Family And Enemy

Family And Enemy
Melepaskan


__ADS_3

Pagi tiba, para petugas membuka brankas untuk memindahkan isinya. Beberapa koper terasa ringan. Salah satu dari mereka mencoba membukanya. Mereka kaget dan langsung melaporkan pada atasan mereka.


"Bagaimana bisa?" Dyra membuka paksa koper-koper yang lain.


"Maaf Nyonya, kami tidak tahu. Kami curiga kenapa kopernya terasa sangat ringan lalu kami mencoba membukanya." Ujar salah satu dari mereka.


Dyra beralih pada kotak berlian. Dia sedikit lega melihat semua berliannya masih ada ditempatnya. Tanpa mereka tahu berlian yang asli ada pada Theo.


Dyra mengirimkan uang dan berlian palsu ke Orchid Club. Ditambah lagi 3 koper uang dari Royal Village juga dia kirim ke sana. Baginya hanya disanalah tempat yang paling aman Untuk menyimpan hartanya.


"Cari tahu siapa yang mencuri uangnya!!" Thomas memerintahkan salah satu orang kepercayaannya.


Sepanjang malam Thomaslah yang menemani Dyra. Bahkan mereka sampai menginap dikantor. Hanya Tuhan, mereka dan Cindy yang tahu apa saja yang mereka lakukan.


"Tenanglah, kita akan segera menemukan siapa yang membawa uang kita." Thomas memeluk Dyra untuk menenangkannya.


Dari pintu masuk, datanglah Albert dengan sekretarisnya, Egy.


"Pak, sepertinya kita datang diwaktu yang salah." Bisik Egy pada atasannya.


"Sepertinya iya, kita balik lagi saja."


Mereka berdua kembali memasuki mobil dan menuju Orchid Club.


Mobil yang mengangkut uang sudah sampai di Orchid Club. Victoria mencoba membuka kotak berlian dan dia sangat terkejut.


"INI APA-APAAN?" Victoria melemparkan berlian-berlian itu ke sembarang arah.


"Kenapa ada apa?" Albert datang diwaktu yang tepat.


"Apa Dyra mencoba mempermainkanku?" tanyanya dengan penuh amarah.


Albert berjongkok memungut salah satu berlian yang jatuh.


"Ini berlian palsu," Albert menyiramkan bensin ke kobaran api.


"Aku tidak menyangka dia akan melakukan ini. Harusnya uangnya ada 10 tapi ini hanya ada 5 koper."

__ADS_1


"Apa yang kukatakan benarkan? dia itu serakah. Semua harus dia miliki. Apa kau tahu semalam? dia juga bermalam bersama Thomas." Albert tahu jika Victoria memendam perasaannya karena Thomas masih memiliki istri dan bahkan anaknya seumuran dengan Bela.


"Aku memang tidak memihak siapapun, tapi jika ada yang menghianati aku tidak akan tinggal diam."


"Kira-kira alasan apalagi yang akan dia berikan padamu? baru-baru ini dia menjual sebagian pulau Poem. Pasti uangnya banyak, apalagi 5 koper uangnya tidak sampai kesini. Kalau uang itu dicuri rasanya tidak mungkin karena kantornya Arron sangat ketat. Ditambah lagi banyak penjaga yang menjaganya semalam. Ya kalau memang benar dicuri pasti itu ulah orang dalam." Albert terus menambah kobaran api.


"Aku tahu dia membenciku," Victoria mengepalkan tanganya. Otaknya sibuk mencerna perkataan dari Albert.


Bela sedang berbelanja di pusat perbelanjaan yang biasa dia kunjungi. Kalau bukan karena Cindy yang mengajaknya pasti dia tidak akan berdiri ditoko gelang jam sekarang.


"Menurut Anda, bagus yang mana?" Cindy menunjukkan 2 gelang jam yang berbeda dari segi bentuk dan warna.


"Mulai deh, kalau diluar begini nggak usah sok formal. Lagian beli gelang jam cowok buat apa?" Bela benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran sekretarisnya ini.


