Family And Enemy

Family And Enemy
Keputusan yang besar


__ADS_3

"Maaf Nyonya, harta warisan Tuan Besar bisa diambil jika Nona Bela sudah menikah. Dan tidak ada satu sen pun untuk anda. Semua diberikan kepada Nona Bela." Ujar pengacara pribadi Ayahnya Bela.


"Bagaimana bisa?" Dyra tidak percaya.


"Itu sudah tertulis jauh sebelum Tuan Besar tiada. Maaf, saya harus pergi. Ada banyak pekerjaan yang menunggu saya dirumah." Pengacara pribadi Ayahnya Bela mengambil tasnya lalu pergi.


"Sial, si tua bangka itu tidak memberikan warisannya padaku. Kalau tahu begini, aku akan menguras hartanya dulu baru membunuhnya. Sekarang aku tidak dapat apa-apa." Gumamnya sambil menggigit ibu jarinya.


"Tunggu, tapi aku punya sertifikat rumah ini. Suatu hari aku akan menjualnya dan menyimpan uangnya. Masa bodoh dengan gadis sialan itu." Yang Dyra maksud adalah Bela. Jika dia menjual rumahnya Bela pasti akan membeli rumah lagi secara Bela punya bisnis sendiri.


"Tapi sekarang apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan uang?"


Dyra berfikir keras. Satu ide muncul dikepalanya. Dia tersenyum licik.


⚡⚡⚡


"Apa kau gila?" tanya Sena pada Theo.


"Apa tidak ada cara yang lain selain menikah?"


"Bel, kau harus menikah dengan Albert. Kau akan aman bersamanya." Ujar Theo.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Oh ayolah," Bela membujuk Theo agar tidak menikahkannya.


"Tidak apa-apa kalau kau tidak mau. Tapi nanti kau juga akan dipaksa menikah oleh wanita licik itu. Aku cuma mengkhawatirkan siapa calon suamimu nanti."


"Jangan tergesa-gesa. Berpikirlah yang matang." Bisik Cindy tepat ditelinga Bela.


Luka dihatinya masih belum pulih. Bela tidak ingin menjadikan Albert sebagai pelampiasannya.


"Kalau kau benar-benar tidak menginginkan itu, kau bisa menikah kontrak." Imbuh Sena.

__ADS_1


"Tapi bagiku, menikah itu cukup sekali seumur hidup. Dan tidak ada kata kontrak dan cerai untuk itu." Bela menggigit bibir bawahnya.


"Kau sudah cukup dewasa rupanya. Pikirkan baik-baik." Theo menepuk pundak Bela kemudian dia meninggalkan mansion Bela.


"Aku tahu hatimu masih ada bersama Alex. Tapi cinta itu datang saat kita sudah terbiasa. Percayalah kau juga akan mencintai Albert nanti. Hanya butuh waktu saja." Elli duduk disamping Cindy.


"Ah sudahlah, aku akan memikirkan nanti. Sekarang kita sudah hampir terlambat ke Bandara. Penerbangan kalian kurang satu jam lagi." Bela bangkit dari duduknya.


Bela mengantar Elli dan Sena ke Bandara untuk penerbangan mereka menyusul Om Erland. Dengan berat hati dia melepaskan mereka berdua. Mereka sudah seperti ibu bagi Bela. Merawatnya saat dia sakit. Membantunya saat dia butuh. Mereka berdua sudah seperti keluarga bagi Bela.


"Mereka sudah berumur. Sudah waktunya mereka membangun rumah tangga. Aku percaya Om Erland pasti memilih pasangan yang terbaik untuk mereka." Bela fokus menyetir


"Ya ya ya, setelah ini siapa lagi yang akan kau carikan pasangan?"


"Tentu saja kau," Bela menunjuk Cindy.


"Tidak perlu repot-repot. Saya sudah memiliki pasangan."


"Ah, asistennya Bang Theo."


"Tentu saja aku tahu. Beberapa hari terakhir ini kalian berkencan kan?"


"Ck ck ck, kalian tidak bisa membohongi aku. Mataku banyak diluar sana." Bela menggeleng.


Cindy hanya diam memandangi kendaraan yang lalu lalang dari kaca mobil. Dia tidak bisa berkutik saat sudah kepergok begini.


Setelah mengantar Cindy ke apartemennya, Bela langsung pulang ke rumah.


Dia masih memikirkan soal tadi. Soal pernikahan yang tidak pernah terlintas dalam benaknya. Bagaimana keputusannya?


Jujur saja hatinya belum cukup kuat untuk memantapkan keputusannya. Bela tidak bisa bermain-main dengan keputusannya.

__ADS_1


Bela keluar dari mobil. Penjaga gerbang rumahnya menghampirinya.


"Maaf Nona, tadi Tuan Alex datang mencari anda. Lalu menitipkan undangan ini ke saya."


"Terimakasih Pak," tangannya mengambil dan membuka undangan yang baru saja diterimanya.


Matanya memanas ketika membaca isi undangannya. Dengan cepat dia menyimpan undangannya kedalam tasnya.


"Sepertinya mereka benar-benar saling mencintai. Tidak ada celah untuk diriku. Aku juga harus melanjutkan hidupku." Gumamnya.


Dyra menunggu kepulangan Bela. Berkali-kali dia melihat kearah pintu berharap Bela cepat pulang. Dan akhirnya yang ditunggu pulang juga.


"Bela, Mama ingin bicara sebentar."


Bela berjalan santai kearah sofa.


"Kenapa Ma?" sepertinya apa yang dikatakan Theo tadi benar. Mamanya akan menyuruhnya menikah.


"Mama ingin kamu segera mencari pasangan dan melangkah ke jenjang yang lebih serius."


"Mama menyuruhku menikah?" Rasanya Bela ingin tertawa.


"Itu lebih bagus. Tapi yang Mama maksud adalah pertunangan. Besok lusa anak teman Mama baru pulang dari Canada. Mama mau kamu menjalin hubungan dengannya. Kalau bisa menikah saja." Belum selesai Dyra bicara Bela langsung menyelanya.


"Dengan begitu, Mama bisa menguasai rumah ini beserta isinya. Kalau Mama mau jual saja rumah ini. Bela juga tidak ingin tinggal disini. Berada disini sama rasanya berada di neraka." Semua sudut rumah ini mengingatkanku pada Ayah dan Kak Arron. Itu sangat menyakitkan.


Bela bangkit dari duduknya. Dia berniat ke kamarnya untuk beristirahat.


"Tapi Mama tenang saja, Bela akan menikah jika waktunya sudah tiba. Dan Mama tidak perlu khawatir dengan calon mempelaiku nanti. Aku bisa mencarinya sendiri. Mama tidak perlu repot-repot menjodohkan aku dengan anak teman Mama." Tanpa menoleh Bela meninggalkan Dyra dengan amarahnya.


"Mari kita lihat, sebagus apa takdirmu." Tangannya menggenggam pisau kecil. Dyra melemparkan pisaunya ke arah Bela. Namun pisaunya tidak mengenai Bela tapi malah menancap dilukisan dekat tangga.

__ADS_1


Bela tidak berniat berhenti. Meskipun dia tahu Dyra mencoba melukainya.


Ya, aku akan menikah dengan Albert. Tuhan, semoga keputusanku benar. Selama 20 tahun baru kali ini aku membuat keputusan besar. Dan semoga aku tidak menyesalinya nanti. Batinnya sebelum membuka pintu kamarnya.


__ADS_2