Family And Enemy

Family And Enemy
Teror


__ADS_3

Pagi ini Aurel terlihat tidak bersemangat. Bawah matanya terlihat menghitam. Dia tidak tidur semalaman.


"Makan sarapanmu!!" Dyra menyodorkan sepotong roti sandwich.


Aurel meliriknya sekilas, tampaknya dia tidak tertarik sedikit pun. Dia memilih berbaring disofa ruang tamu.


Dyra merasa geram. Kalau Aurel tidak makan bisa-bisa dia jatuh sakit dan Dyra tidak mau itu terjadi.


"Tenanglah, polisi pasti tidak akan menemukan bukti apapun. Mama sudah menghapus seluruh rekaman CCTV. Jadi kau bisa tenang." Dyra menyentuh rambut putrinya.


Aurel sedikit tenang setelah mendengar perkataan Mamanya. Akhirnya dia mau makan sandwich walau hanya sepotong. Dyra tersenyum tipis.


..."Gadis yang diduga bunuh diri di kampus terbaik dikota ini dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami keadaan kritis. Jenazahnya dibawa pihak keluarga ke kota kelahirannya pukul 1 dini hari tadi. Polisi sudah bekerja sama dengan pihak kampus untuk menyelidiki penyebab kematiannya. Polisi menyatakan gadis itu bunuh diri karena depresi."...


Aurel kaget dengan berita pagi yang tengah tayang di salah satu stasiun tv ternama. Dyra segera mengambil remot untuk mematikan televisi.


"Itu lebih baik." Aurel bergumam.


"Lihat! tidak ada yang perlu di khawatirkan." Dyra tertawa.


Aurel berdiri meregangkan otot-otot tubuhnya. Saatnya untuk mengubah penampilannya agar tidak ada yang curiga padanya.


Bela barusaja sampai dirumahnya. Dia memarkirkan mobilnya dihalaman. Keadaannya sangat miris. Rambut yang berantakan dengan sedikit pucat diwajahnya. Dia masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang campur aduk.


"Bela?" Dyra memanggilnya tapi Bela tidak berhenti maupun menoleh. Bela tetap melangkah.


Kondisi Bela terlihat memprihatinkan. Dyra merasa kasihan. Tapi rasa benci dan egonya mengalahkan rasa kasihannya terhadap Bela.


Satu jam kemudian ada beberapa orang yang membawa setumpuk kotak hadiah dan beberapa buket bunga.


"BELAAAAA." Teriakan Dyra bergema di seluruh penjuru rumah.


Ini apalagi ya tuhan?


Bela keluar kamarnya dengan malas.


"Ini semua untukmu." Dyra menyilangkan kakinya duduk di sofa.


"Dari siapa, Ma?" Bela duduk di sofa dengan santainya.


"Mana Mama tahu."


"Wah, banyak sekali hadiah untukmu." Aurel baru datang.


"Ini dariku. Selamat Ulang Tahun!!" Aurel menyerahkan bingkisan ditangannya. Bela menerimanya dengan malas.


"Makasih," Bela membuka langsung bingkisan itu didepan orang yang memberikan. Ternyata isinya adalah parfum terwangi dan termahal dikota.


"Dan ini dari Mama." Dyra menyodorkan kotak kecil berisi kalung berliontin angsa hitam.


"Makasih Ma," Bela menerimanya dengan malas pula. Sebenarnya ini kali pertamanya Bela mendapat hafiah ulangtahun dari Dyra. Harusnya dia merasa senang tapi Bela malah merasa jengah dengan semua drama yang sedang mereka perankan.


"Cepatlah buka semua hadiah-hadiah ini!!" Aurel sangat bersemangat sekali. Sampai dia lupa hadiah ini milik Bela bukan miliknya.


"Bukalah sendiri!! aku malas dan tidak tertarik dengan ini semua." Bela memakan biskuit favorit milik Dyra.


