Family And Enemy

Family And Enemy
cerita masalalu


__ADS_3

Aurel menerobos masuk ke ruangan Alden. Dia sangat marah sekarang. Alden dan sekretarisnya yang sedang bermesraan kaget dan langsung keluar dari ruangan Alden. Ini bukan sekali dua kali terjadi. Aurel selalu memergoki mereka berdua yang sedang bermesraan.


"Ayah jahat, sudah berkali-kali aku peringatkan tapi ayah mengulanginya lagi. Lebih baik aku pergi dari sini daripada hidup bersama kalian yang penuh kebohongan."


"Apa yang kau bicarakan?"


"Apa? Bagaimana Ayah bisa bertanya setelah membunuh orang. Ayah kira aku sebodoh itu tidak mengetahui kebohongan kalian." Mata Aurel memerah. Dia menahan semua amarahnya.


"Owh soal itu, Ayah tidak melenyapkan Bela." Wajah Alden berseri-seri ketika mengingat kejadian itu.


"Tapi Ayah melenyapkan Theo." Aurel mengepalkan tangannya. Sebenarnya Aurel tidak tahu tapi dia menarik kesimpulannya sendiri. Perusahaan Theo menjadi milik Ayahnya, bukti apalagi yang perlu dia cari?


"Ah sudahlah, kita nikmati saja hidup ini." Alden menariknya dan mendudukkannya disofa. Tapi dengan tegas Aurel menolaknya dan berdiri.


"Tidak, cukup aku tertipu oleh Mama. Aku tidak akan lagi tertipu oleh Ayah."


Mendengar Aurel mulai membicarakan Dyra emosi Alden perlahan memuncak.


"Mereka pantas mendapatkannya!!" Alden membentak Aurel.


"Ibunya Bela membunuh ibumu sesaat setelah kau lahir. Ayah membesarkanmu dengan penuh perjuangan. Lalu setelah kau berumur 3 tahun Ayah dijebak oleh wanita itu. Wanita itu memisahkanmu dari ayah. Bukan cuma itu, Arron bahkan menabrak Bibimu dan Pamanmu dan membiarkan mereka terkapar ditengah jalan. Saat itu Bibimu sedang hamil tua. Bibimu sangat kesakitan setelah melahirkan Elvan. Lalu dia menyusul suaminya pergi untuk selamanya. Arron tidak bertanggungjawab sedikit pun. Dia mementingkan perusahaan. Nyawa tiada harganya!!!" Alden kembali membentaknya.


"Tapi mereka juga sudah tiada, Ayah." Airmata Aurel jatuh.


"Itu tidak sepadan dengan penderitaan yang kita alami. Jadi Ayah mohon mengertilah!!"


Aurel mencoba mengerti keadaan Ayahnya tapi tetap saja apa yang dilakukan Ayahnya itu salah dimatanya.


..........


Dyra meringkuk dilantai. Dingin rasanya tapi rasa dingin ini mampu menetralkan emosinya yang tengah membara. Setiap saat dia mengingat Bela. Dialah ibu tiri yang kejam. Manusia yang banyak dosa. Andai Bela bisa kembali, dia akan meminta maaf dan menebus kesalahannya. Tapi mungkin saja itu belum cukup untuk membayar penderitaan Bela selama ini.


"Tapi baguslah Albert melenyapkannya, setidaknya dia tidak perlu merasakan penderitaannya lagi." Dyra menangis. Dengan cepat dia menghapusnya. Untuk apa dia menangis jika airmatanya tidak mampu membuat Bela kembali.


"Andai waktu itu aku tidak menujukkan artikelnya,"


24 tahun yang lalu,


Ibunya Aurel barusaja melahirkan. Dyra dan Emilia ibunya Bela menjenguknya. Mereka bertiga sahabat dekat. Tapi hanya Dyra yang belum menikah. Tapi saat itu dia sedang dekat dengan Thomas yang saat itu juga sudah beristri.


"Bayimu cantik sekali. Aku berharap bayiku nanti juga sehat seperti ini." Emilia mengelus perut besarnya.


"Aku doakan, "


Ting


Bunyi notifikasi masuk di ponsel Dyra. Dyra berpikir itu dari Thomas buru-buru dia buka. Tapi Thomas bukannya mengirim pesan cinta malah mengirimkan sebuah artikel yang baru saja terbit.


