Family And Enemy

Family And Enemy
Kabar Buruk


__ADS_3

Seperti biasa Alex menjemput Bela. Mengantar dan menemani kemanapun Bela pergi sudah menjadi aktivitas baru baginya. Setelah mengatahui prahara keluarga Bela, Alex selalu ingin melindunginya. Entah rasa kasihan atau rasa yang lain. Dia sendiri merasa nyaman saat Bela bersamanya. Seakan-akan pesona Bela mampu menembus kegelapan hatinya. Alex tidak tahu apa yang dia rasa ini benar atau tidak.


"Lex, besok nggk usah dijemput. Lagipula kakiku sudah bisa digunakan untuk berjalan. Bwsok aku akan menyetir sendiri." Bela membuka pintu mobil Alex dan keluar.


"Bel, kau lupa?" Alex mengikuti Bela.


"Nggak tu, pacaran kan bukan berarti kemana-mana harus diantar. Besok aku akan pergi ke panti tempat aku tinggal dulu." Bela menduduki bagian depan mobil Alex.


"Aku besok tidak ada kegiatan. Tetap kuantar tidak ada penolakan." Alex kembali menegaskan. Dia tidak ingin Bela pergi sendiri bahaya selalu ada disekitarnya.


"Apa kau akan menempel padaku seperti perangko?." Alex selalu memancing emosi Bela.


"Hmm, boleh juga." Alex semakin membuat Bela kesal. Ingin sekalo rasanya Bela mencakar wajah Alex dan mencabik-cabik tubuhnya.


"Oke terserah." Bela meninggalkan Alex. Dia tidak bisa berlama-lama dengan Alex bisa-bisa dia sudah serangan jantung karena darah tinggi. Konyol.


⚡⚡⚡


"Kita bisa memulai rencana kita malam ini." Dyra tersenyum licik.


"(.....)"


"Yakin, dengan begitu rahasia kita akan ikut lenyap bersamanya." Dyra mematikan sambungan telpon. Dia sangat percaya diri.


"Mah, itu Bryan sudah mau berangkat." Aurel menghampiri mamanya. Sesekali Aurel mengusap air matanya.


"Oh, mama tidak ingin melihatnya pergi. Mama takut calon menantu mama akan sulit untuk pergi." Sebenarnya bukan itu yang dimaksud Dyra, dia ada maksud yang lain.


"Yaudah, kita pulang saja. Tante Evi menyuruhku pulang agar tidak merasa terlalu sedih." Aurel menunduk menahan air mata.


"Mama juga akan ke kantor." Dyra bangkit dari kursi tunggu Bandara.


"Kok mama ke kantor, katanya tadi nggak kerja. Aku akan ke kampus juga kalau begitu." Aurel merajuk.


"Rubahlah sikapmu yang seperti anak kecil ini. Mama tidak suka. Mama mau kamu menjadi wanita yang tangguh seperti mama." Dyra mencengkeram pundak Aurel.


"Kok mama gitu sih." Aurel ketakutan melihat perlakuan mamanya yang berbeda. Dia meneteskan air mata itupun membuat Dyra semakin tidak suka.


"Menangislah! andai sifatmu seperti Bela, pasti kau sudah bahagia sekarang." Dyra melepaskan cengkramannya. Dia berbalik dan meninggalkan Aurel ditengah keramaian.


Bela lagi Bela lagi. Kau bilang kau tidak membenciku. Tapi kau sendiri yang membuat aku benci padamu. Dari dulu aku tidak pernah menyukaimu. Sekarang aku membencimu. Sangat membencimu.


Aurel mengepalkan tangannya. Sepertinya rasa irinya pada Bela telah berubah menjadi benci.


⚡⚡⚡


Bela, Mayleen, Arvin dan Alex sudah menyelesaikan kelas mereka masing-masing. Kini mereka berada di parkiran.


"Bos, kau tahu tidak?"


"Tidak tahu." Alex menjawabnya asal.