"Untuk seseorang,"


"Aelah, pilih aja sesuai kata hatimu. Ribet banget ih,"


"Yaudah yang hitam aja. Bungkus ya mbak," akhirnya Cindy selesai memilih gelang jamnya. Dan berakhirlah penderitaan Bela. Di Mall ini dia teringat waktu kebersamaanya dengan Mayleen. Setiap sudut Mall ini bagikan neraka baginya. Hatinya masih belum rela menerima semuanya.


"Sekarang mau kemana lagi?"


Saat sedang asik memilih sepatu, tiba-tiba Bela bertemu dengan Alex dan Vanya yang kebetulan melihat sepatu juga. Bela mencoba untuk tidak peduli apa yang mereka berdua lakukan tapi Vanya menyapanya. Bela hanya tersenyum.


Ketika Alex dan Cindy membayar belanjaannya, Vanya mendekati Bela dan berbisik ditelinganya.


"Hati Alex hanya milikku. Kau bukan tandinganku. Jadi jangan mencoba mengalahkanku."


"Kenapa kau khawatir? Miliki Alex sepenuhnya. Aku tidak tertarik padanya lagi." Bela membalas perkataan Vanya.


Sungguh diluar dugaan Vanya. Dia berpikir bagaimana caranya membuat Bela buruk dimata Alex. Tapi kata-katanya bahkan tidak menyentuh Bela sekalipun. Dengan cepat dia memutar otaknya.


Tangannya bergerak menampar pipinya sendiri. Bela terkejut dia tidak menyangka bahwa Vanya licik dan juga bodoh. Banyak saksi mata yang melihat.


"Aduh, kenapa kau menamparku?" Vanya memegang pipinya dan menangis.


"Bela, apa yang kau lakukan?" Alex datang dan menenangkan Vanya.

__ADS_1


"Apa kau tidak lihat aku sedang bernapas?"


"Kenapa kau menampar Vanya?"


"Untuk apa aku menamparnya." Bela mulai tidak peduli.


"Kenapa kalian membuat keributan disini? ayo keluar kita cari tempat yang nyaman untuk bicara." Cindy menengahi. Sekarang banyak orang yang melihat ke arah mereka.


Mereka sekarang berada di taman depan Mall yang sangat indah dan nyaman untuk berbincang.


"Sekarang selesaikan urusan kalian." Cindy duduk di bangku putih. Dia tidak berniat ikut campur urusan mereka.


"Bela, kenapa kau menampar Vanya?" Alex memegang kedua tangan Bela.


"Aku tidak menamparnya. Kenapa kau tidak percaya padaku?" Bela melepas tangan Alex.


"Bohong," Vanya menangis. Air mata wanita itu obat mujarab untuk meluluhkan hati laki-laki.


"Aku sungguh tidak percaya ini," Alex menggeleng.


"Apa yang kau tidak percaya? apa perlu aku panggilkan saksi mata?" mendengar Bela, Vanya mulai tersadar. Ada banyak orang yang mengamatinya tadi. Kebohongannya pasti akan terbongkar.


"Lex, jawab jujur pertanyaanku! Apa kau mencintainya?"


Alex bingung harus jawab apa. Dia mencintai Vanya tapi dia juga mencintai Bela. Tanpa sadar kepalanya mengangguk.


"Kalau begitu, pergilah!! Aku tidak berhak untuk melarangmu. Kau tahu hati tidak bisa dipaksa. Jangan pikirkan aku,"


"Bela, tapi aku juga menyukaimu."


"Rasa sukamu padaku tidak lebih besar dari perasaanmu padanya. Jangan menyakitiku dengan begini, pergilah! Aku sudah melepaskanmu."


"Baiklah, aku akan pergi menjauh darimu." Alex pergi bersama Vanya dengan luka dihatinya. Dia bahkan tidak menyangka Bela akan mengusirnya dari kehidupannya.


"Aku salut padamu, Nona." Cindy menepuk bahu Bela.


"Sekarang kita juga harus pergi. Ada banyak urusan yang harus kita selesaikan." Sambung Cindy.

__ADS_1


Bela dan Cindy masuk ke mobil mereka. Hati Bela hancur untuk kesekian kalinya. Kenapa tuhan selalu mengkhianatinya?


Semua dia serahkan pada tuhannya hingga dia pasrah pada takdirnya.


__ADS_2