"Ah baiklah," dengan tidak tahu malu, Aurel membuka kotak-kotak hadiah yang bukan miliknya.

__ADS_1


"Wah, ini jaket rancangan terbaru dari brand ternama. Ini dari direktur Hotel Rose." Aurel membuka kotak pertama. Style jaket itu tidak sesuai dengan Bela. Terlihat sangat glamour dan terlalu berlebihan.


"Ambil saja kalau kau mau. Lagipula itu tidak cocok denganku."


"Terimakasih, ini styleku." Aurel memeluk jaket mewah itu.


"Direktur Hotel Rose? apa kau kenal dengannya?" Dyra menoleh pada Bela.


"Tidak, aku bahkan tidak mengetahui wajahnya." Bela menggeleng.


"Lalu kenapa dia mengirimimu hadiah?"


"Hadiah semua ini untuk pemilik Restoran Diamond. Bukan untuk Bela. Jadi Mama tidak perlu khawatir, orang-orang tidak ada yang mengenalku sebagai pemilik Restoran Diamond."


"AARRRRGGH," tiba-tiba Aurel berteriak dan melempar kotak berpita warna hijau.


Bela dan Dyra langsung berdiri dan segera menghampiri Aurel yang sudah histeris duduk di lantai.


"Ada apa?" Dyra memeluk putrinya.


"Itu...Itu ada bangkai tikus." Aurel menunjuk kotak hijau yang tadi dia lempar. Bela yang penasaran langsung memeriksa apa isinya. Ternyata benar isi kotak hijau itu adalah 3 bangkai tikus yang belum lama membusuk. Bela menutup hidungnya dengan tangan. Sungguh dia merasa mual setelah mencium aroma tidak sedap dari bangkai.


"Siapa yang mengirim itu?"


"Itu pasti salah satu dari orang yang tidak menyukaiku, Ma." Bela menjauhkan dirinya dari bangkai.


"Pelayan!! buang bangkai tikus itu dan buka sisa hadiahnya!!" titah Bela kepada beberapa maid.


Bela terlihat berpikir serius sedangkan Aurwl masih sangat terkejut. Bahkan dia sedang mual sekarang.


"Nona, ini semua berisi hadiah yang harganya fantastis." Laporan dari salah satu maid.


"Baik, Nona." Para maid mulai memindahkan barang-barang ke gudang belakang.


Bela ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan tasnya. Rencananya hari ini Bela akan menemui Elvan. Dia sangat merindukannya.


"Kau mau kemana?" Dyra menghentikan Bela tepat didepan pintu.


"Bela ingin pergi sebentar, Ma."


Setelah 45 menit akhirnya Bela sampai di panti. Hari ini anak-anak tidak ada yang bermain diluar mungkin mereka sedang belajar didalam. Bela mengetuk pintu lalu salah satu anak mrmbukanya.


"Kakak, masuklah!!"


Bela mengangguk dan masuk ke dalam.


"SELAMAT ULANGTAHUN KAKAK!!!" Semua anak-anak mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bela. Bela sempat terkejut dan tidak menyangka.


"Terimakasih,"


"Ini kami yang buat. Silahkan dicoba!!" anak-anak menyuguhkan berbagai jenis kue kering yang mereka buat sendiri.


Setiap melihat makanan mata Bela selalu berbinar. Bela mencomot kue keju dan memakannya.


"Maaf hanya ini yang bisa kami buat." Tyra menunduk.


"Ini sudah lebi dari cukup. Kue ini rasanya enak sekali." Bela mencomot lagi kue keju yang tadi.

__ADS_1


"Kalau tidak keberatan, buatlah kue-kue ini lagi! nanti aku akan menjualnya di cafe-cafe kecil milikku."


"Aku sama sekali tidak keberatan. Hitung-hitung untuk nambah uang bulanan." Tyra bersemangat.


"Besok aku akan menyuruh beberapa orang untuk mengambilnya."


