
Banyak hari telah berlalu. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali dari gerak-gerik Oliv. Dia melakukan aktifitasnya seperti biasa. Dia juga cukup dekat dengan Victoria.
"Filmnya mendapat respon luar biasa dari masyarakat luar kota. Mungkin beberapa minggu lagi sudah siap dipasarkan." ucap Victoria.
"Baguslah, tidak sia-sia kerja keras kita selama satu bulan ini. Saya berpikir untuk menetap disini."
"Nona, anda sedang dekat dengan anaknya Albert akhir-akhir ini?" tanyanya untuk memastikan bahwa orang didepannya ini memang Bela.
Oliv mengangguk. Dia sedikit takut pada Victoria. Akhir-akhir ini Victoria mengamatinya dengan seksama.
"Apa kau akan terus bersembunyi dibalik wajah barumu?" pertanyaan yang sangat tidak terduga dari Victoria.
Oliv meletakkan cangkir teh yang hendak diminumnya. Dia menatap Victoria. Berharap dia tidak mengetahui kebenarannya.
"Jangan berbohong padaku, katakan saja."
Oliv diam membisu. Bagaimana ini?
"HAHAH, kau hanya bisa berbohong dan berbohong. Tapi tahulah kau, matamu mengatakan hal yang berbeda." Victoria meraih tangan Oliv yang sudah berkeringat dingin.
"Katakan saja apa yang perlu aku lakukan untukmu. Tenang saja, aku akan membantumu. Apa kau ingin kembali padanya? Apa kau mencintainya?"
Oliv melepas tangannya dari genggaman Victoria.
"Berangan pun aku tidak pernah. Aku tidak pernah ingin kembali tapi Elvan membutuhkanku. Kasihan dia, " airmata Oliv mengalir deras.
"Tapi Albert mencintaimu. Kalau bisa mengulang waktu, dia tidak akan melenyapkanmu. Dia ingin bersamamu." Victoria meyakinkan Oliv untuk bisa menerima Albert kembali.
"Aku tahu, tapi sulit untuk melupakan masalalu. Aku takut Kakaknya akan melukai adik kembarku."
"Apakah Theo masih hidup? Kudengar dia menghilang."
"Dia masih hidup. Dia memulai hidup barunya dan mulai melupakan dendam lama yang masih dia pendam. Tapi adikku, dia tidak bisa melupakan itu."
...........
Sheila membantu Theo mengemasi pakaiannya. Hari ini dia akan kembali ke Canada untuk memulai kehidupannya yang baru.
"Kakak, Kak Elli pasti akan langsung menerimamu saat kau memberinya cincin ini." Sheila memasukkan kotak cincin yang baru dibeli Theo spesial untuk Elli.
Sudah lama Theo jatuh hati pada Elli. Dia putus asa saat Bela mengatakan bahwa Elli dan Sena akan mencari pasangan di Canada. Dia menyembunyikan perasaannya. Hingga disaat waktu yang tepat Tuhan menyatukan mereka. Theo menyatakan perasaannya didepan semua orang. Erland sangat antusias untuk hubungan mereka. Dan kini saatnya mereka melangkah ke jenjang yang lebih serius.
"Pasti, " ucap Theo membanggakan diri.
"Kalau Kakak akan menikah, jangan lupa undang kami. Mentang-mentang ada Kak Elli Kakak jadi melupakan kami." Sheila memanyunkan bibirnya.
"Itu tidak akan terjadi. Kakak tidak akan mengundang kalian. Bisa-bisa kalian akan menghancurkan pesta pernikahan Kakak nanti." Theo mengejeknya.
Kami juga tidak akan datang kesana. Sheila hanya menanggapinya dengan tawa.
__ADS_1
"Terimakasih sudah membantu, jaga Kakakmu baik-baik. Jangan lakukan sesuatu yang bisa mengancam keselamatan kalian." Theo mengambil kopernya.
"Siap Kak, Kakak hati-hati ya." Sheila memeluk Theo untuk yang terakhir kalinya.
Setelah Theo keluar dari apartemen, Sheila masuk kekamarnya dan mengunci pintunya. Dia berjalan kearah dinding yang penuh dengan foto-foto Alden, Thomas dan Grace.
"Kak Cindy pergi, Kak Theo juga sudah pergi. Tidak ada penghalang lagi untukku memusnahkan mereka dari muka bumi ini untuk selamanya." Sheila menusuk foto Grace dengan push pin tepat di dadanya.
"Harus kumulai dari siapa ya?"
.........
Entah bagaimana bisa Thomas mengembalikan uang orang-orang yang dia rampas waktu itu. Kabarnya Red Bank sudah dijual untuk mengganti kerugian sehabis perampokan itu terjadi. Tidak ada keuntungan baginya hanya ada kerugian. Tapi kerugian itu akan terbayar setelah dia berhasil menangkap pencuri itu.
Hari ini dia menemui Grace untuk membahas soal kontrak bangunan yangbingin dia jadikan club malam. Mereka duduk dan minum diclub milik Victoria dulu yang kini menjadi milik Thomas.
"Tidak, aku tidak mengijinkan gedungku dipakai olehmu." Tapi usahanya ditolak oleh Garce secara langsung.
"Apa kau lupa kaulah dalang dari pelenyapan Satya?" Thomas kembali mengungkit masalalu.
"Mengungkit masalalu itu sudah menjadi senjatamu. Kau dan Dyra sama-sama monster yang mengerikan."
"Kenapa kau menyebut nama wanita itu lagi? Sudahlah, berikan saja bangunan indah itu padaku. Akan ku tunjukkan caraku berbisnis." Thomas mencoba lagi.
