Family And Enemy

Family And Enemy
Kacau


__ADS_3

3 tahun sudah berlalu,


Kota semakin maju pesat dibawah kepemimpinan Thomas. Namun tidak sedikit pula yang menentangnya tapi mereka memilih bungkam. Mereka yang telah memilih Thomas merasa menyesal. Hanya pihak tertentu yang mendapat keuntungan.


Andai saja dulu mereka tidak tergiur oleh uangnya pasti hidup mereka tidak seperti sekarang. Yang miskin semakin miskin. Dan yang kaya semakin kaya. Mereka orang miskin tidak berhak atas uang mereka.


Setahun lalu terjadi pengambilan tanah secara terpaksa. Mereka diam atau pilih dibungkam. Para orang atas semakin menginjak-nginjak orang yang ada dibawah. Bukannya membantu mereka Thomas malah mencari keuntungan tersendiri. Kota ini sangatlah kacau.


"Paman, kota ini benar-benar diluar kendali. Banyak orang yang pindah ke kota yang lain demi bertahan hidup." ujar Aurel.


"Itulah yang diinginkan wali kota kita dan para investor kelas atas. Mereka ingin menjadikan kota ini seperti Royal Village. Untuk itu mereka harus menyingkirkan banyak orang."


"Apa Ayah tidak bisa menghentikannya?" Aurel menoleh pada Alden.


"Tidak bisa, itu sudah menjadi kewenangannya. Kita tidak bisa melakukan apa-apa." Alden masih ingat bagaimana Thomas menghianatinya hanya demi uang. Alden berniat untuk tidak ikut campur lagi masalahnya. Dia tidak bisa melawan Thomas. Jujur saja dia menyesal telah mrmbantunya menjadi walikota dulu.


..........


Rupanya kabar tersebut sudah sampai ke telingan Bela dan kelompoknya. Bela turut prihatin atas apa yang terjadi dikotanya.


"Aku akan kembali kesana lagi."


"Baiklah, Sheila ikut kakak." Sheila bersemangat karena ada yang harus dia lakukan disana. Sebuah misi yang bahkan Bela tidak tahu.


"Akan ku siapkan segalanya." Elli bangkit dari duduknya.


"Tidak perlu Kak, kami bisa mempersiapkan barang kami sendiri." Bela menolaknya.

__ADS_1


"Aku tahu, kalian punya rencana yang kami tidak tahu kan?" Sena menebak dari ekspresi wajah mereka.


Sheila dan Bela saling memandang. Sekarang mereka tidak memiliki wajah yang mirip. Biasanya jika mereka bertatapan seperti ini mereka merasa seperti sedang bercermin. Tapi sekarang berbeda, wajah mereka sudah dirubah secara keseluruhan. Hanya warna mata yang tidak berubah.


Sheila dan Bela masuk ke kamar mereka. Mengambil beberapa koper besar dan juga tas. Mereka menekan tombol yang ada di balik lukisan kamar mereka. Lalu terbukalah dinding di samping tombol tersebut. Mereka masuk dan mengambil beberapa topeng wajah silikon koleksi mereka.


"Kakak tidak akan bertanya rencanamu. Tapi jika kau perlu bantuan Kakak siap membantu."


Sheila mengangguk dan tersenyum. Hanya Kakaknya yang bisa memahami Sheila.


"Haruskah kita membawa semua yang ada disini?"


"Jangan berlebihan Sheila. Disana kita bisa menggunakan peralatan Kak Cindy."


.........


"Mereka akan kembali." Cindy menggendong anaknya. Buah cintanya bersama Ben. Mereka menikah setelah kejadian itu dan mereka memilih tinggal di Thailand untuk menutupi kebenaran.


"Biar Tuan Theo saja, aku yakin Bela akan menyuruh kita tetap disini demi keselamatan anak kita." Cindy sudah menduga. Bela tidak akan mengijinkannya kembali.


"Nayla, Paman bawa sesuatu untukmu." Theo datang dengan membawa boneka teddy bear untuk Nayla.


"Tuan tidak perlu repot-repot. Nayla sudah banyak menerima mainan dari anda." Cindy menurunkan Nayla dari gendongannya. Nayla yang senang mendapat mainan baru lagi langsung memeluk hadiah dari Pamannya itu.


"Apa kalian akan kembali?"


"Tidak, Nona Bela tidak akan membiarkan Nayla dalam bahaya." Ben mau ngeluarkan tiket pesawat dari dalam sakunya.

__ADS_1


"Baiklah, aku sendiri yang akan kembali. Aku ingin lihat sedalam apa Albert terluka." Mengingat penghianatan Albert, Theo menjadi sedikit emosi.


"Dia sangat terluka, 2 tahun lalu kami menemuinya untuk sekedar menanyakan soal Nona Bela. Dia mengakui segalanya. Dia bahkan berlutut dihadapan kami sambil menangis. Meminta maaf pada kami. Bodohnya dia menyimpan abu didalam guci mahal." Ben tertawa meratapi nasib Albert kala itu.


"Andai saja dia tidak bodoh dan menuruti perkataan Kakaknya. Dia pasti bahagia bersama keluarga kecilnya saat ini. Kudengar Elvan juga tidak normal."


"Kasian sekali anak itu. Bela yang membuatnya normal seperti anak yang lain. Tapi sekarang Ayahnya yang bodoh membuatnya gila lagi." imbuh Theo.


..........


Aurel tinggal bersama Albert dan Elvan. Meskipun begitu dia tetap merasa kesepian. Setiap waktu dia merindukan Bela begitu juga dengan Albert. Setiap sudut dirumah ini mengingatkannya pada Bela. Memang belum lama Bela tinggal tapi rumah ini serasa menyimpan kanangan tentangnya.


"Paman, aku merindukannya. Paman katakan, apa yang sebenarnya terjadi?" rengeknya pada Albert.


Sudah waktunya Albert mengatakan yang sejujurnya. Albert membawa Aurel ke gudang bawah tanah. Menunjukkan sebuah guci yang bermotif kerang yang terisi penuh oleh abu.


"Ini apa?" Aurel tidak mengerti.


Tiba-tiba Albert berlutut dihadapannya.


"Maafkan Pamanmu ini, aku membunuh Bela dan membakarnya di mansion."


"Apa? Bagaimana Paman bisa melakukan itu? Bela orang baik. Kenapa Paman bisa setega itu?" airmata Aurel tak bisa dibendung. Dia tidak percaya pada apa yang barusaja dia dengar.


"Paman juga tidak ingin. Tapi Paman tidak ingin Bela menderita lebih lama lagi. Ayahmu sangat membencinya."


"Kenapa kalian jahat sekali? Aku benci kalian semua," Aurel berlari keluar. Dia barusaja mendapat keluarganya kembali tapi sebuah luka kembali muncul.

__ADS_1


Didalam kegelapan ada orang lain yang berada di sana. Mendengarkan apa yang barusaja mereka bicarakan. Dia Elvan, anak berusia 8 tahun itu mengerti. Kenapa Ayahnya selalu marah saat dia bertanya tentang Mommynya.


"Aku akan menyakiti orang yang sudah menyakiti Mommyku." gumamnya. Jati diri yang sudah lama terkubur didalam dirinya kini bangkit lagi. Selama 3 tahun ini dia sudah mengendalikan jati dirinya yang lain. Elvan memang masih kecil namun keadaanlah yang membuatnya dewasa.


__ADS_2