
"Terimakasih untuk bantuan anda hari ini. Itu sedikit mengurangi beban di hati saya." Bela berterimakasih kepada wanita itu.
"Maaf tidak bisa memberimu informasi lebih."
"Tidak apa-apa itu sudah cukup bagi saya. Besok saya akan berkunjung lagi kesini, Nyonya Tyra." Bela hendak keluar dari pintu.
"Itu pasti merepotkan." Tyra akan mengantar Bela dan Alex sampai ke mobil mereka.
"Tidak, saya senang melihat anak-anak disini."
"Hati-hati dijalan." Tyra melambaikan tangannya pada Bela. Alex sudah leboh dulu masuk ke dalam mobil.
Saat Bela hendak membuka pintu, tiba-tiba anak laki-laki yang diam menatap Bela tadi berlari kearahnya dan memeluk Bela erat seolah tidak mau kehilangan lagi. Bela kaget dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Don't leave me alone." Anak kecil itu menangis.
"Elvan, lepaskan biarkan dia pergi!!" Tyra mencoba melepaskan pelukan Elvan.
"Tidak, aku ingin ikut Mommy pergi."
"Mommy?" Bela menatap wanita itu.
"Maaf Bela dia ada sedikit gangguan batin." Tyra meringis dan masih mencoba melepaskan Elvan dari Bela.
"Maksutnya?"
"Sebenarnya dia mengalami Post-traumatic Stress Disorder atau PTSD. Elvan mungkin trauma dengan keluarganya. Pasti telah terjadi sesuatu hingga membuatnya trauma. Mungkin dia sangat merindukan kasih sayang seorang ibu. Itu sebabnya dia menganggapmu sebagai Mommynya. Suami saya seorang psikiater makanya Elvan tinggal disini. Dan keadaannya semakin memburuk bahkan suami saya pun sudah mulai putus asa. Elvan jarang berbicara sekarang. Itu membuat kami sangat kesulitan untuk berkomunikasi dengannya." Tuturnya mengenai keadaan mental Elvan.
"Kasian sekali anak ini. Apa keluarganya tidak pernah mengunjunginya?" Bela mengelus puncak kepala Elvan.
"Sama sekali tidak pernah. Kami pihak panti tidak tahu siapa keluarganya. Saat itu ada 2 orang yang memakai masker dan bertudung datang membawa Elvan agar dia tinggal disini dan menormalkan keadaannya. Sampai saat ini tidak ada yang pernah mengunjunginya."
"Dengarkan aku anak tampan! aku akan kembali besok jadi biarkan aku pergi. Aku janji akan kesini besok." Bela melepaskan pelukan Evan dan berjongkok untuk menyejajarkan tingginya.
"Mommy janji?" Evan memelas.
"Iya janji." Bela menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Elvan. Senyuman manis tak luntur dari wajahnya.
"Ini nomer telpon saya. Jika ada apa-apa silahkan hubungi saya." Bela memberikan nomer ponselnya pada Tyra.
"Baik, saya akan menghubungi jika sesuatu terjadi." Tyra menggandeng tangan Evan agar Bela bisa pergi.
"Sampai jumpa besok, Elvan." Bela melambaikan tangan.
__ADS_1
"Bye Mommy." Elvan tersenyum kecut melihat kepergian Bela.
Mobil Alex sudah meninggalkan rumah nomer 57 itu dan menuju Mansion milik Bela.
⚡⚡⚡
Erland sedang sibuk berkutat dengan laptopnya. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini. Apalagi saat dia mendengar kabar bahwa Arron menyerahkan sebagian sahamnya kepada presdir Ryma Corp seakan ada rasa kesal tersendiri.
"Kenapa Arron malah memberikan sebagian kantornya pada Theo jelas-jelas Bela mampu melakukan semua itu? sebenarnya apa yang direncanakan Arron? aku masih tidak menyangka bahwa dia nekat sekali." Erland bersandar pada sofa.
"Pa, Bela barusaja ke panti dan mendapat informasi terkait masa kecilnya." Rio yang datang sambil mengunyah camilan.
"Tahu darimana?" Erland menegakkan kepalanya.
"Rio tahu dari Alex. Dia pergi bersama Bela."
"Kau berkawan baik lagi dengan Alex?"
"Iya, lagian kan emang sering berantem terus kalau udah kelar baikan lagi." Rio mencebikkan bibirnya.
"Kalian sudah dewasa tapi masih bersikap kekanak-kanakan. Akhir-akhir ini Alex sering menempel pada Bela seperti perangko. Dia menyukai Bela?"
"Kayaknya sih iya. Semenjak Alex kenal Bela dia jadi berubah tidak sekejam dan sedingin dulu. Sepertinya dia menemukan kembali cahaya hidupnya."
"Papa juga masih ingat saat bagaimana Alex menyiksa orang hanya karena kesalahan kecil yang tidak disengaja. Sudah keluar sana!! jangan mengganggu Papa bekerja." Erland mengusir Rio dari ruang kerjanya agar dia tidak menganggu.
"Papa doyannya tempe. Udah sana pergi hussh." Erland kembali mengusir Rio.
