
Sena, Elli, Cindy dan Bela berkumpul diruangan bawah tanah mansion. Mereka tengah menyusun rencana untuk beraksi malam ini.
"Kau yakin kita akan aman bila lewat pinggir pagar kantor?" Elli mencoret peta.
"Bukan lewat tapi menyelinap."
"Apa bedanya coba?" Elli berdecak.
"Mulai deh, kalian tidak bisa ya akur satu jam saja?" Cindy terganggu dengan mereka. Sejak tadi dia berusaha membobol sistem keamanan tapi tidak bisa. Dan mereka menambah pusing kepalanya.
"Dih, ngamuk dia."
"Makanya otak isinya jangan kode biner mulu. Pusingkan?"
"Wah, ngajak ribut." Cindy menggulung lengan kemejanya sampai ke atas. Dan terjadilah keributan yang hanya bisa mereka selesaikan dengan adu jambak.
Sedangkan Bela masih melamun. Dia masih mengingat bagaimana Alex membuat hatinya remuk dan hancur. Rasanya juga masih membekas sekarang.
Mereka bertiga menyadari jika Bela tidak memperhatikan. Mereka juga tahu apa yang dialaminya. Cindy sudah menduga itu. Dia juga sudah mengatakan pada Bela sejak terjadi ledakan di Royal Village. Tapi Bela menanggapi dengan santai. Dia juga siap untuk terluka jika memang nantinya Alex memilih orang lain.
"Bel?" panggil Elli.
"Hah iya," Bela mendongak.
"Maaf," sambungnya lagi.
"Sudahlah jangan memikirkan itu, kami tahu." Sena memegang pundak Bela.
"Maaf, aku akan bersiap untuk malam nanti." Bela mengusap wajahnya.
"Apa Tuan Theo tahu kita akan melakukan ini?" Cindy masih fokus dengan laptopnya.
"Aku belum memberi tahunya." Bela menggeleng.
"Segera beritahu dia, kita butuh ruang cctv kantor bagian atas."
"Iya sebentar," Bela keluar dan menghubungi Theo.
Sedangkan ditempat lain, Dyra bersama Thomas tengah mengawasi harta mereka yang akan dipindahkan ke Orchid Club. Para petugas mengemasi uang dan berlian ke dalam koper.
Hari ini kantor sepi karena Theo meliburkan semua pekerjanya. Jadi lebih mudah untuk mengambil beberapa uang di brankas kantor. Selain itu juga Theo sedang sibuk di kantor Ryma Corp jadi mereka bebas melakukan apasaja.
__ADS_1
"Kita perlu penjagaan ketat dibagian truk besok. Kuharap ini akan berhasil sesuai dengan rencana kita." Dyra bergelayut manja dilengan Thomas.
Bukan rahasia lagi mereka memang memiliki hubungan istimewa. Tapi hanya orang terdekat mereka saja yang tahu. Ada beberapa bawahan kantor yang tahu tapi mereka memilih diam. Mereka tahu betul apa akibatnya jika mereka koar-koar diluar sana tentang hubungan mereka.
"Itu pasti, Sayang." Thomas mengecup bibir Dyra dengan mesra.
Malam tiba, seluruh penjuru kantor dijaga ketat oleh para petugas keamanan yang bertugas. Lampunya juga temaram bahkan hampir semuanya gelap.
"Nanti akan ada empat petugas listrik yang datang. Biarkan mereka masuk, Tuan Theo ingin memasang beberapa lampu hias di ruangannya serta lantai bagian atas." Albert datang dan bergabung bersama Dyra dan Thomas.
"Oh iya, aku juga lupa. Tadi sore Theo menghubungiku. Aku panik kukira dia tahu apa yang kita lakukan. Rupa-rupanya dia mengirim tukang listrik untuk memasang lampu. Aku juga bilang kita akan lembur malam ini. Semoga dia tidak curiga." Dyra memainkan ponselnya.
Empat gadis memakai seragam biasa yang dipakai oleh petugas listrik setempat berada diluar gedung hendak masuk. Bela, Cindy dan Sena berpenampilan seperti laki-laki sedangkan Elli dia berpenampilan seperti wanita pada umumnya. Elli wanita yang feminim sepenuhnya jadi sulit untuk merubahnya.
Mereka membawa beberapa tas besar serta satu kardus berisi peralatan yang mereka butuhkan.
"Maaf, kalian tidak boleh masuk tanpa ijin." Dua petugas yang berbadan tegap menghalangi mereka.
"Biarkan mereka masuk," Albert keluar dari lift. Dia pergi agar tidak membuat Dyra curiga.