"Lihatlah ini!" Dyra menyerahkan ponselnya pada ibunya Aurel.


Disana tertulis Alden sedang berselingkuh dengan sekretarisnya. Mereka tertangkap kamera sedang berkencan disalah satu hotel termahal dikala itu.

__ADS_1


Ibunya Aurel tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Dia bangkit dari ranjangnya dan berlari keluar mencari suaminya. Namun naas, saat menuruni tangga dengan berlari kakinya terkilir. Dia tidak bisa mengendalikan keseimbangan akhirnya terguling. Kepalanya terluka dan dia mengalami pendarahan yang sangat parah.


Dyra menggendong Aurel yang sedang menangis. Emilia mencoba menolong Ibunya Aurel tapi Alden pulang dan dia salah sangka. Emilia yang mendorong Istrinya hingga terluka dan tidak bernapas.


Beberapa hari kemudian, Alden mengincar Emilia untuk membalaskan dendamnya. Dia membuat rem mobilnya blong. Dyra mengetahui hal itu, dia amat mengerti sifat kakak tirinya itu. Dia mengikuti Emilia dari jauh.


Kecelakaan terjadi, Jake terkapar di luar mobil dengan kepalajya yang terluka. Emilia merasa kesakitan dibagian perutnya. Dyra membantunya keluar dari mobil yang sudah berasap itu. Tapi Emilia salah mengira. Tiba-tiba Dyra menusuk dadanya dengan sebuah obeng tepat dijantungnya.


"Maafkan aku, hanya ini yang bisa kulakukan untuk membuatmu dan anakmu terbebas dari Kakakku." itu yang dikatan Dyra sebelum dia pergi meninggalkan Emilia yang meregang nyawa.


Jake bangun dan membantu majikannya untuk mengeluarkan bayi kembar yang ada diperutnya. Jake bingung harus kemana dia membawa kedua putri majikannya itu.


Dia berjalan memasuki perkampungan dan menemukan sebuah panti asuhan. Dia meletakkan satu bayi disana dengan mencantumkan informasi mengenai nama dan lain-lain. Jake membawa bayi satunya lagi ke telpon umum disana. Dia menelpon orang kepercayaanya untuk membawa bayi itu ke Australia. Jika kedua bayi itu bersama maka keberadaannya sangat mudah terendus.


Setelah memastikan bayi itu tumbuh di Australia, Jake kembali lagi untuk memantau keadaan majikannya. Bagaimana kalau dia juga dilenyapkan seperti sebelumnya?


..............


Victoria sedang memantau persiapan artisnya untuk syuting film terbaru. Victoria merasa film yang baru ini mirip seperti kisahnya Dyra.


"Bagaimana proses syutingnya?" wanita berkacamata hitam menghampirinya.


"Kami masih mencari lokasi yang cocok untuk adegan selanjutnya, Nona."


"Apa dikota ini tidak ada villa bekas kebakaran?" tanya wanita itu lagi.


"Hmm, kalau cuma sederhana sih ada tapi kita membutuhkan yang sedikit mewah." Victoria membaca naskahnya lagi.


Victoria diam sejenak. Dia merasa tidak asing dengan wanita dihadapannya ini. Tentusaja dia mengenalnya. Dia adalah produser film yang terkenal dari Canada. Olivia Mabella.


"Ah itu, saya mengenal pemiliknya."


"Nyonya, bisa bicara dengan pemiliknya dan kita akan menyewanya. Berapapun harganya. Tempat itu akan cocok untuk adegan kebakaran."


"Ya saya akan usahakan," Victoria takut jika nantinya Albert tidak mengijinkannya memakai mansion Bela.


"Tapi apakah saya boleh bertanya?" Victoria ingin menanyakan perihal naskah filmnya. Olivia menggangguk.


"Kenapa anda ingin memproduksi film dikota ini?"


"Saya tahu kenapa anda bertanya seperti itu. Tapi maaf, film ini tidak berkaitan dengan kejadian 3 tahun lalu. Naskah film ini diproduksi 5 tahun yang lalu. Jadi saya harap anda tidak salah sangka."


"Ah, maaf saya terlalu sensitif. Tapi ini benar-benar mirip." Victoria melepas kecurigaan didalam dirinya.


