoran yang berjajar rapi menyambut Bela. Mayleen hanya bingung dan mengikuti Bela saja. Dia belum pernah ke restoran ini sebelumnya.


"Selamat datang nona Ze." Para karyawan membungkuk memberi hormat.


"Menu yang sama. Antarkan keruanganku."


Setelah mengatakan itu Bela menggandeng tangan Mayleen memasuki ruangan pribadi. Mayleen hanya mengikuti Bela. Mereka duduk di sofa yang tersedia.


"Ini ruangan apa bel?" Mayleen melihat sekelilingnya.


"Ini ruangan pribadiku."


"Kau bekerja disini?"


"Mmm. Bisa dibilang begitu." Bela sedikit canggung.


Makanan pesanan mereka sudah datang. Mereka makan dengan tenang.


"Tadi ada yang mengikuti kita dari kampus sampai Mall. Mereka mungkin mengikutiku. Nanti kau naik taksi saja. Aku tidak ingin kau ikut campur masalahku."


"Tidak. Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian." Tolak Mayleen.


"Oh ayolah. Jika kau ikut denganku kau juga dalam bahaya nanti. Aku bisa melindungi diriku sendiri. Tapi aku tidak yakin aku bisa melindungimu. Tolong menurutlah padaku."


"Baiklah. Tapi kau harus janji untuk menelponku nanti. Sungguh Bel aku sangat khawatir."


"Siap. Pergilah setelah aku pergi. Untuk pembayaran makanan ini sudah aku yang bayar."


"Iya. Hati-hati bel."


Bela meninggalkan tempat itu. Seperti dugaannya mobil yang tadi hitam yang mengikutinya menunggutak jauh dari restoran.


Saat mobil Bela keluar dari restoran, mobil itu tetap mengikutinya hingga ke jalanan yang sepi. Bela sengaja berhenti mendadak dan keluar dari mobilnya.


"Hei keluar!"


Bela menghentikan mobil hitam tadi.


Pengendara mobil itu keluar.


"Kenapa anda mengikuti saya?" Bela berhadapan langsung dengan orang yang mengikutinya.


"Maafkan saya nona. Saya hanya diperintahkan untuk mengantarkan hadiah untuk nona. Saya diperintahkan untuk mengantarkan ke rumah nona tapi saya kehilangan alamat nona, jadi saya mengikuti nona." Pria paruh baya itu mengambil kotak besar hadiah dan buket bunga yang dia maksud.


"Saya kira anda memata-matai saya pak. Oh ini dari siapa pak?" Bela menerima kotak hadiah dan bunga.


"Maaf nona. Saya harus merahasiakannya karena nyawa saya taruhannya." Pria paruh baya itu menunduk.


"Ah tidak apa-apa. Saya mengerti. Maaf saya berprasangka buruk. Sekali lagi terimakasih pak." Bela membungkuk. Hatinya merasa tidak enak karena telah berprasangka buruk.

__ADS_1


Bela memasuki mobil dan pulang menuju kediamannya.


Gila sih ini. Mempertaruhkan nyawa? Apa orang yang menuruhnya kejam?. Tapi siapa dan kenapa dia mengirimiku hadiah dan bunga?. Padahal ulangtahunku masih lama. Tapi cantik juga sih bunganya. Kotak hadiahnya juga besar. Apa maksutnya? Pikirkan nanti kalau sudah dirumah.


__ADS_2