Family And Enemy

Family And Enemy
Ragu


__ADS_3

Erland mendengar kabar dari Alex. Dia sedikit bingung dengan penjelasan Alex. Menurutnya semua yang terjadi pada Bela itu tidak masuk akal. Dia duduk di sofa ruangtamu memikirkan apa motif penculikan Bela.


"Pa, Bela nggak apa-apa kan?" Maya baru datang dari dapur membawa secangkir kopi.


"Bela baik-baik aja, Ma."


"Syukur deh." Maya bernapas lega.


"Tapi ada yang bikin papa bingung, Ma." Erland meminum kopi yang disuguhkan Maya.


"Sudahlah, Pa." Maya meninggalkan Erland sendiri.


Erland masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dia merasa janggal, mungkin dia harus menyelidiki ini lebih dalam lagi.


 -----------------------------------


Bela barusaja selesai mandi. Dia duduk dipinggir tempat tidurnya. Pergelangan kakinya membengkak. Dia tidak ingat jika pergelangan kakinya terkilir saat dihutan. Dahinya juga terasa perih. Bela meraba luka didahinya, perlahan dia melepaskan perban yang membalut lukanya. Lukanya tidak terlalu dalam dan tidak terlalu lebar. Bela mengambil kotak P3K miliknya. Dia membersihkan lukanya agar tidak inveksi. Luka didahinya membuat Bela mengingat kejadian tadi.


Perasaan hangat yang seperti itu hanya ada saat aku sedang bersama Kak Arron. Lalu apa hubungannya aku dengan pria itu. Siapa sebenarnya pria itu?


Bela masih penasaran.


Tok..Tok..Tok


Alex mengetuk pintu kamar Bela. Memang pintunya tidak ditutup oleh Bela tapi, masuk ke kamar orang tanpa mengetuk pintu itu tidak sopan. Terlebih lagi saat berada di rumah orang.


Bela menoleh, dia langsung bangkit dari duduknya.


"Alex, kaosnya kurang besar? Akan aku carikan lagi."


"Tidak, ini sudah membuatku nyaman." Alex mendudukkan Bela kembali. Diangkatnya kaki Bela sebelah kanan tepat di pergelangan kakinya yang membengkak.


"Aww" Bela meringis, pergelangan kakinya terasa sakit saat disentuh Alex.


"Apakah sakit?" Alex memijat ringan kaki Bela yang membengkak.


Bela menggeleng, dia meringis menahan sakit. Baru kali ini dia terluka.


"Bel, kalau misalnya aku suka sama seorang wanita, tapi wanita itu nggak suka sama aku gimana?" Raut wajah Alex berubah serius.


"Hmm, buat dia luluh. Buat dia juga suka sama kamu. Berjuanglah!" Bela menanggapi dengan santai.

__ADS_1


"Akan ku coba. Aku tidak pernah memperjuangkan seorang wanita justru wanita itu yang memperjuangkan aku."


"Terserah. Ngapain emang nanya begitu?" Bela menarik kakinya agar lepas dari tangan Alex.


"Akhir-akhir ini jantungku suka berdetak cepat saat aku bersamanya. Aku tidak tahu ini cinta atau bukan?"


"Ngomong-ngomong ini sudah malam, menginaplah disini." Bela mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak nyaman saat membicarakan soal percintaan. Itu mengingatkannya pada sesuatu.


"Aku akan pulang sekarang. Aku akan menjemputmu besok." Alex berdiri.


"Tapi ini sudah malam."


"Ayah menyuruhku pulang. Besok akan ku jemput, kakimu masih bengkak. Kau tidak mungkin bisa menyetir sendiri." Alex memasukkan tangannya di kantong celana.


"Baiklah." aku bisa apa?


Bela mengantarkan Alex sampai ke mobilnya.


 


Dyra membanting semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya.


"KENAPA DIA BISA KEMBALI? PADAHAL AKU SUDAH SANGAT SENANG. AKU TIDAK PERLU MENGOTORI TANGANKU. TAPI SEMUANYA SIRNA SEAKAN-AKAN TAKDIR SEDANG MEMIHAK PADANYA. 20 TAHUN YANG LALU AKU MEMBUNUH IBUMU SEKARANG AKU AKAN MEMBUNUHMU JUGA."