"Ya saya tahu, kasus itu sampai ke Canada juga. Jadi saya pikir kota ini akan sangat mendukung produksi film ini. Ditambah lagi film ini mengingatkan kita pada kasus itu."


"Anda memang benar. Kasus itu akan membuat film ini terkenal." Victoria kembali mengingat Bela. Senyumannya yang menawan membuat siapapun merindukannya.


.........


Albert bersantai dikamarnya. Kamar yang dulu dia dan Bela tempati. Kenangannya masih basah dengan air mata. Bahkan parfum dan kosmetiknya masih tertata rapi ditempatnya.

__ADS_1


Setiap pagi Albert bangun tidur, dia melihat bayangan Bela berdiri di tirai jendela. Menyapanya dengan senyuman. Lalu Albert membawanya kedalam pelukannya. Namun itu hanya imajinasinya saja.


Setiap saat dia melihat Bela melakukan pekerjaan rumah. Albert ingin memeluknya tapi seketika bayangan Bela menghilang. Seberapa besar cintanya pada Bela hingga dia tidak sanggup melupakannya?


Setiap detik setiap menit hanya Bela yang ada dipikirannya. Bersamaan dengan itu rasa sakit kembali melanda hatinya. Dia sudah seperti orang gila. Tiada lagi yang peduli dengannya. Ingin rasanya dia mengakhiri penderitaannya dengan memutuskan nadinya tapi masih ada Elvan yang harus dia jaga.


"Kenapa sulit sekali melupakanmu?" Albert memukul dadanya sendiri.


"Karena kau mencintaiku dan aku mencintaimu." Bela berdiri dihadapannya dan tersenyum.


"Sudah cukup aku merasakan sakit," Albert menunduk. Bayangan Bela menghilang setelah dia tegakkan kepalanya.


Drrrt Drrt


Ponselnya berbunyi, Victoria yang menghubunginya.


"Ya, kenapa?"


"....."


"Aku ada dirumah."


"....."


"Tamu? Produser film? Aku ada dirumah. Kita bicarakan dirumah saja. Bawa dia kemari." Albert memutus sambungan teleponnya dan melemparnya ke ranjang. Lalu dia masuk ke kamar mandi untuk. membersihkan diri.


..........


"Ini Olivia Mabella. Kami ingin menyewa mansion Bela untuk syuting film terbaru kami. Apa kau mengijinkannya?" Victoria memperkenalkan Oliv pada Albert. Dan dia langsung sampai pada intinya.


"Apa alasan kalian ingin menggunakan mansion itu sebagai latar?" Albert memperhatikan Oliv.


"Begini, film terbaru kami terdapat adegan kebakaran. Jadi kami ingin menggunakan mansion itu. Rasanya akan berbeda ketika kami menggunakan properti buatan. Lagipula mansion itu sudah tidak terpakaikan?" Oliv menjelaskan pada Albert sambil menatap matanya.


"Jangan menatap matanya, Kakak. Dia akan mengenalmu saat itu juga."


Dia teringat oleh perkataan Sheila. Dengan cepat dia menunduk menyesali apa yang baru saja dia lakukan. Bohong jika dia tidak merindukan Albert sedikit pun.


Albert terpaku oleh tatapan mata itu. Matanya seperti mata milik Bela. Seketika dadanya terasa sesak.


"Tidak," Satu kata yang tidak bisa menjelaskan seribu rasa sakitnya.


"Kenapa? Apa kau yang membakar mansion itu?" Victoria tersulut emosi. Bicaranya ngelantur.


Albert dan Oliv menoleh padanya.


Apa dia tahu sesuatu?


Itulah yang dipikirkan oleh kedua orang itu. Mereka seakan kembali pada kejadian itu.


"Baiklah, gunakan saja semau kalian." Albert bangkit dari duduknya. Dia sudah tidak tahan lagi. Victoria telah memutar kembali kenangan masalalu yang ingin dia lupakan.

__ADS_1


"Baik terimakasih banyak," Oliv tersenyum. Albert melihat senyuman itu. Dia merasa Oliv mirip dengan Bela tapi dari segi mananya. Dan Olivia membuat luka dihatinya yang sudah mengering kembali berdarah lagi.


__ADS_2