"Iya, Rio pergi. Tapi proyek di kota sebelah udah kelar. Rio minta liburan. Hore liburan." Rio kegirangan.
"Terserah."
"Rio sayang Papa." Rio melayangkan ciuman sebelum keluar dan menutup pintunya.
Erland menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rio. Dia akui bahwa Rio masih kekanak-kanakan tapi dibalik sifatnya itu Rio sungguh bijaksana. Dan seketika Erland mengingat Bela.
"Bukannya Nessi sudah tiada 3 tahun yang lalu? apakah Bela berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan? tapi mungkin saja Nessi menuliskan sesuatu tentang siapa orangtua kandung Bela." Erland bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Eh, panti? bukannya Nessi juga sudah pindah? biarkan Bela mencari sendiri aku tidak perlu ikut campur. Suatu saat pasti kebenaran akan terungkap juga."
⚡⚡⚡
Bela sedang belanja di supermarket yang tidak jauh dari pemukiman Greet. Sedangkan Alex sudah pulang duluan ada keperluan mendadak. Tadinya Alex ingin mengantarkan Bela sampai mansionnya tapi Bela menolak dan memilih turun di supermarket terdekat untuk belanja sedikit keperluannya.
__ADS_1
Selesai belanja dia berdiri di pinggir jalan sembari meminum teh dingin yang dibelinya dan menunggu taxi. Tapi tidak ada taxi yang lewat mungkin karena ini sudah malam atau memang tidak ada taxi yang lewat dijalan ini. Bela memutuskan untuk memesan taxi online saja.
Tiba-tiba ponselnya mendapat panggilan dari nomor tidak dikenal. Bela penasaran dan langsung mengangkatnya toh dia juga sedang menunggu taxi yang dipesannya datang.
"Halo."
"Maaf nona Bela, Elvan tiba-tiba demam tinggi. Dia terus menyebut mommynya. Saya tahu ini merepotkan tapi tolonglah kemari. Nyawa Elvan bisa dalam bahaya." Terdengar sangat panik.
"Baik, saya akan kesana. Saya juga belum jauh dari pemukiman Greet. Tunggu 10 menit aku akan sampai disana." Bela memutuskan sambungan telponnya. Kebetulan taxi yang dia pesan datang tepat waktu. Tanpa basa-basi Bela langsung masuk.
"Pak rumah nomer 57 pemukiman Greet."
"Tapi itu tidak sesuai pesanan, Nona." Sopir taxi menoleh pada Bela.
"Saya akan membayar 3 kali lipat. Ini keadaan darurat, Pak." Bela berusaha meyakinkan.
"Baik, jika untuk keadaan darurat." Sopir taxi melajukan kendaraannya ke alamat yang Bela minta.
Sementara itu....
Elvan menggigil kedinginan. Suhu badannya sangat tinggi hingga membuat bibirnya memucat.
"Mommy..." Elvan terus memanggil Mommynya.
Tyra dan 2 rekannya sangat panik. Mereka sudah melakukan beberapa cara untuk bisa menurunkan suhu tubuh Elvan namun tetap saja. Tyra berpikir jika Bela datang pasti Elvan akan sedikit membaik. Tyra juga paham tentang apa yang dirasakan Elvan. Pasti Elvan sangat menginginkan kasih sayang seorang ibu dan Elvan menemukan itu di dalam diri Bela. Tyra yakin hanya itu yang bisa menormalkan keadaan mentalnya. Melihat betapa buruknya keadaan mental Elvan, Tyra yakin sangat yakin hanya Bela yang bisa.
Bela barusaja sampai di panti asuhan. Dia menyuruh sopir taxi untuk menunggunya agar dia tidak perlu memesan taxi online lagi.
Bela mengetuk pintu dengan tergesa-gesa karena dia sangat khawatir terlebih lagi ini masalah nyawa. Dari dalam rumah Tyra berlari kecil menuju pintu dan segera membukanya.
"Cepat masuklah!!"
Tanpa lama-lama Bela masuk dan menemui Elvan. Hatinya seperti teriris belasan pisau melihat Elvan dalam keadaan seperti ini. Bela memeriksa suhu tubuh Elvan dengan menempelkan punggung tangannya pada kening Elvan.
"Kita harus membawanya ke rumahsakit." Bela menggendong Elvan membawanya keluar.
"Saya akan ikut. Kalian jagalah anak-anak yang lain!" Titah Tyra pada 2 rekannya. Setelah itu Tyra mengikuti Bela. Mereka menaiki taxi online yang Bela peaan tadi untuk membawa Elvan ke rumahsakit.
Sedangkan ditempat lain...
"Nona Bela telah membawa tuan muda ke rumahsakit, Bos." Salah satu anak buah memberikan informasi kepada pimpinan mereka melalui telpon.
"Sepertinya putraku telah memilih ibunya sendiri. Tetap pantau dari jarak jauh serta laporkan perkembangan kesehatannya padaku!!" Bos mereka memberi perintah. Setelah itu sambungan telpon terputus.
__ADS_1
Elvan anak siapa? apa ini bagian dari rencana orang yang akan menjatuhkan Bela?
Jangan lupa like dan komen agar Author lebih semangat lagi😊.