
Bela diam memperhatikan cctv yang ada diatasnya.
"Tenang saja aku sudah menghentikan waktunya." Cindy melihat Bela dari layar monitor.
Dengan cepat Bela membuka brankasnya dengan password yang Theo berikan tadi.
Mulut mereka berdua ternganga lebar. Bagaimana tidak? mereka tidak pernah melihat uang sebanyak ini. Ada 7 koper serta 1 kotak berlian yang kalau ditotal harga mencapai milyaran.
"Kalau isinya uang semua, tas kita mana muat?" Elli membuka resleting tas yang dia bawa.
Bela mengambil kotak merah besar yang berisi berlian. Dengan cepat dia keluarkan semua berlian yang ada ke dalam kantong hitam khusus. Sedangkan Elli fokus memindahkan uang dari dalam koper ke tas.
Semuanya sudah selesai, mereka mengembalikan koper serta kotak ke tempat semula. Ternyata tas mereka hanya bisa menampung uang 5 koper saja. Mereka meletakkan koper yang masih berisi uang itu diatas agar tidak banyak yang curiga. Kalau berliannya mereka ganti dengan berlian palsu.
"Semua sudah selesai, kita akan kembali." Bela memberi laporan pada Cindy.
"Tunggu aba-aba dariku lagi," Cindy masih fokus dengan layar monitor didepannya.
Bela dan Elli kembali ke saluran udara yang mereka lewati tadi. Tidak lupa juga Bela menutup ujung saluran udara seperti semula dan sedikit tambahan paku lunak agar lebih kuat.
"Aduh, tasnya tersangkut." Elli menarik tasnya agar cepat keluar dari saluran udara. Bela sudah sesak napas didalam. Dengan penuh tenaga dia mendorong tas yang tersangkut menggunakan kakinya. Elli terkejut mendapat dorongan dari dalam.
"Gila nih uang berat benget, uang haram nih pasti." Elli menyeret tas.
__ADS_1
"Enak aja, itu uang Kak Arron. Mereka berpikir bisa menggunakan uangnya setelah melenyapkannya." Bela kembali membenarkan posisi kumis palsunya.
Cindy memicingkan matanya melihat pemandangan yang tidak biasa. Bahkan apa yang dia lihat itu termasuk blue film.
"Mataku ternodai," Cindy berdecih.
"Ada apa?" mereka bertiga serentak menanyakan hal yang sama.
"Nanti kuberi tahu, sekarang kalian bisa keluar dari ruangan CEO. Aku juga sudah selesai dengan pekerjaanku." Cindy mulai mematikan satu persatu layar monitor didepannya.
"Baiklah, kita berkumpul di atap." Elli dan Bela sudah keluar dari ruang CEO. Mereka membawa tas bawaannya menuju atap gedung.
"Heh, udah beres?" Cindy menendang kaki Sena pelan.
"Hosh," Elli mengatur napasnya. Sulit mengimbangi jalannya Bela. Apalagi dia membawa beban yang tidak ringan.
"Nih, udah. Mana berat lagi," Elli membanting tas yang berisi uang didepan kaki Sena.
"Buset dilempar," Cindy tertawa.
"Apa mereka sudah sampai?" tanya Sena sembari mengangkat tas didepannya.
"Mereka sudah ada didepan sana." Sahut Bela.
__ADS_1
Sena berusaha untuk melempar tasnya ke gedung didepan. Jarak dari tempat mereka berdiri dan gedung itu hanya 2 meter setengah.
Dan hap, Theo menangkapnya dengan tepat. Sekarang mereka bisa bernapas lega.
"Nggak sia-sia aku jadi mantan atlit." Sena membanggakan diri sendiri.
"Sekarang uang itu jadi urusan dia. Kita harus turun secepatnya agar tidak ada yang curiga."
Mereka segera turun ke lantai dasar. Bru saja mereka keluar dari lift para petugas keamanan langsung memeriksa tas bawaan mereka. Untung saja mereka tidak membawa alat apapun. Hanya beberapa pasang lampu dan alat-alat kelistrikan lainnya.
Mereka sempat panik tapi petugas keamanan tidak menemukan alat yang mencurigakan. Llu mereka di biarkan untuk pergi dari sana.
"Yess, kita berhasil." Gumam Elli pelan.
"Kita lihat besok bagaimana paniknya mereka melihat kopernya kosong dan juga berliannya palsu."
"Sekarang tengah malam, bisakah kita makan pizza?" Sena kelaparan sejak tadi.
"Kita ke restoran Diamond saja,"
"Oke," Sena kegirangan.
Kalian tidak akan mendapatkan sepeserpun uang kakakku. Kalau pun kalian mencurinya, aku akan mencurinya balik. Bela membatin.
__ADS_1