Family And Enemy

Family And Enemy
Mencari harta karun


__ADS_3

Bela duduk diranjang miliknya. Hari belum terlalu sore jadi Bela ingin menikmati waktu santainya dengan membaca surat dari Arron. Sungguh Bela sudah sangat penasaran apa isi surat itu dan apa guna peta itu.


Kakinya turun dari ranjang menuju meja rias tempat dia meletakkan kotak berwarna merah maroon itu. Dia membawa kotak itu duduk di depan jendela kaca yang tembus pandang. Terlihat banyak pepohonan yang masih berdaun lebat.


Tangan Bela membuka lipatan kertas itu dan mulai membacanya.


...Bela, maaf telah membuatmu sedih. Aku tidak bisa melindungimu sesuai janjiku pada Ayah. Maaf, aku tidak bisa memberi kado ulangtahunmu yang ke-20....


...Aku tahu, kau sudah banyak bersedih sejak kepergian Ayah. Dan kini aku menambah kesedihanmu. Mungkin kau mengira ini telah direkayasa. Tapi sebenarnya aku masih hidup, didalam dirimu. Aku akan hidup selamanya didalam hatimu. Aku memang merencanakan semua ini demi dirimu tapi aku berubah pikiran. Aku sudah menyerahkan hidupku pada tuhan....


Air mata Bela tak bisa dibendung. Dia mengira Arron masih hidup tapi setelah membaca kalimat seterusnya Bela mulai terisak. Kenangan sosok Arron selalu membayangi dirinya. Kasih sayangnya kepada Bela melebihi dirinya sendiri. Bela membaca surat kelanjutannya.


...Terimalah kenyataan jika itu benar terjadi. Semua sudah terjadi sesuai kehendak tuhan. Jika kau menerima kado dariku itu berarti aku sudah tiada. Maaf tidak bisa mengucapkan selamat ulangtahun untukmu. Tapi tenang saja aku tidak akan melupakanmu. Meskipun aku tiada tetaplah ingat bahwa aku hidup selamanya di dalam dirimu....


...Ada suatu kebenaran yang aku tutupi darimu. Kau sebenarnya anak kandungnya ayah dan kau punya saudara kandung laki-laki. Tapi itu bukan diriku. Aku hanyalah anak yang beruntung di adopsi oleh orangtuamu. Semasa kecil aku mengumpulkan kenangan tentang orang tua kita, keluarga kita. Aku menguburnya di suatu tempat agar kau bisa melihatnya suatu saat nanti. Dan kini saatnya telah tiba. Carilah harta karunku dengan mengikuti peta ini. Semoga berhasil!!!...


Bela membaca lagi surat selanjutnya.


...*Hmm, kau pasti penasaran tentang orang dibalik insiden yang kualami. Sebenarnya mereka tidak berbahanya. Tapi aku yang sangat berbahaya bagi mereka. Karena apa? karena aku mengetahui bisnis rahasia mereka. Mereka melakukan berbagai bisnis terlarang untuk mendapatkan banyak uang. Mereka orang serakah, berapapun uang yang mereka dapatkan tetap kurang dimata mereka. Mereka juga yang menyebabkan ayah pergi jauh dari kita. Apa kau menganggap Mama keluargamu? Mama dalang dibalik semua ini. Aku sebenarnya juga tidak percaya. Tapi setelah aku gali lebih dalam lagi ternyata memang Mama yang telah merencanakan semua ini. Rumah kita sungguh indah, menampung keluarga sekaligus musuh kita. Tapi jangan khawatir mereka tidak akan bisa menyentuhmu. Aku sudah mempercayai Theo untuk menjagamu. Kenapa aku mempercayainya? kau akan mendapatkan jawabannya setelah menemukan harta karun itu. Selamat menikmati petualanganmu....


^^^Salam Donat dari Arron^^^


Itu bagian akhir dari suratnya. Bela sangat penasaran dengan isi harta karun itu. Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Dan semua itu akan terjawab saat dia benar-benar menemukan harta karun itu.