"Jelaslah kau tidak tahu. Aku barusaja akan memberitahumu." Arvin memegang keningnya.


"Jangan bicara padanya. Bicaralah pada ban mobil ini itu sama saja dengan berbicara padanya." Bela menunjuk ban mobil milik Alex.


"Kau benar sekali calon kakak ipar. Hahaahahaha." Arvin tertawa terbahak-bahak. Tawanya membuat Bela dan Mayleen ikut tertawa juga. Alex hanya memperhatikan mereka. Baru kali ini Alex melihat Bela tertawa. Menurutnya itu sungguh cantik.


Sering-seringlah tertawa seperti ini. Aku memang belum pernah melihatmu menangis. Aku berharap tidak akan pernah melihatmu menangis. Aku hanya ingin melihatmu tertawa seperti ini. Alex tersenyum tipis dan tidak ada yang bisa melihatnya.

__ADS_1


"Siapa yang kau panggil calon kakak ipar?." Tiba-tiba Bela berhenti tertawa dan menyadari sesuatu.


"Tentu saja kaulah." Arvin menjawabnya jujur.


Suasana menjadi hening. Bela hanya diam menatap Arvin.


Aduh, jadi merinding gini. Arvin merasakan terpaan hawa sejuk menyapu kulitnya. Dia melirik Bela yang menatapnya.


"Dia hanya bercanda, Bel." Mayleen menepuk pundak Bela guna mencairkan suasana.


"Maafkan aku calon kakak ipar maksudku Bela. Ayo Mayleen ku antar kau pulang." Arvin menarik tangan Mayleen.


"Bela kami duluan ya." Sebelum masuk ke mobilnya Arvin, Mayleen melambaikan tangan pada Bela.


"Byee." Bela juga melambaikan tangannya. Mobil Arvin mulai meninggalkan kawasan parkir.


"Kau menakutinya." Alex terkekeh melihat tingkah Arvin tadi.


"Aku tidak melakukan apa-apa." Bela melipat tangannya didepan dada.


"Kita pulang sekarang?"


"Hmm, oke." Bela masuk mobil Alex.


⚡⚡⚡


Aurel baru pulang dari kampus. Dia merasa kesal dengan teman-teman kampusnya. Dia melemparkan tasnya ke sofa.


"ARRGH." Aurel memegang kepalanya dan berteriak.


"Alex dan Bela sangat serasi. Lebih serasi dari Aurel dan Bryan."


"Eh ngomong-ngomong Bryan pindah kuliah ke luarnegeri. Jadi mereka LDR-an."


"Pantas saja Bela tidak menyukainya. Dia itu sok cantik."


"Sebenarnya yang anak pungut itu si Aurel. Dia hanya pendatang di keluarga Bela dan bukan siapa-siapa."


"Kalau bukan karena keluarganya kaya dia tidak mungkin bisa seperti sekarang."


"Dia terlalu percaya diri karena semua laki-laki disini hanya memujinya cantik saja."


"Padahal itu semua hanya bohong belaka."


"Siapa yang mau berteman dengan anak pungut seperti dia."


"Kalau bukan karena bisnis orang tua kita ada di tangan ibunya kita tidak akan memujinya bagaikan dewi."


Semua kata-kata itu ditujukkan untuk Aurel. Semua itu memang benar. Semua bisnis orangtua mereka ada ditangan Dyra. Jika salah satu dari mereka menyakiti Aurel maka bisnis orang tua mereka jadi taruhannya.


"Cih, semua orang ternyata tidak tulus. Semua orang bermuka dua." Aurel merobek majalah bisnis yang ada diatas meja untuk melampiaskan kemarahannya.


Gian barusaja pulang dari sekolahnya. Dia terkejut saat baru memasuki rumah. Dia takut Aurel akan melampiaskan kemarahannya pada dirinya. Gian mencoba santai seakan tidak melihat kebaradaan Aurel di ruangtamu.


"Hey, kau kemari sebentar!." Aurel melihat kedatangan Gian dan memanggilnya.


"Aku?" Gian menunjuk dirinya.


