Family And Enemy

Family And Enemy
hamil?


__ADS_3

Bela baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah karena habis keramas. Bela membuka tirai jendela membiarkan sinar matahari masuk.


Albert terusik dalam tidurnya. Perlahan dia membuka mata. Pagi ini saat pertama kali dia membuka matanya dia melihat istrinya. Terlihat seksi dengan rambutnya yang basah. Albert menelan salivanya susah payah. Melihat Bela habis keramas dipagi buta begini membuat hasratnya menggebu-gebu. Tanpa pikir panjang dia masuk ke kamar mandi.


"Kenapa dia mencuci rambutnya di pagi begini? Aku ingin sekali menerkamnya." Albert keluar hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya.


Ternyata Bela sudah tidak ada dikamar mungkin dia menyiapkan sarapan. Albert bernapas lega. Semenjak hidup bersama Bela, jantungnya berdetak kencang. Setiap berdekatan dengannya Albert selalu menjaga jantungnya.


Pintu terbuka dan Albert masih belum mengenakan pakaiannya. Bela membawa sarapan untuknya.


"Kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu." Albert terkejut dan menutupi dadanya dengan tangannya.


"Ya maaf, aku buru-buru ini." Bela meletakkan nampannya di meja.


"Mau kemana?"


"Kak Cindy akan ke Thailand hari ini. Dia tidak lagi bekerja denganku. Katanya sih mau nikah disana." Bela memanyunkan bibirnya.


"Bukannya dia sedang dekat dengan asistennya Theo."


"Iya, mereka berhenti bekerja dengan kita dan memilih memulai hidup baru disana. Yaudah, aku pergi." Sebelum Bela meninggalkan kamar dia mengecup bibir Albert. Dan membuat Albert diam dan tidak bergerak sama sekali.


"Apa ini?", dia meraba bibirnya sendiri. Jantungnya tidak bisa lagi dikondisikan. Jantungnya seperti ingin melompat dari tempatnya dan menari-nari.


Bela menemui Ben dan Cindy dibandara. Mereka seolah-olah akan pergi sungguhan.


"Masih aman," Bela mengacungkan kedua jempolnya.


"Bagus, tapi setelah ini kita harus berhati-hati." Ucap Ben memperingatkan.


"Sepertinya Tuan Theo sangat tertekan dengan kita. Dia menghawatirkanmu." Cindy memeluk Bela.


"Kalian pergilah, pastikan rencana kita aman."


Ben dan Cindy menyeret koper mereka. Bela berbalik menuju mobilnya. Dikaca spion dia melihat mobil warna merah mengikutinya sedari berangkat sampai sekarang. Sebelumnya Bela ahli dalam kabur dari mata-mata namun kali ini dia biarkan mereka mengikutinya.


Bela berhenti ditaman pinggir sungai. Hanya Cindy, Elli dan Sena yang tahu itu tempat favoritnya saat sedang sedih.


Bela duduk dikursi putih tepat dibawah lampu. Suasananya sedikit gelap dan horor. Hanya ada suara gemercik air. Pepohonan yang hijau menambah kesan tersendiri.


Bela melirik mobil merah yang tadi mengikutinya. Dan benar saja mobil itu masih mengikutinya hanya saja jauh dibelakang mobilnya.


Langit menjadi lebih gelap dari sebelumnya. Hujan turun begitu deras. Bela tidak tahu jika alam mendukungnya. Bela tetap duduk dikursi dan membiarkannya kehujanan. Tidak ada keinginan untuk berteduh. Cukup lama dia menikmati hujan. Sekitar 30 itu sudah cukup membuat badannya menggigil kedinginan.


Albert sedang khawatir dirumah. Hujan begitu deras dan Bela belum pulang. Orang yang dia suruh untuk mengikuti istrinya baru memberi kabar. Albert semakin khawatir mengetahui jika Bela sedang hujan-hujanan.


Rupanya Bela sudah pulang. Sekujur tubuhnya basah kuyub serta bibirnya mulai memucat.

__ADS_1


"Darimana saja kau sampai basah kuyub seperti ini!" Albert membentak Bela.


Bela enggan menjawab. Dia pergi ke kamar. Albert terus mengajaknya bicara tapi Bela tetap diam saja.


Belum sampai dikamar Bela merasa mual. Dia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya dan berlari masuk ke kamar mandi. Dia mengeluarkan isi perutnya di wastapel.


Albert memijat leher Bela. "Jangan hujan-hujanan masuk angin kan,"


"Keluar,"


"Hah,"


"Keluar, aku ingin mandi." Albert mengangguk.


Setelah Albert keluar, Bela menutup pintu dengan kasar.


Brakk


.............


