
Bela mencoba menikmati pestanya. Tapi karena rasa penasarannya, Bela terus mencari sosok yang telah mengiriminya hadiah itu. Sulit untuk menemukan seseorang di balik banyaknya tamu yang datang. Terlebih lagi Bela tidak pernah melihatnya sekalipun.
Alex mengobrol dengan para tamu yang lain. Ternyata Alex sangat populer dikalangan orang-orang kaya. Bela sadar bahwa dia sendiri. Dia berjalan melewati para tamu. Matanya terus mencari sosok pria yang mengiriminya hadiah. Hingga dia lupa bahwa acara ini mungkin akan sangat menyakitinya.
Inti dari acaranya sudah dimulai. Aurel terlihat cantik dengan gaun merah mudanya. Bryan juga tampan dengan setelan jasnya. Setelah acara tiup lilin dilanjutkan dengan acara pertunangan.
Bryan dan Aurel bergantian menyematkan cincin di jari manis kiri mereka. Para tamu bertepuk tangan tak terkecuali Bela. Entah dia harus bahagia atau bersedih karena memang dia merasakan kebahagia dan kesedihan di waktu yang bersamaan.
Para tamu memberi ucapan selamat ulang tahun dan selamat atas pertunangannya. Suara musik memenuhi ruangan. Para tamu menikmati pestanya. Ada yang mengobrol, menari dan menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan.
Bela melamun. Pandangannya kosong. Rio tiba-tiba memegang bahunya membuat Bela tersentak kaget.
"Bel? "
"Bang Rio, ngagetin aja." Bela tersenyum palsu.
"Kau ada disini atau ditempat lain?"
"Aku hanya. Hanya. " Bela tidak bisa menjawab pertanyaan Rio.
"Hanya apa? Hanya terluka? Abang ngerti kok. Kalau sudah lelah mending istirahat. Kalau nggak kuat jangan ditahan." Rio mengelus pucuk kepala Bela sambil menasehatinya.
"Bela nggak apa-apa, Bang. Ngomong-ngomong tante Maya mana?" Bela mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak nyaman jika berbicara mengenai sesuatu yang bersifa pribadi baginya.
"Mama sama Papa sedang mengobrol dengan rekan-rekannya diruang sebelah. Bel, sering-seringlah berdandan seperti ini. Sungguh kau sangat cantik." Rio sengaja memuji Bela. Malam ini Bela terlihat sangat berbeda.
"Terimakasih atas pujiannya. Oh iya, inikah acara intinya sudah selesai jadi aku akan pergi."
"Kau mau kemana, Bel?" Rio menatap intens Bela.
"Ada urusan sebentar. Sampai jumpa Abangku sayang. Byee." Bela berlari kecil meninggalkan Rio.
"HEI. Ck aku harus bilang apa kalau mama bertanya tentangnya?" Rio bingung harus bagaimana.
Masih di tempat dan waktu yang sama, Alex mengepalkan tangan saat melihat kedekatan Bela dan Rio. Awalnya dia ingin menghampiri Bela tapi sayangnya Rio mendahuluinya. Karena egonya, Alex mengurungkan niatnya. Saat melihat kepergian Bela, Alex menghampiri Rio.
"Lama tidak berjumpa dengan anda, mantan sahabat." Alex tersenyum sinis.
"Gue nggak mau cari masalah, lagian ini pestanya Aurel. Malu-malu in." Rio tidak menanggapi Alex.
Mereka beradu pandang seakan-akan mereka sedang bertarung. Tidak ada yang mendengar mereka selain mereka sendiri sebab musiknya terlalu kencang.
"Jauhin Bela!" Rio memutuskan kontak mata dengan Alex.
"Kenapa? Apa hak anda melarang saya mendekati Bela?" Alex menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Kalau lo ingin temenan ataupun lebih sama Bela gue nggak akan larang. Tapi gue mohon sama lo, jangan sakitin Bela. Gue yakin Bela bisa merubah keegoisan seorang Alexis Andreas." Rio meninggalkan Alex.
Alex masih mencerna kata-kata Rio.
Aku akui. Aku memang egois.
Eh sebentar, kenapa aku merasa tidak suka saat Rio dan Bela saling mengobrol? Ada apa denganku?
Ditempat lain, Bela sedang duduk di meja kerjanya memeriksa kemajuan usaha yang dia jalankan.
"Hmm. Cafe yang ada di dekat danau sudah cukup bagus. Ditambah lagi kreasi menu yang baru, pasti akan banyak pengunjung yang datang. Berikan bonus kepada pengurus cafe itu! " Bela merasa puas dengan hasil kerja keras bawahannya.