"Iya kau, memang siapa lagi?" Aurel berkacak pinggang.

__ADS_1


Dengan sedikit ragu, Gian mendekat pada Aurel.


"Ada apa, Kak?." Gian memberanikan diri untuk bertanya.


"Berapa kali aku katakan padamu? AKU BUKAN KAKAKMU." Aurel menarik kerah kemeja yang dipakai Gian.


"Tap-tapi aku anaknya mama juga. Jdi kita semua adalah keluarga."


Plak


Aurel menampar Gian hingga tangannya membekas di pipi Gian.


"Jangan panggil mamaku dengan sebutan mama juga. Kita memang keluarga tapi kau itu anak haram. Sekarang pergilah! kau membuatku semakin kesal." Aurel mendorong kasar Gian.


Gian bertanya-tanya dalam hatinya. Apa yang dia katakan salah? Apa kesalahan yang dia perbuat?


Gian terdiam, seketika semua kejadian yang pernah membuatnya trauma terus berputar diingatannya. Dia menaiki tangga menuju kamarnya dengan perasaan yang sangat tidak bisa digambarkan.


Aurel duduk disofa. Dia memijat pelipisnya. Kepalanya terasa mau pecah. Hari ini semua kejadian yang terjadi terlalu menguras emosinya.


"Apa Gian sudah pulang?." Aurel menoleh, dia terkejut saat mendapati Bela dan Alex berdiri diambang pintu.


"Ba-baru saja pulang tadi." Aurel gelagapan.


Apa dia melihatku menampar Gian?.


Bela menyipitkan matanya. Dia mendekati Aurel yang berkeringat dingin.


"Aku tahu kau tidak rela Bryan meninggalkanmu tapi itu untuk masa depanmu juga." Bela menepuk pundak Aurel. Dia mengerti Aurel sedang bersedih. Bela mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan.


"Hm iya." Aurel tersenyum tipis. Didalam hatinya dia merasa lega. Dia mengira Bela melihat apa yang tadi dilakukannya pada Gian. Dugaannya salah, Bela tidak melihat apapun.


Bela tidak banyak bicara selain itu. Dia memilih bersikap biasa saja. Dia meninggalkan Aurel yang masih diselimuti perasaan cemas. Bela menaiki tangga diikuti oleh Alex.


"Bel, apakah Alex akan ke kamarmu juga?." Aurel merasa kurang nyaman saat Bela sering bersama Alex. Terlebih lagi Alex barusaja mengenal Bela bahkan pertama kali mereka bertemu mereka berseteru. Tapi sekarang mereka menjalin hubungan itu membuat penasaran Aurel semakin besar.


Bela berhenti dan menoleh ke bawah.


"Kenapa? apa tidak boleh? kau juga sering berduaan deng Bryan dikamar. Apa aku melarangmu? jangan terlalu egois." Bela menekan kata egois. Lalu dia menggandeng lengan Alex dan segera menuju kamarnya.


Aurel terdiam. Perkataan Bela tepat mengenai hatinya. Bela benar dirinya memang egois. Dan akan terus begitu. Seakan sifat egois itu sudah menempel permanen pada dirinya.


Telpon rumah yang berdering menyadarkan Aurel dari lamunannya. Tidak biasanya telpon rumah berdering dijam malam seperti ini. Dengan penasaran Aurel mengangkatnya.


"Halo."


"Apa ini dengan keluarga Bapak Arron?."


"Iya benar. Ada apa?"


"(...)"


"APA?" Aurel tercengang. Dia tidak percaya apa yang orang diseberang sana katakan.


"(...)"


"Baik kami akan segera kesana." Aurel menutup sambungan telponnya dan segera berlari ke kamar Bela.


"Bel." Aurel menggedor-gedor pintu kamar Bela.

__ADS_1


Pintu kamar Bela terbuka menampilkan wajah datar Bela.


"Ada kabar buruk." Aurel menitikkan airmata. Itu membuat Bela bertanya-tanya.


__ADS_2