
Hari sudah menjelang gelap. Aurel dan Bryan baru saja pulang. Mereka sedang mengobrol di kursi halaman depan dengan ditemani beberapa cemilan.
"Bray, nggk mau masuk beneran?" tanya Aurel.
"Disini saja. Kenapa Bela belum juga pulang?"
Mendengar nama Bela, Aurel jadi tidak mood.
"Mungkin masih dijalan."
Bela lagi Bela lagi. Kenapa Bryan berubah setelah ada Bela?
Tidak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki gerbang dan berhenti tepat di belakang mobil Bryan yang terparkir. Bryan kenal betul dengan mobil itu. Dia sudah tidak asing lagi. Mobil itu milik orang yang sangat dia kenal.
Alex keluar dari mobilnya begitu pula dengan Bela. Sebenarnya Bela bisa jalan sendiri hanya saja sedikit lebih lambat dari biasannya tapi tetap saja Alex masih membantunya. Bela sudah bilang dia bisa jalan sendiri. Tapi Alex sangat keras kepala.
"Aku bisa jalan sendiri, Bapak Aex yang terhormat." Bela mencoba melepaskan tangan Alex dari lengannya.
"Maaf nona Bela aku hanya berusaha menjadi teman yang baik." Alex tetap tidak mau melepaskan tangannya.
"Ah ribet."
"Diamlah, aku ingin segera ke toilet." Bisik Alex.
"Oke, kamarku ada di lantai 2." Bela juga ikut berbisik. Mereka sudah memasuki ruang tamu dan akan menaiki anak tangga.
"Alex? Bela kenapa?" tanya Dyra yang baru saja dari dapur.
"Ah tante, tadi kaki Bela bengkak karena terkilir jadi saya antar pulang sekalian." Alex menoleh pada Dyra.
"Oh begitu. Apa kalian pacaran?"
"Iya tante, baru aja jadian tadi." Alex menjawabnya santai. Bela hanya menatap Alex datar.
Ni anak ngomong apasih?
"Yasudah, tante ikut senang." Dyra tersenyum manis.
"Iya tante, Alex mau kekamar Bela dulu. Permisi." Alex langsung mendorong Bela untuk segera naik ke kamarnya. Setelah sampai di kamar, Alex segera menutup pintunya.
"Eh masih sakit lho kakiku, main dorong-dorong aja." Bela mengadu.
"Kita sedang bermain game. Sedikit drama tidak apa-apa kan?"
"Sungguh aku tidak mengerti. Drama apa yang sedang kau mainkan." Bela benar-benar hilang akal.
Alex tidak menggubrisnya. Dia masuk ke kamar mandi Bela untuk menuntaskan hajatnya.
Bela kesal, dia memilih mengganti bajunya dia ruang ganti.
Aku menyesal menceritakan segalanya padanya. Sekarang lihatlah apa yang dia lakukan. Dia yang memulai dia juga yang harus mengakhirinya.
Sedangkan di halaman rumah, Bryan dipenuhi emosi. Ada rasa tidak rela saat melihat Alex menggandeng tangan Bela.
"Sepertinya mereka sangat dekat. Aku berharap mereka jadian." Aurel seperti menabur garam pada luka yang menganga.
__ADS_1
"Aku akan menemui Bela." Bryan beranjak dari duduknya.
"Biar aku yang panggilkan. Kamu duduk saja disini." Aurel menahan Bryan. Dia tahu kalau Bryan sedang emosi.
Aurel memasuki rumah. Dia sudah menaiki tangga kedua menuju lantai dua tapi pertanyaan mamanya membuat dia berhenti.
"Mereka barusaja pacaran. Jangan mengganggu mereka." Dyra tidak berpaling dari layar ponselnya.
"Wow, secepat itukah?" Aurel senang bukan main. Dia meneruskan langkahnya.
Aurel berdiri didepan kamar Bela. Dia langsung mengetuk pintu.
Tok..Tok..Tok
Dia kaget saat Alex membuka pintunya.
"Dimana Bela?" Aurel langsung masuk tanpa disuruh.
"Bela sedang ada diruang ganti. Ada apa?" Alex menempelkan punggungnya pada dinding dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
Aurel tidak menjawab pertanyaan Alex.
Sungguh gadis ini tidak sopan sekali.
Bela barusaja keluar dari ruang ganti. Aurel langsung menyambar kedua tangan Bela memegangnya erat.
"Apa kau baik-baik saja?" raut wajah khawatir Aurel yang terlihat dibuat-buat.
"Seperti yang kau lihat."
"Aku akan keluar. Kau duluan saja."
Aurel melepaskan tangan Bela lalu keluar kamar. Alex menatap Bela dalam diam.
