
Hari sudah mulai gelap. Bela masih termenung memandang langit yang berganti warna. Apa yang dikatakan oleh ayahnya Gian masih terngiang di telinganya. Saat ini ada beban dipikirannya dan juga dihatinya.
"Hufft, sebenarnya apa yang telah terjadi? Begitu rumitnya keluarga ini hingga memikirkannya saja aku sudah hilang akal." Bela merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya.
Flashback
"Kakak, ayah ingin bertemu denganmu." Gian muncul dari balik pintu.
"Apa?" Bela langsung bangkit dari duduknya. Dia dan Alex salimg tatap. Mata Alex seolah menyuruhnya pergi.
"Oke, aku akan masuk tunggu sebentar." Bela masuk ke ruangan presdir. Sungguh dia merasa tidak nyaman. Rasa ingin tahunya sudah lenyap. Apa yang dia rasakan sekarang tidak bisa digambarkan.
Setelah dia masuk, Bela dibuat bingung pasalnya tidak ada orang didalam. Bela semakin tidak tenang. Dia mencoba bersikap biasa-biasa saja. Bela melangkahkan kakinya menuju meja kerja. Dia akui tata ruangnya sangat menarik. Dia beralih pada meja kerja. Disana tertulis nama Dareen Hasiel.
Dareen Hasiel? sepertinya aku tidak asing dengan nama ini. Aku pernah mendengarnya tapi dimana?
"Selamat datang diperusahaanku, mantan putri sambungku." Dareen berada di belakang Bela.
Suara ini?
"Apa kau tidak mengingatku?"
Bela membalikkan badannya menghadap Dareen.
"Paman Dy?"
"Ya ini aku. Apa kau tidak ingin memelukku?" Dareen merentangkan tangannya.
Mata Bela berkaca-kaca kalau saja dia tidak menahannya, mungkin dia sudah menangis.
"Aku sangat merindukanmu paman. Kukira kau pergi jauh. Aku tidak akan menyalahkanmu atas kecelakaan ayah. Aku minta maaf." Bela memeluk Dareen. Dia menumpahkan segala rasa bersalahnya.
"Kau ini bicara apa? Paman hanya pergi sebentar." Dareen membelai kepala Bela lembut.
"Aku menyesal, Paman."
__ADS_1
"Seharusnya aku yang merasa bersalah. Seharusnya aku tidak pergi dan menjagamu seperti amanat ayahmu. Dan sekarang lihatlah dirimu! kau sudah besar."
"Tapi bagaimana bisa Gian anaknya mama?" Bela melepaskan pelukan, di wajahnya terlihat bingung dengan keadaan yang sekarang.
Dareen mendudukkan Bela disofa berwarna hitam. Lalu dia membalikkan badannya membelakangi Bela. Tangannya dia masukkan ke kedua saku celananya.
"Saat itu, aku kembali dan aku amat menyesali tindakanku yang gegabah. Aku sudah terlambat dan kau sudah pergi ke Australia. Lalu aku merencanakan jebakan untuk Dyra tapi semuanya sungguh di luar kendali dan Gian adalah putraku dan Dyra. Kami memutuskan menikah setelah kejadian satu malam di club Sunny dan Dyra hamil. Perjanjiannya kita bercerai saat Gian sudah lahir. Aku ingin mengambil hak asuh Gian tapi pengadilan memberikan hak asuhnya pada Dyra. Bagaimanapun dia tetap ibunya." Dareen menceritakan awalmula dia melakukan kesalahan besar.
"Tahun ini Gian akan berusia 12 tahun, jadi dia bisa memilih dengan siapa dia akan tinggal. Lagipula disana dia juga tidak bahagia. Kata pengasuhnya dia kerap kali mendapat perlakuan yang tidak pantas dia dapatkan disana. Aurel sering kali menghinanya bahkan tidak segan-segan untuk mengangkat tangannya pada Gian. Lebih baik jika paman mengambil hak asuhnya. Aku khawatir mentalnya akan terluka." Bela sangat mengkhawatirkan Gian. Dia tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama dengannya. Setelah ayahnya meninggal, Bela sering mendapatkan kekerasan dari mamanya. Bersalah atau tidak, dimata mamanya Bela selalu salah dan Aurel yang selalu benar.
"Akan aku usahakan. Tapi Bel, apa kau tahu kau ini anak kandungnya ayahmu?" Dareen membalikkan tubuhnya dan duduk disofa berhadapan dengan Bela.
