
Dyra terbangun karena mendengar sirine mobil polisi. Dia beranjak turun dari tempat tidurnya. Pintu terbuka 2 polisi dan satu detektif masuk dan meringkus Dyra.
"Ada apa ini?" Dyra berusaha melawan.
"Anda tersangka utamanya."
"Tersangka utama? Aku tidak melakukan apa-apa."
"Anda bisa menjelaskannya dikantor." Ucap detektif. Lalu dua polisi itu membawa Dyra ke kantor polisi untuk diamankan.
Bela masuk rumahsakit untuk yang kedua kalinya. Dia terus mual dan muntah hingga tubuhnya lemas. Sungguh menjijikan melihat potongan tubuh manusia yang hampir membusuk.
"Perutku rasanya seperti diaduk." Untuk kesekian kalinya Bela muntah lagi. Albert sampai khawatir.
__ADS_1
Sedangkan dikantor polisi, Aurel mengakui segala perbuatannya pada polisi. Sekarang dia ditahan satu sel bersama Dyra.
"Siapa yang menyuruhmu mengakuinya?" tanya Dyra tanpa melihat Aurel.
"Tidak ada, mau bagaimana lagi. Mayleen menghantui pikiranku terus. Apa Mama tahu aku hampir gila? Ditambah lagi apa yang Mama perbuat. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kenapa Mama tega menghabisi banyak gadis?"
"Jika Mama tidak menjual organ mereka kita akan tinggal dijalanan. Royal Village sudah bangkrut, kantor Mama juga bangkrut dan hanya pulau Poem yang menjadi harapan. Tapi Theo menghancurkan pulau itu."
"Kau tahu apa ha?" Dyra mendorong Aurel hingga terduduk dilantai.
"Yang Aurel tahu Mama itu gila harta. Aurel juga tahu Mama punya hubungan spesial dengan Om Thomas." Dada Dyra terasa sesak.
"Aku juga tahu Mama yang membunuh Ayah dan ibunya Bela serta Kak Arron. Mama menanam ganja di pulau Poem dan memasarkannya secara ilegal. Mama juga menjual para gadis dibawah umur. Aurel tahu segalanya. Aurel juga tahu setiap malam Mama memberiku obat yaang dicampur dengan jus. Entah itu obat apa."
__ADS_1
Ternyata banyak rahasia yang Aurel ketahui tentangnya. Dyra merasa ingin mengakhiri hidup Aurel. Selama ini dia membesarkan Aurel agar bisa menjadi perisai tapi apa yang Aurel lakukan sekarang. Dyra mencekik leher Aurel.
"Iya Mama melakukan itu semua. Sekarang kau mau apa?" Aurel memberontak. Kemudian polisi masuk dan melerai mereka. Untuk menjaga hal yang tidak diingin terjadi, mereka menempatkan Aurel di sel yang berbeda.
Hari-hari telah berlalu. Kasus pembunuhan itu sudah mencapai titik terang. Para korban sudah teridentifikasi dan pelaku juga dihukum untuk semua perbuatannya. Berita sebesar ini menjadi topik hangat disemua stasiun televisi. Para wartawan berlomba-lomba memintai keterangan orang terdekat pelaku. Suasana kota menjadi sangat ricuh karena pembunuhan ini. Rumah disita beserta fasilitasnya.
Victoria dan Grace juga dirugikan karena hal ini. Club dan bisnis mereka semua disita karena terbukti menggelapkan sejumlah dana daerah untuk kepentingan mereka pribadi. Perdagangan gadis dibawah umur juga terungkap. Dalam sekejap semua rekan kerja Dyra menjadi musuhnya. Victoria kembali membuka kasus tentang kematian suaminya. Dan Dyralah dalang dari peristiwa itu. Wanita itu yang menghabisi banyak orang hanya untuk uang.
"Apa sekarang aku bisa bernapas lega?" tanya Bela pada dirinya sendiri. Sudah hampir setangah bulan dia berbaring di ranjang rumah sakit.
"Ah, bahkan aku ingin muntah lagi sekarang." Bela masuk ke kamarmandi. Dia mengeluarkan isi perutnya diwastapel.
"Sungguh ingatan ini membuatku merasa mual. Hii, jijik dan mengerikan." Bela kembali teringat dengan potongan tangan dan usus yang keluar dari kantong.
__ADS_1