⚡⚡⚡


Bela sudah sampai di villa tua bersama Elli dan Sena. Sesuai dengan arahan yang ada dipeta, mereka harus masuk ke dalam. Tapi mereka masih ragu dan tetap berdiri didepan mobil.

__ADS_1


"Yakin nih mau masuk?" tanya Sena dengan raut wajah sedikit ketakutan.


"Ini sudah malam loh," timpal Elli.


"Kembalilah pulang kalau kalian takut. Aku akan tetap mencari itu sampai ketemu."


Tiba-tiba muncullah pria berbadan besar dari samping gerbang bagian dalam.


"Ada yang perlu dibantu?"


Mereka sedikit terkejut dengan kemunculannya yang secara tiba-tiba.


"Hmm, boleh kami sewa villanya semalam?"


"Anda Nona Bela kan?" pria itu menyorotkan senternya kearah Bela.


"Iya," Bela meringis karena silau terkena cahaya senter itu.


"Terimakasih, Pak." Mereka masuk kedalam mobil dan memarkirkan mobil mereka di depan villa.


"Nih villa serem juga,"


"Cari besok aja ya, ini sudah malam."


"Kita cari harta karunnya besok tapi sekarang kita cari kuncinya didalam villa." Bela membuka peta yang dia bawa.


Elli dan Sena hanya menghela napas. Mereka menyesal mengikuti Bela sampai disini. Tapi mereka sangat penasaran seperti apa harta karun yang disembunyikan oleh Arron.

__ADS_1


Bela membuka pintu. Seketika mereka dibuat terpana dengan isi villa ini. Semua barang-barang masih bersih dan sepertinya barang-barang yang ada disini mahal-mahal. Bela terpaku dengan foto yang tergantung di dekat tangga. Semua kenangan tentang masa kecilnya dan Arron ada di sini. Foto-foto dimana dia bermain pasir dan bermain piano bersama Arron. Bela merindukan Arron sangat rindu. Dia meraba fotonya bersama Ayahnya dan Arron. Saat itu mereka tampak sangat bahagia sebelum Dyra datang di keluarga mereka. Mengingat Dyra, Bela mengepalkan kedua tangannya.


Setelah aku menemukan harta karun itu, aku akan membalas semua apa yang kau lakukan kepada Ayahku dan Kak Arron.


"Bel, ini jadi atau tidak cari kuncinya?" Sena menyadari perubahan sikap Bela yang tadinya takjub kini menjadi geram.


"Ayo," Bela membuka kembali peta yang dia pegang.


⚡⚡⚡


Brakk


Aurel melempar kursi yang ada di kamarnya ke arah pintu.


"PERGI!!!"


Suara teriakan Aurel terdengar sampai ke ruangtamu membuat Dyra dan Albert langsung berlari menuju kamar Aurel.


"Ada apa?" Dyra membuka pintu. Aurel terus melempar alat-alat kosmetiknya ke arah pintu otomatis itu mengenai Dyra dan Albert.


"Hei, ada apa denganmu?" Albert menahan tahan Aurel yang hendak memukul Dyra.


"KUBILANG PERGI!!!" Aurel menyerang Dyra tapi drngan segera Dyra menggeser tubuhnya. Alhasil Aurel menyerang udara kosong. Begitu seterusnya.


Bayangan Mayleen berdiri di ambang pintu sambil menertawakan Aurel. Itu sebabnya Aurel marah dan menyerang bayangan Mayleen. Tapi semua itu hanya imajinasi Aurel semata.


"Tenangkan dirimu," Dyra memeluk Aurel dari belakang.

__ADS_1


"Itu ada Mayleen disana. Aku harus membunuhnya." Aurel menunjuk ke arah pintu.


"Tolong biarkan saja," Dyra menangis dengan Aurel didekapannya. Albert hanya mengangkat sebelah alisnya. Dia mencoba melogika apa yang telah dia lihat.


__ADS_2