Family And Enemy

Family And Enemy
Bercanda


__ADS_3

Hari menjelang petang. Matahari mulai sembunyi keberadaannya digantikan oleh bulan. Bela termenung di balcon kamarnya sambil menikmati hembusan angin.


Kenapa aku merasa angin ini mengantarkan rindu seseorang padaku. Oh ayolah Bela, Hentikan pemikiranmu yang konyol itu. Harusnya kita ke makam ayah.


Bela menghentikan pemikirannya dan segera ia mengambil tas selempang dan jaket miliknya. Bergegas ia keluar kamar.


Tampak dari bawah Bela sedang menuruni tangga membuat kedua gadis yang sedang santai nonton tv melihatnya sekilas dan mereka mulai berargumentasi masing-masing.


Bela pasti akan mengajak aku dan Elli. Tapi kan pemakaman kalau malam hari gini kan serem.


Sena bergidik ngeri sambil mengusap leher bagian belakangnya.


Aku tidak bisa menemaninya. Lihatlah gadis disampingmu Elli, dia pasti memikirkan hantu lagi. Kalau kau meninggalkannya sendiri di mansion entah apa yang akan terjadi dengan bentuk perabotan didalam. Kau akan banyak kehilangan uangmu hanya untuk renovasi saja.


Elli mengedarkan pandangannya menatap seisi mansion ini.


"Kakak apa kalian ingin ikut?" tawar Bela pada kedua gadis itu.


"Tidak Bela. Kau tahukan kalau malam hari pemakaman sangat menyeramkan. Aku jadi ingat satu cerita hantu di pemakaman." Sena menolak. Ia sedang mengingat-ingat cerita hantunya.


"Apakau sedang membicarakan hantu lagi? ku mohon padamu nona Sena yang terhormat, hentikan. Kisah hantumu itu selalu membuatku kenyang." Elli menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada. Mereka mulai berdebat.


"Oke. Aku akan pergi sendiri." Bela menengahi perdebatan mereka.


"Maafkan aku Bela. Aku tidak bisa menemanimu. Jika aku meninggalkan dia sendiri disini, Entah apa yang akan terjadi di dalam mansion ini." Elli merasa tidak enak hati pada Bela.


"Tidak apa-apa kak. Aku berangkat ya." Bela keluar dari mansion menuju garasi. Banyak sekali berbagai macam mobil yang terparkir rapi di garasi. Garasinya pun cukup luas.


"Aku harus pakai mobil yang mana?" Bela bingung harus memakai mobil yang mna. Hingga Bela memutuskan untuk memakai mobil yang sudah ada diluar. Bela bergegas keluar garasi dan menemui sopir pribadi.


"Anda mau pergi kemana nona muda?" pak supir yang tadinya duduk kini bangkit dan membungkuk memberi salam.


Bela membalas dengan membungkuk juga.


"Saya hanya ingin ke makam saja pak. Saya ingin pinjam mobil sebentar."


"Perlu saya antar nona?"


"Tidak perlu pak. Hanya cukup berikan saya kunci mobilnya. Saya bisa menyetir sendiri pak." Pak supir pun langsung memberikan kunci mobil pada bela lalu membungkuk lagi.

__ADS_1


"Terimakasih pak." Bela juga membalas dengan sedikit membungkuk.


Bela segera memasuki mobil. Dia tidak ingin berlama-lama. Mobil segera melaju keluar kawasan hutan.


Ayo Bela. Akhirnya aku bisa bebas. Aku akan menjadi Bela yang dulu. Bela yang kuat. Bela yang tegar. Dan juga Bela yang nakal. Ya aku Gabela Zoffany sudah kembali. Gabela si pembuat onar sudah kembali.


-----------


Erland bersama sang istri dan anaknya sedang menikmati makan malam dengan damai. Keluarga kecil yang harmonis.


Hingga dering ponsel Erland menghentikan kegiatan mereka.


Drrt drrtt


Erland menatap anggota keluarganya menyuruh untuk melanjutkan makan mereka. Lalu Erland menerima telpon tanpa meninggalkan kursinya.


"Halo." Erland mulai berbicara.


"Halo Tuan. Ada wanita yang mirip dengan nyonya Emilia mengunjungi toko bunga saya barusan." Jawab orang yang menelpon Erland. Terdengar seperti seorang wanita.


"Ha ? apa maksutmu ?" Erland terlihat tidak mempercayai perkataan wanita disana.