"Kau lihat tadi?"
"Ya aku lihat. Sebuah kesenangan terpancar dari wajahnya."
"Aku yang terlalu pintar atau kau yang bodoh." Alex mencebik.
"Terserah." Bela hanya bisa pasrah. Dia masih tidak begitu memahami.
"Oh ayolah. Aku ingin memiliki pacar yang pintar." Alex merangkul Bela.
"Aku akan mencoba menjadi pintar." Bela menekan kata pintar. Alex hanya terkekeh pelan.
Bryan masih tidak bisa tenang. Dia semakin emosi saat melihat Alex merangkul pundak Bela. Dadanya terasa terbakar.
Mobil Alex sudah meninggalkan rumah. Kini Bela berjalan ke arah Bryan. Dia tidak bisa berjalan cepat. Kakinya masih sulit dibuat gerak cepat.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Bela berdiri didepan Bryan.
"Apa kau baik-baik saja?" Bryan bangkit dari duduknya.
"Seperti yang kau lihat." Bela masih dingin seperti biasa.
__ADS_1
"Apa kau pacaran dengan Alex?" Bryan bertanya lagi.
"Jangan bertele-tele. Aku tidak punya banyak waktu." Bela mulai menatap mata Bryan.
"Jawab aku! apa kau pacaran dengan Alex?" Bryan memegang kedua pundak Bela.
"Kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa?"
"Jawab yang jujur!"
"Aku memang pacaran dengan Alex."
"PUTUSKAN DIA!" Bryan berteriak karena dia sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Tidak."
"KUBILANG PUTUSKAN DIA!" Bryan semakin berapi-api.
"KAU SIAPA?" Bela juga tidak mau kalah. Dia mencengkeram kerah baju Bryan.
"Aku sahabatmu. Aku Bryan yang dulu."
"Sahabat? Hhahaahahhahaaa." Bela melepaskan cengkramannya.
"Aku masih Bryan yang dulu. Bryan yang sama." Bryan menunjuk dirinya sendiri.
Bela menatap mata Bryan.
"Apa kau lupa? Kalau kau lupa akan kuingatkan lagi hari dimana kau memutuskan persahabatan kita."
Flashback
Bela, Aurel dan Bryan bermain bola bersama. Saat itu usiaku masih 6 tahun dan kita semua seumuran. Seperti anak-anak yang lain kita sangat gembira saat bermain bersama. Lalu kau menendang bola sedikit jauh dari area bermain dan aku yang harus mengambilnya. Aku tidak keberatan. Aku mencari bola itu. Dan setelah aku mendapatkannya ada anak laki-laki yang menendangnya kearah Aurel berdiri. Dia menendang sangat keras dan mengenai kepala Aurel hingga darah segar keluar dari hidungnya.
"Mama, ada yang menendang bola kearahku." Aurel mengadu sambil melihat darah yang mengucur dari hidungnya. Lalu mama datang menolong Aurel.
"Siapa yang menendang bolanya?" lalu Aurel menunjuk padaku. Aku langsung berlari mendekati Aurel.
"Tante, Aurel kenapa?" Lalu kau datang dengan wajah panikmu.
"Bela, apa kau yang menendang bola ini?" mama menunjuk bolanya.
"Tidak ma, aku tidak menendang bola ini anak lain yang menendangnya." Aku bahkan hampir menangis saat itu.
"Anak lain? Tadi kau yang mengambil bolanya. Disini tidak ada anak lain yang bermain bola." Mama terus menuduhku.
"Tapi Bela benar-benar tidak melakukannya."
"Sudahlah jangan mengelak. Jangan masuk ke rumah. Tidurlah diluar." Mama tidak mempercayai aku. Lalu mama membawa Aurel ke mobil untuk di obati.
"Kau sungguh keterlaluan. Aku tahu kau tidak suka pada Aurel, tapi kau tidak boleh melukainya. Sampai kapan pun kau tidak akan bisa sama seperti Aurel. Mulai hari ini kita bukan sahabat lagi." Ya kau mengatakan itu. Kau memang benar, aku tidak akan bisa sama seperti Aurel. Dan mulai hari itu kita seperti orang asing.
Flashback off
"Kau tidak percaya padaku. Kau tidak mendengarkan aku. Kau bahkan memutuskan persahabatan kita tanpa mendengar penjelasanku. Kau juga menolak membantu saat aku sedang memperjuangkan hidup dan matiku. Seolah-olah kau tidak peduli padaku. APA ITU YANG NAMANYA SAHABAT?" Bela menggebu-gebu. Bryan hanya diam dia masih mencerna kata-kata Bela.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya😄.