"Baik Pak,"
"Jangan bicara, diatas ada cctv." Cindy memperingatkan mereka.
Ting
Pintu lift terbuka.
Mereka membagi menjadi 2 kelompok. Sena dan Cindy naik lift lagi menuju lantai atas. Sedangkan Bela dan Elli masuk ke ruangan Theo.
Sena dan Cindy sudah mencapai lantai paling atas. Mereka keluar lift sambil melihat-lihat ada cctv atau tidak.
"Jauh dari perkiraan kita, ternyata hanya lantai bawah saja yang dijaga ketat. Sungguh para orang tua itu bodoh sekali." Ujar Sena.
"Kualat baru tahu rasa, segala ngatain orang tua lagi."
"Iya iya maaf," Sena menjewer telinganya sendiri.
Mereka kembali berjalan menyusuri tangga menuju ke atap. Ditengah-tengah jalan Cindy berhenti dan menyalakan senter. Tepat disebelah kanannya ada sebuah pintu mini yang lubang kuncinya tertutupi oleh lukisan dinding.
Cindy menyingkirkan lukisan itu dan membuka pintunya dengan kunci yang diberikan Theo sebelumnya. Setelah pintu terbuka dan Cindy masuk kedalam, Sena menutup pintunya dan kembali memasang lukisan. Baru setelah itu dia naik tangga lagi menuju atap gedung.
__ADS_1
Cindy berada diruangan yang gelap dia tidak tahu dimana saklar lampunya. Dia mengarahlan senternya pada dinding disekitarnya. Terlihatlah saklar lampu serta tombol merah berlambang pintu lift.
Setelah menyalakan lampu Cindy dibuat terpana dengan banyaknya layar monitor yang menempel didinding serta komputer utamanya berada ditengah ruangan. Sungguh sebuah surga baginya.
Tangannya langsung bekerja untuk mematikan cctv atau hanya sekedar menghentikan waktunya.
"Kalau dihitung hanya ada 8 penjaga di kantor bawah. Itu sudah termasuk penjaga pintu masuk ruang brankas."
"Dan disini mereka juga mengawasi lewat cctv yang berada tepat di dalam ruang brankas. Kenapa diruangan itu tidak dijaga oleh penjaga juga? Apa mereka takut semua uangnya akan dicuri oleh para penjaga?" Itu yang tidak Cindy mengerti.
"Mungkin saja, mereka itu tamak sekali." Ujar Elli. Rupanya mereka berempat sudah terhubung melalui earphone mereka. Itu memudahkan mereka untuk saling memberi arahan terutama Cindy.
"Terserah kalian mau melakukan apa, disini aku hanya bisa bersantai menunggu kalian." Sena duduk dibangku atap dengan ditemani camilan yang sempat dia bawa dari mansion.
"Kalian sudah selesai memasang lampunya?" Cindy masih memperhatikan gerak gerik semua orang dari layar monitor kecuali Sena.
"Ini sudah selesai tinggal menunggu aba-aba darimu." Bela mengemasi peralatan agar terkesan baru selesai memasang lampu.
"Aku sudah mengganti sistemnya jadi kalian bisa bergerak dengan leluasa. Tapi jangan ceroboh kita masih dalam pengawasan mereka."
"Sekarang kalian bisa mulai bergerak." Cindy mulai memberi arahan. Dia memegang kertas yang berisi arahan dari Theo.
"Masuk ke dalam rak buku di belakang sofa."
Elli dan Bela kebingungan. Mereka memang melihat rak buku tapi bagaimana cara masuknya.
"Tarik saja kedua rak itu nanti ada jalannya."
Elli dan Bela mengikuti arahan dari Cindy dan mereka berhasil menemukan jalan.
"Didalam ruangan itu ada saluran udara yang langsung mengantarkan kalian pada ruangan khusus brankas."
"Baik terimakasih, kami akan mengikuti sesuai arahanmu." Elli bersiap untuk masuk kedalam saluran udara.
Saluran udaranya tidak sempit juga tidak besar cukup untuk badan mereka berdua. Sekian lama mereka merangkak akhirnya mereka menemukan ujungnya. Bela membukanya dengan tangan. Sepertinya saluran udaranya memang sudah dirancang untuk mereka atau itu dibuatbuntuk mengantisipasi sesuatu.
"Sungguh melelahkan," Sena meregangkan otot-otot tubuhnya.
Bela diam memperhatikan cctv yang ada diatasnya.
"Tenang saja aku sudah menghentikan waktunya." Cindy melihat Bela dari layar monitor.
__ADS_1