
Bela dan Mayleen menikmati camilan mereka. Mengabaikan semua yang terjadi di sekitarnya.
"Wah pasangan yang romantis."
"Sangat cocok."
"Aurel cantik dan Bryan tampan. Mereka mungkin ditakdirkan untuk bersama."
Kata-kata mereka sukses membuat hati Bela hancur berkeping-keping.
Bela bangkit dari duduknya. Ingin rasanya dia lari sejauh mungkin.
"Kau mau kemana Bel?" Mayleen terkejut melihat Bela berdiri tiba-tiba.
"Mau pulang." jawab Bela singkat.
"Oh." Mayleen mengangguk.
Baru dua langkah Bela berjalan, kantin dihebohkan dengan kedatangan pria yang disebut-sebut sebagai penguasa kampus.
Seluruh penghuni kantin diam ketakutan termasuk Aurel. Bryan menggenggam erat tangan Aurel seolah mengisyaratkan 'Jangan takut, aku ada disini bersamamu'. Bela melihat sekelilingnya.
"Hei kau." Bela menoleh, melihat siapa yang sedang berteriak.
Sial. Kenapa harus bertemu lagi dengannya. Kurasa dia akan membalasku. Akan ku pukul lagi dia.
Bela masih diam ditempat. Mendadak perutnya sakit.
Kenapa dengan perutku. Apa aku datang bulan?. Ku mohon jangan sekarang.
Pria yang tadi sudah berada di depan Bela. Tetap tampan meskipun ada lebam di area pipi.
"Apa kau lupa semalam?" Diraihnya tangan Bela sembari menyeringai.
"Lepaskan." Bela mencoba melepaskan tangannya namun terasa semakin kuat dan saki.
"Jangan memberontak. Apa keberanianmu sudah hilang?" Bela meringis kesakitan. Sakit dihatinya, sakit di perutnya dan kini sakit di tangannya. Bela tidak bisa berbuat apa-apa, badannya lemas.
Penghuni kantin yang melihat langsung itu hanya diam saja. Mereka tidak ingin mati saat itu juga.
Aurel mengumpulkan keberaniannya. Dia langsung berlari menghampiri Bela yang sedang kesakitan akibat cengkraman pria itu.
__ADS_1
"Tolong lepaskan adikku, Alex. Apa yang dilakukannya padamu?." Suara Aurel bergetar. Bryan menariknya menjauhi Alex.
"Adikmu? apa yang dilakukannya padaku? lihat wajahku! dia memukulku semalam." Alex melepaskan tangan Bela. Bela memegang pergelangan tangannya yang memerah.
"Tapi kenapa dia memukulmu?" Bryan memandang Bela tidak percaya.
"Dia memukulku hanya karena sampah." Alex marah.
Flashback
Bela duduk di kursi putih di bawah lampu taman yang temaram. Bela terlihat menikmati udara malam yang menyejukkan. Bela merasa damai.
Ditengah taman Bela melihat ada seorang pria tengah menendang tempat sampah membuat sampah berserakan dimana-mana. Bela menegurnya.
"Permisi bisakah anda tidak mengotori taman ini?"
"Apa urusanmu?" sang pria marah.
Bela tidak menjawab. Dia berjongkok memunguti sampah yang berserakan mengembalikan ke tempatnya.
"Ah kau petugas kebersihan di taman ini." Pria itu kembali marah dan kembali menendang tempat sampah.
Ketiga kalinya pria itu menendang tempat sampah. Bela memunguti sampah lagi setelah semua bersih, Dia bergegas berdiri dan tanpa aba-aba langsung menonjok pria yang ada di depannya. Bela sudah tidak bisa mengendalikan emosi.
Bug
"Berani sekali kau. Dengar aku tidak ingin melawan wanita." Pria tadi memegang area yang ditonjok Bela.
"Kenapa? apa kau seorang pecundang yang takut pada wanita?" Bela mengejek.
Pria itu menggertakkan giginya. Dia sangat marah. Pria itu melayangkan tangannya pada Bela. Dengan lincah Bela menahannya dan memelintir tangannya ke belakang. Pria itu kembali menyerang namun Bela menghindar.
"Aku sudah cukup membuang waktu untukmu." Bela meninggalkan pria itu.
Flashback end
"Kau melukai orang lain hanya karena sampah Bel? kalau mama tahu, kau bisa diusir dari rumah Bel. Kau tidak ingat kejadian 12 tahun yang lalu." bentak Aurel pada Bela.
"Adukan saja pada Mama. Aku sudah muak berpura-pura baik di depanmu. Bukannya kau senang jika aku tidak mengganggu kehidupanmu. Kejadian 12 tahun yang lalu itu karenamu. Kau..."
Plak
__ADS_1
Belum selesai Bela bicara, Bryan menamparnya dengan keras. Aurel hanya bisa meneteskan air mata.
"Kau sudah keterlaluan Bela. Saudaramu mencemaskanmu, tapi ini balasnya." Melihat kekasihnya menangis, Bryan emosi.
"Saudara? Aku cuma anak pungut. Bela cuma anak pungut. Mmm... Ngomong-ngomong kalian cocok. Kalian pasangan yang serasi. Sangat serasi. " Bela sudah tidak tahan, dia meninggalkan kantin.
"Ck ck ck. Dia benar kalian pasangan yang sangat menyebalkan." Alex menimpali.
------------------------
Bela sedang berada di dalam mobilnya. Bela menahan rasa sakit di perutnya. Bibirnya memucat. Tiba-tiba ada yang masuk ke mobilnya.
"Kau kenapa?" tanya Alex yang baru saja duduk.
"Kau kenapa masuk ke mobilku? Kau mau apa?" Bela memegangi area bawah perutnya.
"Aku ingin kau mengobati lebam yang kau sebabkan semalam. Kau yang melukaiku dan kau juga yang harus mengobatiku." Kenapa wanita ini pucat? apakah cengkramanku ditangannya sesakit itu. Harusnya kau tidak kasar pada wanita Alex. Alex menatap lekat Bela.
Bela mengabaikan Alex. Bela meminum obat pereda nyeri haid. Sungguh nyeri haid itu sakit.
"Apa kau mendengarku?" Alex kembali bertanya.
"Aku tidak tuli." Bela mengambil kotak kecil didalam tasnya.
"Mendekatlah!" Perintah Bela pada Alex.
"Kau mau apa?" Alex menjauh sedikit.
"Aku mau membunuhmu." Dibukanya kotak itu, ternyata P3K.
"Kau mau ku obati atau tidak?" Alex mendekat pada Bela.
Jarak mereka cukup dekat. Bela mengobati luka Alex. Terkadang Alex meringis, mungkin lukanya terasa perih. Terkadang Bela meniup luka Alex untuk mengurangi rasa perihnya.
Jantungku. Kenapa jantungku berdetak kencang? apa aku menderita penyakit jantung.~Alex
"Sudah selesai." Baru saja Bela menurunkan tangannya, Alex sudah keluar dari mobil.
"Tanpa mengucapkan terimakasih. Sungguh tidak sopan." Gerutu Bela.
Bela menyalakan mesin mobilnya dan mulai meninggalkan kampus.
__ADS_1