
Siang ini jenazah Arron sudah siap untuk dimakamkan. Banyak para orang-orang terpandang yang menghadiri pemakaman. Semua orang tidak menyangka bahwa CEO muda itu akan meninggalkan dunia selamanya. Banyak yang merasa sedih atas kepergiannya. Ada pula yang malah merasa senang karena mendapat keuntungan atas semua ini.
Sepanjang acara pemakaman, senyum indah tak pernah luntur dari wajah Bela. Seakan-akan kematian Arron membawa kesenangan tersendiri baginya. Tapi itu salah, sebenarnya Bela menguatkan dirinya sendiri untuk tidak percaya bahwa Arron telah pergi meninggalkannya selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi. Kini Arron sudah tidak ada didunia ini. Hanya tubuhnya yang bahkan sudah terkubur tanah.
"Kasihan sekali pasti dia sangat terpukul dengan kematian kakaknya."
"Iya, dia tersenyum sepanjang acara pemakaman."
"Aku mengerti bagaimana perasaannya."
"Tega sekali Arron meninggalkan adik secantik dirinya."
Kira-kira begitulah gumaman orang-orang yang merasa iba pada Bela.
Bela menghampiri Maya yang sejak tadi terus menangis.
"Tante, kenapa menangis? itu bukan kak Arron. Jadi tenang saja, tidak ada yang perlu ditangisi." Bela mengusap air mata Maya.
Maya memeluk Bela dan mengelus punggungnya.
"Relakan kakakmu pergi, Sayang. Terimalah kenyataan ini."
"Tidak, kak Arron tidak mungkin meninggalkanku." Bela melepas paksa pelukan Maya.
"Om, ini semua bohongkan? itu bukan kak Arron." Bela beralih pada Erland.
"Tantemu tidak berbohong. Itu memang Arron." Erland sangat tidak tega pada Bela tapi dia harus mengatakan yang sebenarnya.
Bela menggeleng pelan.
"Kenapa kalian semua berbohong?." Bela bersimpuh ditanah. Tidak ada yang bisa menenangkannya. Dia menangis, dia tidak percaya bahwa tubuhnya sendiri yang menghianati keyakinannya. Dia yakin itu bukan Arron tapi tubuhnya merespon lain.
Dyra sangat bahagia melihat Bela yang hancur. Sedangkan Aurel merasa sedikit kecewa. Keluarganya kini tidak lengkap seperti dulu.
⚡⚡⚡
Setelah pemakaman sore ini selesai, Bela cepat-cepat kembali kerumah. Entah kenapa dia mengkhawatirkan Gian. Tapi untunglah kekhawatirannya itu tidak terbukti. Gian baik-baik saja didalam kamarnya. Gian ingin ikut ke pemakaman tapi pengasuhnya melarangnya. Tidak ada yang tahu siapa Gian sebenarnya. Jika Dyra dan Aurel melihat Gian berkeliaran dia acara pemakaman itu, pasti mereka akan menghukum Gian.
Bela melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri. Seperti tubuh yang kehilangan nyawanya, Bela bahkan tidak ada semangat hidup.
Dibawah guyuran shower dia hilangkan semua rasa penatnya dan rasa sedihnya. Apapun yang sudah terjadi tidak bisa dia rubah. Salah satu cara yang terbaik adalah merelakan.
Bela memeluk lututnya diatas tempat tidur. Dia masih sulit untuk menerima kepergian Arron.
__ADS_1
"Bel, apapun yang terjadi tetaplah menjadi perempuan yang kuat."
Itu yang menjadi pesan terakhir Arron sebelum kepergiannya. Jika Bela tahu kepergian Arron ke luar kota adalah kepergiannya selamanya mungkin Bela tidak akan membiarkan Arron pergi.
"Harusnya tadi pagi aku memeluknya untuk yang terakhir kalinya. Sekarang aku tidak bisa merasakan lagi pelukan hangat seorang kakak." Air mata Bela turun membasahi pipi.
Sedangkan dibawah telah terjadi pertengkaran kecil antara Dyra dan Dareen.
"Kenapa kau kesini?." Dyra berdiri di depan pintu menghalangi Dareen untuk tidak masuk ke dalam.
"Aku kesini untuk menjemput putraku." Dareen menjawab pertanyaan Dyra tanpa melihatnya. Dareen melihat ke arah tangga yang kebetulan sejajar dengan pintu.
"Tidak bisa. Dia bahagia tinggal disini." Dyra tetap menghalangi Dareen untuk tidak masuk.
"Biarkan aku masuk!" Dareen mulai emosi.