"Saya tidak berbohong tuan. Saya juga sedang mengikuti wanita itu. Kini wanita itu mengunjungi makam tuan Satya. Apa dia putri tuan Satya dan nyonya Emilia tuan?"


" Tadi wanita itu membeli seikat bunga tulip tuan."


"Terimakasih atas infonya."


"Iya tuan."


Erland mematikan sambungan teleponnya. Dia tersenyum senang dan melanjutkan makan.


" Ayah kenapa ? Sepertinya ayah senang sekali. Ada apa ayah?." Tanya Mario yang penasaran dengan perubahan ayahnya.


"Tidak Rio. Ayah baik-baik saja. Hanya saja putri lain dari mamamu ini sudah kembali pulang." Erland melirik istrinya.


"Apa Bela sudah pulang? kenapa tidak memberi tahu kita?" Maya berteriak kesal.


"Tidak perlu berteriak Ma. Ayah barusaja tahu beberapa menit yang lalu. Tapi aku heran, bagaimana bisa dia lolos dari bandara. Padahal akhir-akhir ini aku menempatkan banyak tim keamanan disana." Erland menenangkan sang istri.

__ADS_1


"Dia itu putriku. Putriku yang sangat hebat." Maya tersenyum bangga.


Maya menginginkan seorang putri namun tuhan berkehendak lain. Rahimnya diangkat setelah ia menderita kanker di rahimnya. Maya sangat menyayangi Bela seperti anaknya sendiri.


-------------


Di mansion Sena dan Elli mondar-mandir di depan pintu. Kelihatannya mereka sedang mencemaskan Bela.


"Hishhh. Kemana anak itu? sudah pukul 10 belum juga pulang." Elli menggerutu.


"Tenanglah Elli. Sebentar lagi pasti dia pulang. Kita tunggu saja." Sena mencoba menenangkan Elli agar tidak terlalu cemas.


Tak lama kemudian terlihat pintu gerbang terbuka. Mobil warna putih masuk dengan kecepatan tinggi dan berhenti tiba-tiba. Pintu terbuka tergesa-gesa. Bela keluar dengan nafas yang memburu. Sena dan elli pun semakin cemas.


"Ada apa Bela?." Elli menghampiri dan langsung memegang kedua tangan Bela.


"Kita masuk dulu kak. Akan ku ceritakan didalam." Mereka buru-buru masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Ceritakan Bela. Apa yang terjadi." Sena bertanya.


Sebelum menjawab Bela meraih gelas berisi air putih dan menengguknya habis.


"Bela katakan! Apa yang terjadi?." Elli mengguncang pundak Bela.


"Tidak ada. Kenapa kalian khawatir?." Jawab Bela enteng.


"Tidak ada? lalu kenapa kau pulang selarut ini? Kau membuat kami cemas." Teriak Elli yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.


Sena dan Bela menutup kedua telinganya. Mereka tidak ingin gendang telinga mereka pecah karena Elli.


"Kukira kau habis dikejar hantu. Lagipula kau keluar mobil sambil ngos-ngosan." Sena mulai membicarakan hantu lagi.


"Kak Elli ini belum larut malam. Ini masih jam 10 lewat 15 menit. Dan kak Sena aku tadi hanya bercanda. Maaf aku membuat kalian cemas." Bela menjawab pertanyaan yang dilontarkan mereka satu persatu.


"Huh.. Kau selalu membuat kami khawatir dan itu kau bilang bercanda. Aku sangat tidak bisa mengerti dirimu Bela." Elli meninggalkan Bela. Dia terlihat marah sekaligus sedih.


"Iya aku juga tidak bisa menebak jalan pikiranmu." Sekarang Sena yang marah dan meninggalkan Bela.


"Oh ayolah. Aku tidak sengaja. Aku minta maaf kakak. Ada yang belum aku ceritakan pada kalian tentang kejadian tadi." Pernyataan Bela membuat kedua kakaknya berhenti melangkah. Sena dan Elli menoleh melihat Bela. Seolah mata mereka mempertanyakan apa yang belum Bela ceritakan.

__ADS_1


"Oke. Oke. Aku akan menceritakannya besok pagi. Sekarang waktunya kita istirahat. Selamat malam kakak-kakakku yang cantik dan baik hati." Bela mengucapkan selamat malam dengan senyuman yang manis, semanis gula. Bela berlalu menuju kamarnya dan istirahat.


Aku tidak ingin membuat kalian khawatir. Aku tau hari ini kalian sudah cukup lelah. ~Bela


__ADS_2