"Baik. Nona, apa anda ingin sesuatu?" tanya Cindy yang merupakan orang kepercayaan Bela.
"Tidak. Aku hanya ingin membersihkan diri dan berganti pakaian. Aku sungguh tidak nyaman seperti ini." Bela menghentikan aktivitasnya.
"Kalau begitu saya akan membawakan anda teh." Baru saja Cindy melangkah, Bela sudah menghentikannya.
"Tidak perlu. Ini sudah malam, pulanglah dan istirahat. Aku juga akan pergi setelah aku mengganti pakaianku."
"Saya akan pulang setelah anda pergi, Nona." Cindy kembali berdiri di samping meja kerja Bela.
"Oke, terserah." Bela masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Bela mulai membersihkan riasannya. Tanpa riasan Bela pun sangat cantik. Bela menatap pantulan wajahnya di cermin.
Diam. Wajarlah kalau aku tidak menemukannya, aku tidak pernah melihat wajahnya.
Setelah berganti pakaian, Bela keluar. Dia hanya memakai hoodie dan celana jeans panjang. Simple dan nyaman untuk dipakai.
Bela berjalan menuju loby restoran dengan diikuti oleh Cindy. Mobilnya juga sudah disiapkan oleh petugas.
"Terimakasih, Pak." Bela memasuki mobil.
"Kak, masuklah aku akan mengantarmu sampai apartemen." Bela menurunkan kaca mobilnya.
"Tidak perlu, Nona. Saya akan naik taksi saja lagipula, apartemen saya tidak jauh dari sini." Cindy menunduk.
"Berhenti memanggilku 'Nona' dan cepat masuk aku akan mengantarmu!"
"Tidak." Cindy tetap saja menolak.
"Oke terserah. " Bela menyerah. Pasalnya Cindy sangat keras kepala bahkan melebihi Bela.
Bela melajukan mobilnya. Diperjalanan dia merasa ada yang janggal. Bela melihat spion mobilnya, ada 3 mobil hitam yang mengikutinya.
__ADS_1
"Ini apalagi ya tuhan." Bela mengelap wajahnya kasar.
Bela menambah kecepatan mobilnya. Mereka berhasil tertinggal jauh. Bela sedikit tenang. Rencananya dia ingin pulang ke mansionnya. Bela mulai mengemudi dengan kecepatan biasanya.
Saat sampai di jalanan yang sepi, ada mobil yang keluar dari gang dan menghadang Bela dari depan. Bela kaget, dia menginjak rem secara mendadak.
Jedug
Dahi Bela terbentur setir mobil hingga berdarah. Kepalanya pusing pandangannya mengabur. Samar-samar Bela melihat banyak pria berbadan kekar yang mengelilingi mobilnya. Kemudian penglihatannya menjadi gelap. Bela tidak sadarkan diri.
Drrt drrt
Rio mengangkat ponsel miliknya yang sedari tadi bergetar di atas nakas.
"Siapa pagi-pagi gini nelpon. Ganggu orang lagi tidur aja."
Rio memgangkat sebelah alisnya setelah melihat nama Arron yang tertera di layar ponsel.
Ngapain Bang Arron nelpon pagi-pagi gini.
"Halo."
"Yo, Bela ada sama lo kan?"
"Bela? nggak ada, Bang." Kesadaran Rio belum terkumpul sepenuhnya. Dia masih memejamkan mata.
"Yo, serius nggak usah bercanda. Bela belum pulang dari tadi malam."
"Hah. Bela belum pulang?" Rio langsung membuka matanya.
"Tadi malam Bela ngobrol sama lo. Jangan bercanda, Yo."
"Sumpah, Bang. Bela nggak sama Rio. Eang tadi malam kita ngobrol tapi setelah acara intinya Bela pergi. Katanya ada urusan."
"Ck. Kemana Bela pergi?"
"Gini deh, nanti Rio bilang ke papa supaya melacak keberadaan Bela. Tenang, Bang." Rio menenangkan Arron.
"Bagaimana bisa tenang? Bela selalu minta ijin kalau dia pulang terlambat atau tidak pulang sekaligus. Ini ditelpon ponselnya nggak aktif. "
"Kalaupun terjadi sesuatu, Rio yakin Bela bisa menjaga dirinya sendiri. "
"Semoga. "
__ADS_1
"Yaudah kita cari Bela bersama-sama. Rio akan memberitahu papa." Rio memutuskan sambungan telponnya. Dia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selepas keluar kamar mandi, dia mengingat sesuatu.
Alex. Pasti Bela bersama Alex.