
Aurel ingin ke kamarnya tapi dia urungkan. Kamar Bela terbuka, Aurel penasaran bagaimana isi kamar Bela.
Aurel masuk kedalam diam-diam. Kamarnya kosong mungkin Bela tidak ada begitu pikirnya. Di samping pintu ada meja panjang berisi guci dan vas bunga. Guci berwarna biru muda itu sangat cantik ditambah lagi motiv bunga kosmos sungguh sempurna.
Aurel meraba guci itu. Sedetik kemudian dia teringat karena mamanya tidak bisa membeli restoran yang dia inginkan. Aurel menjadi kesal. Diraihnya guci itu dan dia jatuhkan hingga hancur.
Mendengar suara pecahan, Bela langsung keluar kamar mandi. Bela kaget melihat apa yang pecah dan siapa yang memecahkannya. Darah Bela sudah mendidih.
"APA YANG KAU LAKUKAN HAH." Bela sudah habis kesabarannya.
"Aku tidak sengaja Bela." Aurel memelas.
"Apa yang terjadi?." Mama Dyra, Bryan dan Arron sampai di kamar Bela. Arron mengusap wajahnya kasar.
"Apa yang kau lakukan gadis manja? Apa kau ingin menghancurkan kamar Bela?." Arron tersenyum menghina.
"Arron diamlah. Itu cuma guci. Berapa harganya biar mama yang ganti. Berapa uangnya?" Begitu angkuhnya Mama Dyra.
"Harga? Ini peninggalan Ayah, Ma. Banyak kenangan yang tersimpan di guci itu. Dan mama tanya berapa harganya?" Bela semakin marah. Dia merasa terhina.
"Aku benar-benar tidak sengaja Ma." Aurel menangis.
"Tidak sengaja atau kau kesal karena tidak mendapatkan restoran Diamond? Sampai kapanpun aku tidak akan menjualnya." Pengakuan Bela membuat semua orang terkejut.
" Apa kau pendiri restoran Diamond?" Bryan bertanya dengan terbata-bata.
"Kalau iya kenapa?" Bela terdengar menantang.
"Apa kau butuh banyak uang? Apa mama kurang memberimu uang?" Mama Dyra sungguh tidak percaya.
"Kapan mama memberiku uang? Di Australia dulu mama hanya membiayai sekolahku bukan hidupku. Aku mencari pekerjaan untuk bertahan hidup disana." Situasinya memang seperti itu. Hingga Bela membuang ponselnya dan hidupnya bebas.
__ADS_1
"Tapi tidak seperti itu. Kau sudah keterlaluan. Berikan saja restoranmu pada Aurel." Mama Dyra murka. Entah apa yang membuatnya murka.
"Tidak bisa. Itu hasil keringatku, ma. Aku berjuang mati-matian bersama rekanku. Dulu setiap aku minta uang pada mama. Mama selalu bilang jadi perempuan itu harus mandiri. Sekarang apa? Aku mandiri dan aku salah? Bela selalu salah dimata mama. HANYA AUREL YANG BENAR. AKU LELAH, MA." Bela mengeluarkan isi hatinya yang dia pendam selama ini.
"Disini siapa yang keterlaluan ma? Bela? Bela, ma?" Bela menunjuk dirinya sendiri.
Arron terluka sungguh terluka. Melihat adiknya begitu menderita hati seorang kakak mana yang tidak terluka melihat adiknya menderita. Namun dia tidak bisa apa-apa.
Kakak macam apa aku ini. Tunggu adikku, setelah aku mendapatkan semuanya aku akan membalas mereka.
"Cukup Ma! Arron rasa Mama buta." Arron meninggalkan mereka semua.
Perkataan Arron membuat mama Dyra berpikir.
"Nggak ada gunanya Mama mikir." Bela mendorong Aurel untuk keluar dari kamarnya. Segera Bela menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Sungguh anak itu tidak punya sopan santun. Sudahlah Aurel memang kali ini kau yang salah." Mama Dyra berbicara selayaknya orang tua yang bijaksana.
"Maaf tante. Bryan pulang dulu. Bryan tidak punya hak untuk ikut campur urusan keluarga Tante. Permisi tante."
Bryan pergi. Di perjalanan pulang, dia terus memikirkan semua ucapan Bela. Apa selama ini dia salah? Apa dia juga buta?
Kenapa aku seperti ini. Kata-kata Bela tadi terus terngiang-ngiang di telingaku. Perasaan resah macam apa ini?
Bela memunguti pecahan guci yang sudah hancur. Sesekali air matanya menetes.
Ini satu-satunya kenangan yang tersisa dari ayah. Maafkan Bela tidak bisa menjaganya.
Bela memasukkan pecahan guci ke kotak kayu yang sudah dia siapkan. Diletakkannya di tempat yang rahasia.
Bela berdiri di balcon sejenak. Dari atas sana terlihat lampu-lampu jalan yang menyala. Lampu-lampu rumah di perumahan itu juga sudah mulai dipadamkan menandakan penghuni rumah sudah tidur. Bela menutup pintu balcon. Hari ini cukup menguras tenaga fisik dan juga batinnya.
__ADS_1
Bela merebahkan tubuhnya diranjang. Menarik selimutnya hingga ke dada. Matanya mulai terpejam. Nafasnya mulai beratur.
Di sebuah taman yang indah dan asri. Dipenuhi banyak jenis bunga yang sangat cantik. Bela duduk di kursi hitam yang tersedia.
"Bela.."
Bela menoleh melihat siapa yang memangilnya.
"Ayahh.." Bela langsung berdiri dari kursi dan langsung memeluk ayahnya.
"Ada apa putriku? Apa putriku baik-baik saja?" Ayah membelai lembut kepala Bela.
"Aku merindukan ayah. Bela masih kuat seperti dulu ayah. Bela tidak selemah yang ayah pikirkan."
"Jadi putri ayah kuat ya? hmm kalau begitu lindungi orang-orang yang lemah. Jangan biarkan orang-orang jahat menindasnya."
"Iya ayah. Bela janji akan selalu melindungi orang-orang yang lemah." Bela melepas pelukannya.
"Kalau begitu, Jaga dirimu sayang. Ayah harus pergi."
"Bela masih ingin bersama ayah."
Ayah Bela berjalan mundur menjauhi Bela.
"Ayahhh...
"AYAHHH
Bela bangun dari tidurnya. Bela terengah-engah. Keringat dingin membanjiri keningnya.
Tuhan biarkan aku terus bermimpi. Mimpi sangat indah tuhan. Kenapa kau bangunkan aku. Aku tidak ingin bangun merasakan pahitnya kenyataan. Aku ingin manisnya mimpi. Walau hanya mimpi. Setidaknya kau pertemukan aku dengan orang yang selama ini aku rindukan.
__ADS_1