
Victoria sedang memantau persiapan artisnya untuk syuting film terbaru. Victoria merasa film yang baru ini mirip seperti kisahnya Dyra.
"Bagaimana proses syutingnya?" wanita berkacamata hitam menghampirinya.
"Kami masih mencari lokasi yang cocok untuk adegan selanjutnya, Nona."
"Apa dikota ini tidak ada villa bekas kebakaran?" tanya wanita itu lagi.
"Hmm, kalau cuma sederhana sih ada tapi kita membutuhkan yang sedikit mewah." Victoria membaca naskahnya lagi.
"Bagaiman kalau bangunan dipinggir hutan itu? Saya barusaja mengelilingi kota ini dan melihat bangunan itu. Ada kesan horornya juga."
Victoria diam sejenak. Dia merasa tidak asing dengan wanita dihadapannya ini. Tentusaja dia mengenalnya. Dia adalah produser film yang terkenal dari Canada. Olivia Mabella.
"Ah itu, saya mengenal pemiliknya."
"Nyonya, bisa bicara dengan pemiliknya dan kita akan menyewanya. Berapapun harganya. Tempat itu akan cocok untuk adegan kebakaran."
"Ya saya akan usahakan," Victoria takut jika nantinya Albert tidak mengijinkannya memakai mansion Bela.
"Tapi apakah saya boleh bertanya?" Victoria ingin menanyakan perihal naskah filmnya. Olivia menggangguk.
"Kenapa anda ingin memproduksi film dikota ini?"
"Saya tahu kenapa anda bertanya seperti itu. Tapi maaf, film ini tidak berkaitan dengan kejadian 3 tahun lalu. Naskah film ini diproduksi 5 tahun yang lalu. Jadi saya harap anda tidak salah sangka."
"Ah, maaf saya terlalu sensitif. Tapi ini benar-benar mirip." Victoria melepas kecurigaan didalam dirinya.
__ADS_1
"Ya saya tahu, kasus itu sampai ke Canada juga. Jadi saya pikir kota ini akan sangat mendukung produksi film ini. Ditambah lagi film ini mengingatkan kita pada kasus itu."
"Anda memang benar. Kasus itu akan membuat film ini terkenal." Victoria kembali mengingat Bela. Senyumannya yang menawan membuat siapapun merindukannya.
.........
Albert bersantai dikamarnya. Kamar yang dulu dia dan Bela tempati. Kenangannya masih basah dengan air mata. Bahkan parfum dan kosmetiknya masih tertata rapi ditempatnya.
Setiap pagi Albert bangun tidur, dia melihat bayangan Bela berdiri di tirai jendela. Menyapanya dengan senyuman. Lalu Albert membawanya kedalam pelukannya. Namun itu hanya imajinasinya saja.
Setiap saat dia melihat Bela melakukan pekerjaan rumah. Albert ingin memeluknya tapi seketika bayangan Bela menghilang. Seberapa besar cintanya pada Bela hingga dia tidak sanggup melupakannya?
Setiap detik setiap menit hanya Bela yang ada dipikirannya. Bersamaan dengan itu rasa sakit kembali melanda hatinya. Dia sudah seperti orang gila. Tiada lagi yang peduli dengannya. Ingin rasanya dia mengakhiri penderitaannya dengan memutuskan nadinya tapi masih ada Elvan yang harus dia jaga.
"Kenapa sulit sekali melupakanmu?" Albert memukul dadanya sendiri.
"Karena kau mencintaiku dan aku mencintaimu." Bela berdiri dihadapannya dan tersenyum.
Drrrt Drrt
Ponselnya berbunyi, Victoria yang menghubunginya.
"Ya, kenapa?"
"....."
"Aku ada dirumah."
__ADS_1
"....."
"Tamu? Produser film? Aku ada dirumah. Kita bicarakan dirumah saja. Bawa dia kemari." Albert memutus sambungan teleponnya dan melemparnya ke ranjang. Lalu dia masuk ke kamar mandi untuk. membersihkan diri.
..........
"Ini Olivia Mabella. Kami ingin menyewa mansion Bela untuk syuting film terbaru kami. Apa kau mengijinkannya?" Victoria memperkenalkan Oliv pada Albert. Dan dia langsung sampai pada intinya.
"Apa alasan kalian ingin menggunakan mansion itu sebagai latar?" Albert memperhatikan Oliv.
"Begini, film terbaru kami terdapat adegan kebakaran. Jadi kami ingin menggunakan mansion itu. Rasanya akan berbeda ketika kami menggunakan properti buatan. Lagipula mansion itu sudah tidak terpakaikan?" Oliv menjelaskan pada Albert sambil menatap matanya.
"Jangan menatap matanya, Kakak. Dia akan mengenalmu saat itu juga."
Dia teringat oleh perkataan Sheila. Dengan cepat dia menunduk menyesali apa yang baru saja dia lakukan. Bohong jika dia tidak merindukan Albert sedikit pun.
Albert terpaku oleh tatapan mata itu. Matanya seperti mata milik Bela. Seketika dadanya terasa sesak.
"Tidak," Satu kata yang tidak bisa menjelaskan seribu rasa sakitnya.
"Kenapa? Apa kau yang membakar mansion itu?" Victoria tersulut emosi. Bicaranya ngelantur.
Albert dan Oliv menoleh padanya.
Apa dia tahu sesuatu?
Itulah yang dipikirkan oleh kedua orang itu. Mereka seakan kembali pada kejadian itu.
__ADS_1
"Baiklah, gunakan saja semau kalian." Albert bangkit dari duduknya. Dia sudah tidak tahan lagi. Victoria telah memutar kembali kenangan masalalu yang ingin dia lupakan.
"Baik terimakasih banyak," Oliv tersenyum. Albert melihat senyuman itu. Dia merasa Oliv mirip dengan Bela tapi dari segi mananya. Dan Olivia membuat luka dihatinya yang sudah mengering kembali berdarah lagi.