Bela bersiap untuk keluar lagi.


"Mau kemana lagi sih,"


"Beli obat diapotek." Jawabnya singkat tanpa ekspresi.


"Nggak usah," Bela keluar kamar. Albert tidak bisa apa-apa selain menuruti. Baru kali ini dia tidak bisa mengerti seorang wanita.


"Apa semua wanita juga seperti ini?" gumamnya. Dia sangat bingung. Mood Bela berubah begitu cepat. Baru tadi pagi dia mendapat kecupan manis. Dan sekarang Bela berubah menjadi tembok yang datar.


Apa Bela tahu rencananya dan sang kakak? Tidak, rencananya belum bocor dan masih aman. Kalau memang dia sudah tahu harusnya dia pergi. Tapi ini tidak. Tapi, baguslah kalau dia tahu. Mungkin dia akan mempersiapkan diri. Begitu pikirnya.


Sesaat kemudian, Albert teringat wajah manis Bela. Senyumnya yang mampu membuat dia jatuh cinta. Masakannya yang membuat lidahnya ikut mencintainya. Kasih sayangnya pada Elvan serta kecupan yang tadi pagi dia dapatkan. Timbul rasa ragu untuk menjalankan rencananya.


Bel rumah berbunyi,


Albert sadar dari lamunannya. Dia menuruni tangga dan dia melihat Alden duduk di sofa ruang tamu sambil memakan apel.


"Kapan kakak kemari?" tanyanya.


"Apa kau tidak suka aku kesini?" sepertinya pertanyaan Albert membuatnya tersinggung.


"Bukan begitu,"


"Dimana adik iparku?"


"Dia keluar sebentar. Pasti akan cepat pulang."

__ADS_1


Pintu utama terbuka. Bela kembali tepat pada waktunya.


Albert menghampirinya dan merangkul pundaknya. "Kenalkan kakak ini adik iparmu. Bela ini kakak iparmu."


"Adik iparku sangat cantik." Alden memujinya dengan adanya maksud lain.


"Terimakasih," Bela tersenyum manis. Tangannya menyingkirkan tangan Albert dari pundaknya. Bela menuju kedapur untuk membuatkan minuman untuk tamu alias kakak iparnya.


"Dia sangat manis dan cantik. Jangan sampai kau menyukainya." bisiknya pelan.


Albert mengangguk, "Sudah terlambat. Aku bahkan mencintainya." katanya dalam hati.


⚡⚡⚡


Keesokan harinya,


Albert terlambat bangun tapi untungnya pagi ini jadwalnya kosong. Dia menatap pantulannya dicermin. Ternyata dia belum kehilangan kharismanya. Tetap tampan dan gagah.


Dia ingin menggunakan pelembab kulit tapi sayangnya pelembab kulit yang lama sudah habis. Dia membuangnya di tempat sampah kamar mandi. Saat akan mengambil pelembab dilaci meja rias, dia menemukan test pack.


"Garis dua, " Dia tahu benar benda apa itu dan apa gunanya.


"Tunggu, apa aku akan menjadi ayah lagi? Bela sedang mengandung?" Dia kegirangan. Tertawa penuh kesenangan.


"Padahal aku cuma melakukannya sekali. Wah, kau hebat Albert." Dia memuji dirinya sendiri.


Sesaat kemudian tawanya berubah menjadi tangisan. Dia menitikkan airmata.


"Sekarang apa yang akan aku lakukan?"


Disisi lain, Bela menangis tersedu-sedu sambil memegang perutnya yang belum membuncit. Ternyata kecurigaannya benar setelah dua bulan tidak haid. Dia merasa senang dan sedih disaat yang bersamaan.


"Kenapa kamu hadir ditengah kondisi yang seperti ini, Sayang?"


Mobil Theo berhenti dibelakang mobil Bela. Dia berlari dan memeluk Bela erat.


"Jangan menangis, Kakak akan melindungimu." Theo mengecup pucuk kepala Bela.


"Bisakah kita mengakhiri ini, Kak? Bisakah anakku mempunyai kehidupan yang normal? Bisakah mereka melupakan apa yang terjadi dimasalalu dan memaafkannya?" tangis Bela kembali pecah.


"Apa kau sudah memberitahu Cindy dan Ben?" Bela menggeleng. Dia tidak bisa berpikir jernih ketika tahu dia sedang mengandung.


"Beritahu mereka, tenangkan dirimu. Jangan membuat keponakanku ikut sedih. Kau sedang mengandung, jangan berpikir yang berat-berat."


"Iya, " akhirnya Bela bisa sedikit lebih tenang.


Aku akan coba bernegoisasi dengan Alden. Batin Theo.

__ADS_1


__ADS_2