Didalam kamar Bela sangat kehausan dan tidak ada air putih disana. Dia memutuskan untuk mengambil minum didapur.
"KU BILANG TIDAK YA TIDAK." Dyra meneriaki Dareen yang berusaha untuk masuk.
Kenapa mama berteriak-teriak. Siapa yang datang?. Bela penasaran.
"Biarkan aku membawanya. Aku tahu Gian disini tidak mendapatkan perlakuan yang semestinya. Disini Gian hanya mendapatkan kekerasan. Aku punya buktinya." Perkataan Dareen mampu membuat Dyra diam tidak berkutik. Kesempatan itu digunakan Dareen untuk menerobos masuk ke dalam rumah.
"Dengarkan aku! aku minta maaf karena datang di waktu yang tidak tepat. Aku tahu kalian sedang berduka tapi aku ingin membawa putraku." Dareen terus terang. Dia kembali melangkahkan kakinya.
"Putramu? Siapa?." Bela membeo.
Dareen tidak menjawab pertanyaan Bela. Dia melewati Bela begitu saja. Sesampainya di depan kamar Gian, Dareen mengetuk pintunya.
"Gian, ayo kita pergi!." Tentusaja Gian segera membukakan pintu untuk orang yang dia tunggu.
"Kenapa mama tidak mengatakan apa-apa padaku?." Bela menatap Dyra.
"Apa yang harus aku katakan padamu? kau tidak akan mengerti apapun." Ketus Dyra.
Dareen menggandeng tangan Gian tapi Bela menahannya.
"Kakak, aku mohon lepaskan." Pinta Gian.
Bela diam, justru semakin kuat Bela menggenggam tangan Gian.
Aurel baru keluar kamarnya. Dia berlari mendekati Bela dan berusaha melepaskan tangan Bela.
__ADS_1
"Ku mohon lepaskan, Bel. Biarkan dia pergi!." Aurel bersusah payah memisahkan tangan Bela dari tangan Gian.
"Tidak."
"BELA LEPASKAN!." Kini Dyra berteriak dan membantu Aurel.
Mata Bela berkaca-kaca menahan amarah. Akhirnya Bela menyerah. Dia melepaskan tangan Gian. Dengan segera Dareen membawa pergi Gian dari rumah bagaikan neraka itu.
Aurel memeluk Bela. Tapi Bela mendorongnya hingga Aurel membentur tembok. Bela berlari ke kamarnya untuk mengambil tas dan kunci mobilnya.
"Bela, kau mau kemana?." Aurel menghalangi Bela untuk pergi.
"Kemana pun aku pergi itu bukan urusanmu. Kalian senangkan telah membuat keluarga ini hancur? sudah puas?."
Aurel terdiam, dia memikirkan apa maksud perkataan Bela.
Bela menggunakan kesempatan ini untuk keluar dari rumah. Aurel bersimpuh didepan mamanya.
"Mah, apa maksud perkataan Bela?"
"Harusnya mama yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan pada Gian?."
"Aku tidak sengaja menamparnya kemarin." Aurel menggigit bibir bawahnya.
"Sudah mama bilang, jangan bertindak ceroboh!. Lihatlah apa akibat dari kecerobohanmu. Gian pergi dari rumah ini." Dyra sungguh tidak menyangka Aurel akan melakukan hal ceroboh. Dia sudah berkali-kali memperingatkannya.
"Lalu apa masalahnya?" Aurel berdiri, dia mulai emosi. Semua hal tentang Gian selalu bisa membuatnya emosi.
"Itu yang kau tidak mengerti. Kita telah kehilangan perisai yang berharga."
"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan Gian. Aku sungguh membencinya." Aurel berbalik dan meninggalkan Dyra sendiri diruang tamu.
"Aurel." Panggilan Dyra tidak dihiraukan Aurel. Sungguh Aurel sedang kesal saat ini.
Sifatnya mirip seperti ayahnya. Dyra membatin.
Sedangkan disisi lain, Bela tengah mencari ketenangan untuk sedikit mengurangi beban dihatinya. Entah kenapa dia pergi ke pinggir hutan. Tapi tempat itu begitu menenangkan bagi Bela.
Bela membuka kaca mobilnya membiarkan udara khas alam liar masuk ke dalam mobilnya. Dia menghirup dalam dalam dan menghembuskannya. Benar-benar menyegarkan.
Hancur sudah keluargaku. Sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kenapa semua ini terjadi kepadaku?
Bela mengusap wajahnya kasar. Apa yang harus dia perbuat?
__ADS_1