"Tunggu saja."


Teriakan Dyra memenuhi seisi ruangan. Kamarnya kedap suara jadi dia bisa berteriak sesuka hatinya. Tidak ada yang bisa mendengarnya dari luar.


 -----------------------------------


BELA POV


Eh kenapa aku nyaman saat bersama Alex? Kita baru kenal dan aku senyaman itu sampai aku sudah percaya padanya. Aku tipe orang yang tidak mudah percaya pada oranglain tapi berbeda dengan Alex yang bisa dikata orang asing. Ingat Bela dia temanmu bukan orang asing lagi.


Aku lapar, dari tadi perutku belum kemasukkan makanan apapun. Didapur ada maid nggk ya? Masak sendiri aja, lebih mantap.


Ruang tamu kosong, sepi juga nggak ada Kak Elli dan Kak Sena. Tapi itu jaket siapa yang ada di sofa? Kalau jaketnya Alex nggk mungkin deh kayaknya. Ya kali Alex suka warna pink. Ah pasti mereka udah pulang.


"Mau apa nona?" ternyata masih ada maid didapur.


"Hmm, pergilah aku akan membuat makanan sendiri. Sudah malam istirahatlah!"

__ADS_1


"Tapi saya harus melayani anda." Kenapa maid ini keras kepala sekali.


"Aku bisa sendiri. Pergilah!"


"Baiklah saya permisi, Nona." Akhirnya dia pergi juga.


Oke ada apa aja di lemari pendingin.


Buset isinya makanan 4 sehat 5 sempurna semua. Mana nggak ada makanan ringan lagi di lemari atas. Biasanya sih kak Sena nyimpen banyak tapi ini kok kosong. Dapurnya berubah total ini mah. Makan apa ya? Susu ajalah.


"Widih anak kucing udah berani bawa cowok pulang." Nongol juga nih dua manusia gesrek.


"Apaan sih."


"Bel, tampan juga si Alex." Nggak nyangka kak Sena bisa memikirkan cowok tampan, kukira hanya memikirkan hantu saja. Ngomong-ngomong soal hantu, tadi yang duduk diatas ranting pohon sambil menyisir rambut itu makhluk apaan?


"Bagaimana kau bisa kembali?" Kak Elli selalu kepo.


"Entahlah. Aku di tengah hutan lalu ada seseorang duduk diatas ranting pohon memberi tahuku jalan pulang. Aku mengikuti arahannya dan aku bertemu Alex di jalan besar pinggir hutan."


"Seseorang? duduk diatas ranting pohon?"


"Iya, memakai baju putih dan kalau ketawa hihiiihihii." Memang itu yang kudengar.


"Itu bukan orang itu hantu, Bel." Kak Sena gemeteran.


"Ah masa?" Apa aku harus percaya padanya?


"Logika dong. Mana ada manusia yang bisa hidup di tengah hutan begitu. Itu pasti hantu."


"Hish, kau membuatnya takut. Lupakan itu sekarang siapa yang membawamu ke tengah hutan begitu?"


"Kak El, Bela nggak tahu." Aku menceritakan segala tanpa ada yang terlewatkan.


"Tapi jika dia ingin mencelakaimu kenapa dia malah mengobati lukamu dan menawarimu makanan? Dan kalau memang dia orang terdekatmu, orang yang menyayangimu kenapa dia meninggalkanmu di hutan sendirian?"


"Bel, apa cuma aku yang meragukan asal usulmu?"


"Aku juga tidak tahu, Kak Sen. Aku sendiri bertanya-tanya siapa aku, darimana aku berasal, apa aku masih mempunyai keluarga kandung atau tidak."


"Kita akan mencari tahu sendiri jika Om Erland tidak mau jujur." Kak Elli yang paling bijak diantara kami. Aku sering menganggapnya ibu. Karena aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Tapi kasih sayang tante Maya dan mereka berdua cukup untukku.

__ADS_1


__ADS_2