"Hmm, iya. Kau ingin membawa Elvan kan?"


"Iya, bolehkah?"


"Tentu saja. Elvan juga pasti merindukanmu. Benarkan Elvan?" Tyra menoleh pada Elvan yang tengah memegang kotak hadiah yang sedikit besar.


"Ini untuk Mommy." Elvan memberikan kotak yang dia pegang.


"Terimakasih, Sayang. Ayo kita pergi! Mommy tidak bisa berlama-lama disini."


Bela dan Elvan masuk ke mobil.


⚡⚡⚡


"Mah, itu tadi sangat menjijikkan. Apa itu sebuah peringatan?" Aurel meminum obat mual. Setelah kejadian tadi dia terus mual-mual bahkan sempat muntah juga.


"Tapi itu ditujukan untuk Bela. Siapa dibalik itu?" Dyra terlihat berpikir.


Bela dan Elvan barusaja sampai. Dan mereka melihat kedatang Bela dan Elvan dengan penuh penasaran.


"Bela, itu anak siapa?" Aurel bertanya karena sudah sangat penasaran. Ditambah lagi dia gemas melihat Elvan yang tampan dan juga imut.


"Elvan anaknya Mommy." Dengan lantang Elvan mengatakan itu.


"Apa kau hamil muda saat di Australia?"


Bela memutar bola matanya jengah. Dia malas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol itu. Sedangkan Aurel, dia mendekati Elvan dan mencoba untuk menyubit pipinya. Elvan yang tidak suka dicubit itu pun langsung menggigit tangan Aurel hingga berbekas.


"Aww," Aurel menjauhkan tangannya dari Elvan. Bela hanya ingin tertawa.


"Ayo Elvan kita ke kamar saja." Bela menggandeng tangan Elvan menaiki tangga.


"Darimana Bela mendapatkan anak psikopat itu. Uh kulit tanganku hampir saja robek. Rasanya sakit sekali." Aurel mengadu kesakitan.


Rasanya aku tidak asing dengan anak itu. Aku pernah melihatnya tapi dimana?


Dyra terus mengingat-ingat dimana dia melihat wajah Elvan.


Ini sudah hampir tengah malam, Bela belum tidur. Dia masih memantau keuntungan penjualan bulan ini.


Ditengah keseriusannya tiba-tiba dia mendengar suara kaca yang pecah. Dengan sedikit panik Bela keluar dari kamarnya dan mencari sumber suara. Ternyata pintu kaca lantai dua yang pecah. Bela merasa jika pintu kaca itu tidak mungkin pecah karena suhu malam yang cenderung dingin.


"Apa yang pecah?" Dyra baru keluar kamar.


"Pintu kaca itu yang pecah, Ma." Bela menunjuk.


"Tidak mungkin bisa pecah hanya karena cuaca yang sedang dingin."


"Bela juga berpikir seperti itu. Kalau dilihat-lihat itu seperti ditimpuk sesuatu batu misalnya."


Bela mendekati pecahan kaca yang berserakan. Tidak sengaja dia menendang sesuatu yang berbungkus kertas. Karena penerangan sedikit minim Bela tidak bisa melihat jelas. Dyra menyalakan lampu dan seketika mata Bela melihat dengan jelas adanya batu yang dibungkus kertas. Bela mengambilnya dan membaca tulisan yang ada dikertas itu.

__ADS_1


"Kalian harus mati? kalian tidak pantas hidup?"


Dyra tidak percaya apa yang dia dengar dari Bela. Dia merampas kertas itu dan membacanya sendiri. Seketika jantungnya berhenti bekerja untuk sesaat. Badannya lemas dan bersimpuh dilantai. Tulisan itu ditulis menggunakan darah segar. Dyra sangat phobia dengan darah. Bela yang melihat Mamanya duduk lemas dilantai hanya menyilangkan tangannya didepan dada.


__ADS_2