Family And Enemy

Family And Enemy
Bab 52


__ADS_3

Aurel berjalan mendekati Bela. Tangannya menggenggam pisau buah yang ada dimeja. Dengan penuh emosi Aurel menancapkan posau itu ke perut Bela. Namun Bela sadar dan bergerak. Pisau itu malah mengenai pahanya.


"Apa yang kau lakukan?" teriaknya sambil memegangi pahanya yang berdarah.


"Hidupku hancur gara-gara kau." Aurel menarik pisaunya dan berniat untuk menusuknya lagi.


Bela mendorong Aurel hingga terbentur meja dan dahinya berdarah. Aurel mengadu kesakitan. Kesempatan itulah digunakan Bela untuk kabur dan menyelamatkan diri. Kondisi tubuhnya sangat tidak memungkinkan untuk melawan. Sungguh rasanya dia ingin pingsan. Dress putihnya berlumuran darah dibagian paha.


Bela lari menuju mobilnya. Aurel bangkit dan mengejarnya. Setelah Bela sampai didalam mobil dia menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari rumah.


"Kenapa perih sekali?" rintihnya.


"Aku harus kemana?"


Bela bingung. Theo baru berangkat keluar kota dan Cindy pasti kelelahan setelah mengurus pernikahannya tadi. Elli dan Sena juga sudah tidak ada bersamanya. Hanya satu nama yang terlintas dibenaknya yaitu Albert. Tanpa basa-basi dia mencari alamat rumah Albert di ponselnya. Untung saja lalulintas tidak terlalu ramai. Jadi lumayan aman untuk mengebut.


Albert memandangi cincin yang tersemat dijarinya. Selama ini dia tidak memakai cincin karena memang dia tidak menyukainya. Tapi berbeda jika itu cincin pernikahannya.


"Sulit dipercaya, aku bahkan tidak bisa tidur sekarang. Semua gara-gara Theo merencanakan ini terlalu mendadak." Gumamnya.


"Tapi tidak apa-apa, Elvan punya keluarga yang utuh lagi. Kakak dan kakak ipar pasti melihat dari atas sana." Albert menyelimuti Elvan yang tertidur di sampingnya.

__ADS_1


Ting tong


Albert mengerutkan dahinya. Siapa yang bertamu dijam 2 pagi seperti ini?


Dia turun dan membuka pintunya. Dia kaget melihat siapa yang berdiri didepan pintunya.


"Bela?" tanyanya memastikan.


Bela melangkah maju. "Kepalaku pusing," keluhnya.


Albert mencoba menyadarkan dirinya. Dia berpikir bahwa dia sedang bermimpi atau halusinasi sekarang.


Pandangan Bela mulai mengabur. Darah dipahanya terus mengalir membasahi dress warna putih tulangnya. Albert melihat noda darah di dressnya yang masih basah. Sungguh menyeramkan ditambah lagi wajah Bela yang pucat. Seperti diadegan film horor.


Dokter Sam keluar dari ruangan tempat Bela dirawat.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Albert.


"Dia akan segera siuman. Untung saja luka dipahanya tidak terlalu dalam tapi itu bisa dikatakan cukup dalam. Ditambah lagi kondisi badannya yang kurang sehat membuat dia harus dirawat disini selama 2 hari." Tuturnya mengenai kesehatan Bela. Albert mengangguk mengiyakan apa yang baru saja diucapkan Dokter Sam.


"Tapi kau siapanya?"

__ADS_1


"Aku suaminya."


"Jangan bercanda, Eto." Dokter Sam terkekeh.


"Aku tidak bercanda, Sam. Aku baru menikahinya pukul 5 sore tadi."


"Kenapa kau tidak mengundangku?" Dokter Sam memukul pundak Albert.


"Percayalah tidak ada temanku yang kuundang tadi."


"Terserah, sekarang lihatlah keadaan Kakak ipar." Dokter Sam mendorongnya masuk ke kamar rawat Bela.


⚡⚡⚡


Thomas bangun dari tidurnya. Dia menyadari bahwa ini sudah hampir pagi. Tanpa membangunkan Dyra dia berniat pergi. Tapi sebelum pergi dia melihat noda darah di sofa depan.


"Ini darah siapa?" Dia berjalan mengikuti jejak darah yang mengarah keluar.


"Sepertinya sebentar lagi keluarga ini akan hancur. Sebenarnya sudah tapi semenjak gadis sialan itu kembali semua menjadi terkendali lagi. Ah sudahlah, nikmati saja tanpa perlu ikut campur."


Sudah sejak lama Thomas ingin menghancurkan keluarga Bela. Tapi selalu ada yang menghalangi.

__ADS_1


Dulu Thomas dan ayahnya Bela berteman dekat tapi setelah perusahaan ayahnya Bela maju dan berhasil dia jadi iri dan ingin memilikinya. Kenapa selalu orang lain yang berhasil? kenapa tidak dirinya?


Namun setelah ayahnya Bela tiada, perusahaan itu terpecah belah karena para pemegang saham terlibat konflik yang berkepanjangan. Dan akhirnya perusahaan itu bangkrut dan dijual. Sekarang perusahaan itu dibeli oleh Theo dan menjadi Ryma Corp.


__ADS_2