
Semua anggota keluarga sudah duduk rapi di meja makan termasuk Theo. Suasana sangat canggung dengan munculnya Bela yang hanya menggunakan baju tidur miliknya. Bahkan Theo mengenakan pakaian santai sebab jarak rumahnya dari rumah Bela hanya beberapa langkah.
Bela menahan tawanya ketika menyadari bahwa Dyra mengenakan pakaian formal. Apalagi Aurel memakai gaun yang terlihat sedikit berlebihan untuk acara makan malam.
"Mah, rumahnya dekat dengan kita. Dia itu tetangga kita." Bela dengan santainya memakan anggur. Dia sangat menyukai buah anggur terlebih lagi waktu dia senang.
"Tuan Theo tidak pernah mengatakan jika dia tinggal di depan kita." Dyra menahan rasa malunya.
Aurel hanya tersenyum tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia terlihat sangat mengagumi ketampanan Theo hingga dia lupa jika dia sudah memiliki Bryan.
Benar-benar rubah. Bela melirik Aurel. Dia tersenyum geli.
"Maaf, meskipun saya tinggal didepan tapi saya jarang pulang. Saya lebih memilih tinggal di apartemen." Theo sedikit canggung.
"Anda hanya perlu memanggil saya dengan nama tanpa embel-embel 'tuan'." Sambungnya.
"Baiklah, itu akan membuat kita semakin dekat. Oh iya, ini putri saya namanya Aurel. Dia sangat cantik bukan?" Dyra memperkenalkan Aurel pada Theo.
"Iya cantik." Theo terpaksa mengangguk.
"Ahhh, sepertinya kalian cocok." Bela menambah bumbu-bumbu drama.
Mendengar itu Aurel tersipu malu. Pipinya memerah. Tapi lain halnya dengan Theo. Dia malah menatap Bela tanpa ekspresi. Bela mengangkat sebelah alisnya seolah mengatakan 'apa?".
"Halo semuanya, kalian makan bersama tapi tidak mengajakku?" entah darimana Albert datang tiba-tiba.
"Oh, presdir baru GO Gruop?" Albert seolah tak percaya jika Theo akan makan dirumah Dyra.
"Senang bertemu dengan anda Tuan Alberto Edison." Theo menoleh pada Albert.
"Duduklah!! tadi aku sudah menitipkan pesan pada sekretarismu. Apa dia tidak menyampaikannya padamu?" Dyra menyuruh Albert duduk.
"Sepertinya belum. Aku mematikan ponselku sejak tadi pagi. Mungkin dia tidak bisa menghubungiku." Albert duduk berseberangan dengan Bela. Matanya selalu memperhatikan Bela. Dyra juga menyadari jika Albert terus melihat Bela.
__ADS_1
"Mah, mulutku sudah lelah terus mengunyah anggur. Bisakah kita makan sekarang? aku sudah sangat lapar." Bela menyandarkan punggungnya.
"Pelayan! sajikan makan malamnya sekarang." Titahnya pada para maid. Dyra merasa Bela sangat tidak sopan. Matanya terus menatap Bela tajam.
Para maid mulai menyajikan berbagai hidangan makan malam. Mata Bela berbinar melihat makanan kesukaannya telah tersedia di depan mata. Tanpa sadar tangan Bela mengambil sepiring spagetti bersaus tomat. Bela mengambil garbu dan mulai menikmati makan malamnya.
Theo melihat Bela tak percaya jika dia akan serakus itu saat tengah kelaparan. Albert tersenyum samar. Sepertinya dia memiliki perasaan terhadap Bela. Itu terlihat dimatanya.
Semua orang menikmati makan malamnya. Tapi tidak bagi Aurel. Dia memilih memandangi wajah tampan Theo.
"Wah, ini enak sekali. Setelah makan ini aku rela jatuh dari gedung setinggi apapun. Rasanya seperti terbang ke langit yang paling atas." Bela sedikit berlebihan ketika mendeskripsikan cita rasa spagetti miliknya.
"Jangan berlebihan dan jangan bicara saat makan!!" Dyra merasa malu.
"Hmm, baiklah. Aku sudah selesai makan malam. Jadi aku akan pergi menonton TV saja." Bela berdiri. Tangannya mencomot setoples biskuit kering. Lalu dia duduk disofa ruang tamu yang jaraknya tidak jauh dari meja makan. Bela menyalakan TV dan mencari saluran televisi favoritnya.