"Tidak akan pernah, " Grace mengambil dompetnya dan bergegas pergi dari hadapan Thomas. Dia sudah muak dengan semua ancaman dan paksaan darinya.
"Lihat saja, keangkuhanmu akan terbayar." Thomas menengguk winenya yang masih tersisa.
Sheila keluar club dengan sedikit sempoyongan. Banyak laki-laki yang menatap liar padanya. Tapi dia mengeluarkan pisau saat tangan laki-laki itu menyentuhnya.
Sheila memesan taxi. Didalam taxi dia baik-baik saja karena memang dia tidak minuk setetes alkohol.
Taxi berhenti di gedung yang tidak terpakai ditepi jalan raya. Jalan yang selalu Grace lewati saat pulang kerumahnya. Sheila tahu dia akan lewat dijalan itu.
Dia berdiri dipinggir jalan. Berharap Grace segera melintas. Dan akhirnya penantiannya telah usai. Terlihat dari kirinya mobil Grace melaju secara perlahan dan berhenti tepat di depannya.
"Nona, apa kau tersesat? Ini sudah tengah malam. Mau saya antarkan pulang?" Grace menawarinya tumpangan.
"Bolehkah?"
"Iya silahkan masuk," Grace tidak tahu bahaya sedang berjalan menuju dirinya.
Sheila masuk ke mobil Grace. Tangan kirinya merogoh saku celana bagian belakangnya mengeluarkan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
"Dimana..." belum selesai Garce bicara namun Sheila sudah membekapnya dan dia pingsan tidak sadarkan diri.
"Lebih mudah dari yang ku bayangkan."
.........
__ADS_1
Oliv ingin pulang tapi Albert menghubunginya dan dia ingin Oliv ke rumahnya karena Elvan sedang demam tinggi.
Oliv bahkan memasak makanan untuk Albert dan juga Aurel. Dia juga membuatkan Elvan bubur agar Elvan cepat sehat. Ada sesuatu yang dia lupakan. Rasa masakannya masih sama seperti dulu. Albert menyadari itu, rasa yang lidahnya rindukan. Akhirnya lidahnya bisa merasakannya lagi. Rasa mulai tumbuh dihatinya untuk Oliv. Ada kesamaan antara Oliv dan Bela. Itulah yang membuat rasanya semakin dalam.
"Mommy, kepalaku terasa pusing sekali." Elvan terus mengeluh sakit dibagian kepalanya. Oliv bingung, demam Elvan tidak menurun sama sekali. Dia jadi cemas.
Dia menemui Albert dan menyuruhnya memanggilkan dokter ditengah malam seperti ini.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Elvan hanya sedang demam biasa. Setelah minum obat ini demamnya akan langsung turun." Dokter Sam memberikan satu tablet obat dan satu sirup pada Albert.
"Terimakasih Sam, maaf mengganggumu malam-malam begini." Albert memberikan obatnya pada Oliv dan mengantarkan Sam ke kamar tamu.
"Ingat, aku hanya menginap satu malam saja." Sam memperingatkan Albert. Dia terpaksa karena ini sudah sangat larut dan bahkan hampir pagi.
"Iya, iya. Sekarang istirahatlah."
"Siapa wanita tadi? Apa dia penggantinya?"
"Ah entahlah, aku tidak tahu." Albert duduk diranjang.
"Kau adalah manusia yang paling bodoh yang aku kenal." Sam tersenyum miring.
"Ya aku memang bodoh. Harusnya aku membawanya kerumah sakit bukannya malah membakarnya. Selama ini aku sangat menderita. Setiap detik setiap menit aku selalu terbayang wajahnya. Andai waktu bisa terulang kembali." Albert mengusap airmatanya.
"Selain bodoh kau juga cengeng."
..........
Grace terbangun, kepalanya terasa sangat berat. Dia melihat kesamping. Hanya kegelapan yang mengelilinya. Perlahan dia berdiri untuk mencari jalan pulang.
"Hallo Nyonya Grace, " Sheila menyapa dari belakangnya. Dia sudah berganti wajahnya dengan wajah yang lama.
Grace menoleh, badannya gemetar setelah melihat Sheila.
"Bela? Tidak, pasti ini hanya imajinasiku. Bela sudah tiada." Grace menampar pipinya sendiri. Dia berharap segera bangundari mimpinya.
"Jadi kau tahu aku sudah mati terpanggang disana. Hmm, siapa yang menyarankan hal gila itu?" Sheila maju selangkah lebih dekat tapi Grace mundur selangkah juga.
"Maafkan aku, aku yang menyarankan ide gila itu pada Alden. Tolong ampuni aku, " Grace menyatukan tangannya didepan dada.
"Lalu apa lagi?"
"Aku juga menyarankan kecelakaan untuk Ayahmu dan Arron." Grace mengatakan semuanya dalam ketakutan.
"Lalu apa lagi?" Sheila melangkah maju.
"Tidak, hanya itu yang aku lakukan. Tapi percayalah, Thomas yang menanganinya secara langsung." Grace melangkah mundur menjauhi Sheila.
"Hm, haruskah aku percaya padamu." Sheila melangkah lagi. Dia tersenyum dengan senyuman yang sangat mengerikan bagi Grace.
__ADS_1
Grace mundur, dia tidak sadar bahwa kakinya sudah tidak lagi menginjak apapun. Dia melayang dan terjatuh dari ketinggian. Dan begitulah dia meregang nyawa.
"Tidak perlu mengotori tangan, target pertama sudah dimusnahkan." Sheila pergi dari sana setelah puas mencelakai targetnya.