"Yang kutahu ayah menjemputku di panti asuhan. Kata mama aku tidak punya orangtua. Tapi kenapa paman bertanya seperti itu?" Bela merasa bingung.
"Erland pernah melakukan tes DNA. Dia diam-diam mengambil sehelai rambutmu dan rambut ayahmu. Dan hasilnya 99 persen. Kau putri kandung ayahmu." Dareen mengingat sesuatu.
Kalau aku putri kandung ayah lalu siapa ibuku? Aku akan mencari kebenarannya besok.
Bela membatin.
Paman tahu, kau akan mencari informasi tentang dirimu. Dari keluarga mana kau berasal. Jangan biarkan orang-orang licik itu menyalahgunakan kekayaan ayahmu untuk kepentingan mereka.
Dareen telah memikirkan matang-matang. Sudah waktunya Bela tahu segalanya.
"Kalau begitu, Bela akan pulang bersama Gian dan Alex."
"Alex? si berandal itu? kenapa kau berteman dengannya?" Dareen meninggikan suaranya.
"Bukan berteman lagi, bahkan kami sedang berpacaran. Ya walaupun hanya bohongan. Dia selalu mengantarku kemana pun aku pergi. Aku jadi tahu bagaimana rasanya memiliki sopir pribadi. Hehehe." Bela terkekeh.
"Ada-ada saja anak jaman sekarang." Dareen menggelengkan kepalanya.
"Bela pergi dulu, Paman. Jaga diri paman baik-baik." Bela melambaikan tanganya. Dareen membalasnya dengan senyuman yang tulus. Lalu Bela keluar ruangan.
Alex akan menjagamu.
__ADS_1
Flashback off
"Kalau aku anak kandungnya ayah, lalu siapa ibuku? kenapa juga om Erland menyembunyikan fakta sebesar ini dariku? Sebenarnya aku anak siapa?" Bela menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya. Dia sangat frustasi. Entah kenapa dia sulit melogika semua ini.
"Kenapa silsilah keluarga ini terlalu rumit?" Bela duduk dipinggiran ranjang. Dirinya sangat kacau. Rambutnya belum dia sisir dan wajahnya tampak pucat. Kepalanya juga terasa pusing.
Drrt Drrt
Ponsel Bela bergetar.
Perlahan tangan Bela meraih ponselnya yang ada di atas nakas.
"Halo" Bela lemas seperti tidak ada tenaga.
"Halo, apakah ini nona Bela? Saya sudah berada di depan rumah nomer 12."
"Oh iya, Pak. Saya akan keluar. Tunggu disana sebentar." Bela mematikan sambungan telepon. Dia bergegas mengambil sisir dan merapikan rambutnya.
"Aku bahkan lupa telah memesan makanan dari luar. Kenapa kau menjadi pikun, Bela?" Dia memukul kepalanya sendiri. Lalu dia keluar kamar setengah berlari.
Bela melewati Aurel yang sedang berada di ruangtamu bersama Bryan. Sampai digerbang dia langsung meminta maaf pada pengantar makanan.
"Maaf saya lupa. Bapak sudah lama menunggu diluar?"
"Tidak, Nona. Ini makanannya. Soal biaya pengantaran sudah di bayar oleh restorannya." Pria berumur 45 tahun itu memberikan 2 paket ayam krispi pada Bela.
"Terimakasih, Pak. Ini hanya sedikit tips untuk bapak. Mohon di terima." Bela memberikan 2 lembar uang bernilai ratusan pada pengantar makanan itu.
"Terimakasih banyak. Saya harus mengantarkan pesanan orang lain juga. Permisi." Pengantar makanan itu masuk ke mobilnya dan meninggalkan kompleks.
"Hmm, baunya enak sekali. Perutku sangat lapar sekarang." Bela mencium aroma makanan yang ada di dalam kantung. Kemudian Bela membawa masuk kedalam rumah.
Tiba-tiba Bela berhenti lalu menengok ke rumah besar didepan rumahnya.
Sepertinya ada yang mengawasiku dari jendela. Tapi kenapa tidak ada apa-apa. Mungkin hanya perasaanku saja.
__ADS_1
Bela meneruskan langkahnya dan masuk ke dalam rumah. Dia mengabaikan Aurel yang memanggilnya di ruang tamu. Dia masih merasa kesal dengan Bryan karena itu dia tidak ingin menemuinya.