Semua orang kembali menikmati makan malam mereka. Aurel terlihat tidak menikmati makanannya. Dia mengunyah daging dengan tatapan kosong tidak lagi seperti tadi. Tubuhnya disini tapi seperti dia berada di tempat lain. Bela tersenyum saat memyadari perubahan ekspresi Aurel. Sepertinya apa yang dia katakan tadi mempengaruhi kinerja otaknya.
"Aurel, cepat habiskan makananmu!" Dyra menyentuh pundak Aurel.
"Aku juga sudah kenyang, Kak. Makan malamnya sungguh nikmat." Albert membersihkan sisa makanan yang menempel pada bibirnya.
Theo sedikit terkejut saat mendengar Albert memanggil Dyra dengan sebutan Kakak.
..."Berita yang paling mengejutkan sore ini datang dari kampus terbaik dikota ini. Penjaga yang sedang berpatroli menemukan gadis yang bersimbah darah di belakang gedung kampus. Ternyata gadis yang ditemukan adalah mahasiswi kampus itu sendiri. Dugaan sementara saat ini, mahasiswi itu bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya sendiri dari atap gedung. Gadis itu dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Saat ditemukan dia masih bernapas. Sepertinya kejadian itu tidak lama sebelum dia ditemukan. Polisi masih mendalami kasus ini."...
Bela sengaja mengeraskan volume agar semua orang dapat mendengarnya. Dan benar saja, Theo dan Albert langsung mendekati sumber suara. Bahkan Dyra juga terlihat panik. Yang terparah adalah Aurel. Dia terdiam ditempat dengan tangan yang gemetaran. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Perasaan takut mulai menyelimuti hatinya.
Ting
Bela membuka notifikasi yang masuk ke ponselnya. Seketika badannya lemas tak berdaya.
"Ada apa denganmu?" Theo mendekati Bela dan memegang pundaknya. Bela menyingkirkan tangan Theo. Dia segera berlari ke kamarnya. Albert dan Theo bingung.
__ADS_1
Bela mengambil jaket dan kunci mobil miliknya. Dia berlari secepat kilat menuju mobilnya.
"Sepertinya makan malamnya sudah selesai. Saya sangat berterimakasih atas makanannya. Saya pamit." Theo membungkuk. Dyra hanya mengangguk.
Bela melajukan mobilnya sangat cepat. Pesan singkat Cindy mampu membuatnya kalang kabut. Rasa cemas telah memenuhi hatinya dan juga otaknya. Setelah sampai dirumahsakit, Bela memarkirkan mobilnya ditempat yang disediakan. Bela berlari menyusuri koridor rumah sakit. Dan sampailah dia di ruang VIP tempat Mayleen dirawat.
"Nona, maafkan saya. Harusnya saya tidak terus terang." Cindy menghampiri Bela.
"Bagaimana keadaannya?" ucapnya sambil mengontrol napasnya.
"Kata dokter, Nona Mayleen dalam keadaan kritis. Dia koma sekarang. Syaraf otaknya mungkin rusak akibat benturan."
"Apakah dia bisa sadar?" Bela hampir menangis.
"Bisa, tapi mungkin Nona Mayleen akan mengalami kelumpuhan."
Mendengar penuturan Cindy, Bela merasa frustasi. Dia tidak menyangka Mayleen akan mengalami hal sulit seperti ini. Cindy mendudukkan Bela di kursi tunggu.
"Nona, saya sudah berhasil mendapatkan apa yang anda cari." Cindy membuka tasnya dan mengambil flashdisk.
"Bagus, aku tidak pernah meragukanmu." Bela mengambil benda itu dari tangan cindy.
"Ada laptop dimobilku. Ambilkan!!" Bela memberikan kunci mobilnya kepada salah satu anak buah Cindy.
"Baik, Nona."
"Untung saja saya datang tepat waktu. Jika saya terlambat satu detik saja mungkin saya tidak bisa mendapatkannya."
"Maksudmu?"
"Setelah saya mencopy semua rekaman cctv di kampus, saya melihat beberapa anak buah Nyonya Dyra datang ke ruang pengawasan. Mungkin mereka ingin menghapus beberapa rekaman cctv disana."
"Ternyata kecurigaanku benar. Aurel yang mendorong Mayleen. Saat berita ini ditayangkan, dia terlihat sangat ketakutan dan cemas."
__ADS_1
"Lalu apa yang akan anda lakukan?"
"Hmm, sepertinya aku harus sedikit bermain dengannya. Aku akan membuatnya mengakui perbuatannya." Bela tersenyum misterius. Otaknya sedang menyusun rencana licik untuk membuat Aurel sedikit jera dan mengakui apa yang telah dia perbuat kepada Mayleen.